Scene on Three (122) & Refleksi Blogoversary ke-6

Sejak berabad-abad yang lalu, di seluruh dunia, Watt dan Newton pasti bukan satu-satunya orang yang pernah melihat uap keluar dari ketel berisi air mendidih dan mengamati jatuhnya apel dari pohon.
Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti, kata Kepala Sekolah.
(p.106)

Ini adalah petikan dari buku Totto-chan (Gadis Cilik di Jendela) karya Tetsuko Kuroyanagi (1981) yang sangat mencerminkan keseluruhan isi bukunya; perenungan. Kisah Totto-chan kecil yang bersekolah di sekolah yang tak biasa, dengan Kepala Sekolah yang memilih metode yang tidak lazim di Jepang, dan bagaimana hal-hal tersebut membentuk kepribadian anak-anak. Kutipan di atas mengingatkan kita untuk membaca hal di sekeliling kita dengan kreativitas, tak terkungkung dengan kebiasaan maupun tradisi.

Begitu halnya dengan blog ini. Hari ini menandai enam tahun sejak post pertama diterbitkan di sini, dan mungkin, penurunan frekuensi blog akhir-akhir ini bukan hanya suatu fase yang nanti akan berlalu dengan sendirinya. Saya rasa ada hal-hal yang harus berubah. Selama enam tahun ini, saya bertahan dengan suatu metode mereview yang memiliki pakem sendiri, yang saya rasa merupakan kebutuhan dari sebuah resensi. Namun, pada beberapa kasus, cara ini justru menghambat saya dalam mereview. Ada buku-buku yang ingin saya review, tapi tak membuat saya bisa memikirkan hal-hal untuk melengkapi pakem review tersebut. Dari situ, tahun lalu ada Mini Reviews yang agak membantu saya dalam mereview.

Setelah saya pikirkan, mungkin saya akan membuat lebih banyak Mini Reviews, maupun jenis review lain dengan pakem yang berbeda dari kebiasaan saya, meski itu berarti mengorbankan ‘kelengkapan’ sebuah review. Dengan begitu, saya harap dengan waktu yang semakin terbatas, lebih banyak review bisa hadir di blog ini, meski hanya satu dua kalimat komentar, ataupun mungkin hanya dalam Scene on Three seperti ini. Dengan begini, mungkin harapan saya di 2018 tidak akan terlalu muluk.

Advertisements

2018 Reading and Blogging Plan

Dengan 2017 yang meninggalkan cukup banyak kesan, dan 2018 yang baru berjalan tiga hari tapi sudah menimbulkan kesan tertentu yang tak jauh berbeda, sepertinya tahun ini saya belum bisa memasang target lebih tinggi. Untuk target baca Goodreads, saya memasang 55 buku, lebih tinggi dari target tahun lalu, tapi lebih rendah dari pencapaian tahun tersebut, jadi bisa dikatakan masih aman. Untuk target yang lain, meski ragu, tapi seharusnya saya bisa melakukan beberapa hal yang lebih baik.

Saya masih ingin melakukan banyak hal dalam dunia membaca dan blogging ini. Jadi, mari kita coba hal berikut:

1. Membaca minimal 1 (satu) buku dari timbunan dengan jumlah halaman lebih dari 500 (lima ratus).

2. Menulis setidaknya 3 (tiga) esai yang sempat saya rencanakan. Minimal di blog, syukur-syukur kalau bisa di media (online).

3. Mengisi/mengelola acara luring tentang buku, setidaknya sekali.

Sebenarnya ada satu keinginan sejak pertengahan tahun lalu, yaitu ingin bergabung di The Classics Club lagi setelah selesai putaran pertama tahun 2017 lalu (bahkan bannernya belum saya lepas, ha). Namun, dengan ritme baca dan blog seperti ini kok saya masih ragu. Semoga sebelum tahun 2018 habis, saya sudah bisa memantapkan hati membuat list lagi. Ada beberapa buku klasik yang ingin sekali saya baca, dan kalau tahun 2018 berjalan baik, seharusnya saya mampu membuat list tersebut. Untuk reading project saya sendiri (CLRP) masih berjalan, meski tersendat juga di review.

