Charlie and the Great Glass Elevator – Roald Dahl

charlie-great-glassTitle : Charlie and the Great Glass Elevator/Charlie dan Elevator Kaca Luar Biasa (Charlie Bucket #2)
Author : Roald Dahl (1973)
Illustrator : Quentin Blake (1995)
Translator : Ade Dina Sigarlaki
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kedua, Januari 2010
Format : Paperback, 200 pages

Pasca petualangan di dalam pabrik cokelat di buku sebelumnya, Willy Wonka membocorkan alasan mengapa dia mengundang anak-anak tersebut, serta mengunjungi keluarga Bucket untuk menjemput mereka semua. Buku Charlie and the Chocolate Factory berakhir ketika ketujuh keluarga Bucket bersama Willy Wonka berada di dalam elevator kaca luar biasa yang akan mengantarkan mereka kembali ke pabrik cokelatnya.

Namun, suatu hal terjadi di luar dugaan, yang membuat petualangan mereka di dalam elevator kaca menjadi semakin luar biasa. Mereka terlempar terlalu jauh hingga melayang-layang di luar angkasa, hingga petualangan baru dimulai. Petualangan yang melibatkan hotel angkasa milik Amerika Serikat, yang membuat mereka harus terlibat dengan Presiden Amerika Serikat, para awak pesawat luar angkasa, dan tak ketinggalan, makhluk-makhluk luar angkasa. Petualangan yang menakjubkan, yang semakin menakjubkan karena melibatkan para lanjut usia yang jiwa petualangannya sudah hilang digerus kehidupan.

“Omong kosong dan sampah tumpah! Kalian tak bakal sampai ke mana pun kalau terus berbagaimana-kalau seperti itu. Apakah Columbus bakal menemukan Amerika kalau ia bilang, ‘Bagaimana kalau aku tenggelam dalam perjalanan? Bagaimana kalau aku bertemu bajak laut? Bagaimana kalau aku tak bakal kembali lagi’ Pasti ia tak akan berangkat. …” (p.31)

Sekembalinya ke bumi dan kembali ke pabrik cokelat, petualangan mereka berlanjut untuk mengembalikan semangat para orang lanjut usia ini. Dengan produk inovasi Willy Wonka, mereka berusaha mengembalikan masa muda dengan cara yang cukup instan. Namun, cara instan memang selalu salah, bukan?

Seperti beberapa orang tua pada umumnya, mereka adalah orang yang dengan pengalaman yang lebih banyak dan usia yang lebih panjang, hingga merasa sudah cukup bijaksana. Tanpa melihat bahwa ada hal-hal baru yang tak ada pada masa sebelumnya, lalu menolak untuk mendengar dan memahami terlebih dahulu. Dan kembali Charlie, bersama sang eksentrik Willy Wonka, yang menjadi saksi keluarbiasaan pabrik cokelat miliknya.

Jika di buku sebelumnya, Dahl memberi contoh melalui sindiran terhadap anak-anak dan pendidikan orang tua, maka di buku ini, penulis lebih menunjukkan betapa menjadi anak-anak terkadang lebih seru dan menyenangkan. Menjadi tua dan kehilangan kesempatan untuk bertualang adalah sebuah kerugian. Dan, bahwa usia seharusnya, dan bisa saja, tak menjadi penghalang untuk menjalani petualangan yang mengasyikkan.

“Sedikit ngawur di sini-sana, kenikmatan orang bijaksana,” ujar Mr. Wonka. (p.112)

3/5 bintang untuk ekspedisi mustahil bersama Willy Wonka.

