Nyanyian Akar Rumput – Wiji Thukul

20870506Judul : Nyanyian Akar Rumput
Penulis : Wiji Thukul
Penyunting : Arman Dhani Bustomi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan keempat, November 2019
Format : Paperback, 243 halaman

nyanyian akar rumput

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
ayo gabung ke kami
biar jadi mimpi buruk presiden!
(hal.25)

Puisi yang dijadikan judul untuk kumpulan puisi ini rasanya cocok menggambarkan keseluruhan buku ini. Tentang suara-suara akar rumput yang tersingkirkan di negerinya sendiri, kemiskinan, kapitalisme, kritik terhadap penguasa, perlawanan, keberanian, dan tentang hidup itu sendiri. Bahasa yang digunakan lugas, terus terang, dan yang paling penting, menyentuh langsung permasalahan yang ada.

Membaca buku ini, di masa sekarang, 22 tahun setelah tumbangnya penguasa yang dikritik habis-habisan dalam buku ini, rasanya masih sangat relevan. Terlebih orang-orang yang ada di atas saat ini tak jauh-jauh dari orang-orang yang berpengaruh di zaman itu.

tong potong roti

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
kini datang gantinya

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
bagi-bagi tanahnya

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
siapa beli gunungnya

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
kini indonesia

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
kini siapa yang punya
(hal.58)

Agak menyedihkan juga bahwa setelah beberapa dekade, beberapa kali berganti presiden, beberapa kali merevisi undang-undang, kita masih berkutat pada masalah yang sama. Saya tak akan mengatakan sejarah berulang, karena kenyataannya banyak hal bukannya berulang, tetapi memang belum berubah sejak dulu.

biarkanlah jiwamu berlibur, hei penyair


bahasa kita adalah bahasa indonesia benar
bukan bahasa yang gampang dibolak-balik artinya oleh penguasa
bbm adalah singkatan dari bahan bakar minyak
bukan bolak-balik mencekik
maka berbicara tentang nasib rakyat
tidak sama dengan pki atau malah dicap anti-pancasila
itu namanya manipulasi bahasa
kita harus berbahasa indonesia yang baik dan benar
kata siapa kepada siapa.
(hal.87-89)

Namun, tak semua tema puisinya seragam, ada juga puisi yang berbicara tentang alam, cinta, baik yang tampak seperti apa adanya, ataupun yang sebagai kiasan. Karena memang buku ini adalah kumpulan dari puisi-puisi yang ditulis dari berbagai masa dan situasi, maka tentu akan tampak nuansa yang berbeda-beda.

ada pelangi di langit sore

ada pelangi di langit sore
seusai siang badai
ada damai menjelang senja
lalu malam
selamat tidur…
sampai jumpa esok pagi
badai nanti lagi
seperti biasa
(hal.116)

Di antara kesemua tema puisi di buku ini, yang paling menyentuh hati adalah puisi-puisi yang dipersembahkan untuk anak dan istrinya, puisi-puisi yang ditulis pada masa pelarian. Puisi-puisi tersebut tampak seperti surat cinta dan surat perpisahan, yang tak mengizinkan kata putus asa dan kesedihan menetap di sana.

catatan

kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
katakan
ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi dipaksa jadi penjahat
oleh penguasa
yang sewenang-wenang

kalau mereka bertanya
“apa yang dicari”
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok
haknya
yang dirampas dan dicuri
(hal.164-165)

Rasanya buku ini sangat penting untuk dibaca oleh semua orang. Yang senasib akan merasa tidak sendirian dalam perlawanan, yang lebih beruntung akan merasakan empati terhadap sesamanya. Jika hati nurani masih ada. Lalu bersama-sama melawan, apa pun bentuknya, sesederhana apa pun.

sajak

sajakku
adalah kebisuan
yang sudah kuhancurkan
sehingga aku bisa mengucapkan
dan engkau mendengarkan

sajakku melawan kebisuan
(hal.210)

Rasanya banyak sekali puisi yang ingin saya kutip di sini, karena kutipan-kutipan itu akan jauh lebih bisa berbicara ketimbang review yang saya buat ini. Akan tetapi daripada begitu, lebih baik kalian beli/pinjam dan baca sendiri saja bukunya. Sebagai penutup, ada sebuah puisi pendek yang tajam sekali.

busuk

derita sudah matang, bung
bahkan busuk
tetap ditelan?
(hal.163)

Scene on Three (131) [Selamat Ulang Tahun, Bebi!]

Setelah sekian purnama belum sempat posting sesuatu, hari ini bertepatan dengan ulang tahun Bebi yang ke-9, saya menyempatkan diri menulis sesuatu. Harapannya, BBI hidup lagi (apa pun bentuknya), sehat, sejahtera, bahagia, dan berjaya sesuai masanya.

