Scene on Three (129): 6th Anniversary Edition

Kembali lagi di Scene on Three, yang edisi perdananya tepat hari ini enam tahun yang lalu. Sebenarnya tak ada yang patut dirayakan sekarang, karena SoT sudah jarang sekali muncul. Tapi kalau boleh berbangga, setidaknya ada postingan lagi hari ini.

Kutipan kali ini saya ambil dari buku The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy by Douglas Adam.

‘What do you mean you’ve never been to Alpha Centauri? For Heaven’s sake, mankind, it’s only four light-years away, you know. I’m sorry, but if you can’t be bothered to take an interest in local affairs that’s your own lookout.’ (p.30)

Kalimat ini dilontarkan oleh alien yang akan menghancurkan bumi. Sebelumnya dia mengatakan bahwa pengumuman tentang hal ini sudah ada di salah satu departemen di Alpha Centauri. Ini adalah salah satu aspek yang membuat saya suka buku ini, hal-hal tak terbatas di dalamnya. Bayangkan saat manusia bumi masih bergelut dengan penerbangan ke bulan, mencari-cari jejak kehidupan di Mars, ternyata makhluk lain di luar sana sudah mencapai kemajuan yang bahkan tidak kita bayangkan.

Di samping itu, situasi ini hampir sama persis dengan yang dialami karakter utamanya, Arthur Dent, yang rumahnya akan digusur untuk proyek kota. Hanya tentu saja skalanya jauh berbeda. Namun, di luar itu, ada satu hal yang saya tangkap, mengenai relativitas. Bahwa apa yang kita anggap kecil, mungkin besar bagi orang lain, begitu pula sebaliknya. Kita tidak bisa menyamakan cara pandang orang lain dengan kita, jika masing-masing berdiri di posisi dan situasi yang berbeda.

Sama seperti apa-apa yang belakangan kerap (di)ramai(kan) di media sosial, tentang berapa gaji yang layak, harus sudah punya apa di usia sekian, kriteria macam-macam, dan segala jenis pencapaian, adalah sebuah pembicaraan yang bukan untuk disamaratakan. Latar belakang keluarga, pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, tanggungan, adalah sedikit dari hal-hal yang membedakan kita, yang ujung-ujungnya membedakan segala apa itu di atas. Jadi ya, sebaiknya jangan berkecil hati dengan apa yang dimiliki orang lain. Karena setiap kita punya porsi masing-masing dalam kehidupan. Tak perlu juga terlalu berbangga diri jika sudah merasa mencapai dan memiliki segalanya. Malu sama alien.

Advertisements

Empat Aku – Yudhi Herwibowo

46001914. sy475 Judul : Empat Aku: Sekumpulan Kisah
Penulis : Yudhi Herwibowo (2019)
Penerbit : Marjin Kiri
Edisi : Cetakan pertama, Mei 2019
Format : Paperback, vi+165 halaman

Waktu memang telah dipenuhi zat-zat untuk melupakan. Yang baik akan tergerus. Yang buruk akan menggerus. (Empat Aku, hal.31)

Sebuah kumpulan cerita pendek, 14 dari 15 kisah di buku ini pernah dipublikasikan di berbagai media, terutama sekitar tahun 2010-2017. Kebanyakan kisahnya bernuansa realisme magis yang cukup kuat, tetapi hampir kesemuanya adalah cermin dari kehidupan keseharian kita. Secara tema, cerita-cerita dalam buku ini rasanya tak jauh dari kumcer yang pernah kubaca sebelumnya, Mata Air Air Mata Kumari. Namun, sepertinya penulis tak kehabisan ide-ide yang lebih segar.

