The Devotion of Suspect X – Keigo Higashino

kesetiaan-mr-xTitle : Yōgisha X no Kenshin / Kesetiaan Mr. X (Detective Galileo #3)
Author : Keigo Higashino (2005)
Translator : Faira Ammadea
Editor : Dessy Harahap
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2016
Format : Paperback, 320 pages

“Mana yang paling sulit: menciptakan soal yang sulit atau memecahkannya? Hanya ada satu jawaban pasti. Bagaimana? Menarik, bukan?” (p.139)

Hari-hari Tetsuya ‘Daruma’ Ishigami teratur seperti jarum jam, pagi hari dari apartemennya dia akan melewati jalur yang sama menuju ke SMA tempatnya mengajar matematika. Namun, sebelumnya dia akan mampir ke kedai bento Benten-tei, tempat Yasuko Hanaoka bekerja. Apartemen Ishigami bersebelahan dengan Yasuko tetapi mereka jarang bertegur sapa, hanya di Benten-tei, alasan guru itu membeli bento setiap harinya.

Yasuko adalah seorang janda dengan seorang putri yang duduk di bangku SMP bernama Misato. Suatu sore, mantan suami yang selalu menerornya—Togashi, mendatangi wanita itu ke Benten-tei dan mengikutinya sampai ke apartemen. Keributan terjadi hingga dalam pembelaan diri, Togashi meninggal di tangan ibu dan anak tersebut. Kebetulan Ishigami mendengar keributan tersebut dan menawarkan bantuan untuk menutupi kejahatan tersebut, karena menyerahkan diri ke polisi mau tak mau harus melibatkan Misato.

Sebagai jenius matematika, Ishigami menggunakan kemampuan logikanya untuk membuat alibi dan menghilangkan bukti. Polisi dibuat kebingungan dengan penemuan-penemuan yang terkesan serampangan tetapi saat ditelusuri kejanggalan tersebut justru membawa mereka semakin jauh dari kebenaran. Satu-satunya tersangka kuat hanya sang mantan istri, tetapi tak ada bukti yang mendukung. Detektif Kusanagi yang menangani kasus ini berteman dengan Dr. Manabu Yukawa, Profesor Galileo yang ahli di bidang fisika, serta kerap membantu polisi tersebut. Namun kali ini posisinya berbeda karena ternyata Ishigami adalah teman kuliah Yukawa, sekaligus orang yang dikaguminya. Apakah kejeniusan Yukawa bisa mengalahkan Ishigami, dan apakah Yukawa tega menyingkap tindakan kawannya seandainya dirinya menemukan bukti?

“Menurutmu mana yang paling mudah saat mengerjakan soal matematika? Mencari jawaban sendiri? Memastikan jawaban dari orang lain benar atau salah? Atau malah kau ingin tahu seberapa tinggi tingkat kesulitannya?” (p.98-99)

Meski merupakan buku ketiga dari seri Detektif Galileo, membaca buku ini saja tidak membingungkan sama sekali. Terkecuali saya sempat salah mengira karakter utama karena begitu simpatiknya karakter Ishigami digambarkan, dan mungkin pandangan saya mengenai Yukawa akan berbeda seandainya bukan buku ini yang pertama saya baca. Cara penulis menghidupkan karakter Ishigami begitu manusiawi, dengan detail yang menjadikan pembaca begitu dekat, kemudian saat Yukawa masuk dan memberi sentuhan kehangatan kawan lama, saya bisa merasakan dilema antara kebenaran dan kemurahan hati. Ramuan logika dan kecerdasan kedua jenius tersebut lebur dengan pertemanan dan nostalgia, menjadikan buku ini bukan sekadar pemecahan misteri biasa. Apalagi ditambah selipan tentang prinsip dasar matematika dan fisika yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Satu persamaan di antara Ishigami dan Yukawa: mereka ingin membangun dunia ini berdasarkan teori. Namun metode pendekatan yang digunakan sama sekali berbeda. (p.92)

Suasana sendu semacam ini jamak pada sastra Jepang, sejauh yang pernah saya baca, tetap berpadu manis dengan kekerasan sadis yang tidak ditutup-tutupi pada genre misterinya. Buku ini tidak hanya berbicara tentang pembunuhan dan pemecahannya, tetapi mengupas juga seperti apa kehidupan seorang pembunuh. Dalam kasus Yasuko yang terpaksa melakukan kejahatan itu dan berusaha melanjutkan hidupnya, tidak mudah memiliki utang budi pada seseorang yang tadinya bukan siapa-siapa. Masalah baru timbul saat seorang pria dari masa lalu mendekatinya kembali dan membuat penolongnya cemburu.

