Scene on Three (120): 5th Year Blogoversary

SceneOnThree

Sekian lama tidak membuat SoT, dan hari ini, bertepatan dengan 5 tahunnya blog Bacaan B.Zee ini, tampaknya saya wajib menuliskan sesuatu. Beberapa bulan lalu, saya sempat menemukan buku Albert Camus di perpustakaan kota, La Chute (1956), atau diterjemahkan menjadi Jungkir. Buku yang tampaknya sudah hilang dari peredaran, diterjemahkan Penerbit Tinta pada Oktober 2004 oleh Decky Juli Zafilus. Saya tidak mengatakan terjemahannya buruk, karena ini Camus, memang seharusnya dibaca penuh penghayatan. Namun, kesalahan saya, terlena dengan tipisnya buku ini sehingga menunda membacanya sampai mendekati jatuh tempo peminjaman. Saya (saat itu) menangkap ide besarnya, tetapi merasa melewatkan hal yang penting, karenanya saya tidak yakin mau membuat reviewnya.

Sebagai jalan tengah, saya mau berbagi beberapa scene berkesan saja. Ya, beberapa, karena ini edisi spesial blogoversary.

wp-1484317887973.jpg

Umat manusia dijadikan yakin pada alasan-alasan Anda, kesungguhan Anda, dan parahnya kesusahan-kesusahan Anda, hanya oleh kematian Anda. Selama Anda ada dalam kehidupan, kasus Anda diragukan, Anda hanya berhak mendapatkan spektisisme mereka.

wp-1484317894278.jpg

Anda sudah mati, mereka akan memanfaatkan kejadian itu untuk memberi motif-motif yang idiot atau norak pada tindakan Anda itu. Kawan yang terhormat, para martir memang harus memilih dilupakan, dicemooh, atau diperalat. Kalau dipahami, tidak bakalan.

Kematian memang seringkali meninggalkan misteri bagi kita yang masih hidup, bukan hanya masalah kapan kita menyusul mereka yang pergi lebih dulu, melainkan dengan cara apa, meninggalkan apa, dan untuk tujuan apa kematian memeluk kita. Saya pernah membaca kata seseorang bahwa kematian seringkali memunculkan yang terbaik dalam diri kita. Saat kita meninggal, orang akan membicarakan hal-hal baik tentang kita, hal buruk dan tabu dengan segera dilupakan dan dimaafkan, guna menghargai kita yang baru saja meninggalkan mereka, mungkin dengan sedikit perasaan kasihan. Hal ini senada dengan perkataan Camus di gambar pertama, bahwa segala alasan dan kesusahan kita hanya akan dipercaya setelah kita tidak ada lagi, mungkin dengan rasa kasihan juga. Akan tetapi, pemahaman tampaknya tetap merupakan hal yang mustahil. Seperti ditunjukkan pada gambar kedua, manusia akan mengarang-ngarang hal yang tak mereka pahami, alih-alih berusaha mengingat kembali apa yang belum mereka pahami. Namun, yah, semua itu masalah kita yang hidup dan ditinggalkan, bukan?

… sel bawah parit yang pada Abad Pertengahan dinamakan ketidaknyamanan. Pada umumnya, di sana Anda diabaikan demi kehidupan. Sel itu dapat dibedakan dengan yang lain-lainnya lewat dimensi-dimensinya yang penuh kejeniusan. Dia tidak cukup tinggi untuk posisi orang berdiri dan tidak cukup lebar untuk posisi orang berbaring. Orang harus bergaya terhalang, hidup menyerong; masa tidur adalah suatu posisi terjungkir, terjaga pada malam hari suatu posisi berjongkok. (p.126)

Saya harus lebih tinggi ketimbang Anda, pikiran-pikiran saya mengangkat diri saya. Malam-malam itu, tepatnya pagi-pagi itu, karena jungkir terjadi di fajar kala, saya keluar, saya pergi, dengan suatu perjalanan kaki yang geram ke sepanjang kanal-kanal. (p.165)