Charlie and the Chocolate Factory – Roald Dahl

charlie-chocolateTitle : Charlie and the Chocolate Factory/Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib (Charlie Bucket #1)
Author : Roald Dahl (1964)
Illustrator : Quentin Blake (1995)
Translator : Ade Dina Sigarlaki
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan keempat, Januari 2010
Format : Paperback, 200 pages

Charlie Bucket tinggal di sebuah rumah kecil bersama kedua orang tuanya dan keempat kakek-neneknya. Rumah itu begitu kecilnya, dengan makanan yang begitu sedikitnya, dan kemiskinan yang begitu terasa. Tak jauh dari rumah itu, berdiri sebuah pabrik cokelat yang menakjubkan tetapi misterius. Pabrik itu sangat berjaya dengan segala produk dan inovasinya, hingga ketika para pekerja membocorkan rahasia pabrik, pemiliknya—Mr. Willy Wonka memutuskan untuk menutup pabrik itu. Namun, pabrik itu masih tetap mengeluarkan cokelat-cokelat, tanpa ada yang tahu bagaimana prosesnya.

“Mr. Willy Wonka adalah pembuat cokelat paling menakjubkan, paling fantastis, paling luar biasa yang pernah ada di dunia! Kupikir semua orang tahu!” (p.21)

Oleh karena itu, ketika Mr. Willy Wonka mengumumkan akan menyebarkan lima tiket emas ke dalam cokelatnya, dan mengundang anak-anak yang menemukan tiket itu untuk berkunjung ke pabriknya selama sehari, seluruh dunia mengalami kehebohan. Para orang kaya berbondong-bondong memborong cokelat Willy Wonka demi selembar tiket emas. Para penemu tiket emas satu per satu masuk ke berita nasional maupun internasional, karena mereka adalah orang beruntung yang akan menjadi saksi pabrik cokelat paling fantastis di seluruh dunia.

Kehebohan dan pengharapan tak luput menghampiri keluarga Bucket, tapi bagaimana mereka bisa memborong cokelat, sementara untuk membeli makanan yang layak saja mereka tak mampu. Namun, karena judul buku ini sudah menunjukkan bahwa Charlie akan masuk ke pabrik cokelat, saya katakan bahwa keberuntungan sering tak memandang probabilitas.

Dan sekarang, ini petunjuk untukmu: hari yang kupilih untuk kunjungan ini adalah hari pertama pada bulan Februari. Pada hari itu, dan hari itu saja, kau harus datang ke pintu gerbang pabrik pada pukul 10.00 tepat. (p.72)

Keistimewaan dan keluarbiasaan pabrik cokelat Willy Wonka bukanlah mitos. Kelima anak tersebut menjadi saksi bahwa apa saja bisa terjadi dengan tangan dingin Willy Wonka yang jenius dan eksentrik. Selain Charlie, keempat anak yang mendapatkan tiket emas tampaknya bukan anak-anak baik dan manis yang bisa tenang di antara mahakarya itu. Cokelat yang melimpah, Oompa-Loompa sang pekerja yang cekatan, serta berbagai inovasi cokelat yang menggiurkan menjadi ujian bagi anak-anak yang rakus, manja, dan abai terhadap aturan.

Seperti biasa, Roald Dahl berhasil meramu kisah anak-anak yang penuh keajaiban dengan pesan yang begitu tersuratnya bahwa jika kalian nakal, kalian akan mendapat balasannya. Karakter-karakter anak tersebut memang begitu jamak di masyarakat, terutama Dahl juga menyindir mengenai peran orang tua dalam membentuk karakter anak.

Dengan humor khas Dahl, permainan kata-kata, serta sajak-sajak lugas, buku ini cukup mengasyikkan. Sambil membayangkan pabrik cokelat raksasa beserta keseluruhan isinya, kita diajak untuk ikut terkesima bersama para pengunjung, dan bertualang penuh semangat yang menular dari Mr. Willy Wonka.