Dibuka dengan cerpen Kampung Rampok, yang, sebagaimana judulnya, menceritakan sebuah kampung yang dipenuhi dengan orang-orang dengan latar belakang ‘gelap’, sehingga kampung tersebut ditakuti orang-orang luar. Hingga suatu ketika, ada ketakutan lain yang lebih besar muncul. Kisah kedua, Jendela, merupakan salah satu yang paling berkesan. Tentang seorang pelukis di Belanda, yang kurang lebih bernasib sama dengan Vincent Van Gogh—dan mungkin saja penulis terinspirasi darinya. Empat Aku, cerpen yang menjadi judul kumcer ini ditempatkan dalam urutan ketiga. Setelah dimuat di media massa dan sebelum diterbitkan dalam buku ini, kisah ini pernah diceritakan ulang dalam bentuk drama dan diterbitkan dalam kumpulan Laki-Laki Bersayap Patah.

Kisah mengesankan yang lain adalah Malam Mengenang Sang Penyair. Cerita ini merupakan salah satu yang tidak memiliki unsur magis di dalamnya, kisah biasa tentang seluk-beluk kehidupan dan bisnis kepenyairan. Namun, dari kisah yang biasa ini penulis mampu menggambarkan dinamika hubungan dan perasaan manusia yang mungkin pada suatu saat pernah kita alami juga. Tema-tema yang diusung dalam buku ini kebanyakan berhubungan dengan kaum marjinal, dengan konflik yang dekat, sekaligus kerap diabaikan. Michelle, ma belle mengangkat tema kekerasan pada perempuan, Kota yang Ditinggalkan mengisahkan perubahan sosial masyarakat di generasi yang berbeda. Selain masalah sosial, beberapa kisah juga mengangkat isu lingkungan, di antaranya Kisah Kera-kera Besar yang Pergi Menuju Langit dan Jalan Air.

Sayangnya meski buku ini tak terlalu tebal, masih ada beberapa kesalahan ketik yang agak mengganggu. Saya juga menyadari penulis kerap menggunakan kata ‘tetapi’ atau ‘namun’ di tempat yang sebenarnya bisa saja dihapus. Secara keseluruhan, buku ini bisa dinikmati sesuap demi sesuap, atau jika sudah cukup tenggelam di dalamnya, tak menutup kemungkinan dihabiskan dalam sekali duduk. Kita akan dibawa ke berbagai dunia imajiner, sambil sesekali melirik ke dunia kita, mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa ajaib maupun yang tak ajaib, lalu memikirkan kembali apa yang telah terjadi.

Tapi sudah menjadi naluri, berita kematian selalu memurukkan kita kepada perasaan sedih. Seakan itu tanda untuk menghapus segala kebencian. (Malam Mengenang Sang Penyair, hal.135)

Scene on Three (128)

Ada beberapa paragraf/kalimat acak dari buku Totto-chan’s Children karya Tetsuko Kuroyanagi yang akan saya bagikan di sini. Sebetulnya sudah lama juga buku ini kubaca, dan karena ada beberapa kalimat yang menarik, saya berniat untuk membuat resensinya. Namun, rupanya hal itu tidak terlaksana juga. Jadi, inilah salah satu fungsi adanya Scene on Three.

Saat para wanita mulai mengarahkan pandangan kepada masyarakat, saat itulah segala sesuatu akan mulai membaik. (p.157)

Sekali lagi, aku ingin sekali berterima kasih kepada anak-anak yang sudah menyambutku dengan hangat dan mengajariku untuk hidup dengan ketulusan hati dan tanpa mengeluh. (p.171)

Sembilan puluh persen pusat pembangkit listrik dihancurkan dengan cara sama. Aku tahu betapa banyaknya alasan untuk melakukan hal itu, tapi aku tak bisa berhenti memikirkan betapa banyaknya nyawa anak-anak dan air mata para ibu yang bisa diselamatkan jika hal semacam ini tidak terjadi. Aku akan terus mengatakannya: perang benar-benar kejam. (p.184)

Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi. (p.299)

Buku ini merangkum perjalanan penulis sebagai Duta Kemanusiaan UNICEF sekitar tahun 1984-1996. Dia memotret anak-anak korban perang, yang terjebak di daerah konflik, serta kemiskinan yang mengikutinya. Salah satu hal yang saya suka adalah, penulis menyoroti sudut pandang pada individu, bukan sekadar populasi secara statistik. Bahwa setiap anak memiliki kisahnya, dan setiap anak adalah istimewa.

Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub – Claudio Orrego Vicuña

42901124

Title : Las sorprendentes memorias de Baltazar: cuento / Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub
Author : Claudio Orrego Vicuña (1974)
Translator : Ronny Agustinus
Publisher : Marjin Kiri
Edition : Cetakan pertama, November 2018
Format : Paperback, x+68 pages

Bolehlah dibilang aku mampu menemukan sejenis kebahagiaan yang orisinil. Bukan kebahagiaan karena melakukan apa yang ingin kulakukan, melainkan yang lebih dalam, yang berasal dari kemampuan untuk memahami mengapa terjadi seperti ini. (p.54)

Apakah kebebasan itu? Bebas berkeliaran di dunia tanpa sekat, di luar jeruji kurungan? Namun, apakah seorang gadis kecil yang telantar, tak ada yang mengurus, tak ada yang memberi makan, bisa disebut bebas? Ataukah beruang kutub yang dicerabut dari alam bebasnya bisa menjadi bebas karena makan minum dan perawatan yang didapatkannya dalam kandang? Apakah manusia-manusia berwajah kelabu yang berlalu lalang di jalan, sibuk dengan pikiran entah apa bisa disebut bebas?

Hal-hal ini yang coba disampaikan Baltazar, beruang kutub yang ditangkap dari dunia serba putih yang dinamis sejak remajanya, tempat es-es arktik selalu berubah tiap hari. Tempat malam-malam panjang dan siang-siang yang membawa makhluk pemburu mereka. Baltazar dibawa menuju dunia penuh warna di sebuah kebun binatang. Di sana dia memandang warna-warni langit yang begitu cepat berubah, matahari yang terbit dan terbenam terasa sekejap saja, serta gunung dan lembah luas yang tak ditemukannya di tempat asalnya. Dia juga melihat manusia, anak-anak yang begitu mirip anak beruang kutub, tetapi kehilangan banyak hal saat dewasanya. Pancaran mata yang berbeda, ketulusan persahabatan yang ditampakkan dari makanan yang dileparkan padanya, maupun isyarat tak terkatakan dan dialog tanpa suara. Dari mata Baltazar, kita diajak melihat hakikat, perangai, dan tabiat manusia dari sudut pandang orang ketiga. Mungkin hal ini yang menjadikan buku kecil ini begitu istimewa, sudut pandang yang ditawarkan, yang tanpa tedeng aling-aling menelanjangi hal yang ragu kita akui.

Saat kita melihat sesuatu dengan sungguh-sungguh, yang mungkin kita lakukan dengan lebih baik saat menjalani hari yang kelihatannya monoton, justru kita menemukan bahwa segala sesuatunya dinamis. Dengan melihat lebih dekat, kita bisa mendeferensiasi dua sisi yang berbeda dari sesuatu yang kelihatannya sama. Kita bisa melihat jauh lebih dalam, dan itulah yang dialami Baltazar hingga dia meraih ‘kebebasannya’.

Tentu hidup ini selalu layak dijalani, terutama bila ia mencakup hak dan kebebasan untuk berpikir. (p.45)

Buku ini tipis saja, tetapi setiap kata dan kalimat di dalamnya memiliki kedalaman dan makna yang begitu penuh serta berlapis-lapis. Satu bagian atau satu kalimat bisa saja dimaknai apa saja, tergantung dari sudut pandang pembacanya. Meski berlatar belakang politik, penulis bisa membuat buku ini tak semata terlihat sebagai sindiran politis. Dengan jalinan kalimat-kalimat yang indah, keluasan kemungkinan interpretasi, buku ini rasanya bisa menjadi sumber Scene on Three yang tiada habisnya. Kredit juga untuk penerjemahnya yang menggubah kata-kata dalam bahasa Indonesia dengan sedemikian indahnya.

