Scene on Three (121): 4th Anniversary

Hari ini adalah ulang tahun keempat Scene on Three. Rasanya kok tidak afdhol kalau saya tidak membuat postingan. Sejauh ini, target blogging saya memang belum sepenuhnya tercapai, jadi ya banyak hal jadi terbengkalai. Mulanya saya mau membuat giveaway untuk edisi ini, tapi tak yakin juga akan ada yang ikut. Jadi ini sifatnya situasional ya. Jika ada yang membuat SoT pada bulan Juli ini dan menautkan linknya ke kolom komentar di bawah, akan saya pertimbangkan, bisa dicek ketentuannya di sini.

Scene kali ini saya ambil dari sebuah memoar yang sedang saya baca, karya Matt Haig yang berjudul Reasons to Stay Alive. Buku ini merupakan kisah perjuangan penulis melawan depresi dan kecemasan, bagian yang saya ambil ini ada di bab awal.

We humans might have evolved too far. The price for being intelligent enough to be the first species to be fully aware of the cosmos might just be a capacity to feel a whole universe’s worth of darkness.

Haig juga menyampaikan bahwa perkembangan teknologi menjadi era yang serba cepat kali ini tidak diikuti dengan evolusi otak dan insting manusia, sehingga semuanya menjadi sumber stres yang terus terakumulasi. Saya belum mencari referensi yang lebih ilmiah mengenai hal ini, tetapi ide ini cukup membuat saya berpikir ulang. Jika benar bahwa ignorance is bliss, rasanya saya juga berpikir dua kali untuk menjadi ignorance. Mungkin memang ini risiko menjadi manusia yang selalu ingin tahu, selalu ingin maju, tentunya kita juga dibekali kemampuan adaptasi yang hebat untuk menghadapi tantangan zaman.

Pingkan Melipat Jarak – Sapardi Djoko Damono

34501430Judul : Pingkan Melipat Jarak (Trilogi Hujan Bulan Juni #2)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi+121 halaman

Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya. (hal. 13)

Setelah kisah cinta yang ragu-ragu di novel Hujan Bulan Juni antara Sarwono dan Pingkan terpisahkan jarak akibat studi dan pekerjaan, kini keduanya diuji kembali dengan sakit yang diderita Sarwono. Penyakit itu menyebabkannya harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit dan tidak boleh dijenguk oleh siapapun, termasuk Pingkan, terutama Pingkan. Dengan Katsuo, kawan Jepang yang juga menaruh rasa padanya, menemaninya di Solo, keraguan dan kekhawatiran yang dirasakannya semakin tak terjawab.

Di buku kedua ini, kisah terutama berpusat pada Pingkan. Mengenai perasaan Pingkan pada Sarwono yang dianggap tak pernah berubah dan semakin mantap, tetapi kembali samar saat ada badai yang datang. Kilas balik kisah keduanya, kenangan-kenangan dan jejak Sarwono memberi kesempatan bagi Pingkan untuk melihat kembali ke dalam dirinya, dan apa yang sungguh diinginkannya.

Katsuo, Bu Pelenkahu, dan cicak. Dan Pingkan memilih cicak. Dan karena sejak di kamar Sarwono cicak menyindirnya akan meninggalkan Sarwono, Pingkan teguh pada niatnya untuk tidak meninggalkan kekasihnya itu di Solo. Katsuo pasti tidak pernah mendengarkan cicak, Sarwono pasti pernah, pasti sering sebab selalu ada di balik jam dinding di kamarnya. Cicak tahu benar perangai pemuda itu, dan karenanya mencintainya. (hal. 49)

Jika dalam buku pertama trilogi ini saya menyebutnya sebagai ‘pertunjukan sastra’ karena menyajikan sederet ragam narasi, maka di novel kedua ini kita diajak masuk ke dalam labirin imajinasi, alam bawah sadar, mimpi, dan khayalan para karakternya. Batasan realitas begitu tipis, kita bisa memastikan mana yang nyata mana yang bukan, disandingkan dengan suasana sendu yang kental dengan aroma kematian, membuat buku ini terbuka untuk berbagai kemungkinan penafsiran.

