Ketika Ibuku Tak Berkata Cinta – Amalia

38503740Judul : Ketika Ibuku Tak Berkata Cinta
Penulis : Amalia
Penerbit  Stiletto Indie Book
Edisi : Cetakan I, Desember 2017
Format : Paperback, 102 halaman

Ibu tak berkata cinta,
Ketika tulangnya hampir patah saat melahirkan,
Tak banyak bersuara berdoa kepada Maha Kuasa,

Dengan penuh cinta merenung kesedihan,
Kedua tangannya berusaha menggapai nada.

(Ketika Ibu Tak Berkata Cinta, hal.44)

Puisi adalah salah satu sarana untuk menyampaikan kisah. Terlepas dari berbagai bentuk puisi modern yang ada saat ini, bagi saya puisi harus mengandung keindahan. Entah itu keindahan bentuk ataupun keindahan isi. Memang puisi tak harus melulu diisi kata dan kalimat berbunga-bunga, pun puisi tak harus bermajas metafora yang rumit dan sulit dipahami.

Pada kumpulan puisi ini, saya menemukan keindahan pada isi, pada makna. Pilihan kata yang digunakan penulis sebagian besar merupakan kata biasa, bukan diksi yang tinggi ataupun asing. Namun, kata-kata yang biasa tersebut disusun menjadi kalimat yang tidak biasa. Kalimat yang susunannya bukan seperti kalimat yang wajar kita ujarkan sehari-hari. Awalnya agak terasa kaku dan sulit dihayati, tetapi semakin lama, tampak penulis semakin luwes mengolah kata-kata, meski masih ada ruang yang luas untuk perbaikan. Puisi-puisi ini ditulis pada rentang tahun 2016-2017, sehingga kita bisa melihat perubahan dari karya penulis, yang semakin lama lebih terasa mengalir.

Terlepas dari itu, puisi-puisi dalam buku ini tampaknya dimaksudkan untuk menyentuh kita secara pribadi. Dan memang seperti itulah puisi, seringkali kita diharapkan menafsirkan puisi tersebut sesuai dengan pemahaman dan pengalaman kita. Jika penulis lihai dalam memainkan kata, pembaca akan terlarut dalam penafsirannya sendiri, yang tentu saja akan lebih berkesan, ketimbang jika dipaksa menelan maksud penulis yang sesungguhnya. Pemilihan temanya sangat dekat dengan keseharian kita, dan ditulis dengan nuansa kesedihan dan melankolis. Meski dikatakan bertema ibu dalam arti yang luas, saya lebih setuju jika dikatakan bahwa tema puisi ini adalah cinta, dalam artinya yang luas. Karena tak hanya ibu, nenek, Ibu Pertiwi, ataupun Tuhan, puisi-puisi dalam buku ini juga mengangkat tentang kehidupan, pekerjaan, semangat, kegagalan, dan penerimaan diri, hal yang menurut saya jauh dari konsep ibu secara luas.

Sebuah buku yang bisa menjadi alternatif bacaan bagi penikmat puisi. Belum istimewa, tetapi bukankah puisi itu dinikmati secara personal?

Dan, maafkanlah. Maafkan aku tidak terima lagi
Meratapi jalan hidupku kembali, tanpa pertanyaan!
Saat kedua kaki melangkah menuju cahaya,
Entah apa yang menunggu aku di sana,
Salam hangat kepada masa depan!
(Masa Lalu, hal.79-80)

Advertisements

Laut Bercerita – Leila S. Chudori (+sedikit tentang Gramedia Digital)

Hari ini, 20 tahun yang lalu, terjadi sebuah peristiwa bersejarah di Indonesia. Pemerintahan yang dipimpin oleh seorang presiden selama 32 tahun akhirnya tumbang. Orde Baru berakhir, digantikan dengan Era Reformasi. Hari ini, setelah 20 tahun, apa yang kita dapat? Apakah cita-cita para pejuang reformasi sudah tercapai? Apakah pengorbanan mereka setimpal? Saya pribadi menjawab ya, dan tidak. Ya, karena banyak hal baik sudah tercapai hari ini; kebebasan pers, pembangunan yang berkeadilan, perang terhadap korupsi, dan perbaikan birokrasi. Tidak, karena banyak hal kelam di masa lalu yang belum mencapai titik terang. Salah satunya adalah hal yang diangkat dalam buku ini; nasib para aktivis yang dihilangkan saat itu.