Karya Camus ini memang tipis, tetapi dikatakan sebagai salah satu karyanya paling menarik, karena bisa ada multitafsir dan multipersepsi di situ. Saya memilih menandai bagian yang mengandung judulnya saja untuk menunjukkan sebagian ide utamanya. Kondisi jungkir (the fall) yang mungkin diceritakannya dengan geram di sepanjang buku, diakhiri dengan sebuah kebangkitan geram yang mengajak saya untuk merenung kembali.

Pada intinya, yang membuat Camus menarik adalah bagaimana gagasannya menggelitik kira untuk berpikir. Di satu sisi kita merasa ingin setuju, tetapi di sisi lain, sepertinya terlalu riskan untuk menyetujuinya.

Untuk yang masih punya scene yang bisa dibagikan, bisa menempelkan tautannya di kolom komentar di bawah. Saya sudah punya resolusi untuk tahun ke-5 Bacaan B.Zee, semoga SoT hari ini menjadi pembuka jalan yang baik.

First Cycle of CLRP : Wrap Up

It’s been 3 years since I started my Children Literature Reading Project, and this is how it went. I was quite optimistic at the first year, for the second year I had a tough time (unrelated to this project), but everything was under control. Then, I had to slow down and lay back my blogging activities last year, so there wasn’t much progress for the third year. However, I don’t regret everything, since I had really great time reading children’s literature through the difficult times (though I didn’t review it all).

I’ve updated my 2014-2017 list so it contains books I’ve read and reviewed. I’ve added some books out of my original list and omitted some books I haven’t read/reviewed. Here are some books I’ve read that haven’t been reviewed, not including borrowed books and books I (seem like) won’t review:

  1. Ajdar – Marjane Satrapi
  2. B is for Beer – Tom Robbins
  3. Esio Trot – Roald Dahl
  4. The Little Prince – Antoine de Saint-Exupery (reread)
  5. The Magicians of Caprona – Diana Wynne Jones
  6. Sable – Karen Hesse
  7. Dear Mr. Henshaw – Beverly Clearly
  8. Indigo – Alice Hoffman
  9. Odd and the Frost Giants – Neil Gaiman
  10. Heartbeat – Sharon Creech
  11. Lulu Walks the Dogs – Judith Viorst
  12. The 13 Clocks – James Thurber
  13. Shiloh – Phyllis Reynolds Naylor

So there are 56+++ books I’ve read, and 43 books I’ve reviewed.

Just for the record, here are books I’ve omitted from the list. I may read these books for the next cycle.

