Uncommon Type – Tom Hanks

37901431. sy475 Title : Uncommon Type: some stories
Author : Tom Hanks (2017)
Publisher : Alfred A. Knopf
Edition : First edition, third printing, November 2017
Format : Paperback, viii+405 pages

Pada awal kemunculan buku ini, keramaian otomatis muncul karena nama Tom Hanks di situ. Terlebih dalam sebuah buku fiksi. Keramaian agak mulai semakin menarik saat ada banyak pujian, baik dari pembaca, maupun sesama penulis, juga para kritikus. Dan setelah mencoba membaca sendiri, ternyata memang penulisannya mengesankan dan sangat bisa saya nikmati. Yang baru saya ketahui dari bagian about author di belakang, dan mungkin juga tak banyak yang mengetahui, tulisan Tom Hanks pernah beberapa kali dimuat di The New York Times, Vanity Fair,dan The New Yorker.

Membaca buku ini, saya merasa dilempar-lempar dalam lompatan berbagai realitas dan masa. Terkadang batasnya sangat jelas, tetapi tak jarang juga saya kehilangan orientasi tempat dan waktu, sampai disebutkan penanda-penandanya, seperti landmarks tertentu, jenis gawai dan media sosial yang digunakan pada masa itu, atau kejadian sejarah. Namun, di antara hal-hal yang terlihat acak, ada beberapa benang merah yang dijahit dengan manis di antaranya.

Salah satu hal yang cukup menonjol adalah penggunaan mesin tik, yang konon menjadi media penulis untuk membuat buku ini. Selain dengan foto-foto berbagai jenis mesin tik koleksi Hanks di setiap awal cerita, yang diambil dengan berbagai pose yang cantik, mesin tik juga mendapatkan porsi dalam beberapa cerita. Ada saat mesin tik menjadi cameo, yang tidak sekadar ditempelkan, tetapi juga memberi kesan kuat. Dalam kisah These Are the Meditation of My Heart, mesin tik menjadi bagian utama, yang digambarkan dengan romantisme tersendiri. Dimulai dari seorang manusia modern yang tertarik dengan mesin tik murahan yang hampir tidak berfungsi, kemudian membawanya berkenalan dengan mesin-mesin tik lain, dengan berbagai jenis dan merek dari berbagai masa, yang digambarkan sebagai mahakarya dengan kelebihannya masing-masing. Your Evangelista, Esperanza yang ditulis dengan format surat kabar (Our Town Today with Hank Fiset) menceritakan seseorang yang melepaskan diri dari teknologi, dan hidup bahagia dengan mesin tik saja. Sebuah peranti klasik yang memberinya pengalaman yang tak kalah kaya dari gawai-gawai modern.

Empat orang sahabat yang membuka buku dengan kisah Three Exhausting Weeks, secara tak terduga muncul kembali di tengah dan akhir buku, dalam Alan Bean plus Four dan Steve Wong is Perfect. Kisah pertama tampak seperti romansa kontemporer biasa, tanpa ada hal yang menonjol mengenai settingnya. Hingga di kisah kedua, pembaca diajak ke dalam setting futuristik yang sangat kental, yang membuat kita jadi mempertanyakan di tahun berapa keempat sahabat tersebut hidup. Fiksi sains dengan imajinasi liar yang dibumbui dengan humor agak mengingatkan saya pada Hitchhiker’s Guide karya Douglas Adams yang belum lama saya baca. Kemudian di cerita ketiga, kita dikembalikan pada suasana Amerika yang tampaknya normal-normal saja, kali ini dengan karakter yang memiliki kemampuan menakjubkan.