Penulis masih menyajikan sederetan legenda kisah cinta yang dihubungkan dengan pasangan beda latar belakang ini. Tak hanya itu, budaya lain seperti mitos, kepercayaan, musik dan film juga melebur ke dalam labirin-labirin yang membawa pembaca ke tujuan yang sulit diprediksi.

Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya. (hal. 106)

Selain Pingkan, perasaan dan latar belakang Katsuo juga mulai terbuka. Bagaimana hubungannya sendiri dengan Pingkan sebenarnya tak hanya terhalang oleh pria Jawa yang dicintai Pingkan, tetapi juga keluarga dan masa lalu di Jepang yang masih menantinya.

Dalam beberapa bagian, tersirat kenyataan hubungan Katsuo dengan Pingkan yang mungkin lebih jauh dari yang ditampakkan sebelumnya. Kebersamaan mereka di Jepang sepertinya tidak disia-siakan begitu saja oleh Katsuo. Meski Pingkan tak pernah memberi tanda positif, ada kalanya keraguan mengubah cinta segitiga menjadi hubungan cinta yang lebih rumit.

Tanpa rasa sakit, jiwa kita kosong belaka. (hal. 74)

Alih-alih menjawab pertanyaan, buku ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan untuk dijawab di buku selanjutnya. Seperti Hujan Bulan Juni, yang membiarkan yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. Termasuk jalan apa yang dipilih Pingkan untuk dilipat jaraknya.

“Kenangan itu fosil, bukan abu, Toar. Tidak bisa diubah menjadi abu.” (hal. 115)

Nongkrong Gaul Sambil Membaca

Sabtu malam lalu, tepatnya tanggal 20 Mei 2017, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional dan pertama kalinya pemerintah memberlakukan pengiriman paket buku gratis melalui PT Pos Indonesia, Najwa Shihab selaku Duta Baca Indonesia meluncurkan sebuah program yang dinamakannya Pojok Baca. Pertama kalinya Pojok Baca ini dibuka di kota Solo, tepatnya di Markobar, gerai martabak (atau terang bulan) yang ternama di seantero negeri karena inovasinya, dan pemiliknya kebetulan merupakan putra sulung Presiden Indonesia saat ini. Saat datang sekitar pukul tujuh kurang, saya agak beruntung karena mendapatkan tempat strategis (atau sebenarnya tempat itu sudah ditandai tapi saya tidak tahu, haha). Meski undangan pukul tujuh, baru sekitar setengah jam setelahnya, tamu yang ditunggu-tunggu datang.

Sebelumnya saya masih agak samar dengan program ini. Saya datang karena tergerak dengan konsep yang sepertinya menarik. Setelah mendengar penjelasan dari mbak Tamu dan mas Tuan Rumah, barulah jelas bahwa mbak Nana sebagai Duta Baca memiliki ide untuk membangun sebuah ruang membaca di tempat-tempat strategis, guna menebarkan kesukaan membaca. Program ini dimulai dari Markobar dengan proses yang cukup mudah, melalui satu percakapan WhatsApp saja, mas Gibran sudah menerima tawaran untuk merelakan sebagian ruang gerainya diduduki oleh buku-buku. Selanjutnya, Pojok Baca ini akan terus ditambah, baik di cabang Markobar lain, ataupun di tempat-tempat umum, di antara yang sudah direncanakan adalah di stasiun, bandara, bahkan kantor polisi.

Di tempat ini disediakan kotak donasi bagi siapapun pengunjung yang ingin menyumbangkan bukunya, sehingga nantinya buku-buku bisa disebarkan di Pojok-Pojok Baca di seluruh negeri. Mbak Nana menegaskan juga bahwa program ini adalah swadaya, dari kita untuk kita, jadi bukan merupakan ide atau program pemerintah. Untuk saat ini, buku-buku yang sudah ada merupakan sumbangan dari penerbit Literati dan IKAPI, tetapi nantinya Duta Baca Indonesia ini menginginkan adanya sumbangan dari masyarakat dan program kerjasama dengan IKAPI yang berupa diskon khusus, agar terjadi pertumbuhan penerbitan Indonesia yang sehat.