Mana yang lebih mudah, merencanakan kejahatan atau menutupi kejahatan yang tak terencana? Jawaban yang disajikan akan sangat mengejutkan, karena petunjuknya ternyata sudah ada sejak halaman awal. Detail yang tampak tak penting akan menjadi kunci, karena, bukankah kita perlu menutupi sebuah kejahatan? 4/5 bintang untuk akhir kejahatan yang menyayat hati.

“Pertama-tama, kau harus mencari jawabannya sendiri, baru menyimak jawaban orang lain,” (p.245)

Career of Evil – Robert Galbraith

career-of-evilTitle : Career of Evil
Author : Robert Galbraith (2015)
Publisher : Sphere (imprint of Little, Brown Book Group)
Edition : Paperback edition, 2016
Format : Paperback, 584 pages

…the writings done in blood. –Blue Ӧyster Cult, ‘O.D.’d on Life Itself’ (p.82)

Suatu Senin pagi, Robin Ellacott menjalani rutinitasnya menuju kantor detektif Cormoran Strike. Di depan kantor, seorang kurir sudah menunggu dengan bungkusan yang diharapkan berisi pesanannya. Namun, setelah dibuka, ternyata paket itu berisi potongan tungkai kanan seorang wanita muda beserta pesan yang berisi lirik lagu Blue Ӧyster Cult. Seorang pembunuh gila sedang mengincarnya hanya karena dia asisten Cormoran.

Dari pengamatan awal atas motif dan metode pelaku, Cormoran mencatat empat orang yang sangat dendam kepadanya yang mungkin melakukannya; Terence “Digger” Malleys yang pernah punya riwayat kejahatan mutilasi, Donald Laing yang punya riwayat kekerasan terhadap wanita, Noel Brockback yang punya kecenderungan pada perempuan muda, dan Jeff Whittaker yang pernah menikahi dan membunuh Leda Strike—ibu kandung Cormoran. Keempat orang itu, yang punya catatan kejahatan seksual, kekerasan maupun obat-obatan terlarang, punya alasan yang sangat kuat untuk membenci Cormoran. Hampir bisa dipastikan keempatnya rela melakukan apa saja asal bisa membuatnya menderita, seperti penderitaan yang mereka dapatkan karena campur tangan detektif itu. Oleh karena penjahat ini sudah mengancam orang lain, yaitu Robin, Cormoran merasakan dorongan untuk segera menyelesaikannya dengan efektif. Hubungannya dengan polisi beberapa waktu belakangan sedang kurang baik karena kasus Lula Landry dan Owen Quine, maka dari itu dia menghubungi Eric Wardle yang tidak bermasalah dengannya untuk menangani kasus ini secara resmi. Menyingkirkan Robin dari kasus sudah bukan sebuah pilihan karena asistennya berkeras untuk tidak ‘lari’ dari apa yang sudah seharusnya menjadi pekerjaannya juga. Lagipula, bukankah ini yang selama ini diinginkannya, bekerja di kantor detektif, apapun risikonya. Keduanya harus berkolaborasi untuk menyelesaikannya dengan cepat, meski harus menghadapi bahaya.

