Jasmerah – Wirianto Sumartono

43655793

Judul : Jasmerah: Pidato-Pidato Spektakuler Bung Karno Sepanjang Masa
Penyusun : Wirianto Sumartono
Penerbit : Laksana
Edisi : Cetakan pertama, 2018
Format : Paperback, 262 halaman

“Mari kita berjalan terus dengan sejarah itu, dan jangan berhenti, sebab siapa yang berhenti toh akan diseret oleh sejarah itu sendiri sama sekali.” (17 Agustus 1966, hal.205)

Pelarangan dan penyitaan buku bukan barang asing di negeri kita, pun di seluruh dunia. Namun, di era reformasi ini, terlebih setelah Mahkamah Konstitusi mencabut Undang-undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum pada 13 Oktober 2010, maka penyitaan buku hanya dapat dilakukan setelah ada bukti cukup dan proses peradilan yang menyatakan buku tersebut memang layak dilarang (baca).

Namun, hal ini rupanya tak menghentikan beberapa pihak untuk melakukan razia yang sewenang-wenang. Yang teranyar adalah pada akhir 2018 dan awal 2019 lalu di toko buku lokal di Kediri dan Padang. Selain prosedur yang menyalahi peraturan yang ada, judul-judul buku yang disita pun cukup menggelitik. Karena dalam sekali lihat, meski beraroma merah, PKI, maupun 1965, buku-buku tersebut jelas-jelas ‘hanya’ merupakan buku sejarah (baca). Terlalu naif untuk menduga-duga adanya propaganda PKI atau komunis, tanpa secara gamblang menunjukkan bagian yang dimaksud.

Sebagai pembaca, saya pun akhirnya memutuskan untuk membuktikan sendiri benar tidaknya tuduhan yang dialamatkan pada buku-buku tersebut. Buku ini adalah salah satu dari buku yang disita. Secara umum buku ini adalah kumpulan pidato Ir. Soekarno, presiden pertama kita. Ada enam pidato yang dikumpulkan di sini, yaitu saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, saat ulang tahun proklamasi tahun 1949, 1959, 1966, saat lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, serta di muka Sidang Umum ke-IV MPRS 22 Juni 1966.

Benang merah dari pidato-pidato beliau, dan hal yang sering diulang-ulang adalah perjuangan mempertahankan dan melanjutkan revolusi di jalan yang dicita-citakan beliau. Dari buku ini, saya menilai bahwa Bung Karno memiliki visi dan misi untuk Indonesia ke depan dengan sangat gamblang dan sangat idealis. Bagi beliau, kemerdekaan adalah mutlak dan tak bisa ditawar. Suara antiimperialisme, antikolonialisme, dan antiliberalisme terdengar keras dan tegas. Kemerdekaan bukan hanya di bidang politik, tetapi juga ekonomi, sosial, maupun budaya.

“Tujuan revolusi, yaitu masyarakat yang adil dan makmur, kini oleh orang-orang yang bukan putra revolusi diganti dengan politik liberal dan ekonomi liberal. Diganti dengan politik liberal, di mana suara rakyat banyak dieksploitir, dicatut, dikorup oleh berbagai golongan. Diganti dengan ekonomi liberal, di mana berbagai golongan menggaruk kekayaan hantam kromo, dengan mengorbankan kepentingan rakyat.” (17 Agustus 1959, hal.62-63)

Presiden Soekarno secara keras menolak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama masa-masa awal kemerdekaan, mulai dari jalan kompromi yang mendukung negara serikat, aparatur negara yang tak menjalankan amanah rakyat dengan baik, hingga demokrasi yang tidak sesuai dengan jiwa revolusi. Demokrasi dalam cita-cita Soekarno adalah demokrasi terpimpin, bukan demokrasi liberal sebagaimana yang dianut oleh negara barat. Sikap keras beliau terlihat saat Konstituante menyusun Undang-Undang Dasar yang baru, yang dirasa terlalu banyak berkompromi dengan pihak asing, dan akhirnya menjauh dari tujuan revolusi. Beliau menyelesaikannya dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang menyatakan kembali dipergunakannya Undang-Undang Dasar 1945. Masa yang disebut beliau sebagai the year of the rediscovery of the revolution.