Pojok Baca di Markobar Solo

Selain membahas mengenai Pojok Baca, mbak Nana dan mas Gibran juga membicarakan banyak hal seputar membaca, mulai dari pengalaman membaca buku saat kecil, bagaimana kecintaan terhadap buku dimulai, sampai dengan kondisi perbukuan Indonesia saat ini. Pada acara ini, diundang pula beberapa perwakilan dari Taman Baca Masyarakat di berbagai daerah, baik dari Solo sendiri, Yogyakarta, sampai di Kalimantan dan Sulawesi, yang menceritakan suka duka mereka mengelola taman baca serta pengamatan mengenai minat baca di Indonesia.

Salah satu penekanan dalam diskusi ini adalah minat baca di Indonesia sesungguhnya tidak sekecil yang ada di data UNESCO, setidaknya begitulah menurut mereka yang melihat sendiri bagaimana masyarakat (terutama anak-anak) begitu bersemangat saat diberi akses buku. Saya pribadi sudah lama percaya bahwa pada dasarnya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap buku, yang sebagian besar terkikis saat dewasa jika lingkungan mereka tidak mendukung. Mungkin hal ini bisa menjadi pembicaraan cukup panjang atau bahan penelitian baru, tetapi itu masalah lain.

Pengunjung dalam acara itu cukup ramai hingga tumpah ke luar gerai. Menjelang akhir acara, pengunjung diberi kesempatan bertanya, dan beruntung saya sempat bertanya. Walaupun kalimat saya cukup belepotan, intinya sih saya agak sedikit narsis mengenalkan BBI, dan mengusulkan mbak Nana supaya punya setidaknya 30 menit seminggu acara televisi yang isinya semacam review buku. Ide ini sebenarnya sudah lama terbersit (bahkan sempat saya emailkan ke Mata Najwa dan MetroTV, entah terbaca atau tidak), karena berdasar pengalaman sebagai blogger buku, kadang rasa tertarik seseorang untuk membaca itu timbul karena konten dalam buku itu sendiri, jadi bagian dari kampanye yang tidak seabstrak ‘ayo baca buku’ saja.

Mba Nana yang asli cukup berbeda dari saat membawakan acaranya sendiri, bersama mas Gibran yang sangat irit bicara.

Kembali ke Pojok Buku, sebenarnya ide ini memang tidak benar-benar baru di Indonesia, tetapi sebagian memang tidak berjalan dengan baik. Di Solo saja, setidaknya pernah ada dua atau tiga tempat serupa yang saat ini sudah tutup, karena pada mulanya mereka memang menjual suasana tempat nongkrong sekaligus tempat baca, sedangkan anak muda nongkrong umumnya ya ngobrol-ngobrol atau seru-seruan bersama. Saat acara ini, barulah saya terbersit bahwa mungkin memang cara seperti ini lebih efektif. Pertama, tempat yang dipilih adalah tempat yang sudah mapan, yang sudah memiliki pengunjung tetap, yang sudah menjadi tempat nongrong gaul. Kedua, dengan sedikit pengaruh dari Duta Baca dan mungkin beberapa orang yang sudah memiliki penggemar, setidaknya anak muda akan bisa mulai percaya diri bahwa membaca tidak kontradiktif dengan gaul.

Sejak tahun lalu, di Yogyakarta, teman mbak Ina (Nurina yang juga anggota BBI) membuka Kafe Noice yang dibuka dengan konsep kafe buku. Mbak Ina, saya, dan beberapa teman mencoba meletakkan beberapa buku kami di sana, dan kata mbak Ina, responnya cukup baik sehingga saya sempat menambah beberapa buku lagi di sana. Saya sendiri tidak tahu respon baik yang dimaksud yang seperti apa, tetapi setidaknya ada harapan positif untuk Pojok Buku. Tentunya tantangan pasti ada dan harus siap dihadapi. Seperti saat teman-teman Goodreads Semarang membuat semacam rumah buku yang diletakkan di taman untuk dibaca sambil bersantai di bawah pohon, tetapi tidak lama sampai buku-buku beserta rumahnya dicuri. Semoga dengan adanya faktor-faktor baik pendukung Pojok Baca yang saya sebutkan di atas tadi, mentalitas bangsa kita juga ikut menjadi lebih baik.

Salam literasi!