Dengan cara itulah aku mengerti bahwa hanya dengan menjadi bebas kau bisa melayani mereka yang tersisih oleh ketidakadilan dari sesama mereka sendiri. (p.22)

Dengan kepolosan mata yang baru terbuka, kemurnian hati yang siap menerima cinta, serta ketulusan belas kasih yang penuh pengertian, si beruang kutub memberikan sebuah kesaksian yang mungkin bertolak belakang dengan hal yang diyakini banyak orang (atau banyak beruang kutub). Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh pikiran yang terbuka, tanpa prasangka dan dendam. Seperti anak-anak lugu yang berhenti di depan kandang Baltazar, entah sekadar mengagumi atau memberanikan diri menyapa, melemparkan makanan yang mereka punya. Dengan mengetahui hal-hal yang tidak diketahui banyak orang, kita menjadi bebas. Jiwa tak bisa dikekang oleh kekuatan sebatas kulit luar yang mengurung raga.

Perjalanan bersama Baltazar ini begitu menyenangkan jiwa. Membaca buku ini serasa diajak berselancar dengan kata dan pengalaman yang menghangatkan sekaligus menyedihkan. Dan tentu saja, ada kenang-kenangan si beruang kutub yang akan mengejutkan pembaca.

Karena keheningan adalah suara kebaikan, tak diragukan lagi bahwa kebaikan berlangsung diam-diam di setiap sudut dunia manusia. (p.45)

Jasmerah – Wirianto Sumartono

43655793

Judul : Jasmerah: Pidato-Pidato Spektakuler Bung Karno Sepanjang Masa
Penyusun : Wirianto Sumartono
Penerbit : Laksana
Edisi : Cetakan pertama, 2018
Format : Paperback, 262 halaman

“Mari kita berjalan terus dengan sejarah itu, dan jangan berhenti, sebab siapa yang berhenti toh akan diseret oleh sejarah itu sendiri sama sekali.” (17 Agustus 1966, hal.205)

Pelarangan dan penyitaan buku bukan barang asing di negeri kita, pun di seluruh dunia. Namun, di era reformasi ini, terlebih setelah Mahkamah Konstitusi mencabut Undang-undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum pada 13 Oktober 2010, maka penyitaan buku hanya dapat dilakukan setelah ada bukti cukup dan proses peradilan yang menyatakan buku tersebut memang layak dilarang (baca).

Namun, hal ini rupanya tak menghentikan beberapa pihak untuk melakukan razia yang sewenang-wenang. Yang teranyar adalah pada akhir 2018 dan awal 2019 lalu di toko buku lokal di Kediri dan Padang. Selain prosedur yang menyalahi peraturan yang ada, judul-judul buku yang disita pun cukup menggelitik. Karena dalam sekali lihat, meski beraroma merah, PKI, maupun 1965, buku-buku tersebut jelas-jelas ‘hanya’ merupakan buku sejarah (baca). Terlalu naif untuk menduga-duga adanya propaganda PKI atau komunis, tanpa secara gamblang menunjukkan bagian yang dimaksud.

Sebagai pembaca, saya pun akhirnya memutuskan untuk membuktikan sendiri benar tidaknya tuduhan yang dialamatkan pada buku-buku tersebut. Buku ini adalah salah satu dari buku yang disita. Secara umum buku ini adalah kumpulan pidato Ir. Soekarno, presiden pertama kita. Ada enam pidato yang dikumpulkan di sini, yaitu saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, saat ulang tahun proklamasi tahun 1949, 1959, 1966, saat lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, serta di muka Sidang Umum ke-IV MPRS 22 Juni 1966.