Mungkin itu dulu untuk sementara. Tidak muluk, tapi untuk melakukan ketiga (atau keempat jika ditambah The Classics Club) hal tersebut memang saya harus mendobrak beberapa hambatan yang selama ini menjadi pembenaran untuk tidak melakukannya. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.

Book Kaleidoscope 2017

It has become a tradition on this blog that every year I post about remarkable books or some aspects in books that I read that year. As you can see, I didn’t blog much last year, so this post become more important in order to record my good reading journey in 2017.

There are 60 books I read based on my Goodreads data (however, there are some books that aren’t on Goodreads, and MANY I haven’t finished reading), with various genres. Besides fictions, there are some nonfiction books with my preferred themes. And here are three books that feed me well:

  1. Avicenna by Aisha Khan. I always interested to know how medicine works centuries ago. Before all these guidelines and safe procedures we have today. Avicenna, or Ibnu Sina, was said to be one of the modern medicine pioneer. This thin book gave me new insights about history and society, and of course, more interest in this doctor’s life.
  2. A Short Guide to a Long Life by David B. Agus. I am a firm believer in holistic medicine, and this book, a short guide (as the title said) is an important book for everybody to read in order to gain better quality of life.
  3. Reasons to Stay Alive by Matt Haig. It is a book about depression and anxiety based on experience. The author isn’t a health practitioner, but his insights are great and have reliable data to support his opinions.

With so many books out there, I never run out of surprises and wonders. There are books I read with some intentions except of getting an extraordinary story. On the contrary, these three books are unexpectedly extraordinary:

  1. A Cruel Bird Came to the Nest and Looked In by Magnus Mills. I bought the book because of the cover, I didn’t know the author, I never heard about the book, and I wasn’t sure about the story in the synopsis. However, a book always find a way to get into its reader, right? 🙂
  2. Silver Dream by Michael Reaves & Mallory Reaves. Although there are a big Neil Gaiman’s name on the cover, he didn’t contribute in writing this second book of Interworld, that’s why I wasn’t sure. True that it isn’t as magical as Gaiman’s usual story, but it is a magical science fiction book with the science aspect so intense to awe me.
  3. Flying High by Linda Chapman. The third installment of My Secret Unicorn, I bought this because I thought a friend would be interested. I am so happy I decided to pick and reading this book. It is so fun, so warm, so classic, that reminds me of my childhood readings, although this book wasn’t really written in that era.

Here are some authors I haven’t read before, and left me curious about their other books:

  1. HAMKA, an Indonesian Islamic scholar, writers, philosopher, and activist. He himself had an interesting life story, however, I just read his novels this year, and a classic it is.
  2. Magnus Mills, the author I hadn’t heard before. His writing style is unique (based on the one book I read), it made me craving for more extraordinary journey with the strange story.
  3. Agus Noor, an Indonesia contemporary author, he writes various kind of books, but the one I read last year was a play. From a few Indonesian plays I’ve read, his is one that most enjoyable.
  4. Juan Pablo Villalobos. When I saw a friend reviewed a book from this Mexican author, I was pretty curious and as I found the book on a digital library, I didn’t hesitate to read it. It was a new experience for me to get that mindblowing character.
  5. David B. Agus, MD. As I mentioned before, I like most of his views in medicine and planning to read his other books to get some new insights.

Some of you may know that I have a strange taste in a weird and absurd book. I can take the wildest and craziest story, and enjoying it although I can’t get the whole idea of the book. And last year there are:

  1. Pingkan Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono. The author is famous as a poet, although he’s been writing stories for decades already. However, this novel gives an extraordinary love story, that plays with time, dream, imagination, and reality. Here is my complete review.
  2. Down the Rabbit Hole by Juan Pablo Villalobos. A novella that was written from a boy’s point of view. His father is a head of syndicate, and guess how his character be like. Unbelievably insane.