The Last Siege – Jonathan Stroud

Title : The Last Siege / Pengepungan Terakhir
Author : Jonathan Stroud (2006)
Translator : Ribkah Sukito
Editor : Primadonna Angela
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2011
Format : Paperback, 288 pages

Tiga remaja dengan masalahnya masing-masing dipertemukan oleh sebuah insiden di depan bekas kastil yang lama tak berpenghuni. Emily dan Simon tak pernah berteman sebelumnya, tetapi saat terjepit oleh musuh yang sama, bersama dengan Marcus yang berasal dari bagian kota yang lain, tiba-tiba mereka masuk ke dalam petualangan yang digagas oleh anak asing itu.

“Kastil itu hidup karena kau dapat menafsirkannya sesukamu. Kastil itu bisa menjadi apa pun yang kaupikirkan. Kau bisa membayangkan bagaimana kastil itu dulunya, ketika belum hancur, ketika orang-orang tinggal di dalamnya. Dan setiap orang bebas untuk membayangkan hal yang berbeda.” (p.80)

Petualangan mereka semakin liar dan semakin bebas, masing-masing mereka kini punya peran dalam mewujudkan imajinasi mereka. Mulai dari permainan menaklukkan kastil,  penjelajahan dan menapak tilas sejarah, hingga pertahanan yang mulai tak tampak sebagai permainan lagi. Masalah menjadi serius ketika Marcus menceritakan masalah keluarganya kepada kedua kawannya. Masalah yang membutuhkan campur tangan pihak berwajib, tetapi, akankah orang dewasa mengerti ketakutan mereka?

Kisah persahabatan, keluarga, kehilangan, dinamika remaja, dan pengkhianatan. Sama seperti kisah Baron Hugh—penghuni kastil pada masa Raja John—yang diceritakan Marcus, mereka menghadapi ujian kesetiaan yang serupa.

Pada akhirnya, meski dibalut kisah petualangan yang menyenangkan, buku ini menyimpan kenyataan yang pahit tentang jurang antara anak-anak dan orang dewasa, serta secercah mengenai kesehatan mental. Mungkin karena ditujukan untuk pembaca muda, pesannya cukup samar untuk menyembunyikan kebrutalannya.

“Aku sedang berpikir—tentang apa yang dikatakan ibumu.”
“Iya.”
“Hanya… Apakah semuanya sudah baik-baik saja?”
“Tidak, tentu saja belum. ….”
(p.143)

Mini Reviews: Non-English

Ada tiga buku terjemahan yang aslinya bukan berbahasa Inggris, dua di antaranya diterjemahkan dari bahasa aslinya, sedangkan yang satu melalui bahasa Inggris sebelum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

The Ninth / A Kilendecik / Anak Kesembilan by Ferenc Barnás (2006)

Translated from English to Indonesian by Saphira Zoelfikar, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Februari 2010, paperback, 296 pages

Set in a sleepy village north of Budapest in 1968, this touching, unsettling novel paints a richly wrought portrait of mid-twentieth-century Hungary. The narrator is the ninth child of a family distinguished by its size, poverty, faith, and abundance of physical and psychological disabilities. His confusion is exacerbated by the strict, secretive Catholic household his parents keep in the face of a Communist system. These dual oppressions propel him toward an inevitable realization of his guilt and desire that speaks to his struggle with a fateful, seamless beauty. (source)

Sebagai anak kesembilan dari sebelas bersaudara, posisi sang narator (yang namanya tidak disebutkan, hanya diketahui berinisial B [p.114]) cukup tidak signifikan di dalam keluarga. Dalam posisi itu, dia menjadi pengamat yang tak memiliki peran penting sebagaimana anak terbesar dalam keluarga yang ikut mencari nafkah, maupun anak yang lebih kecil yang lebih tergantung pada orang tua. Selain posisinya, B juga memiliki kepekaan yang berbeda dari saudara-saudarinya, baik caranya memandang masyarakat, juga kepekaan dalam arti yang sebenarnya mengenai kesulitannya untuk tidur dan mengabaikan bunyi-bunyian.

Aku tahu istilah akal sehat darinya; artinya ialah orang itu tidak manja. (p.187)

Menarik melihat dunia yang kejam melalui mata seorang anak. Dengan kepolosan yang terhapus sedikit demi sedikit, yang menjadikannya melakukan sesuatu di luar nilai yang ditanamkan keluarganya demi keluar dari ketidaknyamanan kehidupan. Di sini juga ada gambaran tentang politik yang tampak melalui mata seorang anak, jadi mungkin memiliki sedikit pengetahuan sejarah akan bermanfaat.