“Tapi kalau kami membuang televisi,
Apa yang bisa kami lakukan untuk menyenangkan
Anak-anak tercinta kami? Tolong beritahukan!”
Kami akan menjawab dengan bertanya padamu,
“Apa yang biasanya dilakukan anak-anak
tercinta itu?
Bagaimana mereka dulu biasanya disenangkan
Sebelum monster ini diciptakan?”
Sudah lupakah kalian? Apakah kalian tidak tahu?
Akan kami katakan keras-keras dan jelas tentu:
MEREKA… BIASANYA… MEMBACA!
Mereka dulu suka
MEMBACA dan MEMBACA,
DAN MEMBACA, dan MEMBACA, lalu selanjutnya
MEMBACA lebih banyak lagi. Ya Ampun! Astaga!
Separo hidup mereka digunakan untuk membaca buku!
(p.182)

4/5 bintang untuk petualangan penuh manis-pahit cokelat.

The Tale of the Rose – Consuelo de Saint-Exupéry

the-tale-of-the-roseTitle : The Tale of the Rose (Mémoires de la rose)
Author : Consuelo de Saint-Exupéry (2000/posthumous)
Translator : Esther Allan
Publisher : Random House
Edition : First US edition, 2nd printing, 2001
Format : Paperback, xxii+309 pages

I knew there was something in this whole story that I had yet to decipher. I didn’t know if it was just me or if it was life in general that was making me listen so attentively to the rhythm of the new era that had come to meet me. (p.33)

Siapa yang tidak mengenal Antoine de Saint-Exupéry, penulis karya besar The Little Prince (Le Petit Prince) asal Prancis, yang juga berprofesi sebagai penerbang. Berbicara tentang The Little Prince ternyata tak bisa dipisahkan dari kisah hidupnya sendiri. Awalnya, saya menganggap penulis adalah sang penerbang yang ditemui sang Pangeran Kecil, tetapi ternyata dia adalah sang pangeran itu sendiri. Kemudian, seperti diisyaratkan oleh judul ini, bunga mawar yang manja dan pencemburu itu adalah representasi dari istrinya, Consuelo.

Pada kepergiannya yang terakhir, peperangan yang membuatnya hilang di angkasa selamanya, Antoine berpesan kepada istrinya agar menulis untuknya. Halaman per halaman, dan tak terasa, Consuelo akan selesai menuliskan kisah mereka. Namun, karena sang suami tak kembali, surat-surat ini disimpan di dalam peti. Sampai setelah kematian Consuelo, barulah surat-surat ini disunting menjadi sebuah buku.

Sebelum menjadi nyonya Saint-Exupéry, Consuelo adalah janda dari jurnalis, penulis, sekaligus diplomat ternama, Enrique Gómez Carillo. Pada sebuah kunjungan ke Argentina pada tahun 1930, Consuelo bertemu dengan Antoine, dan Buenos Aires menjadi saksi ketergilaan sang pilot pada Consuelo, serta kegalauan wanita muda itu akan cinta yang datang terlalu cepat. Perjalanan mereka untuk tiba di altar pernikahan pun tidak mudah. Jalan berkelok yang harus dilalui akibat status sosial dan latar belakang yang berbeda membuat wanita Spanyol itu hampir patah semangat setelah dirinya terlanjur merasakan cinta pada Tonio-nya.

He told me that his life was a flight and he wanted to sweep me off with him, that he found me light and delicate but believed that my youth could withstand the surprises he promised me: sleepless nights, last-minute changes of plan, never any luggage, nothing at all except my life, suspended from his. (p.35)

Setelah menikah, kehidupan berumah tangga tak pernah mudah bagi keduanya. Masalah datang silih berganti, mulai dari perpisahan akibat tugas, kecemburuan karena ketenaran sang pilot yang kini menjadi penulis, kehidupan sosial yang menjauhkan keduanya, sampai pada perselingkuhan yang rumit. Namun, semuanya tak pernah bisa membuat mereka bercerai. Antoine selalu berhasil meyakinkan Consuelo bahwa mereka ditakdirkan bersama, bahwa akan ada waktu untuk bahagia, bahwa Tonio tak bisa dikekang, jiwanya bebas, tetapi dia tak akan bisa melepaskan istrinya. Selalu Consuelo yang pada akhirnya harus menahan segala rasa sakit, bertekuk lutut lagi setiap Tonio kembali, berperan menjadi istri yang sabar dan kuat.