Suasana historis yang mengharukan dari seorang veteran perang dihadirkan dalam Christmas Eve 1953, yang settingnya sudah terlihat dari judulnya. Dengan fokus pada hubungan keluarga, pertemanan, dan trauma. Kisah keluarga muncul juga di Welcome to Mars, A Month on Greene Street, dan A Special Weekend dengan berbagai dinamikanya, perceraian, hubungan orang tua-anak, anak dengan lingkungan, perselingkuhan, dan membuka hati kembali. Suasana masa lalu yang dilatarbelakangi time travel ada di The Past is Important to Us. Lalu latar belakang dunia hiburan, yang tentunya sangat dekat dengan penulis, tak luput diangkat dalam A Junket in the City of Light dan Who’s Who?.

Selain menceritakan orang-orang kulit putih, penulis juga memunculkan karakter-karakter imigran dan etnis lain di Amerika Serikat. Yang paling menonjol tentunya adalah empat orang sahabat yang saya sebut sebelumnya, di mana salah dua di antaranya adalah keturunan Asia dan Afrika. Go See Costas memberikan sudut pandang imigran ilegal dari masa yang lebih lampau (saat Amerika tak seketat sekarang), dari sisi manusiawinya. Beberapa kisah dengan napas ini (termasuk Who’s Who) menunjukkan bahwa Amerika pada umumnya, dan New York pada khususnya, pernah (dan mungkin masih) menjadi simbol pengharapan dan kehidupan yang lebih baik.

Ada sebuah cerita yang disampaikan dalam format drama, tentang industri, pembangunan, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi bisnis lama yang penuh kisah dan romantika. Stay With Us pada akhirnya memberikan sebuah kesan yang menyejukkan, meski di awal kita diajak dalam perjalanan bersama dua orang yang sangat eksentrik. Our Town Today With Hank Fiset muncul beberapa kali, setelah tiga cerita. Terkadang ada kesan bahwa berita itu berhubungan dengan cerita sebelumnya, tetapi dengan karakter dan detail yang agak berbeda.

Sejujurnya, meski secara keseluruhan saya sangat suka dengan buku ini, beberapa bagian terasa agak berat untuk dibaca, entah karena terlalu banyak detail, alurnya lambat, atau untuk alasan yang saya tidak sadari. Namun, saya tak meragukan bahwa buku debut Tom Hanks cukup berhasil membuat saya memasukkan buku berikutnya (semoga ada) ke dalam daftar bacaan suatu hari nanti.

If I ever run into Al Bean again, I’ll ask him what life has been like for him since he twice crossed the equigravisphere. Does he suffer melancholia on a quiet afternoon, as the world spins on automatic? (p.153)

Scene on Three (129): 6th Anniversary Edition

Kembali lagi di Scene on Three, yang edisi perdananya tepat hari ini enam tahun yang lalu. Sebenarnya tak ada yang patut dirayakan sekarang, karena SoT sudah jarang sekali muncul. Tapi kalau boleh berbangga, setidaknya ada postingan lagi hari ini.

Kutipan kali ini saya ambil dari buku The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy by Douglas Adam.

‘What do you mean you’ve never been to Alpha Centauri? For Heaven’s sake, mankind, it’s only four light-years away, you know. I’m sorry, but if you can’t be bothered to take an interest in local affairs that’s your own lookout.’ (p.30)

Kalimat ini dilontarkan oleh alien yang akan menghancurkan bumi. Sebelumnya dia mengatakan bahwa pengumuman tentang hal ini sudah ada di salah satu departemen di Alpha Centauri. Ini adalah salah satu aspek yang membuat saya suka buku ini, hal-hal tak terbatas di dalamnya. Bayangkan saat manusia bumi masih bergelut dengan penerbangan ke bulan, mencari-cari jejak kehidupan di Mars, ternyata makhluk lain di luar sana sudah mencapai kemajuan yang bahkan tidak kita bayangkan.

Di samping itu, situasi ini hampir sama persis dengan yang dialami karakter utamanya, Arthur Dent, yang rumahnya akan digusur untuk proyek kota. Hanya tentu saja skalanya jauh berbeda. Namun, di luar itu, ada satu hal yang saya tangkap, mengenai relativitas. Bahwa apa yang kita anggap kecil, mungkin besar bagi orang lain, begitu pula sebaliknya. Kita tidak bisa menyamakan cara pandang orang lain dengan kita, jika masing-masing berdiri di posisi dan situasi yang berbeda.