Tahun ini kebetulan dunia mengalami masa yang sulit, sebuah pandemi virus corona baru menyerang hampir seluruh dunia. Ada negara yang menanganinya dengan baik ada yang tidak. Saya jadi ingat dengan kisah dalam buku The Great Trouble yang menceritakan kisah wabah kolera di Inggris pada abad ke-19.

Kemudian saya membuka salah satu buku sejarah medis yang ada di perpustakaan pribadi saya, berjudul Kill or Cure, karangan Steve Parker, pada bagian yang membahas mengenai John Snow, dokter yang memiliki peran penting di buku The Great Trouble tersebut. Berikut kutipan yang saya pilih:

In 1885, Snow published a hugely expanded, revised edition of On the Mode of Communication of Cholera, in which he noted: “Within 250 yards of the spot… there were upward of 500 fatal attacks of cholera in 10 days… I suspected some contamination of the water of the much-frequented street-pump in Broad Street.” However, his ideas continued to be ignored, and cholera continued its deadly attacks. The miasma theory prevailed, and was only questioned after it was challenged by the experiments of Louis Pasteur in the 1860s. Unfortunately, Snow had already died by then, from a stroke at the age of 45, shortly before the publication of his book On Chloroform and Other Anesthetics and Their Action and Administration. (p.182-183)

Lucu juga kalau teori miasma dikembalikan sekarang, toh orang awam juga tidak tahu bahwa itu teori jadul. Kalau diembuskan dengan tepat, mungkin bisa dipercaya sebagaimana hoax pada umumnya. Setidaknya teori ini akan lebih relevan untuk membuat orang-orang berdiam saja di rumah.

Tapi bukan karena itu saya mengambil kutipan itu. Sebagaimana kata orang-orang, sejarah berulang. Orang dengan kompetensi untuk berbicara sering sekali tidak didengar, padahal sebenarnya bisa menyelamatkan banyak orang. Apalagi hari ini, bukan hanya satu dokter yang berbicara, banyak dokter, pakar, dan profesor sudah berbicara, tinggal kita menunggu saja; mereka akan didengar dan kita semua selamat, atau pihak berwenang terus memilih abai dan kita tunggu ke mana virus ini akan membawa kita. Mereka yang sakit, yang cacat, yang meninggal akan menjadi catatan sejarah, dan mereka yang sudah diberi tahu tetapi memilih tidak mendengar akan dicatat juga oleh tinta merah sejarah.

Jika ada satu saja hal yang bisa menghibur kita dari sejarah itu, adalah bahwa semua akan berakhir, hanya kita tidak akan tahu akhir yang bagaimana. Tapi, semua akan berakhir, pada waktunya.

Scene on Three (130) [My blog is 8 years old!]

Tahun ini, lagi-lagi ulang tahun blog ini saya rayakan dengan sekadar membuat post (meski terlambat 18 hari). Saya berterima kasih pada semua pengunjung blog ini, siapa pun Anda, yang sedikit banyak menyemangati saya untuk terus menulis.

Scene kali ini dari buku Absent in the Spring karya Mary Westmacott, buku yang saya selesaikan beberapa hari lalu, yang membuat gelombang emosional di bab-bab terakhirnya. Scene ini tidak berhubungan secara langsung dengan konflik utama buku ini, tapi menarik, karenanya, cocok untuk masuk di Scene on Three.

‘Ah but that is so English. You think it impertinent if I ask the questions that we Russians feel are so natural. It is curious that. If I were to ask you where you had been, to what hotels, and what scenery you had seen, and if you have children and what do they do, and have you travelled much, and do you know a good hairdresser in London — all that you would answer with pleasure. But if I ask something that comes into my mind — have you a sorrow, is your husband faithful–do you sleep much with men — what has been your most beautiful experience in life — are you conscious of the love of God? All those things would make you draw back — affronted — and yet they are much more interesting than the others, nicht wahr?’ (p.227-228)

Ternyata, basa-basi orang Rusia agak mendekati basa-basi orang Indonesia ya, kalau tidak bisa dibilang lebih parah, lol. Ya, sebenarnya mungkin mau bertanya apa saja itu sah-sah saja, tetapi alangkah lebih baik jika mengetahui karakteristik atau budaya orang tersebut, dan siap juga dengan konsekuensi bahwa orang tersebut akan tersinggung.

2020 Reading and Blogging Plan

Tahun baru, mari membuat resolusi baru. Seperti sudah saya singgung di post 2019 in Review, enam bulan terakhir saya sudah mengukur kemampuan baca dan blogging, menyesuaikan dengan kesibukan baru. Rata-rata dalam bulan sibuk, saya bisa membaca dua novel dengan ketebalan standar, bisa lebih jika saya tambahkan picture book atau buku tipis sekali duduk. Dengan memperhitungkan hal di luar dugaan, dan kemungkinan saya ingin membaca buku tebal juga, maka saya putuskan tahun ini akan memasang target baca 22 buku di Goodreads. Saya agak yakin kalau bisa lebih, tapi karena memasuki dunia ‘baru’, saya tidak ingin berharap terlalu tinggi terlebih dahulu.