To be honest, I don’t easily fall for fictional characters. But, I have some that caught me last year:

  1. Newt Scamander (Fantastic Beasts and Where to Find Them by J.K.Rowling). Who can resist this fantastic beasts lover after seeing Eddie Redmayne potrayed him? And I was falling in love again as I read the screenplay.
  2. Ronnie Petroski (See You in the Cosmos by Jack Cheng). Well, he’s the brother of the main character. He didn’t play much important role in the beginning, and his description didn’t give a good impression. Until the part he appeared more, his quality was showing. His love for the family, big responsibility, and sacrifice truly made him more attractive.

There are some books that touched my heart and left me with too much feeling:

  1. The Tale of the Rose by Consuelo de Saint-Exupéry. This book gave me a whole new idea about love, trust, and loyalty. My review here.
  2. One by Sarah Crossan. This book is certainly not my favourite, but at some point, it broke my heart deeply.
  3. See You in the Cosmos by Jack Cheng. This book made me cry, and I couldn’t read any books for weeks after because I felt I couldn’t find anything as good as this book.

And, finally, here are my top three favourite books this year:

  1. The Tale of the Rose by Consuelo de Saint-Exupéry, a memoir of Antoine de Saint-Exupéry’s wife. It was really well-written and even it showed bitter truth, I can’t help but love it.
  2. George’s Cosmic Treasure Hunt by Lucy & Stephen Hawking. As a fan of astronomy, I found this book entertaining and educating at the same time. This is George’s second adventure, and I love it better than the first book.
  3. See You in the Cosmos by Jack Cheng. Well, there are many things I wish to say about this book. I hope I could write the review soon.

So, these are some important books I read last year. I’m happy I found some treasures even I didn’t read much (as much as I expected). So, here we go, make 2018 a better year.

Melihat Kembali Tantangan 2017

Dua tiga tahun ke belakang, blog ini semakin lama semakin jarang terjamah. Saya sudah menyadari itu sejak lama, dan sudah saya tuangkan dalam resolusi di tahun 2017 lalu. Di akhir tahun ini, saya ingin merefleksikan apa yang terjadi di tahun 2017 ini, dan apa saja target yang sudah tercapai dan apa yang belum.

Untuk target baca, seperti dua tahun sebelumnya, saya tidak memasang target tinggi. Di goodreads saya hanya merencanakan membaca 50 buku saja, tentunya dengan harapan akan bisa lebih dari itu. Ternyata saya bisa mencapai 60 buku, yang walaupun banyak di antaranya buku tipis, juga ada banyak masa saya sulit membaca buku sama sekali, ada waktu saya bisa ‘kesurupan’ membaca hingga 2-3 buku tebal standar berturut-turut. Pun saya juga membaca beberapa timbunan lama yang tampaknya sudah sangat menanti untuk dibaca sejak dulu. Jadi bisa dikatakan saya sudah mencapai target baca saya sendiri. Data bacaan bisa dilihat di laman Goodreads ini.

Sayangnya untuk target review buku, saya masih jauh. Awal bulan lalu saya sempat mengumpulkan buku yang sudah dibaca tapi belum direview di blog. Kebiasaan saya sejak memiliki blog adalah memisahkan buku yang sudah dibaca dan belum dibaca, serta sudah direview (atau tidak direview) dan belum direview. Buku-buku yang belum direview ini belum akan mendapat tempat di rak buku, sehingga memang sangat mengganggu kerapian. Saat saya kumpulkan mencapai satu kardus besar itu, rasanya memang saya berutang banyak. Meski sudah mencoba mengejar dengan Mini Reviews, ternyata masih sulit juga, karena satu dan lain hal. Tampaknya untuk resolusi ini harus dilanjutkan kembali di 2018, karena saya belum menyerah untuk tetap menjadi seorang blogger buku 🙂

Bicara soal review, ada beberapa blog yang saya ikuti belum diubah pengaturan notifikasi via emailnya. Biasanya cukup rangkuman seminggu sekali, tetapi blog kak Astrid dan Dyta ini setiap post email akan langsung masuk. Tidak tahu ini suatu keuntungan atau bukan, kebetulan keduanya masih aktif ngeblog, dan setiap email dari blog mereka masuk, saya sedikit iri dan tergerak untuk ngeblog lagi. Kebetulan juga keduanya adalah blogger favorit saya. Tapi, ya, niat baru bisa dilakukan sebatas niat. Bahkan sesederhana mengubah pengaturan notifikasi saja belum terlaksana. Sebenarnya ada lagi beberapa blog serupa kasusnya, tetapi karena postnya sedang agak jarang, jadi tidak terlalu tampak mengintimidasi.