“Tidak boleh lagi terjadi bahwa rakyat ditunggangi oleh pemimpin. Tidak boleh lagi terjadi bahwa rakyat menjadi alat demokrasi. Tetapi sebaliknya, demokrasi haruslah menjadi alat rakyat. Alat rakyat untuk mencapai tujuan rakyat.” (17 Agustus 1959, hal.93)

Dalam setiap pidatonya, Bung Karno seolah membakar semangat dan kepercayaan diri rakyat, bahwa revolusi berada di jalan yang benar, dan rakyat Indonesia mampu untuk menjalankan serta mempertahankan kemerdekaan yang ada. Optimisme dan penghargaan kepada perjuangan setiap rakyat, apa pun bentuknya, disampaikan dengan membesarkan hati, dengan menyatakan secara langsung bahwa dia percaya bahwa rakyat Indonesia tidak bodoh, bahwa rakyat sesungguhnya mampu, bahwa “Kita bukan bangsa tempe, kita adalah bangsa yang besar, dengan ambisi yang besar, cita-cita yang besar, daya kreatif yang besar, keuletan yang besar.” (hal.132) “bahwa yang mereka pimpin itu bukanlah satu rombongan kambing atau satu rombongan bebek atau satu rombongan tuyul, tetapi satu rakyat yang kesadaran sosialnya dan politiknya telah tinggi!” (hal.71). Bung Karno mengajak rakyat untuk tidak terus mengeluh dan terjebak di masa lampau, melainkan terus maju. Bayangkan dalam kondisi baru merdeka, dengan tingkat buta huruf yang masih sangat tinggi, inflasi yang menggila, daya beli rendah, pemimpinnya memberikan pernyataan seperti itu.

Bung Karno juga membantah bahwa untuk mencapai kemerdekaan, kita harus mencapai ini dan itu terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa kita mampu mengelola negara sendiri. Jauh-jauh hari beliau sudah memikirkan bahwa rumusan dasar negara perlu dipikirkan sebagai persiapan kemerdekaan. Meski hal itu tidak menjadi patokan, setelah berapa lama persiapan, atau butuh berapa lama untuk mempersiapkan Indonesia agar siap merdeka. Dikatakannya bahwa merdeka adalah masalah berani atau tidak.

“Saudara-saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 miliun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka!” (1 Juni 1945, hal.143-144)

Berbicara mengenai dasar negara atau weltanschauung, Bung Karno belajar banyak dari negara-negara lain yang sudah lebih dulu merdeka. Beliau tidak mengambil mentah-mentah, entah itu paham nasional-sosialisme, komunisme, ataupun agama. Bung Karno mengajak tokoh-tokoh besar Indonesia, wakil dari semua golongan untuk bermusyawarah merumuskan dasar negara yang disetujui bersama-sama, bukan kompromis, tetapi mengakomodasi semua kepentingan. Bukan mengimpor, tetapi mengacu pada dasar-dasar yang universal. Pada pidato ini beliau juga menyampaikan bahwa jika dasar negara yang lima ini diperas sari-sarinya menjadi satu, maka intinya adalah gotong-royong. Menurutnya, gotong-royong adalah jiwa dan identitas bangsa Indonesia yang tak boleh hilang.

Sebagaimana sebuah pesan yang dituangkan dalam judulnya, jasmerah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Saya melihat banyak sejarah yang terulang, tantangan-tantangan hidup bernegara yang dulu dialami bisa saja terjadi kembali, atau masih menjadi masalah saat ini. Penyelewengan-penyelewengan yang dahulu ditentang keras oleh Bung Karno bisa dilakukan oleh para penyelenggara negara ini. Pesan-pesan dan peringatan Sang Proklamator bisa saja masih relevan.