Mungkin kehidupan rumah tangga seperti itu tak masuk akal, tetapi mengikuti tulisan Consuelo, saya dibuat yakin bahwa ada sebuah kekuatan tak tampak yang mengikat keduanya begitu kuat. Ada ikatan tak terucap dari keduanya, yang pada akhirnya dimengerti Consuelo. Pada akhirnya, ini bukan masalah siapa mengkhianati siapa, tetapi tentang kehidupan dinamis yang bisa melakukan apa saja pada diri seseorang, kemudian ketika waktunya pulang, hanya ada satu tempat beristirahat.

 “You are my freedom,” he told me. “You are the land where I want to live for the rest of my life. We are the law.” (p.63)

But Tonio, no: he wanted to read, he wanted to write. And so I had to make myself very small and scarce, had to live inside his pockets. (p.101)

img_20170228_193555_099.jpg

I sensed that Tonio was suffering for all mankind, that in some way he wanted to make them better. He was a man who chose his own destiny, but he had to pay a high price for his freedom, and he knew it. (p.136)

Sebelum bertemu Consuelo, Antoine sudah menerbitkan Southern Mail, meski tak laku. Setelah menikah, Consuelo menyemangati Tonio untuk menulis lagi dan menjadi pembaca pertamanya, sehingga terbitlah Night Flight yang menjadi salah satu titik balik rumah tangga mereka. Kondisi keuangan yang sulit membuat Saint-Ex mengambil pekerjaan apapun asalkan mereka bisa membayar sewa dan hidup dengan tuntutan sosial yang tinggi. Akan tetapi, jalan Antoine adalah terbang dan menulis—apapun, jika buku tidak memungkinkan, dia akan mengisi kolom di koran. Sebelum menerbitkan Wind, Sand, and Stars, Saint-Ex sudah mengalami berbagai kecelakaan, tersesat, hilang, bahkan hingga di ambang maut.

He had been as if dead. He had passed through death itself. Now he knew it.
“It’s easy to die,” he told me. “To drown. Let me tell you. You have very little time to get used to the idea that you can no longer breathe oxygen. You have to breathe water into your lungs. You must not cough, the water must not go in through your nose. You are, as I was, relieved to breathe in the first mouthful of water. It’s cool, and everything is fine afterwards. …” (p.126)

Di balik tubuhnya yang mungil, Consuelo memiliki jiwa yang besar untuk bisa tetap menjadi istri seorang Saint-Ex. Bukan hanya perbedaan mencolok secara fisik—Consuelo terlihat semakin kecil di samping Antoine yang tinggi besar—tetapi juga perbedaan cara mereka menghadapi hidup, perbedaan cara berkomunikasi. Seringkali Consuelo gagal mengungkapkan perasaannya pada Antoine, karena Tonio lebih suka jika masalah tak diselesaikan dengan bicara, dia lebih mengutamakan perbuatan. Oleh karena kisah ini dituturkan dari sudut pandang sang istri, maka pembaca lebih bisa melihat perjuangan dan pengorbanan Consuelo. Dia dengan segala luka hatinya, tetapi tetap dengan harga diri yang tinggi, berusaha tak mengemis perhatian, maupun hidup bergantung pada sang suami yang tampak seperti sudah tak mencintainya lagi.

“…. Though I’d love to have been a composer, like him, to be able to say things without words, in that secret language that is given only to the elect, the initiates, to poets . . . …” (p.131)

My God, being the wife of a pilot is a whole career, but being the wife of a writer is a religous vocation! (p.256)

I had wisely resolved to work. Work is the only thing that will allow you to keep your balance and find your way out of the confusion of events. (p.280)

Autobiografi Consuelo de Saint-Exupéry, secara tidak langsung menjadi sebuah kepingan biografi Antoine de Saint-Exupéry. Namun, membaca buku ini tak lantas membuat kita mengenal Saint-Ex. Saya pribadi justru menjadi semakin penasaran untuk mencari biografi sang pilot dari sudut pandang yang lain. Sampai menjelang akhir, saya justru merasa tidak mengenalnya kembali, dan ketika di akhir sang istri memberi kesimpulan, ada sebuah pengertian baru tentang arti cinta dan makna perselingkuhan. Saint-Ex yang saya kenal sebagai pilot melalui karya-karyanya sendiri, ternyata memiliki sisi manusia yang tak kalah menarik untuk digali.