Sama seperti apa-apa yang belakangan kerap (di)ramai(kan) di media sosial, tentang berapa gaji yang layak, harus sudah punya apa di usia sekian, kriteria macam-macam, dan segala jenis pencapaian, adalah sebuah pembicaraan yang bukan untuk disamaratakan. Latar belakang keluarga, pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, tanggungan, adalah sedikit dari hal-hal yang membedakan kita, yang ujung-ujungnya membedakan segala apa itu di atas. Jadi ya, sebaiknya jangan berkecil hati dengan apa yang dimiliki orang lain. Karena setiap kita punya porsi masing-masing dalam kehidupan. Tak perlu juga terlalu berbangga diri jika sudah merasa mencapai dan memiliki segalanya. Malu sama alien.

Empat Aku – Yudhi Herwibowo

46001914. sy475 Judul : Empat Aku: Sekumpulan Kisah
Penulis : Yudhi Herwibowo (2019)
Penerbit : Marjin Kiri
Edisi : Cetakan pertama, Mei 2019
Format : Paperback, vi+165 halaman

Waktu memang telah dipenuhi zat-zat untuk melupakan. Yang baik akan tergerus. Yang buruk akan menggerus. (Empat Aku, hal.31)

Sebuah kumpulan cerita pendek, 14 dari 15 kisah di buku ini pernah dipublikasikan di berbagai media, terutama sekitar tahun 2010-2017. Kebanyakan kisahnya bernuansa realisme magis yang cukup kuat, tetapi hampir kesemuanya adalah cermin dari kehidupan keseharian kita. Secara tema, cerita-cerita dalam buku ini rasanya tak jauh dari kumcer yang pernah kubaca sebelumnya, Mata Air Air Mata Kumari. Namun, sepertinya penulis tak kehabisan ide-ide yang lebih segar.

Dibuka dengan cerpen Kampung Rampok, yang, sebagaimana judulnya, menceritakan sebuah kampung yang dipenuhi dengan orang-orang dengan latar belakang ‘gelap’, sehingga kampung tersebut ditakuti orang-orang luar. Hingga suatu ketika, ada ketakutan lain yang lebih besar muncul. Kisah kedua, Jendela, merupakan salah satu yang paling berkesan. Tentang seorang pelukis di Belanda, yang kurang lebih bernasib sama dengan Vincent Van Gogh—dan mungkin saja penulis terinspirasi darinya. Empat Aku, cerpen yang menjadi judul kumcer ini ditempatkan dalam urutan ketiga. Setelah dimuat di media massa dan sebelum diterbitkan dalam buku ini, kisah ini pernah diceritakan ulang dalam bentuk drama dan diterbitkan dalam kumpulan Laki-Laki Bersayap Patah.

Kisah mengesankan yang lain adalah Malam Mengenang Sang Penyair. Cerita ini merupakan salah satu yang tidak memiliki unsur magis di dalamnya, kisah biasa tentang seluk-beluk kehidupan dan bisnis kepenyairan. Namun, dari kisah yang biasa ini penulis mampu menggambarkan dinamika hubungan dan perasaan manusia yang mungkin pada suatu saat pernah kita alami juga. Tema-tema yang diusung dalam buku ini kebanyakan berhubungan dengan kaum marjinal, dengan konflik yang dekat, sekaligus kerap diabaikan. Michelle, ma belle mengangkat tema kekerasan pada perempuan, Kota yang Ditinggalkan mengisahkan perubahan sosial masyarakat di generasi yang berbeda. Selain masalah sosial, beberapa kisah juga mengangkat isu lingkungan, di antaranya Kisah Kera-kera Besar yang Pergi Menuju Langit dan Jalan Air.