Sebaliknya, beberapa hal bisa juga tidak bisa diaplikasikan mentah-mentah untuk masa kini. Tantangan zaman dan kondisi global sudah pasti berbeda. Kemajuan teknologi dan pengetahuan manusia seringkali membutuhkan penyesuaian. Namun, sejarah yang berulang ini tetap menjadi sebuah pelajaran, dan prinsip dari para pendiri negara ini perlu ditengok kembali, sebagai introspeksi bagi tujuan bernegara kita saat ini.
Terkait isu PKI dan komunisme, dalam buku ini sebenarnya hampir tidak ada penyebutan kata PKI sama sekali. Namun, pada 17 Agustus 1966, ada beberapa kalimat yang menyinggung masalah ini. Karena jangka waktu kejadiannya relatif lama, biasanya (sebagaimana pidato hari jadi kemerdekaan yang lain), Presiden Soekarno hanya menyinggung sedikit sebagai kilas balik dari kejadian tahun sebelumnya.

“Sudah terang, Gestok kita kutuk, dan saya, saya mengutuk pula! Dan, seperti yang sudah kukatakan berulang kali dengan jelas dan tandas, yang bersalah harus dihukum! Untuk itu, kubangunkan Mahmillub!” (hal. 200)

Beliau juga menyampaikan terkait kesalahpahaman terkait Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret):

“Surat Perintah 11 Maret itu mula-mula, dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya Surat Perintah 11 Maret adalah satu penyerahan pemerintahan! Dikiranya Surat Perintah 11 Maret itu satu transfer of authority. Padahal tidak! Surat Perintah 11 Maret adalah satu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan, pengamanan jalannya any pemerintahan, demikian kataku pada waktu melantik Kabinet. Kecuali, itu juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah pengamanan beberapa hal. Jenderal Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik. Dan, saya mengucapkan terima kasih kepada Jenderal Soeharto akan hal itu.” (hal.182-183)

‘Mereka’ yang dimaksud di sini tidak disebutkan secara langsung siapa, hanya disebutkan musuh-musuh kita, dan secara tersirat dikatakan sebagai pihak asing.

Beliau juga menegaskan kembali pentingnya Pancasila sebagai dasar negara kita, serta arah revolusi Indonesia yang mencerminkan revolusi umat manusia.

“Saya berkata bahwa Nasakom atau Nasasos atau Nasa apa pun adalah unsur mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. Nasionalisme, Ketuhanan, Sosialisme (dengan nama apa pun) adalah merupakan tuntutan daripada tiap jiwa manusia, tiap bangsa, tuntutan seluruh umat manusia. Oleh sebab itu, ini harus kita pertumbuhkan secara konsekuen, tanpa dipengaruhi oleh pikiran atau doktrin yang sudah lapuk, baik dari ekstrem kanan maupun dari ekstrem kiri.” (hal.202)

Buku ini merupakan bacaan yang bagus dan penting untuk seluruh rakyat Indonesia, guna memahami sejarah bangsanya sendiri. Pesan-pesan Bung Karno, meski banyak yang diulang-ulang, rasanya begitu tak lekang oleh waktu. Meski demikian, tentunya pidato-pidato ini tidak bisa berdiri sendiri menjadi saksi sejarah yang utuh. Diperlukan sumber dan sudut pandang lain, yang bisa didapatkan dari sumber sejarah dan buku-buku sejarah lain, untuk bisa memperoleh gambaran yang lebih objektif. Buku ini adalah salah satu perspektif, yang secara tidak langsung menunjukkan watak Bung Karno, serta apa-apa yang diperjuangkannya.

Masih banyak yang bisa dikupas dari buku ini, tetapi akan terlalu panjang jika saya masukkan semua. Oleh karena saat ini kita sedang dalam masa mendekati pemilihan umum, alangkah eloknya jika saya kutipkan pesan yang disampaikan Bung Karno lebih dari lima dekade yang lalu, yang masih relevan untuk direnungkan hari ini.