My only hope lay in our youth, which to me seemed eternal, and in our love, which was so pure that it had to have touched God. My hope lay in his strong hands, which knew how to throw all of his bodily weight, all of his energy and vitality, into the air currents flowing through an unknown sky. (p.142)

Buku ini ditulis dengan sangat indah. Dengan gaya bahasa yang mengingatkan saya pada karya-karya Saint-Ex, narasi yang lugas tapi cantik. Kumpulan surat cinta yang berhasil menyampaikan kegelisahan seorang istri tanpa terlihat cengeng ataupun berlebihan. Bagi penggemar Saint-Ex, mungkin perlu kesiapan untuk menerima kebenaran bahwa sosok penulis yang kita kagumi tak sesempurna karya-karyanya. Bahwa semua manusia memiliki kelemahan, dan kelemahan Antoine adalah dia tak bisa memperlakukan wanita sebaik dia memperlakukan mesin pesawat.

“But tears, you know, are not always murderous. Tears can purify as well, tears may be the path to grace, a way for women to become angels.” (p.187)

Di sisi lain, pengetahuan yang ada dalam buku ini tentang sosok Saint-Ex bisa menjadi salah satu jalan untuk memahami karya-karyanya. Tentang Rivière dan Fabien di Night Flight, tentang bunga mawar di The Little Prince, bahkan saya mulai menduga-duga sosok sang rubah, meski konfirmasinya tidak bisa didapat dari buku ini. Sebaliknya, buku-buku Saint-Ex yang berisi pengalaman terbangnya menjelaskan pandangan dan alasan tindakan-tindakan yang dilakukannya pada Consuelo, sekaligus melengkapi biografi Saint-Ex sendiri dari kejadian saat dia tidak sedang bersama Consuelo. Ada sedikit selipan foto mereka di dalam buku ini, yang mungkin ingin bercerita dengan cara yang berbeda.

Kisah cinta penuh drama mulai dari pertemuan hingga perpisahannya, dipenuhi oleh cinta dan penderitaan, menunjukkan betapa hati manusia memang adalah tempat yang misterius. Saya berikan buku ini 5/5 bintang untuk cara penyampaiannya yang memukau, meski kebenaran yang disampaikannya seringkali pahit.

The unknown is beautiful when you are going off to discover it. I’m going to war for my country. Don’t look at my eyes, for I’m weeping as much with joy at carrying out my duty as with pain over your tears. I could almost thank heaven for giving me a treasure to leave behind: my house, my books, my dog. You will keep them for me.” (p.302)

“Straighten my tie instead. Give me you handkerchief so I can write the next part of The Little Prince on it. At the end of the story, the Little Prince will give this handkerchief to the Princess. You’ll never again be a rose with thorns, you’ll be a dream princess who always waits for the Little Prince. I will dedicate that book to you. I can’t forgive myself for not having dedicated it to you. I’m sure that while I’m gone our friends will be kind to you. When I’m here they prefer my company, but that’s not particularly flattering to me. Those who love only the famous man in me make me sad. I will forget all those who don’t extend all of their favors to you. When I come back, my wife, the two of us will be with the true friends of our hearts. Only them.” (p.303)