Sudah beberapa tahun saya bertahan dari reading challenge (RC) selain Goodreads, entah kali ini saya mungkin melihat banyak teman kembali bersemangat, terutama di grup BBI Joglosemar yang akhirnya membuat RC-nya sendiri, maka pertahanan saya runtuh juga. Tentunya saya memilih-milih tantangan yang sefleksibel mungkin, agar tidak menjadi beban tambahan. Untuk RC tahun ini, karena kemungkinan besar tidak mungkin saya review semuanya di blog, maka akan saya post di Instagram saja.

Saya ingin mempergunakan kesempatan ini untuk menghabiskan buku-buku timbunan yang sedikit banyak berhubungan dengan pendidikan yang saya tempuh, atau paling tidak menunjang dari segi keilmuan. Membaca untuk kesenangan juga rasanya masih perlu untuk menjaga kewarasan.

Untuk blogging, tidak banyak yang bisa saya rencanakan. Saya mengusahakan blog ini agar tetap hidup, tapi tidak bisa memasang target tertentu. Biarkan berjalan saja apa adanya dan sebisanya.

Mari memulai dekade baru dengan semangat!

2019 in Review

Memasuki 2020, belum lengkap rasanya kalau belum melihat kembali perjalanan di tahun 2019. Untuk target baca secara umum, tahun 2019 cukup menggembirakan karena sesuai dengan target di awal tahun. Dari rencana 55 buku, berhasil membaca 57 buku. Mengingat di paruh kedua tahun lalu saya memiliki kesibukan baru, tetapi berhasil ditutup karena awal tahun mood membaca saya lumayan bagus. Berikut hasil rekap dari Goodreads.

PicsArt_01-04-08.52.11.png

Saya cukup senang dengan buku-buku yang terbaca di tahun lalu. Beberapa kali saya menemukan buku yang tak terduga, dalam arti positif.  Saya juga berhasil membaca beberapa timbunan lama dan buku-buku yang sudah lama ingin sekali saya baca. Saya tidak akan membahas detail seperti tahun-tahun sebelumnya, lebih lengkapnya bisa dicek di akun Goodreads di sini.

Buku paling berkesan di tahun 2019, yang sudah saya buat reviewnya juga, adalah Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub. Ada hal yang jarang sekali saya lakukan, yaitu menamatkan satu seri sekaligus. Dan hal itu saya lakukan di awal tahun lalu, dengan membaca Doll People Set buku 1-3. Karena suka, saya pun memasukkan buku keempatnya sebagai wishlist. Ternyata berjodoh dengan buku itu dari BBW Jogja, hingga akhirnya saya baca di akhir tahun.

Lalu, ada satu momen di tahun lalu, tepatnya bulan Maret hingga pertengahan April, saya sengaja membaca buku-buku timbunan saya dari penulis perempuan. Beberapa buku dari penulis favorit, beberapa dari daftar yang ingin saya baca, dan beberapa memenuhi kriteria dari salah satu rencana saya di awal tahun 2019, yaitu buku yang sudah sangat lama di timbunan, yang saya tidak yakin lagi ingin mengoleksi, tetapi masih ingin saya baca. Tanpa diduga, buku-buku tersebut sungguh jauh lebih bagus dari ekspektasi saya. Yang tentunya membuat saya bahagia karena memutuskan membacanya.

PicsArt_01-01-01.09.34.png

Yang termasuk rencana saya di tahun lalu adalah mengubah profil rak buku di rumah. Saya sudah memulai, tetapi karena beberapa hal, belum bisa sesuai dengan ekspektasi. Lebih lagi saya sedang berpindah domisili sementara, maka penampilan rak buku sudah bukan menjadi hal utama yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini. Tentu saja akan tetap ‘dirapikan’ pelan-pelan.

Di pertengahan tahun lalu, ada perubahan dalam kehidupan saya. Saya memutuskan berhenti bekerja dan menempuh pendidikan lanjut. Otomatis ritme membaca saya berubah drastis. Selain membaca untuk kesenangan, ada lebih banyak bacaan yang wajib saya habiskan. Sebenarnya ini sudah saya antisipasi ini dari awal tahun lalu. Meski target membaca saya tetap, sebagian besarnya sudah saya habiskan di awal tahun. Enam bulan terakhir saya mengukur kapasitas saya sendiri untuk melanjutkan membaca dan blogging, untuk saya rencanakan di tahun 2020. Saya tidak ingin berhenti, sejak awal saya mengambil jalan ini sebisa mungkin yang tidak membuat saya berhenti. Namun, tentunya akan ada penyesuaian.