The Lion, the Witch and the Wardrobe C. S. Lewis

1950

Prince Caspian C. S. Lewis

1951

The Voyage of the Dawn Treader C. S. Lewis

1952

The Silver Chair C. S. Lewis

1953

The Horse and His Boy C. S. Lewis

1954

The Last Battle C. S. Lewis

1956

Inkheart Cornelia Funke

2003

Inkspell Cornelia Funke

2006

Inkdeath Cornelia Funke

2008

Dragon Rider Cornelia Funke

2004

Ghost Knight Cornelia Funke

2012

Mixed Magics Diana Wynne Jones

2000

The Railway Children Edith Nesbit

1906

The Enchanted Castle Edith Nesbit

1907

Little Lord Fauntleroy Frances Hodgson Burnett

1885-6

A Little Princess Frances Hodgson Burnett

1905

Andersen’s Fairy Tales Hans Christian Andersen

1930-40s

The Story of Doctor Dolittle Hugh Lofting

1920

The Voyages of Doctor Dolittle Hugh Lofting

1922

Double Act Jacqueline Wilson

1995

The Worry Website Jacqueline Wilson

2002

The Swiss Family Robinson Johann Wyss

1812

Gulliver’s Travels Jonathan Swift

1726

The Tale of Despereaux Kate DiCamillo

2003

The Magician’s Elephant Kate DiCamillo

200

The Marvelous Land of Oz L. Frank Baum

1904

The Story Girl Lucy Maud Montgomery

1911

The Golden Road Lucy Maud Montgomery

1913

Anne of the Island Lucy Maud Montgomery

1915

The Prince and The Pauper Mark Twain

1881

The Adventure of Huckleberry Finn Mark Twain

188

James and the Giant Peach Roald Dahl

1961

Charlie and the Chocolate Factory Roald Dahl

1964

So, how is your progress?

2017 Reading and Blogging Plan

2017! Tak terasa sudah 17 tahun sejak kita memasuki abad ke-21, dan di sini kita sudah dikelilingi teknologi yang tak terbayangkan para kakek-nenek kita, juga masih dibayangi dunia distopia yang dulu hanya dibayangkan nenek-kakek kita. Saya pernah membayangkan jika ada program migrasi ke Mars, saya akan ikut membawa buku-buku saya dan menyelesaikannya dengan tenang di sana, jauh dari hiduk-pikuk bumi dan segala permasalahannya. Internet? Kalau tidak ada ya, saya tidak akan jadi blogger lagi. Sebelumnya tak pernah terbayangkan saya bisa berhenti setelah selama ini, tetapi kita selalu belajar, kita mudah terbiasa.

Setahun terakhir saya melalui sebuah perjalanan yang terjal, mengorbankan banyak hal untuk kembali lagi ke tempat mula saya berdiri. Namun, apakah saya masih orang yang sama meski berdiri di tempat yang sama? Idealnya tidak, idealnya saya belajar, idealnya saya semakin yakin dengan tujuan saya, idealnya semuanya menuju kepada yang lebih baik.

Saya belum tahu idealisme seperti apa yang seharusnya saya pegang untuk menjalani tahun ini. Namun, saya rasa ada sebuah keputusan yang harus diambil. Menimbang semakin sesaknya rak buku dan semakin tak terkendalinya sumber buku murah.

Untuk 2017, saya akan berusaha mengembalikan rutinitas membaca dan mereview saya.

Tentunya tidak akan bisa sama seperti sebelumnya, mengingat satu dan beberapa hal yang menanti untuk diselesaikan. Yah, mengenai mekanismenya akan saya atur sendiri. Saya tetap tidak akan mengikuti reading challenges seperti tahun lalu, tetapi saya akan menantang diri saya sendiri:

  1. Menyelesaikan beberapa review buku ‘penting’ yang sudah menumpuk sejak tahun lalu.
  2. Menyediakan waktu untuk ‘merawat’ blog ini, termasuk untuk menuliskan ide-ide yang sebelumnya tertunda karena berbagai pembenaran.
  3. Mengatur mood dan kondisi sedemikian rupa sehingga tertundanya review tidak menjadi alasan untuk memulai buku baru.
  4. Menyebarkan kecintaan pada buku baik secara daring maupun luring.
  5. Tetap dalam perjalanan menemukan buku-buku yang berkesan dan luar biasa, dalam jalur yang sudah saya tapaki beberapa tahun terakhir.

Kebetulan, tahun ini tepat berakhirnya The Classics Club Project dan Children’s Literature Reading Project ronde pertama. Saya tahu hasilnya tidak sesuai dengan target ambisius saya di awal, tetapi saya masih akan melanjutkan ke ronde berikutnya dengan target yang lebih fleksibel dan mempertimbangkan efek ‘fun‘ nya.