Penulis pernah mengatakan bahwa dari ketiga buku Cormoran Strike, dia paling menikmati proses menulis buku ini. Salah satunya karena dia mengeksplorasi lirik lagu Blue Ӧyster Cult di hampir setiap babnya. Alih-alih memberi judul atau angka pada pergantian bab, dia menuliskan sebaris dua baris lirik, atau judul lagu band itu, yang sekiranya mewakili isi bab tersebut. Menurut saya itu sebuah tantangan yang menarik, sekaligus membuat saya penasaran pada band tersebut karena ternyata banyak lirik yang ‘menantang’ serta judul-judul ‘menggelitik’ di sana. Alasan lain adalah penulis mengeksplorasi Britania Raya dengan sangat terperinci. Dalam penyelidikannya, Cormoran harus melakukan perjalanan ke beberapa tempat di belahan utara negaranya. Di sini, penulis tidak sekadar meminjam tempat, dia menggambarkan dengan rinci geografi wilayah tersebut, gaya bangunannya, masyarakatnya, sejarahnya, hingga ke bahasa atau dialek daerah itu.

Is it any wonder that my mind’s on fire? –Blue Ӧyster Cult, ‘Flaming Telepaths’ (p.35)

Sebagaimana dua buku sebelumnya, saya sangat menikmati interaksi personal antara Cormoran dan Robin, juga bagaimana kehidupan mereka dikupas satu per satu. Termasuk hubungan mengharukan antara Cormoran dengan Shanker, pria yang dulu diselamatkan Leda dan hingga kini kerap membantu penyelidikan Cormoran melalui jalur ‘tidak resmi’. Penyelidikan terhadap penjahat di masa lalunya mau tak mau membuka kembali masa lalu Cormoran yang belum diperlihatkan di buku sebelumnya. Apalagi penjahatnya kali ini menggunakan tungkai kanan sebagai ancaman, tungkai yang hilang dari Cormoran. Masalah tungkai ini nantinya mempertemukan mereka dengan orang dengan kelainan ingin memutilasi diri sendiri, gangguan yang sangat sensitif bagi orang yang terpaksa harus diamputasi.

Kali ini, jarak antara Robin dengan bosnya semakin mengecil akibat ancaman yang selain membuatnya harus selalu dalam pengawasan, juga mengalami ketegangan hubungan dengan Matthew—tunangannya, seiring makin dekatnya hari pernikahan mereka. Saya tak menyangka di balik sosok Robin yang efisien itu terdapat masa lalu yang kelam, yang membuat saya semakin kagum padanya. Teror yang diterima Robin mau tak mau menguji keteguhan hatinya, apakah dia mampu mempertahankan kepercayaan diri yang dibangunnya dengan susah payah pasca trauma masa lalu.

It had happened all over again. A man had come at her out of the darkness and had ripped her not only her sense of safety, but her status. (p.504)

Secara umum, buku ini menggambarkan dengan sangat apik bagaimana pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat berjalan beriringan. Bagaimana pada umumnya orang mengatasi gesekan antara kedua aspek tersebut; saat masalah pribadi membuat kita tidak fokus terhadap pekerjaan, atau justru pekerjaan membuat kita lupa pada masalah pribadi hingga menggunakannya sebagai pelarian—disadari atau tidak.

Berbicara tentang karakter, saya rasa tak perlu diragukan lagi dari karakter-karakter yang telah saya sebutkan semuanya memiliki kekuatan dan ciri unik yang menjadikan mereka tergambar utuh dalam benak pembaca. Bahkan hingga karakter-karakter minor, tidak menjadikan mereka digambarkan secara samar. Ada seorang karakter yang muncul hanya sebentar tetapi dialognya sangat terasa menjengkelkan, begitu nyata hingga saat membaca kalimat-kalimatnya, saya bisa merasakan emosi yang sama dengan yang dirasakan oleh Cormoran sekaligus kekhawatiran Robin bahwa orang tersebut akan menimbulkan masalah. Sehubungan dengan kasus, karakter para tersangka yang diselidiki juga menjadi salah satu petunjuk kuat yang membuat saya bisa menebak orangnya, meski saya masih ragu karena satu sandungan yang disimpan oleh penulis sebagai jebakan.

Singkatnya, saya suka sekali dengan segala sisi dalam buku yang kaya dengan berbagai aspek penceritaan ini. Penulis berhasil membangun rasa penasaran, ketegangan, humor, simpati, hingga ketidaksabaran dalam sebuah buku. 5/5 bintang untuk kehidupan yang keras sekaligus indah.

Baca juga kontemplasi saya tentang feminisme dalam serial ini di sini.