Sayangnya meski buku ini tak terlalu tebal, masih ada beberapa kesalahan ketik yang agak mengganggu. Saya juga menyadari penulis kerap menggunakan kata ‘tetapi’ atau ‘namun’ di tempat yang sebenarnya bisa saja dihapus. Secara keseluruhan, buku ini bisa dinikmati sesuap demi sesuap, atau jika sudah cukup tenggelam di dalamnya, tak menutup kemungkinan dihabiskan dalam sekali duduk. Kita akan dibawa ke berbagai dunia imajiner, sambil sesekali melirik ke dunia kita, mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa ajaib maupun yang tak ajaib, lalu memikirkan kembali apa yang telah terjadi.

Tapi sudah menjadi naluri, berita kematian selalu memurukkan kita kepada perasaan sedih. Seakan itu tanda untuk menghapus segala kebencian. (Malam Mengenang Sang Penyair, hal.135)

Scene on Three (128)

Ada beberapa paragraf/kalimat acak dari buku Totto-chan’s Children karya Tetsuko Kuroyanagi yang akan saya bagikan di sini. Sebetulnya sudah lama juga buku ini kubaca, dan karena ada beberapa kalimat yang menarik, saya berniat untuk membuat resensinya. Namun, rupanya hal itu tidak terlaksana juga. Jadi, inilah salah satu fungsi adanya Scene on Three.

Saat para wanita mulai mengarahkan pandangan kepada masyarakat, saat itulah segala sesuatu akan mulai membaik. (p.157)

Sekali lagi, aku ingin sekali berterima kasih kepada anak-anak yang sudah menyambutku dengan hangat dan mengajariku untuk hidup dengan ketulusan hati dan tanpa mengeluh. (p.171)

Sembilan puluh persen pusat pembangkit listrik dihancurkan dengan cara sama. Aku tahu betapa banyaknya alasan untuk melakukan hal itu, tapi aku tak bisa berhenti memikirkan betapa banyaknya nyawa anak-anak dan air mata para ibu yang bisa diselamatkan jika hal semacam ini tidak terjadi. Aku akan terus mengatakannya: perang benar-benar kejam. (p.184)

Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi. (p.299)

Buku ini merangkum perjalanan penulis sebagai Duta Kemanusiaan UNICEF sekitar tahun 1984-1996. Dia memotret anak-anak korban perang, yang terjebak di daerah konflik, serta kemiskinan yang mengikutinya. Salah satu hal yang saya suka adalah, penulis menyoroti sudut pandang pada individu, bukan sekadar populasi secara statistik. Bahwa setiap anak memiliki kisahnya, dan setiap anak adalah istimewa.

Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub – Claudio Orrego Vicuña

42901124

Title : Las sorprendentes memorias de Baltazar: cuento / Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub
Author : Claudio Orrego Vicuña (1974)
Translator : Ronny Agustinus
Publisher : Marjin Kiri
Edition : Cetakan pertama, November 2018
Format : Paperback, x+68 pages

Bolehlah dibilang aku mampu menemukan sejenis kebahagiaan yang orisinil. Bukan kebahagiaan karena melakukan apa yang ingin kulakukan, melainkan yang lebih dalam, yang berasal dari kemampuan untuk memahami mengapa terjadi seperti ini. (p.54)

Apakah kebebasan itu? Bebas berkeliaran di dunia tanpa sekat, di luar jeruji kurungan? Namun, apakah seorang gadis kecil yang telantar, tak ada yang mengurus, tak ada yang memberi makan, bisa disebut bebas? Ataukah beruang kutub yang dicerabut dari alam bebasnya bisa menjadi bebas karena makan minum dan perawatan yang didapatkannya dalam kandang? Apakah manusia-manusia berwajah kelabu yang berlalu lalang di jalan, sibuk dengan pikiran entah apa bisa disebut bebas?