Sekian rencana saya untuk setahun ke depan. Semoga saya berhasil menaklukkan tantangan yang saya buat sendiri.

wp-1483448212004.png

Book Kaleidoscope 2016

Tahun 2016 sudah (hampir) berlalu, dan seperti biasa, tidak afdhol rasanya kalau tidak merekap bacaan. Tahun 2016 ini adalah tahun cobaan bagi mood baca saya. Hampir sepanjang tahun ini mood baca saya terjun bebas. Bukan tidak membaca sama sekali, karena membaca itu masih penting buat saya, hanya saja satu buku bisa saya selesaikan lebih lama daripada biasanya. Terkadang, ini juga membuat saya tidak betah dan terburu-buru ganti buku, dan bukan berarti buku yang saya tinggalkan itu jelek.

Di goodreads, tercatat 76 buku yang saya baca tahun 2016 (kenyataannya lebih beberapa buku dari itu, karena ada yang belum masuk rupanya). Tidak banyak, menilik banyaknya komik dan buku anak bergambar di dalamnya. Namun, melihat judul-judul dan penulisnya, rasanya saya cukup puas karena berbagai alasan. Saya juga lega dengan keputusan saya di awal tahun, sehingga tidak ada rasa bersalah.

Saya menandai tiga periode saya bisa ‘lebih lancar’ membaca. Yang pertama pada pertengahan tahun, tepatnya akhir Juni hingga awal Juni, sebenarnya menurut goodreads, periode membacanya cukup panjang untuk buku-buku anak tipis, tetapi berhasil menyelesaikan empat buku saat itu tampak seperti kemewahan. Yang kedua pada bulan Agustus, dalam waktu kurang dari dua minggu, saya berhasil menyelesaikan tiga novel detektif. Sedangkan yang terakhir pada akhir Oktober, setelah menghadiri Big Bad Wolf di Surabaya, saya membabat lebih dari lima belas buku anak, sebelum saya kirimkan pada yang menitip (lumayan baca gratisan, setelah izin dulu pastinya). Saya tahu sejak lama, bahwa review yang tertunda sering membuat saya malas membaca, karena saya sudah terbiasa selalu membuat review sejak blog ini lahir. Jadi pada mulanya, memang review-lah yang menjadi momoknya. Bagi pengunjung blog ini mungkin bisa melihat betapa tahun ini saya sulit menulis review, karena itu, bisa move on membaca tanpa menyelesaikan review semacam menjadi kebiasaan baru yang inginnya tidak saya biasakan di 2017.

Saya cukup puas karena berhasil membaca beberapa buku dari penulis favorit, dan menemukan buku favorit baru, atau sekadar bernostalgia dengan gaya tulisan mereka. Di antaranya, tidak lain dan tidak bukan ada Neil Gaiman. Meski gagal dengan niat ingin membaca kumpulan cerpennya, saya membaca beberapa buku anaknya yang belum saya baca. Dan akhir tahun ini saya memutuskan membeli ebook dari Humble Bundle yang berisi karya-karya langka Gaiman, yang hasil penjualannya dipergunakan untuk amal. Saya baru membaca beberapa judul, tetapi asyik juga membaca karya-karya ‘mentah’ dari penulis favorit, rasanya meneguhkan mengapa dia jadi favorit. Kemudian ada Oscar Wilde, yang saya hanya kesampaian membaca satu cerpen, The Canterville Ghost; cerita hantu yang kocak dan menyentil khas Wilde. Ada Sapardi Djoko Damono yang novel Hujan Bulan Juni-nya berhasil membuat saya terpukau dengan gaya ‘terserah-gue-mau-ngapain’-nya. And, always, the Queen J.K.Rowling, kali ini atas nama Robert Galbraith dia berhasil memangsaku kembali.