Menilik resolusi saya di post ini, ada lima poin penjabaran yang saya tuliskan di situ, dan dengan bahagia bisa saya katakan saya sudah menjalankan kelimanya semampunya. Poin pertama, sudah ada beberapa review yang saya tuliskan dari buku yang dibaca tahun sebelumnya. Poin kedua, walau tidak bisa dikatakan saya merawat blog ini dengan baik, ada beberapa ide sudah terwujud dengan baik, terutama di bawah post kategori My Thoughts. Yang akan berkaitan dengan poin keempat juga, di tahun ini saya dua kali berkesempatan menulis di media online, Jurnal Ruang. Tulisan pertama adalah ide yang sudah terbersit sejak bertahun-tahun lalu, yaitu mengenai hubungan antara fiksi klasik (bidang yang saya suka) dengan medis (bidang yang saya geluti), bisa dibaca di sini. Tulisan kedua masih tentang fiksi klasik, kali ini berhubungan dengan membaca dalam bahasa Inggris bisa dibaca di sini. Sebuah pengalaman baru yang memberi beberapa keuntungan, di antaranya tulisan saya diedit menjadi lebih rapi, dan ide saya bisa dibaca khayalak yang lebih luas.

Masih di poin keempat, saya juga melakukan beberapa aktivitas luring. Di antaranya (semacam) workshop menulis resensi buku untuk anak-anak, yang sudah dirangkum partner pengisi saya, Ratih, di sini. Sebelumnya di bulan Januari, tepatnya tanggal 22 saya sempat berbicara mengenai sastra klasik di radio lokal kota saya. Lalu proyek terbesar saya, yaitu keinginan memiliki toko buku indie sekaligus ruang baca umum sudah mulai saya rintis di pertengahan tahun ini. Ruang yang saya beri nama Teras Buku ini merupakan perpanjangan dari Bookish Patronus, toko buku online yang sudah saya rintis sebelumnya. Saya ingin tidak ada dikotomi antara toko buku dengan taman baca, antara pembaca atau kolektor ataupun penimbun. Tidak ada yang lebih unggul atau lebih hina, karena selama kita berdaya untuk buku, kita semua sama di hadapan buku. Memang untuk pelaksanaannya belum seidealis bayangan saya, dan saya pun belum tahu apakah masih bisa berlanjut sesuai dengan niatan awal, tetapi setidaknya melalui tindakan nyata, saya jadi tahu hambatan dan tantangan yang sesungguhnya.

Untuk poin ketiga dan kelima, sudah saya lakukan, terutama pada periode di mana saya membaca dengan cepat, saya menemukan beberapa buku dan penulis yang memuaskan dan membahagiakan. Detailnya akan saya jabarkan di post berikutnya yang berisi kaleidoskop baca saya selama 2017 ini.

Semoga tahun 2018 membawa pengalaman baru yang lebih baik, dan mendatangkan hal-hal baik yang lainnya.

Miracle Girls – Nami Akimoto

Title : Miracle Girls (Manga Vol. 1-9)

Author : Nami Akimoto (1991-1994)

Translator : Irawati

Publisher : Elex Media Komputindo

Edition : Cetakan pertama, 2016

Manga ini adalah salah satu manga yang kubeli atas dasar romantika masa kecil. Dulu, anime adaptasi dari manga ini adalah salah satu yang saya ikuti semasa sekolah. Membaca manga ini saat dewasa, dengan ingatan samar-samar animenya yang sebagian besar ceritanya sudah terlupakan, memberikan kesan yang sangat berbeda. Dan hal ini pula yang membuat saya memiliki sudut pandang yang baru tentang manga. Spoiler alerts! Karena kurasa pesona manga ini bukan kejutannya, pun akhirnya sangat mudah ditebak.