Benang merah dari pidato-pidato beliau, dan hal yang sering diulang-ulang adalah perjuangan mempertahankan dan melanjutkan revolusi di jalan yang dicita-citakan beliau. Dari buku ini, saya menilai bahwa Bung Karno memiliki visi dan misi untuk Indonesia ke depan dengan sangat gamblang dan sangat idealis. Bagi beliau, kemerdekaan adalah mutlak dan tak bisa ditawar. Suara antiimperialisme, antikolonialisme, dan antiliberalisme terdengar keras dan tegas. Kemerdekaan bukan hanya di bidang politik, tetapi juga ekonomi, sosial, maupun budaya.

“Tujuan revolusi, yaitu masyarakat yang adil dan makmur, kini oleh orang-orang yang bukan putra revolusi diganti dengan politik liberal dan ekonomi liberal. Diganti dengan politik liberal, di mana suara rakyat banyak dieksploitir, dicatut, dikorup oleh berbagai golongan. Diganti dengan ekonomi liberal, di mana berbagai golongan menggaruk kekayaan hantam kromo, dengan mengorbankan kepentingan rakyat.” (17 Agustus 1959, hal.62-63)

Presiden Soekarno secara keras menolak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama masa-masa awal kemerdekaan, mulai dari jalan kompromi yang mendukung negara serikat, aparatur negara yang tak menjalankan amanah rakyat dengan baik, hingga demokrasi yang tidak sesuai dengan jiwa revolusi. Demokrasi dalam cita-cita Soekarno adalah demokrasi terpimpin, bukan demokrasi liberal sebagaimana yang dianut oleh negara barat. Sikap keras beliau terlihat saat Konstituante menyusun Undang-Undang Dasar yang baru, yang dirasa terlalu banyak berkompromi dengan pihak asing, dan akhirnya menjauh dari tujuan revolusi. Beliau menyelesaikannya dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang menyatakan kembali dipergunakannya Undang-Undang Dasar 1945. Masa yang disebut beliau sebagai the year of the rediscovery of the revolution.

“Tidak boleh lagi terjadi bahwa rakyat ditunggangi oleh pemimpin. Tidak boleh lagi terjadi bahwa rakyat menjadi alat demokrasi. Tetapi sebaliknya, demokrasi haruslah menjadi alat rakyat. Alat rakyat untuk mencapai tujuan rakyat.” (17 Agustus 1959, hal.93)

Dalam setiap pidatonya, Bung Karno seolah membakar semangat dan kepercayaan diri rakyat, bahwa revolusi berada di jalan yang benar, dan rakyat Indonesia mampu untuk menjalankan serta mempertahankan kemerdekaan yang ada. Optimisme dan penghargaan kepada perjuangan setiap rakyat, apa pun bentuknya, disampaikan dengan membesarkan hati, dengan menyatakan secara langsung bahwa dia percaya bahwa rakyat Indonesia tidak bodoh, bahwa rakyat sesungguhnya mampu, bahwa “Kita bukan bangsa tempe, kita adalah bangsa yang besar, dengan ambisi yang besar, cita-cita yang besar, daya kreatif yang besar, keuletan yang besar.” (hal.132) “bahwa yang mereka pimpin itu bukanlah satu rombongan kambing atau satu rombongan bebek atau satu rombongan tuyul, tetapi satu rakyat yang kesadaran sosialnya dan politiknya telah tinggi!” (hal.71). Bung Karno mengajak rakyat untuk tidak terus mengeluh dan terjebak di masa lampau, melainkan terus maju. Bayangkan dalam kondisi baru merdeka, dengan tingkat buta huruf yang masih sangat tinggi, inflasi yang menggila, daya beli rendah, pemimpinnya memberikan pernyataan seperti itu.