Membaca buku karena sedang naik daun itu bukan gaya saya, jadi dengan agak malu saya akui bahwa saya memulai membaca buku Eka Kurniawan karena dia masuk nominasi Man Booker Prize. Untungnya saya memang sudah menimbun mengoleksi beberapa judul bukunya, jadi tidak terlalu merasa bersalah (baca: pembelaan). Omong-omong, saya jadi suka gaya penulisannya di Lelaki Harimau dan memutuskan mengoleksi semua bukunya (yang sudah hampir saya lengkapi di tahun yang sama). Secara de facto, tahun ini bukan pertama kalinya saya membaca karya Haruki Murakami, tetapi Wind rasanya terlalu ringkas untuk bisa dinilai seapik Norwegian Wood. Setelah membaca bukunya yang kedua ini, saya merasakan kembali book hangover dan menjadi sedikit lebih malas untuk membaca buku lain selama beberapa waktu. Lalu ada John Steinbeck, bisa dibilang Of Mice and Men adalah buku utuh pertamanya yang saya baca, karena sebelumnya saya baru membaca versi abridged dari The Pearl. Kebetulan Steinbeck yang saya baca terjemahan, dan sepertinya ada rasa yang ‘hilang’, entah karena mood saya atau apa, yang jelas, saya perlu memberi tempat lebih baik untuk penulis yang satu ini.

Mood yang kurang baik mungkin bisa menjadi alasan untuk menemukan hal-hal baru dalam bacaan. Seperti saat saya memilih membaca Orkes Madun, drama karya Arifin C. Noer yang merupakan buku play Indonesia yang pertama saya baca. Mencoba-coba perpustakaan digital untuk pertama kalinya juga mengantarkan saya pada buku yang saya tak tahu pernah ada di pasaran, Jejak Ingatan, yang merupakan kumpulan cerpen, esai, dan jurnalistik pemenang lomba menulis tentang Alzheimer. Buku yang mengangkat tema cukup penting dengan bahasa sederhana yang penting untuk dibaca luas. Saya juga merambah sejarah (lagi) dengan membaca biografi Douwes Dekker oleh Tim Buku Tempo, akibat penasaran pasca membaca Max Havelaar. Juga sebuah buku bergambar yang tak sengaja saya temukan di obral buku, Angsa Merampas Roti Bebek-Bebek: Masa Kanak-Kanakku di Kamp Tahanan Jepang di Jawa oleh Anne-Ruth Wertheim. Sebuah autobiografi seorang Belanda yang cukup berkesan. Saya juga membaca biografi singkat Nikola Tesla oleh Patrick Sean hasil gratisan Amazon yang sudah saya simpan lama, gara-gara sebuah video tentang teori flat earth.

Lalu ada beberapa penulis yang masuk radar. Untuk buku anak bergambar, ada John Yeoman dan Michael Rosen yang kebetulan menulis buku yang diilustrasi oleh Quentin Blake, ilustrator buku-buku Roald Dahl. Tema yang diangkat cukup oke, beberapa bahkan sangat membekas, meski ditulis dengan sederhana. Ada Sharon Creech juga yang akan saya bahas di bawah. Untuk buku klasik, ada Voltaire yang saya tak menyangka tulisannya bakal seperti itu. Dari review Candide yang pernah saya baca, saya bayangkan tulisannya cukup berat, ternyata cukup menghibur, beberapa bagian malah lucu, tanpa kehilangan maknanya. Hella Haasse, seorang Belanda yang bercerita tentang fiksi sejarah Indonesia, yang terlambat saya kenal tapi ternyata berhasil memukau. Dan ada Keigo Higashino, penulis novel detektif Jepang yang cukup membuat bahagia karena karakternya orang sains. Buku Kesetiaan Mr.X (seri Detective Galileo #3) cukup emosional untuk ukuran sebuah cerita pembunuhan.

Dan, inilah daftar 6 buku yang paling berkesan yang saya baca di 2016. Urutan berdasarkan waktu baca. Empat buku teratas sudah ada reviewnya.

oeroegnwcareer-of-evilroger ackroydtpatlp heartbeat

  1. Oeroeg by Hella Haasse

Sebuah fiksi sejarah Nusantara yang ditulis oleh penulis Belanda. Bukunya singkat, tetapi ditulis dengan cantik dan meninggalkan kesan sangat kuat. Persahabatan antar ras yang digambarkan dengan begitu realistis hingga membuat saya sedih karena melihat kebenaran di situ.