You could find beauty nearly anywhere if you stopped to look for it, but the battle to get through the days made it easy to forget that this totally cost-free luxury existed. (p.198)

Scene on Three (119) : An Evolution

SceneOnThree

“And anyway,” continued Miss Flora, “all this making a fuss about things because someone wore or used them seems to me all nonsense. They’re not wearing or using them now. That pen that George Eliot wrote The Mill on the Floss with—that sort of things—well, it’s only a pen after all. If you’re really keen on George Eliot, why not get The Mill on the Floss in a cheap edition and read it.” (The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie; p.30)

Saya termasuk orang yang mudah terpengaruh oleh ‘bungkus’, termasuk Scene on Three ini sejak awal sudah saya buatkan ‘bungkus’ yang penuh makna secara personal. Maka dari itu, kalimat Flora Ackroyd di atas cukup menyindir juga. Apalagi terkadang situasi tidak mengizinkan kita untuk mempertahankan ‘bungkus’ itu selamanya. Mungkin saja pena yang dipergunakan George Eliot itu rusak, lalu malah jadi tidak berfungsi sama sekali. Siapa tahu di bab lima Eliot mempergunakan pena yang lain karena penanya yang itu terselip. Pun jika penanya diganti, kemungkinan The Mill on the Floss menjadi karya yang berbeda itu sangat kecil sekali. Satu-satunya yang dilakukan oleh pena itu adalah menghubungkan pemikiran Eliot dengan dunia, mungkin dia dipilih karena nyaman dipergunakan, atau hanya kebetulan saja pena itu yang terpilih.

Jadi karena saya, sekali lagi, masih sayang dengan Scene on Three karena alasan saya membuatnya sejak awal, tetapi kondisi saya pun ternyata sudah sulit untuk post rutin, bahkan sebulan sekali, dengan terpaksa saya mengorbankan ‘bungkus’ yang sudah saya buat. Jika kalian–para pembaca dan pengunjung blog ini, para pengikut SoT baik yang baru atau lama, yang rutin maupun yang temporer–ingin membuat SoT seperti biasa, silakan memasukkan link kalian di kolom komentar SoT manapun yang kalian temukan. Karena mulai hari ini, saya hanya akan berbagi tanpa ketentuan apa-apa, termasuk waktu. Dua hal yang tetap saya pertahankan adalah scene dan three, dua kata yang ada di judulnya. Artinya, saya akan memposting scene yang menarik untuk saya tepat pada tanggal berunsur angka tiga, tetapi tidak terbatas harus setiap tanggal berapa atau setiap berapa lama.

Saya tahu, perubahan SoT sejak lebih dari setahun lalu, dimana saya mulai tidak rutin blogwalking hingga tidak rutin posting membuat meme ini dengan sendirinya jadi mati. Namun, saya menolak untuk menguburnya, saya akan meletakkannya di kotak kaca, menjadikannya masih terlihat, tanpa memaksanya bekerja terlalu keras.

My Brief History – Stephen Hawking

Title : My Brief History (Sejarah Singkat Saya)
Author : Stephen Hawking (2013)
Translator : Zia Anshor
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Edisi Pertama, 2014
Format : Paperback, viii + 152 pages

Ketika menghadapi kemungkinan mati muda, kita jadi sadar bahwa kehidupan itu layak dijalani dan ada banyak hal yang kita ingin lakukan. (p.45)

Stephen Hawking, salah seorang ilmuwan ternama abad ini, menuliskan kisahnya sendiri mulai dari masa kanak-kanak hingga saat buku ini ditulis. Autobiografi ini menyorot sisi pribadi sang penulis dengan cukup dominan, termasuk sejarah yang melatarbelakangi kehidupannya, dan sudut pandangnya atas banyak hal. Ditulis berdasarkan urutan waktu, meski singkat, perjalanan pribadi, keluarga, dan karirnya tertulis dengan cukup lengkap.

Secara personal, saya memang mengagumi Hawking dari keteguhan tekadnya menjalani hidup dan berkarya dalam kondisi fisik yang semakin melemah karena ALS yang dideritanya. Di tengah keterbatasannya, dia berkeras menggunakan satu-satunya organ tubuhnya yang tidak lumpuh, otak. Membaca kisah ini, kita diajak mendekat pada kondisi yang begitu dekat dengan kematian tetapi begitu jauh dari keputusasaan.