“Pertentangan yang tidak habis-habis antara pemerintah dan oposisi, pertentangan ideologi antara partai dengan partai, pertentangan antara golongan dengan golongan. Dan, dengan makin mendekatnya Pemilihan Umum 1955 dan 1956, maka masyarakat dan negara kita berubah menjadi arena pertarungan politik dan arena adu kekuatan. Nafsu individualisme dan nafsu egoisme bersimaharajalela, tubuh bangsa dan rakyat kita laksana merobek-robek dadanya sendiri, bangsa Indonesia menjadi a nation devided against itself. Nafsu hantam kromo, nafsu serang-menyerang dengan menonjolkan kebenaran sendiri, nafsu berontak-memberontak melawan pusat, nafsu z.g. demokrasi yang keblinger, yang membuat bangsa dan rakyat kita remuk-redam dalam semangat, kocar-kacir berantakan dalam jiwa. Sampai-sampai pada waktu itu aku berseru: rupanya orang mengira bahwa sesuatu perpecahan di muka Pemilihan Umum atau di dalam Pemilihan Umum selalu dapat diatasi nanti sesudah Pemilihan Umum. Hantam kromo saja memainkan sentimen. Tapi, orang lupa, ada perpecahan yang tidak dapat disembuhkan lagi! Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggerantes, terus membaji dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa sama sekali. Celaka, celaka bangsa yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tidak mampu berdiri kembali. Bertahun-tahun, berwindu-windu ia laksana hendak doodbloeden, kehilangan darah yang ke luar dari luka-luka tubuhnya sendiri. Karena itu, segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: terlepas dari perbedaan apa pun, jagalah persatuan, jagalah kesatuan, jagalah keutuhan! Kita sekalian adalah makhluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta.” (17 Agustus 1966, hal.187-188)

Baca dan review bersama mba Desty (Desty Baca Buku)

…the service of freedom is deathless service…. …. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan di dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan di dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh dari tempat kelahirannya, tetapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang di tempat pengasingan, tidak bisa ditembak mati.” (22 Juni 1966, hal.255)

Advertisements

The Great Trouble – Deborah Hopkinson

22291612Title : The Great Trouble : a mystery of London, the blue death, and a boy called Eel
Author : Deborah Hopkinson (2013)
Publisher : Yearling, an imprint of Random House Children’s Books
Edition : First Yearling edition, 7th printing, 2015
Format : Paperback, 250 pages

Kisah ini bersetting di London pada tahun 1850an. Karakter utama kita, Eel, adalah bocah yatim piatu yang mencari uang dengan mengais di tepian Sungai Thames demi sedikit uang. Saat itu diistilahkan sebagai riverfinder atau mudlark. Karena kepandaiannya, dia sempat mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan aman, tetapi seseorang menjebaknya hingga dia dikeluarkan. Eel harus mengais lumpur kembali, demi menjaga kelangsungan hidup dan rahasianya yang paling berharga.

Pada hari menjelang ulang tahunnya, terjadi wabah kolera di lingkungannya. Kebetulan Eel memiliki sambilan bekerja dengan Dr. Snow yang sangat terkenal dan hebat, tepatnya mengurus hewan-hewannya. Sehingga dia hampir tidak pernah bertemu dengan dokter yang sibuk itu. Namun, melihat kematian mengintai orang yang disayanginya, Eel memberanikan diri ‘mengganggu’ sang dokter untuk membantu kawan-kawannya di Broad Street. Laporan ini—di luar dugaan saya—ditanggapi Dr. Snow dengan antusias, demi membuktikan teorinya tentang penyebab kolera yang sebenarnya.

Sikap dan reaksi Dr. Snow pada saat pertama kali muncul membuat saya gembira. Karena saya sudah memiliki presumsi akan kisah semacam ini. Mungkin ini juga yang membuat saya pada akhirnya sangat menyukai buku ini, karena meski sederhana, banyak hal mendalam termuat di sini. Buku ini memuat kisah keluarga, persahabatan, misteri medis, dan fiksi sejarah yang diramu dengan sangat apik. Banyak kejutan dan hal di luar dugaan akan hubungan antar manusia di sini, membawa kesan hangat. Garis waktu kisah ini hanya beberapa hari saja, tetapi petualangannya padat dan menegangkan.