  1. Norwegian Wood by Haruki Murakami

Serasa diguncang-guncang membaca buku ini. Salah satu buku yang lebih baik tidak dibaca sinopsisnya, karena di bab-bab awal pun saya bisa dibuat terhempas.

  1. Career of Evil by Robert Galbraith

Rasanya saya sudah bercerita banyak di review. Yang jelas pengalaman membaca yang sangat nikmat. Saya berhasil menebak pembunuhnya dengan analisis yang cukup sederhana (tapi benar), ya, meskipun sempat dibuat ragu gara-gara penulisnya lebih pintar.

  1. The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie

Ini salah satu buku ‘kurang ajar’. Yah, saya tidak mengharapkan dia pembunuhnya sih, tetapi memang sejak awal saya merasa buku ini aneh. Karena pembunuhnya itu, segala yang aneh menjadi masuk akal. Tapi tetap saja ini kurang ajar.

  1. The Pilot and The Little Prince by Peter Sís

Sebagai penggemar Antoine de Saint-Exupéry, dan The Little Prince tentunya, buku ini sangat penting. Biografi singkat sang penulis sejak awal kehidupannya sampai meninggalnya, membuat saya tahu mengapa dia menulis buku-bukunya itu, serta lebih memahami berbagai simbolisme dalam The Little Prince. Ilustrasinya juga sangat berkesan, seperti kata orang, satu gambar bisa mewakili ribuan kata.

  1. Heartbeat by Sharon Creech

Saya beli buku ini murni karena tertarik bentuknya yang narrative poetry. Saya jarang mendapati buku bentuk ini, dan masih terpesona pasca Out of the Dust. Saya tidak berharap banyak meski saya tahu penulisnya adalah penerima penghargaan Newbery. Mungkin puisi naratif memang cenderung emosional, karena pemilihan katanya, rimanya, dibuat sesingkat mungkin dan langsung menancap dalam jiwa. Puisi naratif tidak perlu takut menuliskan kesedihan bertubi-tubi karena dia puisi, kira-kira seperti itu. Yang jelas, setelah membaca ini saya merasakan kehangatan yang menandakan bahwa buku ini sangat berkesan bagi saya.

Itulah kira-kira gambaran tahun 2016, tidak ada yang disesali, tidak ada yang sia-sia, semoga tahun 2017 lebih baik. Welcome 2017, welcome new spirit!

Esperanza Rising – Pam Muñoz Ryan

esperanzaTitle : Esperanza Rising
Author : Pam Muñoz Ryan (2000)
Translator : Maria M. Lubis
Editor : Jia Effendie
Publisher : Penerbit Atria
Edition : Cetakan I, Maret 2011
Format : Paperback, 238 pages

“Jangan takut untuk memulai lagi dari awal.”

Esperanza Ortega kecil hidup bak ratu di El Rancho de las Rosas di Aguascalientes, Meksiko. Sebagai anak tunggal dari tuan tanah yang kaya, segala kebutuhan dan keinginannya mudah saja diwujudkan. Selama ini dia dikelilingi orang tua yang menyayanginya, baju bagus yang bersih, pelayan yang selalu siap melayaninya, orang-orang yang menghormatinya, rumah yang besar dan nyaman. Hingga suatu ketika, dia menyadari bahwa di bawah kemewahan yang dinikmatinya, ada orang-orang yang menderita, yang bekerja keras demi bisa hidup, yang tersingkir, dan yang memberontak.