Scene on Three (120): 5th Year Blogoversary

SceneOnThree

Sekian lama tidak membuat SoT, dan hari ini, bertepatan dengan 5 tahunnya blog Bacaan B.Zee ini, tampaknya saya wajib menuliskan sesuatu. Beberapa bulan lalu, saya sempat menemukan buku Albert Camus di perpustakaan kota, La Chute (1956), atau diterjemahkan menjadi Jungkir. Buku yang tampaknya sudah hilang dari peredaran, diterjemahkan Penerbit Tinta pada Oktober 2004 oleh Decky Juli Zafilus. Saya tidak mengatakan terjemahannya buruk, karena ini Camus, memang seharusnya dibaca penuh penghayatan. Namun, kesalahan saya, terlena dengan tipisnya buku ini sehingga menunda membacanya sampai mendekati jatuh tempo peminjaman. Saya (saat itu) menangkap ide besarnya, tetapi merasa melewatkan hal yang penting, karenanya saya tidak yakin mau membuat reviewnya.

Sebagai jalan tengah, saya mau berbagi beberapa scene berkesan saja. Ya, beberapa, karena ini edisi spesial blogoversary.

wp-1484317887973.jpg

Umat manusia dijadikan yakin pada alasan-alasan Anda, kesungguhan Anda, dan parahnya kesusahan-kesusahan Anda, hanya oleh kematian Anda. Selama Anda ada dalam kehidupan, kasus Anda diragukan, Anda hanya berhak mendapatkan spektisisme mereka.

wp-1484317894278.jpg

Anda sudah mati, mereka akan memanfaatkan kejadian itu untuk memberi motif-motif yang idiot atau norak pada tindakan Anda itu. Kawan yang terhormat, para martir memang harus memilih dilupakan, dicemooh, atau diperalat. Kalau dipahami, tidak bakalan.

Kematian memang seringkali meninggalkan misteri bagi kita yang masih hidup, bukan hanya masalah kapan kita menyusul mereka yang pergi lebih dulu, melainkan dengan cara apa, meninggalkan apa, dan untuk tujuan apa kematian memeluk kita. Saya pernah membaca kata seseorang bahwa kematian seringkali memunculkan yang terbaik dalam diri kita. Saat kita meninggal, orang akan membicarakan hal-hal baik tentang kita, hal buruk dan tabu dengan segera dilupakan dan dimaafkan, guna menghargai kita yang baru saja meninggalkan mereka, mungkin dengan sedikit perasaan kasihan. Hal ini senada dengan perkataan Camus di gambar pertama, bahwa segala alasan dan kesusahan kita hanya akan dipercaya setelah kita tidak ada lagi, mungkin dengan rasa kasihan juga. Akan tetapi, pemahaman tampaknya tetap merupakan hal yang mustahil. Seperti ditunjukkan pada gambar kedua, manusia akan mengarang-ngarang hal yang tak mereka pahami, alih-alih berusaha mengingat kembali apa yang belum mereka pahami. Namun, yah, semua itu masalah kita yang hidup dan ditinggalkan, bukan?

… sel bawah parit yang pada Abad Pertengahan dinamakan ketidaknyamanan. Pada umumnya, di sana Anda diabaikan demi kehidupan. Sel itu dapat dibedakan dengan yang lain-lainnya lewat dimensi-dimensinya yang penuh kejeniusan. Dia tidak cukup tinggi untuk posisi orang berdiri dan tidak cukup lebar untuk posisi orang berbaring. Orang harus bergaya terhalang, hidup menyerong; masa tidur adalah suatu posisi terjungkir, terjaga pada malam hari suatu posisi berjongkok. (p.126)

Saya harus lebih tinggi ketimbang Anda, pikiran-pikiran saya mengangkat diri saya. Malam-malam itu, tepatnya pagi-pagi itu, karena jungkir terjadi di fajar kala, saya keluar, saya pergi, dengan suatu perjalanan kaki yang geram ke sepanjang kanal-kanal. (p.165)

Karya Camus ini memang tipis, tetapi dikatakan sebagai salah satu karyanya paling menarik, karena bisa ada multitafsir dan multipersepsi di situ. Saya memilih menandai bagian yang mengandung judulnya saja untuk menunjukkan sebagian ide utamanya. Kondisi jungkir (the fall) yang mungkin diceritakannya dengan geram di sepanjang buku, diakhiri dengan sebuah kebangkitan geram yang mengajak saya untuk merenung kembali.