36393774Kisah ini dimulai dengan penenggelaman beberapa aktivis mahasiswa yang ditangkap saat itu di Kepulauan Seribu. Latar kisah ini berasal dari rumor yang beredar di waktu tersebut akan adanya tong-tong berat yang dibuang ke laut, yang diduga berisi manusia. Memang sampai saat ini belum bisa dibuktikan, tetapi karena buku ini adalah fiksi, maka sang penulis bebas menulis dari mana saja dan dari sudut pandang mana. Dalam novel ini, penulis memilih untuk mengangkat kisah Biru Laut, yang bercerita dari dasar laut, tempatnya bersemayam terakhir kalinya. Pemilihan sudut pandang ini seolah hendak menjawab tanda tanya mereka yang ditinggalkan, memberi penghiburan dan kepastian bahwa segalanya harus berlanjut: hidup dan perjuangan.

Di tahun 1991, Biru Laut yang merupakan mahasiswa baru di Sastra Inggris UGM ditarik menjadi bagian dari kelompok yang memperjuangkan demokrasi yang sebenarnya. Di masa pemerintahan yang otoriter dan represif, perjuangan itu tidak mudah. Deraan dan siksaan lahir batin menemani langkah mereka, sekaligus mengukuhkan idealisme yang terpatri dalam jiwa mereka. Hingga puncaknya di tahun 1998, penderitaan dan siksaan bukan hanya menjadi milik mereka, tetapi juga keluarga dan orang terkasih. Mereka yang terbiasa bersembunyi dan menghilang, kini tak diketahui jejaknya. Tak ada tanda-tanda hidup ataupun matinya, sehingga harapan belum bisa dipadamkan seutuhnya. Harapan yang terkadang bisa membunuh pelan-pelan.

Bagian kedua buku ini diceritakan dari sudut pandang Asmara Jati, adik perempuan Biru Laut yang awalnya tak memiliki idealisme yang sama mengenai perjuangan, tetapi dipaksa memahami karena hidup yang terjungkirbalikkan kenyataan. Asmara menjadi sebuah suara yang berusaha mengembalikan rasionalitas, dan menghidupkan mereka yang hilang tanpa tangis dan kepedihan.

Buku yang begitu hidup dengan berbagai gambaran peristiwa yang tampak nyata di depan kita, mulai dari hal sepele semacam tips memasak mi instan yang enak, hingga kejar-kejaran yang menegangkan di ladang jagung antara mahasiswa dan aparat. Buku ini menceritakan keseharian para mahasiswa tersebut, dengan segala semangat kemudaan dan naluri mereka sebagai pemuda, idealis tapi manusiawi. Tak hanya perjuangan, di sini ada kisah cinta, kisah keluarga, dan perjuangan akademis. Ada kejadian yang lucu, mengharukan, hingga menyesakkan. Hanya ada satu kekurangan buku ini menurut saya, ada beberapa narasi yang terulang, yang mungkin hendak menekankan sesuatu, tetapi sebenarnya tidak perlu.

Sebuah buku yang penting. Tak mudah untuk menyelesaikan buku ini, karena kita tahu bahwa di balik tokoh rekaan ini ada manusia yang benar-benar nyata. Narasi yang kuat dan suasana yang kelam. Ada sejarah yang mesti diketahui dan dipahami. Saya rasa masih banyak orang tak sadar akan isu ini, bahwa ada sejarah kelam yang masih menggelayut di nusantara, yang menunggu di tempat gelap, sementara pelakunya mulai kembali ke bawah lampu sorot.

“Pada titik yang luar biasa menyakitkan karena setrum itu terasa mencapai ujung saraf, aku sempat bertanya, apa yang sebenarnya kita kejar?”

Kinan mengambil tanganku dan menggenggamnya, “Kekuatan, Laut. Keinginan yang jauh lebih besar untuk tetap bergerak. Ini semua menaikkan militansi kita, bukan memadamkannya.”

(hal.182)

Judul : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori (2017)
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Format : ebook, 394 halaman

wp-1526917187277..jpgPada 27 Januari lalu, saya berkesempatan hadir pada diskusi novel ini yang juga dihadiri oleh penulisnya. Sebelum diskusi dimulai, ada pemutaran film pendek yang diadaptasi dari novel ini. Film yang diproduksi Cineria Films berkolaborasi dengan Dian Sastrowardoyo Foundation ini disutradarai oleh Pritagita Arianegara, dan dibintangi oleh Reza Rahadian (Biru Laut), Ayushita Nugraha (Asmara Jati), Dian Sastrowardoyo (Ratih Anjani—kekasih Laut), juga berderet nama besar lain. Film yang diputar terbatas ini cukup mewakili sinopsis bukunya. Bisa saya katakan bahwa film pendek itu merupakan trailer yang sangat apik dari bukunya.