Tomomi dan Mikage Matsunaga adalah kembar identik yang memiliki keajaiban. Keduanya bisa melakukan telepati dan teleportasi. Awalnya ini adalah rahasia mereka berdua, sampai pada saat mereka kelas 3 SMP, Mikage—yang berbeda sekolah dengan Tomomi—meminta tolong saudarinya untuk mewakilinya dalam lomba estafet. Meski kembar identik, sifat dan bakat keduanya sangat berbeda. Tomomi tak terlalu cemerlang dalam pelajaran, tetapi sangat jago olahraga. Kebalikan Mikage yang jenius dalam hal akademik tapi payah dalam olahraga. Penyamaran Tomomi ini menyebabkan seorang guru yang terobsesi pada fenomena ajaib mengejar mereka, Tomomi jatuh cinta pada musuh bebuyutan Mikage, dan kekacauan lain yang mengikutinya. Jadi kini sudah ada tiga orang yang akhirnya mengetahui rahasia keduanya; sang guru—Pak Kageura, Noda—teman sekelas yang dibenci Mikage, dan Kurashige—senior Noda di klub atletik yang disukai Mikage.

Buku ini terdiri dari tiga bagian yang diterbitkan menjadi sembilan volume. Setiap bagian menceritakan petualangan yang berbeda, dan setiap petualangan melibatkan lebih banyak orang yang akhirnya mengetahui rahasia keajaiban Matsunaga bersaudari. Pada bagian pertama diawali dengan kisah di atas, dan karena suatu hal Pak Kageura memendam ambisinya dan berbalik membantu si kembar ajaib. Di bagian kedua, mereka bertemu seseorang, yang ternyata juga seorang esper (memiliki kemampuan ajaib), mengejar mereka. Masaki Takamura, yang menjadi kaki tangan seseorang di sebuah organisasi yang hendak menguasai dunia (ambisi yang sangat umum di kartun 90-an, hahaha). Nanti di bagian ketiga akan muncul kembali Mister X yang masih mendendam pada si kembar. Dengan latar belakang Kerajaan Diamas—yang disebut-sebut tersembunyi di sekitar Inggris—yang memiliki legenda Ratu Kembar. Di sini Matsunaga bersaudari akan mendapatkan dan melihat keajaiban yang lain.

Saya sudah jarang sekali membaca manga, jadi mungkin saya lupa—atau tidak menyadari, bahwa logika manga sangat berbeda dengan logika novel. Kisah yang bertema fantasi ini tidak seperti novel yang memerlukan world-building yang mapan. Jika dipaksa dibandingkan, mungkin manga ini setara dengan imajinasi bebas tanpa aturan ala picture book atau buku anak pendek yang sasarannya di bawah delapan tahun, yang tidak mementingkan logika cerita, tetapi murni kesenangan dan pengalaman fantastis.

Faktor lainnya adalah sasaran pembaca. Manga ini ditujukan untuk pembaca remaja, karakternya dibuat sebagai remaja dengan segala dinamikanya, tetapi dengan peran dan tanggung jawab yang sedikit lebih besar. Anak usia SMP-SMA yang memiliki kekuatan tetapi bisa menyembunyikan dari orang tuanya, bahkan mempertaruhkan nyawa dalam misi ‘penyelamatan dunia’, dengan melibatkan sedikit sekali orang dewasa. Bahkan dalam bagian ekstra (curhatan) penulis menyatakan bahwa dia merasa terlalu banyak memasukkan tokoh dewasa.

Pada beberapa bagian, tampak chemistry antarkarakternya sangat kuat, terutama di volume 2 dan bagian 3. Baik itu antara saudara, teman, kekasih, keluarga. Di saat yang lain, kita juga disuguhkan petualangan yang gegabah, instingtif, tetapi dilandasi kepedulian dan empati, juga rasa ingin tahu yang besar.

Selain kisah Mikage dan Tomomi, dalam serial ini penulis juga menyisipkan beberapa kisah pendek yang tak kalah manisnya.

TAPI… TAMPAKNYA ADA HAL YANG TAK BISA DIKENDALIKAN OLEH KEKUATAN SAJA

ITU ADALAH HATI MANUSIA…

KEKUATAN DALAM MEMPERCAYAI SESEORANG

MEMBUAT KEAJAIBAN…