Bung Karno juga membantah bahwa untuk mencapai kemerdekaan, kita harus mencapai ini dan itu terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa kita mampu mengelola negara sendiri. Jauh-jauh hari beliau sudah memikirkan bahwa rumusan dasar negara perlu dipikirkan sebagai persiapan kemerdekaan. Meski hal itu tidak menjadi patokan, setelah berapa lama persiapan, atau butuh berapa lama untuk mempersiapkan Indonesia agar siap merdeka. Dikatakannya bahwa merdeka adalah masalah berani atau tidak.

“Saudara-saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 miliun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka!” (1 Juni 1945, hal.143-144)

Berbicara mengenai dasar negara atau weltanschauung, Bung Karno belajar banyak dari negara-negara lain yang sudah lebih dulu merdeka. Beliau tidak mengambil mentah-mentah, entah itu paham nasional-sosialisme, komunisme, ataupun agama. Bung Karno mengajak tokoh-tokoh besar Indonesia, wakil dari semua golongan untuk bermusyawarah merumuskan dasar negara yang disetujui bersama-sama, bukan kompromis, tetapi mengakomodasi semua kepentingan. Bukan mengimpor, tetapi mengacu pada dasar-dasar yang universal. Pada pidato ini beliau juga menyampaikan bahwa jika dasar negara yang lima ini diperas sari-sarinya menjadi satu, maka intinya adalah gotong-royong. Menurutnya, gotong-royong adalah jiwa dan identitas bangsa Indonesia yang tak boleh hilang.

Sebagaimana sebuah pesan yang dituangkan dalam judulnya, jasmerah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Saya melihat banyak sejarah yang terulang, tantangan-tantangan hidup bernegara yang dulu dialami bisa saja terjadi kembali, atau masih menjadi masalah saat ini. Penyelewengan-penyelewengan yang dahulu ditentang keras oleh Bung Karno bisa dilakukan oleh para penyelenggara negara ini. Pesan-pesan dan peringatan Sang Proklamator bisa saja masih relevan.

Sebaliknya, beberapa hal bisa juga tidak bisa diaplikasikan mentah-mentah untuk masa kini. Tantangan zaman dan kondisi global sudah pasti berbeda. Kemajuan teknologi dan pengetahuan manusia seringkali membutuhkan penyesuaian. Namun, sejarah yang berulang ini tetap menjadi sebuah pelajaran, dan prinsip dari para pendiri negara ini perlu ditengok kembali, sebagai introspeksi bagi tujuan bernegara kita saat ini.
Terkait isu PKI dan komunisme, dalam buku ini sebenarnya hampir tidak ada penyebutan kata PKI sama sekali. Namun, pada 17 Agustus 1966, ada beberapa kalimat yang menyinggung masalah ini. Karena jangka waktu kejadiannya relatif lama, biasanya (sebagaimana pidato hari jadi kemerdekaan yang lain), Presiden Soekarno hanya menyinggung sedikit sebagai kilas balik dari kejadian tahun sebelumnya.

“Sudah terang, Gestok kita kutuk, dan saya, saya mengutuk pula! Dan, seperti yang sudah kukatakan berulang kali dengan jelas dan tandas, yang bersalah harus dihukum! Untuk itu, kubangunkan Mahmillub!” (hal. 200)

Beliau juga menyampaikan terkait kesalahpahaman terkait Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret):

“Surat Perintah 11 Maret itu mula-mula, dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya Surat Perintah 11 Maret adalah satu penyerahan pemerintahan! Dikiranya Surat Perintah 11 Maret itu satu transfer of authority. Padahal tidak! Surat Perintah 11 Maret adalah satu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan, pengamanan jalannya any pemerintahan, demikian kataku pada waktu melantik Kabinet. Kecuali, itu juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah pengamanan beberapa hal. Jenderal Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik. Dan, saya mengucapkan terima kasih kepada Jenderal Soeharto akan hal itu.” (hal.182-183)

‘Mereka’ yang dimaksud di sini tidak disebutkan secara langsung siapa, hanya disebutkan musuh-musuh kita, dan secara tersirat dikatakan sebagai pihak asing.