Tepat menjelang ulang tahunnya yang ketiga belas, kehidupannya berubah total. Kepentingan orang-orang terhadap El Rancho de las Rosas mengorbankan keluarganya. Dengan terpaksa, Esperanza dan Mama harus ikut dengan keluarga pekerja yang akan pindah ke Amerika Serikat. Tempat semua orang dapat maju dengan usahanya sendiri, tempat yang tak mengenal status sosial; selama mereka mau bekerja, mereka bisa menaikkan derajat. Perjalanan yang sulit untuk Esperanza yang selama ini hidup dalam prioritas.

Amerika ternyata tak seindah yang mereka bayangkan. Orang-orang Meksiko, juga para imigran dari negara lain, tetap dianggap sebagai warga kelas dua di bawah orang-orang kulit putih; meski mereka lahir di Amerika, sudah memiliki kewarganegaraan, bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke Meksiko. Kesempatan mereka terbatas, tetapi sebagian dari mereka percaya bahwa kerja keras mereka akan membuahkan hasil. Di sisi lain, ada para pekerja yang protes menuntut upah yang lebih layak.

Esperanza menatap kegelapan. Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Dia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira. (p.158)

Di sinilah Esperanza diuji. Dia harus menanggalkan kebiasaannya sebagai seorang ratu, dan harus turun tangan melakukan pekerjaan rumah bahkan pekerjaan kasar. Kerinduan dengan orang-orang tercinta melecutnya untuk bisa menghasilkan uang, untuk bertahan di pertanian California yang penuh persaingan. Di usianya yang belasan tahun, Esperanza belajar artinya kehilangan, kejatuhan, kematian, dan bagaimana harus bangkit, melepaskan, dan bertahan. Akankah segalanya menjadi lebih baik? Akankah keringat dan air matanya berbuah senyum dan kebahagiaan?

Dalam setiap kesulitan, manusia akan berubah, lebih dewasa atau terpuruk. Inilah yang dialami Esperanza, sebagaimana judulnya, Esperanza bangkit. Namun, perubahan yang dialaminya tidak drastis, wajar karena kekecewaan dan kesedihan masa lalu memang sulit dihapuskan dalam masa krisis. Romantisme masa lalu kadang menghambat proses penyesuaian hari ini, tetapi akan ada satu motivasi kuat yang pada akhirnya membuatnya sadar caranya bergerak naik; cinta.

Buku yang bersetting pada tahun 1930an ini menunjukkan Amerika yang masih melakukan diskriminasi berdasarkan ras dan kebangsaan, dari sudut pandang para imigran dan keturunan Meksiko. Bagaimana mereka harus bersaing tidak sehat dengan orang-orang Okkie (Oklahoma), dengan kompetensi di bawah mereka tetapi mendapatkan kesempatan lebih baik karena mereka rela dibayar murah.

Ada sesuatu yang terasa sangat salah karena mengusir orang-orang dari “negara bebas” mereka sendiri, karena mereka mengungkapkan pikiran mereka. (p.187)

Salah satu karakter menarik di buku ini adalah Miguel—anak pasangan pekerja di Aguascalientes yang mengajak mereka ke Amerika—yang hampir seusia dengan Esperanza. Miguel, yang kerap merasakan kebaikan hati Papa, memiliki tekad yang kuat untuk maju. Dia yang juga merasa berutang dengan keluarga Ortega selalu berada di samping Esperanza kala dibutuhkan.

Buku ini juga kaya dengan penggunaan simbol dan metafora yang halus. Seperti mawar yang dibawa dari Aguascalientes sebagai simbol keluarga, pola renda yang diajarkan Abuelita (ibu dari Mama) membentuk lembah dan gunung, serta yang paling saya suka adalah suara degup jantung bumi yang didengar di Meksiko dan di Amerika adalah sebuah pertanda sesuatu yang besar. Penggunaan bab-bab berdasarkan musim panen menambah keunikan buku ini.

Meski sempat bosan di awal karena kekeraskepalaan Esperanza, buku ini diakhiri dengan sangat manis dan hangat. 4/5 bintang untuk buah-buah anggur yang mengawali dan mengkhiri kisah ini.