Pada intinya, yang membuat Camus menarik adalah bagaimana gagasannya menggelitik kira untuk berpikir. Di satu sisi kita merasa ingin setuju, tetapi di sisi lain, sepertinya terlalu riskan untuk menyetujuinya.

Untuk yang masih punya scene yang bisa dibagikan, bisa menempelkan tautannya di kolom komentar di bawah. Saya sudah punya resolusi untuk tahun ke-5 Bacaan B.Zee, semoga SoT hari ini menjadi pembuka jalan yang baik.

First Cycle of CLRP : Wrap Up

It’s been 3 years since I started my Children Literature Reading Project, and this is how it went. I was quite optimistic at the first year, for the second year I had a tough time (unrelated to this project), but everything was under control. Then, I had to slow down and lay back my blogging activities last year, so there wasn’t much progress for the third year. However, I don’t regret everything, since I had really great time reading children’s literature through the difficult times (though I didn’t review it all).

I’ve updated my 2014-2017 list so it contains books I’ve read and reviewed. I’ve added some books out of my original list and omitted some books I haven’t read/reviewed. Here are some books I’ve read that haven’t been reviewed, not including borrowed books and books I (seem like) won’t review:

  1. Ajdar – Marjane Satrapi
  2. B is for Beer – Tom Robbins
  3. Esio Trot – Roald Dahl
  4. The Little Prince – Antoine de Saint-Exupery (reread)
  5. The Magicians of Caprona – Diana Wynne Jones
  6. Sable – Karen Hesse
  7. Dear Mr. Henshaw – Beverly Clearly
  8. Indigo – Alice Hoffman
  9. Odd and the Frost Giants – Neil Gaiman
  10. Heartbeat – Sharon Creech
  11. Lulu Walks the Dogs – Judith Viorst
  12. The 13 Clocks – James Thurber
  13. Shiloh – Phyllis Reynolds Naylor

So there are 56+++ books I’ve read, and 43 books I’ve reviewed.

Just for the record, here are books I’ve omitted from the list. I may read these books for the next cycle.

The Lion, the Witch and the Wardrobe C. S. Lewis

1950

Prince Caspian C. S. Lewis

1951

The Voyage of the Dawn Treader C. S. Lewis

1952

The Silver Chair C. S. Lewis

1953

The Horse and His Boy C. S. Lewis

1954

The Last Battle C. S. Lewis

1956

Inkheart Cornelia Funke

2003

Inkspell Cornelia Funke

2006

Inkdeath Cornelia Funke

2008

Dragon Rider Cornelia Funke

2004

Ghost Knight Cornelia Funke

2012

Mixed Magics Diana Wynne Jones

2000

The Railway Children Edith Nesbit

1906

The Enchanted Castle Edith Nesbit

1907

Little Lord Fauntleroy Frances Hodgson Burnett

1885-6

A Little Princess Frances Hodgson Burnett

1905

Andersen’s Fairy Tales Hans Christian Andersen

1930-40s

The Story of Doctor Dolittle Hugh Lofting

1920

The Voyages of Doctor Dolittle Hugh Lofting

1922

Double Act Jacqueline Wilson

1995

The Worry Website Jacqueline Wilson

2002

The Swiss Family Robinson Johann Wyss

1812

Gulliver’s Travels Jonathan Swift

1726

The Tale of Despereaux Kate DiCamillo

2003

The Magician’s Elephant Kate DiCamillo

200

The Marvelous Land of Oz L. Frank Baum

1904

The Story Girl Lucy Maud Montgomery

1911

The Golden Road Lucy Maud Montgomery

1913

Anne of the Island Lucy Maud Montgomery

1915

The Prince and The Pauper Mark Twain

1881

The Adventure of Huckleberry Finn Mark Twain

188

James and the Giant Peach Roald Dahl

1961

Charlie and the Chocolate Factory Roald Dahl

1964

So, how is your progress?