Beliau juga menegaskan kembali pentingnya Pancasila sebagai dasar negara kita, serta arah revolusi Indonesia yang mencerminkan revolusi umat manusia.

“Saya berkata bahwa Nasakom atau Nasasos atau Nasa apa pun adalah unsur mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. Nasionalisme, Ketuhanan, Sosialisme (dengan nama apa pun) adalah merupakan tuntutan daripada tiap jiwa manusia, tiap bangsa, tuntutan seluruh umat manusia. Oleh sebab itu, ini harus kita pertumbuhkan secara konsekuen, tanpa dipengaruhi oleh pikiran atau doktrin yang sudah lapuk, baik dari ekstrem kanan maupun dari ekstrem kiri.” (hal.202)

Buku ini merupakan bacaan yang bagus dan penting untuk seluruh rakyat Indonesia, guna memahami sejarah bangsanya sendiri. Pesan-pesan Bung Karno, meski banyak yang diulang-ulang, rasanya begitu tak lekang oleh waktu. Meski demikian, tentunya pidato-pidato ini tidak bisa berdiri sendiri menjadi saksi sejarah yang utuh. Diperlukan sumber dan sudut pandang lain, yang bisa didapatkan dari sumber sejarah dan buku-buku sejarah lain, untuk bisa memperoleh gambaran yang lebih objektif. Buku ini adalah salah satu perspektif, yang secara tidak langsung menunjukkan watak Bung Karno, serta apa-apa yang diperjuangkannya.

Masih banyak yang bisa dikupas dari buku ini, tetapi akan terlalu panjang jika saya masukkan semua. Oleh karena saat ini kita sedang dalam masa mendekati pemilihan umum, alangkah eloknya jika saya kutipkan pesan yang disampaikan Bung Karno lebih dari lima dekade yang lalu, yang masih relevan untuk direnungkan hari ini.

“Pertentangan yang tidak habis-habis antara pemerintah dan oposisi, pertentangan ideologi antara partai dengan partai, pertentangan antara golongan dengan golongan. Dan, dengan makin mendekatnya Pemilihan Umum 1955 dan 1956, maka masyarakat dan negara kita berubah menjadi arena pertarungan politik dan arena adu kekuatan. Nafsu individualisme dan nafsu egoisme bersimaharajalela, tubuh bangsa dan rakyat kita laksana merobek-robek dadanya sendiri, bangsa Indonesia menjadi a nation devided against itself. Nafsu hantam kromo, nafsu serang-menyerang dengan menonjolkan kebenaran sendiri, nafsu berontak-memberontak melawan pusat, nafsu z.g. demokrasi yang keblinger, yang membuat bangsa dan rakyat kita remuk-redam dalam semangat, kocar-kacir berantakan dalam jiwa. Sampai-sampai pada waktu itu aku berseru: rupanya orang mengira bahwa sesuatu perpecahan di muka Pemilihan Umum atau di dalam Pemilihan Umum selalu dapat diatasi nanti sesudah Pemilihan Umum. Hantam kromo saja memainkan sentimen. Tapi, orang lupa, ada perpecahan yang tidak dapat disembuhkan lagi! Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggerantes, terus membaji dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa sama sekali. Celaka, celaka bangsa yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tidak mampu berdiri kembali. Bertahun-tahun, berwindu-windu ia laksana hendak doodbloeden, kehilangan darah yang ke luar dari luka-luka tubuhnya sendiri. Karena itu, segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: terlepas dari perbedaan apa pun, jagalah persatuan, jagalah kesatuan, jagalah keutuhan! Kita sekalian adalah makhluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta.” (17 Agustus 1966, hal.187-188)

Baca dan review bersama mba Desty (Desty Baca Buku)

…the service of freedom is deathless service…. …. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan di dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan di dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh dari tempat kelahirannya, tetapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang di tempat pengasingan, tidak bisa ditembak mati.” (22 Juni 1966, hal.255)