Jalan Raya Pos, Jalan Daendels – Pramoedya Ananta Toer

Judul buku : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis : Pramoedya Ananta Toer (2005)
Penerbit : Lentera Dipantara, Februari 2010
(cetakan 8)
Tebal buku : 148 halaman

Di dalam setiap buku pelajaran sejarah penjajahan Belanda pasti akan ada nama Daendels, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang terkenal paling kejam. Dia menerapkan sistem kerja paksa atau rodi untuk pembangunan jalan terpanjang dalam sejarah Hindia Belanda. Sepanjang lebih dari 1000 kilometer, dari Anyer sampai ke Panarukan, dari ujung barat pulau Jawa sampai pada Jawa paling timur.

Di dalam buku ini diceritakan tentang sejarah pembangunan jalan raya pos, sejarah kekejaman Daendels. Bagaimana dia memperlakukan para pribumi, berapa banyak nyawa yang ditelan oleh setiap ruas jalan yang dibangunnya. Memang yang dilakukannya adalah ‘prestasi’ tersendiri, manfaat yang dirasakan dari jalan yang telah selesai tersebut juga tidak sedikit, akan tetapi harga yang harus dibayar oleh bangsa Indonesia saat itu begitu mahal. Mengenai peranan Daendels sendiri sudah saya bahas di sini.

Buku ini ditulis dengan runtut berdasarkan kota-kota yang dilewati oleh Jalan Daendels ini. Diawali dari kota kelahiran penulis di Blora, dan sekitarnya, kemudian kita dibawa menuju ke titik awal di Anyer. Setibanya Daendels di sana, bagaimana perjalanan dan apa saja yang dilakukannya, terus ke arah timur hingga berakhir di Panarukan. Meski demikian, terkadang pembahasannya agak kurang terfokus. Banyak fakta maupun opini sejarah yang dipaparkan tidak relevan dengan tahun pembangunan jalan tersebut. Suatu ketika penulis memaparkan data sejarah atau pengakuan beberapa orang tentang kota tersebut di masa lampau, tetapi ada kalanya penulis hanya memaparkan kenangannya sendiri akan kota tersebut saat singgah di dalamnya.

Bagaimanapun juga, buku ini sarat akan pengetahuan. Banyak hal yang bisa kita dapatkan di sini yang tidak disinggung-singgung dalam pelajaran sejarah. Misalnya saja kenyataan bahwa bangsa kita justru mengadopsi ‘ejaan salah’ warisan Portugis untuk tempat-tempat seperti Sumatra (aslinya Samudra, dan Pasai), Brunai menjadi Borneo, dan Tanjung Bunga menjadi Flores. (p.29) Begitu pula ejaan Tangerang yang sebenarnya warisan Belanda, sebenarnya adalah Tanggeran. (p.40)

Penulis juga memaparkan fakta menarik bahwa ada satu kota di pulau Jawa yang membentengi diri dari kota-kota lain di sekitarnya. Kota ini pada mulanya sangat maju karena pelabuhannya menjadi salah satu lalu lintas perdagangan internasional. Kemajuan tersebut bukan hanya ekonomi, tetapi juga budaya yang hingga kini meluas ke kota-kota lain, pada mulanya masuk melalui kota ini. Ironisnya, kota ini dihancurkan oleh raja pedalaman, sungai yang melintasi kota ini diracun sehingga penduduknya menurun drastis, dan kemajuannya meredup.

“Ini adalah ironi sejarah Nusantara: Di ujung utara dunia Belanda mendirikan VOC pada 1602, yang membuat Belanda mampu membangun imperium dunia, di Nusantara pada 1625 negara kota termaju di Nusantara dihancurkan oleh raja pedalaman yang terbelakang.” (p.110)

Kota apakah itu? Sampai sekarang pun kota itu merupakan salah satu kota termaju di pulau Jawa, yang terletak di Jawa Timur. Tidak lain dan tidak bukan adalah kota Surabaya.

Ternyata banyak sekali sejarah bangsa yang tidak saya ketahui. Ada rasa bangga, haru dan kesal tiap melihat kenyataan-kenyataan tentang apa yang terjadi di masa lampau. Namun, sejarah tetaplah masa lalu, sampai kini pun bangsa kita belum mencapai kemajuan yang semestinya bisa dicapai. Saya pun seringkali merasa kesal dengan sejarah yang tengah kita ukir hari ini. Semoga sedikit demi sedikit, mulai dari diri kita sendiri, bangsa Indonesia akan mencapai kemajuan sehingga tidak akan diinjak-injak lagi oleh bangsa lain.

3/5 untuk buku tipis bermuatan sejarah yang berharga.

Review #2 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge 2012

3 responses to “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels – Pramoedya Ananta Toer

  1. bzee… seri buku kecil dari Pram ini, dan juga judul2 lain yg sejenis, termasuk favoritku… dari sini kita jadi byk tau ttg sejarah, bukan dari fakta2 formal, tp dari pandangan ‘orang biasa’. mengenai data sejarah yg tampak tidak fokus, mnrtku itu lbh krn Pram kadang menyajikan data sejarah formal sbg fakta, kadang hanya berupa pendapat org2 atau dia sendiri mengenai kota itu, kadang kita masuk ke jaman saat Daendels berkuasa, kadang di jaman saat ia menulis kisah ini. sudut pandang kita memang dibuat berpindah2.

    btw aku masukkan review ini di page Sastra Indonesia Reading Challenge ini ya: http://mademelani.wordpress.com/sastra-indonesia-reading-challenge-2012/

  2. btw aku suka kutipan ttg kota termaju yg dihancurkan oleh raja yg terbelakang… walau Pram mengutuk penjajahan, dia juga ‘mengecam’ kebodohan/ kesempitan berpikir bangsa sendiri…

    dan ilustrasi petanya membantu banget! baru nyadar kl jalan anyer – panarukan itu melewati bandung :)

  3. iya ya, dengan begitu tulisan Pram ini jadi semacam catatan nonformal, bukan sebuah textbook, tapi bisa menjadi acuan.

    oke, makasih :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s