Buku ini tidak hanya menceritakan sisi pribadi, tetapi juga sarat dengan pemikiran Hawking, dalam artian ilmu dan teori yang dipelajarinya. Mulai dari teori steady-state yang dianut saat itu, hingga big bang dan black hole yang ditelitinya. Alih-alih menjabarkan teori tersebut dengan mendetail, Hawking lebih berfokus pada bagaimana dirinya memandang teori tersebut, bagaimana prosesnya memecahkan hal tersebut, sampai pengaruhnya terhadap dirinya serta dunia. Meski demikian, kita masih dapat menangkap inti dari teori tersebut dengan penjelasan singkat tersebut. Gagasan awal kelahiran A Brief History of Time, yang tanpa direncanakan Hawking masih bisa menulis beberapa buku setelahnya, kira-kira berawal dari ini.

Jika saya mesti menghabiskan waktu dan usaha untuk menulis satu buku, maka saya ingin buku itu dibaca sebanyak mungkin orang. (p.111)

Saya yakin hampir semua orang tertarik dengan cara kerja alam semesta, tapi kebanyakan orang tak bisa mengikuti persamaan-persamaan matematika. (p.115)

Ada banyak buku lain berjudul “brief history” ini dan itu sesudahnya, termasuk A Brief History of Thyme. Peniruan adalah bentuk pujian yang paling jujur. (p.118)

Buku ini dilengkapi dengan foto-foto hitam putih yang menunjukkan perkembangan Hawking, tempat-tempat yang pernah ditinggali atau disinggahinya, orang-orang di sekitarnya, dan lain sebagainya. Meski isinya cukup menarik, dari segi penulisan, menurut saya, Hawking terlalu rendah hati untuk menghasilkan memoar yang lebih gemilang. Tetap saja, intisari terpenting dalam buku ini tersampaikan, bahwa nilai kita dalam hidup bukan bergantung dari kondisi kita, tetapi dari bagaimana kita memandang hidup dan kehidupan yang kita miliki.

Saya telah menjalani hidup yang bernas dan memuaskan. Saya percaya bahwa orang-orang yang mengalami cacat fisik harus berkonsentrasi pada hal-hal yang bisa mereka lakukan tanpa terhalang cacat dan tidak menyesali apa yang tak bisa mereka lakukan. (p.145)

Kisah hidup Hawking pernah diangkat BBC dalam sebuah film pada tahun 2004, yang disutradarai oleh Philip Martin, ditulis oleh Peter Moffat, dan dibintangi oleh Benedict Cumberbatch sebagai Stephen Hawking, Lisa Dillon sebagai Jane Wilde, Peter Firth (Fred Hoyle, penganut steady-state), Tom Ward (Roger Penrose, rekan Hawking dalam beberapa teorinya). Alur filmnya kurang lebih sama dengan buku ini—meski bukunya terbit belakangan—termasuk peristiwa penting, perjalanan penyakit Hawking, hubungannya dengan Jane Hawking (née Wilde), serta proses studi, penelitian, dan pembuktian teori-teorinya. Di sisi lain, walau tidak ditunjukkan bertemu langsung dengan Hawking, ditampilkan juga penerima Hadiah Nobel tahun 1978, Arno Penzias (Michael Brandon) dan Robert Wilson (Tom Hodgkins) sehubungan penemuan mereka atas sisa radiasi dari ledakan besar. Meski demikian, kisah dalam film televisi berdurasi 90 menit ini tidak berlangsung sejauh buku ini, tetapi lebih terfokus pada sisi ilmiah dan emosi yang menyertainya.