Oleh karena buku ini disusun untuk pembaca muda, pemecahan beberapa masalah terkesan terlalu mudah, dan banyak keberuntungan. Namun, hal ini tidak mengurangi nilai buku ini bagi saya. Terlebih riset yang mendalam memberikan uraian fakta medis dan fakta sejarah yang cukup akurat. Saya rasa pembaca awam bisa mendapatkan manfaat lebih guna memahami bagaimana riset medis dilakukan, melalui analogi dan penjelasan yang cukup sederhana.

“Today we are using science—not superstition—to stop the spread of disease. You and I may not live to see the day, and my name may be forgotten when it comes, but the time will arrive when great outbreaks of cholera will be things of the past.” (p.206)

Hal lain yang memukau saya adalah bagaimana Eel, dengan segala keterbatasannya, dengan uang pas-pasan yang diperolehnya dengan susah payah, serta kebutuhan yang sangat penting untuk ditanganinya, bisa dengan mudah mengeluarkan uang saat ada orang lain yang membutuhkannya. Kebetulan di waktu membaca buku ini, saya juga membaca Dodger karya Terry Pratchett (yang saat ini belum selesai), dengan setting yang serupa. Dalam buku itu, karakternya juga memiliki kedermawanan yang serupa. Saya jadi berpikir bahwa orang yang terbiasa hidup berkekurangan, mungkin justru semakin memiliki cukup uang untuk selalu berbagi.

Karakter Dr. John Snow dan penyelidikan terkait wabah kolera ini terinspirasi dari karakter dan peristiwa sejarah yang sebenarnya. Hal ini juga merupakan dasar penting dari epidemiologi dan kesehatan masyarakat.

Scene on Three (127) : 7th Blogoversary Edition

Saya bersyukur sekali, dengan semua yang terjadi di tahun-tahun kemarin, saya masih bisa membuat setidaknya satu post pada setiap hari jadi blog ini. Saya ingin selalu mengingat betapa blog ini dilahirkan atas dorongan cinta pada buku, dan (semoga) akan terus dirawat dengan alasan yang sama.

Scene kali ini saya ambil dari cerpen Green Tea karya Sheridan Le Fanu, yang diterbitkan dalam seri Penguin Little Black Classics.

I believe that the essential man is a spirit, that the spirit is an organized substance, but as different in point of material from what we ordinarily understand by matter, as light or electricity is; that the material body is, in the most literal sense, a vesture, and death consequently no interruption of the living man’s existence, but simply his extrication from the natural body — a process which commences at the moment of what we term death, and the completion of which, at furthest a few days later, is the resurrection ‘in power.’ (p.7-8)

Mengingat kisah ini pertama dipublikasikan pada tahun 1872, maka tentu ada perbedaan pemahaman pada zaman tersebut, terlepas dari apa yang diyakini penulis. Secara umum topik ini memang sangat menarik, dan bisa menjadi berbagai penafsiran, tergantung dari sisi keilmuan yang mana kita membahasnya.

2018 in Review and 2019 Plan

Tahun 2018 meninggalkan cukup banyak kesan pada proses membaca saya. Meski pencapaian saya segitu-segitu saja, yang penting saya menikmati dan mendapatkan manfaat darinya. Awal tahun lalu, saya memasang target yang tak muluk. Selain target baca di Goodreads, tiga hal yang saya rencanakan berhasil terlaksana semua.

1. Membaca minimal 1 (satu) buku dari timbunan dengan jumlah halaman lebih dari 500 (lima ratus).

The Help by Kathryn Stockett, yang saya beli sekitar 2012-2013.

2. Menulis setidaknya 3 (tiga) esai yang sempat saya rencanakan. Minimal di blog, syukur-syukur kalau bisa di media (online).

Sepertinya masih sulit menulis jika tidak ada target, untungnya saya mendapat kesempatan menulis di Jurnal Ruang, sehingga menambah motivasi untuk segera menyelesaikannya. Tepat ada tiga artikel yang terbit tahun 2018:

3. Mengisi/mengelola acara luring tentang buku, setidaknya sekali.

Saya membuat sebuah pertemuan berbagi mengenai membaca buku dalam bahasa Inggris. Sebenarnya pesertanya sangat antusias, saya hampir membuat sebuah komunitas, tapi karena satu dan lain hal, belum sempat follow up kembali.