Oleh karena mustahil mencakupkan seluruh novel dalam film pendek, yang disorot dalam film ini adalah keluarga. Bagaimana kehilangan orang terdekat tanpa tahu nasibnya bisa merusak sebuah keluarga. Memberi harapan yang kosong selama bertahun-tahun, berharap anak, kakak, atau kekasih mereka tiba-tiba kembali, muncul di depan pintu, dan segalanya kembali seperti semula. Membuat mereka hidup dalam angan, hingga lupa untuk hidup di hari ini. Seperti yang disampaikan oleh Asmara Jati di bagian kedua novelnya.

~~~

Buku ini merupakan novel pertama dari Gramedia Digital yang saya baca. Saya masih agak terganggu dengan formatnya. Berbeda dengan ebook dari platform lain yang lebih dulu ada, GD belum mendukung adanya fitur-fitur yang merupakan keunggulan dari ebook secara umum, di antaranya fitur highlight, font adjustment, kemudahan menyalin quotes, apalagi kamus yang built-in. Jadi ya, masih seperti membaca buku berformat pdf biasa, yang merupakan hasil pemindaian buku yang asli, jadi nomor halaman dari kutipan yang saya cantumkan di atas adalah nomor halaman dari buku cetaknya. Buku digital ini juga tampaknya belum memiliki ISBN tersendiri. Saya berharap akan ada perbaikan dari pihak Scoop sebagai pengembang, jadi ke depannya membaca ebook lokal akan sama nyamannya dengan membaca ebook impor.

Yang Fana Adalah Waktu – Sapardi Djoko Damono

38802594Judul : Yang Fana Adalah Waktu (Trilogi Hujan Bulan Juni #3)
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Maret 2018
Format : Paperback, 146 halaman

Ketika sebuah kisah mendekati akhir, ada saja kisah baru yang muncul menggantikannya…. (hal.130)

Kelanjutan kisah Sarwono dan Pingkan masih menggantung seperti sejak awal di novel Hujan Bulan Juni, dan masih ada jarak Kyoto dan Solo/Jakarta terlepas setelah Pingkan Melipat Jarak sebelumnya. Sarwono yang sedang menjalani masa penyembuhan kembali saling bersurel dengan Pingkan yang melanjutkan studinya di Jepang, yang otomatis membawa Katsuo kembali di antara mereka. Cinta dua sejoli itu tak terganggu sama sekali, terlepas dari apa yang sudah terjadi, tapi jarak dan waktulah yang bermasalah. Sementara itu, pasangan Bapak dan Ibu Hadi beserta—yang selalu mereka sebut calon besan—Ibu Pelenkahu tampak masih berkasak-kusuk perihal hubungan kedua anak mereka.

Hubungan antara Pingkan dan Katsuo semakin asing ketika pria Jepang itu menyeret Pingkan ke Okinawa, kampung halamannya, untuk menemui Noriko, gadis yatim piatu yang dijodohkan ibu Katsuo untuk anaknya. Katsuo ingin meyakinkan gadis itu, bahwa tak ada hubungan spesial antara dirinya dengan Pingkan. Hal yang tampaknya agak diada-adakan, karena, tentu saja, Katsuo sejak mula tidak menganggapnya demikian. Tak disangka, perkenalan kedua perempuan dalam hidup Katsuo membawa arah baru dalam kehidupan dan jalinan hubungan mereka.

Sebermula adalah seutas benang seutas saja yang ujung dan pangkalnya jelas yang kelokan-kelokannya jelas yang warna putihnya jelas yang tegang lenturnya jelas yang terhubung dengan sosok yang jelas yang kemudian ya ya yang kemudian ya ya yang kemudian entah kenapa ketika ditarik agar ujung-ujungnya bersatu malah memanjang dan semakin panjang dan jadi lentur dan entah kenapa tersangkut…. (hal.111)