The Murder of Roger Ackroyd – Agatha Christie

roger ackroydTitle : The Murder of Roger Ackroyd
Author : Agatha Christie (1926)
Publisher : Fontana Books
Edition : Fourteenth impression, March 1976
Format : Paperback, 221 pages

The truth, however ugly in itself, is always curious and beautiful to the seeker after it. (p.117)

Mrs. Ferrars meninggal karena overdosis obat tidur hari itu, menyusul suaminya yang sudah meninggal lebih dari setahun lalu karena—rumornya—keracunan, atau diracun. Dr. James Sheppard yang bertugas di desa tersebut, King’s Abbot, tidak sependapat, tetapi kakak yang tinggal bersamanya, Caroline, selalu punya teori sensasional atas segala kejadian di tempat itu. Caroline entah bagaimana caranya selalu bisa mendapatkan informasi tanpa harus keluar dari rumah, tak ada berita yang lolos darinya. Menurut teori Caroline Sheppard, Mrs. Ferrars meracuni suaminya, lalu setelah setahun hidup dengan rasa bersalah, dia memutuskan untuk bunuh diri dengan obat tidur. Masalahnya, tidak ada surat yang ditinggalkan seperti pada umumnya seorang yang akan mengakhiri hidupnya.

Teori Caroline yang lain berhubungan dengan Roger Ackroyd, seorang yang sangat kaya dan berpengaruh di King’s Abbot. Dengan berbagai spekulasi mengenai motif dan affair yang terjadi di keluarga tersebut. Mulai dari hubungan anak tirinya, Ralph Paton, dengan kemenakannya, Flora Ackroyd, sampai dengan orang ketiga, pelayan dan pengurus rumah. Masalah sedikit demi sedikit mulai terbuka dengan pengungkapan adanya pemerasan paska kematian Mr. Ferrars, dan surat terakhir Mrs. Ferrars yang dialamatkan pada Roger Ackroyd. Namun, Roger Ackroyd dibunuh setelah mendapatkan surat tersebut, sebelum sempat mengungkapkannya.

You should employ your little grey cells. (p.177)

Cerita ini disampaikan melalui narasi Dr. Sheppard sebagai orang pertama. Sebagai dokter, Sheppard tentunya mengenal dan bebas berhubungan dengan orang-orang di King’s Abbot. Apalagi dia termasuk orang kepercayaan Roger Ackroyd sendiri, dan dekat dengan keluarganya, sehingga pembaca dapat dengan leluasa melihat berbagai kisah orang-orang melalui pandangan Sheppard.

Dalam buku ini, Hercule Poirot diceritakan hendak menikmati masa pensiunnya dengan tenang tanpa publikasi. Kebetulan dia tinggal di sebelah rumah Sheppard. Kejadian pembunuhan itu memaksanya ‘bekerja’ kembali, atas permohonan Flora Ackroyd yang sudah mengenal Poirot sebelum mereka pindah ke King’s Abbot.

Seperti biasa, Agatha Christie selalu punya kejutan tak terduga dalam buku-bukunya. Pemilihan karakter, penggunaan narasi, dan runtutan kejadian ditulis dengan penuh perhitungan. Awalnya, saya merasa karakter Caroline ini sebagai ‘pemanis’ kisah, membuat ramai dengan berbagai teori dan gosip yang diembuskannya. Akan tetapi, ternyata ada maksud tertentu memunculkan karakter ini, mulai dari memperkaya informasi untuk narator kita, sampai dengan menunjukkan bahwa pembaca seperti saya ternyata tak jauh beda dengan dirinya.

Women observe subconsciously a thousand little details, without knowing that they are doing so. Their subconscious mind adds these little things together—and they call the result intuition. (p.119)

Salah satu hal yang menarik di sini adalah penekanan bahwa setiap orang memiliki rahasia. Sebagaimana umumnya, orang-orang yang berhubungan dengan korban pembunuhan selalu ditanya alibinya. Tetapi Poirot tahu, ada yang ditutup-tutupi oleh masing-masing mereka, dengan alasannya masing-masing. Meski terlihat tak berhubungan dengan kasus, Poirot berkeras ingin mengetahui kebenaran. Hal ini lalu membuka banyak fakta, mulai dari kisah percintaan yang sedih, keluarga yang tak diharapkan, hingga aib dan kesalahan yang boleh tetap menjadi rahasia.

It is the business of Hercule Poirot to know things. (p.180)

4/5 bintang untuk jebakan pembaca dan pembunuh yang (terlalu) merasa pintar tapi terjebak sendiri oleh detektif kita.