Untuk The Classics Club tampaknya masih menjadi cita-cita, sedangkan CLRP tetap berjalan karena buku anak sering merupakan pelarian saya saat reading slump.

Bicara tentang blogging, ada sebuah pencapaian yang cukup membanggakan tahun lalu. Bukan mengenai kuantitas, tapi kualitas. Karena saya cukup jarang membaca buku baru, maka novel Sapardi Djoko Damono yang saya ikuti saat itu, Yang Fana Adalah Waktu, tak saya sia-siakan untuk diikutkan ke Resensi Pilihan Gramedia. Sebetulnya saya menang bukan karena resensi saya bagus, tapi ya memang ada strateginya. Singkat cerita, review itu terpilih, dan dari hadiah yang saya ajukan, saya mendapatkan buku Gentayangan karya Intan Paramaditha dan Alih Wahana dari penulis yang sama. Lalu, kebetulan setelahnya ada sayembara resensi Gentayangan dari penulisnya. Untungnya saya masih bisa mengejar membuat resensinya, dan termasuk dalam salah satu pemenang hadiah hiburan. Buku yang beranak-pinak begini yang membuat saya semakin bersemangat menulis.

Untuk tahun 2019 ini, target baca saya di Goodreads masih sama, 55 buku. Dan ada kemungkinan berubah jika terjadi sesuatu di tahun ini. Sedangkan untuk target lain, mungkin ini agak sulit diukur, tapi saya ingin merombak isi lemari buku saya. Buku-buku yang sudah lama tertimbun harus mulai dikurangi, entah dipindahkan ke rak sudah dibaca, atau dikeluarkan sama sekali jika memang tidak ingin dibaca. Saya juga ingin merapikan koleksi sehingga lebih enak dilihat, menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan saat saya memandanginya.

Sejujurnya banyak buku yang saat ini berada di rak akan dibaca dibeli karena harga murah dan rasa ingin tahu saja. Saya masih ingin membacanya, tapi tak yakin ingin mengoleksinya. Jadi setelah semuanya terbaca, saya inginnya rak buku saya benar-benar berisi buku yang saya sukai dan ingin saya koleksi.

Tentunya menghabiskan timbunan adalah hal mustahil dilakukan dalam satu tahun. Namun, karena belakangan saya relatif lebih selektif dalam membeli buku, dan beberapa ada dalam bentuk digital, cukup berubah profilnya saja.

Book Kaleidoscope 2018

The year 2018 has been a quite nice year for my reading life. I didn’t read more than I did the previous year, but the journey was satisfying. As I said in my Instagram, I want to modify my TBR pile (ganti tahun ganti timbunan). Because there are so many books I bought 3++ years before that I haven’t read. I pick as many old TBR as I can, so I could change the appearance of my bookshelves and become less stressful about it. However, the temptation of new books is unbearable, new TBR are inevitable. So, without guilty, there will be much more to read.

In 2018, I read 60 books from my target of 55 books. Here is the record in Goodreads. As usual, I read from various genres, although I read less classics than I used to. Here are lists of impressive things in my readings in 2018 (by reading time sequence).

Anticipated Sequel:

  1. Yang Fana Adalah Waktu by Sapardi Djoko Damono is the last book of trilogy by a well-known senior poet and author in Indonesia. His readers are either love this series or hate it, because of his different style. Some said it’s too old-fashioned, but for me, it contains many experiments, which I found interesting.
  2. Lethal White by Robert Galbraith, the fourth installment of Cormoran Strike series, is worth the wait. Although I prefer the third book, this book keeps being a great read.
  3. Eternity’s Wheel by Michael & Mallory Reaves. After surprisingly good sequel, I pick this third book with higher expectation. It’s not better that the second book, but I can close the book with enough satisfaction.PhotoGrid_1546328495774.jpg

Pastiche/Adaptation:

  1. The Return of the Young Prince by A. G. Roemmers. This book is meant to be the sequel of a masterpiece from Antoine de Saint-Exupery, The Little Prince. I won’t compare them, since I don’t put my expectation that high. I found the characters are annoying, but I like many of their conversations and the general idea.
  2. A Study in Charlotte by Brittany Cavallaro. The story about Sherlock Holmes and John Watson great-great-great grandchildren. I ‘read’ the audiobook version of it, which was a new experience to me. I can’t quite accept Holmes stories other than Doyle’s, but over all, it’s okay for a YA fiction.
  3. The Comical Tragedy or Tragical Comedy of Mr. Punch by Neil Gaiman. As an Asian that lives in Asia, I’m not familiar with Punch and Judy puppet play. The first time I heard about it was in Dickens book, and I couldn’t understand how that kind of show is for children. Reading this book added my puzzlement, until I searched the show on YouTube, and yeah, I may understand a bit.PhotoGrid_1546329853632.jpg

Authors I Long to Read:

There are so many authors I want to read but haven’t had the chance, or haven’t found the right book. Here are some names I was curious about:

  1. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Di Tanah Lada), Indonesian young author. She gained some awards that are quite an achievement for a 20-something year old. I definitely won’t stop just reading one of her books, for she’s also writing across genres.
  2. Ursula K Le Guin (Catwings & Catwings Return). Some years ago, I failed reading her novel because of the bad timing. Reading these two books may not represent her writing fully, but at least I’ve read her.
  3. Terry Pratchett (The Carpet People). I have bought some of his Discworld series, but haven’t read it because apparently, I didn’t buy it in the right order. Luckily, I got the chance to read his first story first.
  4. Anton Chekhov (Gooseberries).
  5. Sheridan Le Fanu (Green Tea).

These two classics I read from Penguin Little Black, an excuse to collect them.PhotoGrid_1546330185365.jpg

Books I Would Recommend:

  1. Laut Bercerita by Leila S. Chudori, Indonesian politic fiction. The setting is around 1990s, around Reformation 1998, when university students were starting the protests. It’s a heartbreaking story about the students that were being ‘vanished’ by a special force military, and their families left behind. At that time, the country was governed by one president for more than 30 years. Of course, it was far from democratic. This book is important because today, people that were involved in those past sins are trying to rule this country again. And our younger generation need to know the hidden history about human rights violations that happened in the past.
  2. Good Night Stories for Rebel Girls by Elena Favilli & Francesca Cavallo. A mini biography of 100 powerful and wonderful women, with great illustrations from women illustrators all over the world. The stories are simple and suitable for younger readers. It’s great for young girls to have women representations of their dreams.
  3. Monster Kepala Seribu (Indonesian translation of Un Monstruo de mil Cabezas) by Laura Santullo. I strongly recommend this book for all health care policy makers. It’s about a woman doing everything (even breaking the law) to make certain that her husband getting cure for his terminal illness. The politics of health insurance and policies are being the center of problem that would ruin people’s life.
  4. Aroma Karsa by Dee Lestari. Indonesian fiction again, a story about perfume makers in search for an ultimate formula. It involves hyperosmia, historical and cultural events. It’s a very exciting stories that makes 700+ pages didn’t feel so thick.
  5. Gentayangan by Intan Paramaditha. Another Indonesian page-turner adventure. This book has pick your own adventure format. A story about a woman seeking for an adventure, but have to make an agreement with the devil. The adventures could be disastrous, astonishing, or mundane, depends of the choice we (readers) take. I read somewhere that this book is going to be translated in English.PhotoGrid_1546329390854.jpg

Favourite Books:

  1. The Great Trouble by Deborah Hopkinson. This book had been on my wishlist for quite some time, but I didn’t prioritize to buy. Until one day I decided to order it online and read it, I was so grateful to find this splendid book. I love it as a health professional, because the author could incredibly deliver the concept of epidemiology in a middle grade book. The concept that maybe not all adults know.
  2. The Tale of Despereaux by Kate DiCamillo. Another heart-warming stories from an axceptional author.
  3. The Help by Kathryn Stockett. This is quite a masterpiece, and I’m sure it would be a classic, and still relevant long after.PhotoGrid_1546329643437.jpg

Of course there are still many good books I discovered last year. And I hope I could find more this year.