Hal-hal ini yang coba disampaikan Baltazar, beruang kutub yang ditangkap dari dunia serba putih yang dinamis sejak remajanya, tempat es-es arktik selalu berubah tiap hari. Tempat malam-malam panjang dan siang-siang yang membawa makhluk pemburu mereka. Baltazar dibawa menuju dunia penuh warna di sebuah kebun binatang. Di sana dia memandang warna-warni langit yang begitu cepat berubah, matahari yang terbit dan terbenam terasa sekejap saja, serta gunung dan lembah luas yang tak ditemukannya di tempat asalnya. Dia juga melihat manusia, anak-anak yang begitu mirip anak beruang kutub, tetapi kehilangan banyak hal saat dewasanya. Pancaran mata yang berbeda, ketulusan persahabatan yang ditampakkan dari makanan yang dileparkan padanya, maupun isyarat tak terkatakan dan dialog tanpa suara. Dari mata Baltazar, kita diajak melihat hakikat, perangai, dan tabiat manusia dari sudut pandang orang ketiga. Mungkin hal ini yang menjadikan buku kecil ini begitu istimewa, sudut pandang yang ditawarkan, yang tanpa tedeng aling-aling menelanjangi hal yang ragu kita akui.

Saat kita melihat sesuatu dengan sungguh-sungguh, yang mungkin kita lakukan dengan lebih baik saat menjalani hari yang kelihatannya monoton, justru kita menemukan bahwa segala sesuatunya dinamis. Dengan melihat lebih dekat, kita bisa mendeferensiasi dua sisi yang berbeda dari sesuatu yang kelihatannya sama. Kita bisa melihat jauh lebih dalam, dan itulah yang dialami Baltazar hingga dia meraih ‘kebebasannya’.

Tentu hidup ini selalu layak dijalani, terutama bila ia mencakup hak dan kebebasan untuk berpikir. (p.45)

Buku ini tipis saja, tetapi setiap kata dan kalimat di dalamnya memiliki kedalaman dan makna yang begitu penuh serta berlapis-lapis. Satu bagian atau satu kalimat bisa saja dimaknai apa saja, tergantung dari sudut pandang pembacanya. Meski berlatar belakang politik, penulis bisa membuat buku ini tak semata terlihat sebagai sindiran politis. Dengan jalinan kalimat-kalimat yang indah, keluasan kemungkinan interpretasi, buku ini rasanya bisa menjadi sumber Scene on Three yang tiada habisnya. Kredit juga untuk penerjemahnya yang menggubah kata-kata dalam bahasa Indonesia dengan sedemikian indahnya.

Dengan cara itulah aku mengerti bahwa hanya dengan menjadi bebas kau bisa melayani mereka yang tersisih oleh ketidakadilan dari sesama mereka sendiri. (p.22)

Dengan kepolosan mata yang baru terbuka, kemurnian hati yang siap menerima cinta, serta ketulusan belas kasih yang penuh pengertian, si beruang kutub memberikan sebuah kesaksian yang mungkin bertolak belakang dengan hal yang diyakini banyak orang (atau banyak beruang kutub). Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh pikiran yang terbuka, tanpa prasangka dan dendam. Seperti anak-anak lugu yang berhenti di depan kandang Baltazar, entah sekadar mengagumi atau memberanikan diri menyapa, melemparkan makanan yang mereka punya. Dengan mengetahui hal-hal yang tidak diketahui banyak orang, kita menjadi bebas. Jiwa tak bisa dikekang oleh kekuatan sebatas kulit luar yang mengurung raga.

Perjalanan bersama Baltazar ini begitu menyenangkan jiwa. Membaca buku ini serasa diajak berselancar dengan kata dan pengalaman yang menghangatkan sekaligus menyedihkan. Dan tentu saja, ada kenang-kenangan si beruang kutub yang akan mengejutkan pembaca.

Karena keheningan adalah suara kebaikan, tak diragukan lagi bahwa kebaikan berlangsung diam-diam di setiap sudut dunia manusia. (p.45)