 

La casa de papel / Rumah Kertas by Carlos María Domínguez (2002)

Translated to Indonesian by Ronny Agustinus, Marjin Kiri, cetakan kedua, Oktober 2016, paperback, vi +76 pages

Buku mengubah takdir hidup orang-orang. (p.1)

Bluma Lennon, distinguished professor of Latin American literature at Cambridge, is hit by a car while crossing the street, immersed in a volume of Emily Dickinson’s poems. Several months after her untimely demise, a package arrives for her from Argentina-a copy of a Conrad novel, encrusted in cement and inscribed with a mysterious dedication. Bluma’s successor in the department (and a former lover) travels to Buenos Aires to track down the sender, one Carlos Brauer, who turns out to have disappeared. (source)

Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. (p.9)

Kegilaan dimulai saat kita diajak menapak tilas jejak dan pemikiran Brauer. Mulai dari kebiasaannya yang aneh dengan buku-buku, sampai kegilaan yang membuatnya melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, yang membuat ‘rumah kertas’ menjadi sesuatu yang mengerikan.

Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. (p.27)

“…. Brauer bersikeras bahwa buku-buku harus dikelompokkan berdasarkan kriteria yang berbeda dengan kriteria tematik yang vulgar itu.”
“…. Maksudku begini, Pedro Páramo dan Rayuela sama-sama karya sastrawan Amerika Latin, tapi yang pertama menuntun kita ke William Faulkner, dan yang satunya membawa kita ke Moebius. Atau dengan kata lain: Dostoievsky pada akhirnya lebih dekat dengan Roberto Arlt ketimbang dengan Tolstoy. Sebagai penegasan, Hegel, Victor Hugo, dan Samiento  layak dipasang berderetan ketimbang Paco Espínola, Benedetti, dan Felisberto Hernández.”
(p.38-39)

Buku ini memang bagaikan cermin bagi para pecinta buku. Segala hal yang dilakukan Brauer mungkin dekat dengan sebagian dari kebiasaan sebagian dari kita. Mulai dari yang biasa saja sampai yang ekstrem. Hingga di satu titik ada yang salah cara memaknai buku-buku, lalu apa yang bisa dilakukan?

“Orang-orang ini ada dua golongan, izinkan saya menjelaskan: pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka, …, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek yang indah, barang langka. Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, ….” (p.17)

Sastra Amerika Latin ini, entah cerpen atau novella tepatnya, membawa kita ke dunia yang sangat dekat, tetapi begitu jauh. Bagaimana seseorang yang menggilai buku bisa melakukan hal yang gila dengan buku-bukunya.

Orang rupanya juga bisa mengubah takdir buku-buku. (p.57)

 

Kaas / Keju by Willem Elsschot (1969)

Translated to Indonesian by Jugiarie Soegiarto, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Mei 2010, paperback, 176 pages

Dari karyawan hendak menjadi pengusaha, mengambil risiko terlalu besar karena iming-iming keuntungan berlipat, menjalankan bisnis tanpa pengetahuan yang memadai. Walau ditulis hampir setengah abad yang lalu, buku ini masih sangat dekat dengan keseharian kita, di mana orang berlomba-lomba menjadi pengusaha, lalu mengambil jalan yang sangat tidak aman. Bagi saya, mengambil risiko itu baik, tapi bukan tanpa perhitungan, karena orang bisa maju tidak hanya dengan modal nekat, tetapi juga harus mau belajar.

Hal inilah yang menjadi akar permasalahan Frans Laarmans. Gengsi menjadikannya nekat, mengambil risiko terlalu banyak untuk menjual keju yang sudah terlanjur dibelinya. Mulai dari mengambil barang terlalu banyak, menggunakan pekerja tanpa perhitungan, dan dikendalikan oleh gengsi menjadi seorang ‘pengusaha besar’. Meski singkat, buku ini menangkap karakter Laarmans dengan jelas, dengan segala kekurangan dan dinamikanya. Sehingga saya bisa merasakan jengkel akan keputusannya sampai empati dengan pilihannya.

Dalam seni tak ada percobaan. Janganlah coba memaki bila kau tak marah, jangan coba menangis bila jiwamu kering, jangan bersorak selama kau tak dipenuhi keriangan. (p.172)