Di buku ketiga ini, ikatan Sarwono dan Pingkan semakin diperjelas melalui kisah orang-orang di sekitar mereka. Dua sejoli ini semakin rapat, terlepas dari angin yang menerpa mereka, yang membawa masa lalu melalui kisah-kisah mereka. Salah satunya adalah perihal keasingan, atau identitas sebagai liyan, yang pada zaman modern ini tak bisa lagi dihindari. Perkawinan antar suku, bahkan antar negara sudah menjadi hal biasa, sehingga adat yang kuno harus terkalahkan oleh cinta yang menggebu, di mana pun itu. Hadirnya Noriko di tengah-tengah mereka memperjelas bahwa keasingan bisa dilawan dengan cinta, karena cinta menimbulkan usaha untuk mendekatkan, untuk melipat jarak.

Ping, kita ini ternyata sekadar tokoh dongeng yang mengikuti pakem purba seperti yang berlaku dalam segala jenis dongeng dan tontonan Jawa. (hal.86)

Mereka sepenuhnya percaya bahwa dongeng diciptakan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang tak akan ada habisnya…. (hal.139)

Membaca buku ketiga dalam trilogi ini pada waktu yang cukup jauh dari buku sebelumnya relatif sulit, karena ada beberapa detail yang berhubungan. Meski tidak utama, rasanya membaca ketiga buku ini kembali dalam waktu yang berturutan akan memberi sensasi yang berbeda. Terutama tarik-ulur hubungan Pingkan dengan Sarwono yang (mungkin) akan mencapai titik akhir di sini.

Sebagaimana kedua novel sebelumnya, dalam buku ini, penulis masih berakrobat dengan menampilkan narasi, epistolary, dan stream of consciousness secara bergantian. Ada satu titik saya merasa trilogi ini sesungguhnya tidak perlu menjadi trilogi, tetapi menjelang akhir saya memahami, bahwa sejak awal, buku ini bukan sekadar ingin menyampaikan kisahnya, ada hal yang lebih dalam di balik itu. Terlebih dengan adanya berbagai gurauan dan sindiran sosial dan filosofis, yang terselip dalam percakapan Pingkan dengan Sarwono, menjadikan lingkup kisah ini meluas, sehingga menjadi terhubung dengan kehidupan kita saat ini. Secara keseluruhan, membaca buku ini seperti membaca puisi, yang perlu kita reguk saripatinya dan mengabaikan beberapa kalimat yang tampak tak berarti, tapi berarti, tapi sulit dipahami seutuhnya.

Apakah aku boleh tidak paham, Ping?

Boleh, Sar, toh paham atau tidak paham tidak ada bedanya.

(hal.140)

Ada satu hal yang mengganjal dalam buku ini, disebutkan saat Pingkan yang masih SMP ditegur kakaknya agar berkirim WA atau surel saja dengan Sarwono, sedangkan saat ini dia telah menjadi dosen, twitter masih menampung hanya 140 karakter. Lubang waktu itu tak terlalu penting jika dilihat dalam lingkup Yang Fana Adalah Waktu ini, tapi cukup mengganggu. Di luar itu, penulis—yang bisa dikatakan berasal dari generasi lampau—berusaha betul-betul untuk memasukkan unsur kekinian dalam novelnya, bahkan jauh lebih tega dan lebih berani ketimbang penulis yang lebih muda dalam genre yang serupa. Saya rasa hal ini mengukuhkan sikap beliau terhadap unsur kebaruan dalam karya sastra.

Kisah ini pun akhirnya ditutup dengan manis dan apik, semanis gula-gula yang mewujud lapisan-lapisan awan. 4/5 bintang untuk babak akhir pertunjukan karya sastra ala Pak Sapardi.

Katamu kenangan itu fosil, gak bisa diapa-apakan.

Tapi yang ini bisa.

(hal.95)

Mengapa Saya Masih Akan Menjadi BBI: Perenungan di Ultah Ke-7

Hari ini bertepatan dengan ulang tahun BBI (Blogger Buku Indonesia) yang ketujuh tahun. Meski bisa dibilang komunitas ini sedang mati suri, jauh di lubuk hati para anggotanya, kami semua merindukan dan masih mendambakan kelanggengan hidupnya. Pada ucapan di tahun-tahun sebelumnya, saya sudah banyak berbicara tentang BBI sendiri, dan saya rasa tak perlu diulang-ulang lagi. Kali ini saya akan menulis tentang diri saya sendiri, kenapa saya masih mengikrarkan diri sebagai blogger buku, meski bisa dilihat blog ini sendiri sudah bersarang laba-laba.

Sejak beberapa tahun lalu, banyak hal saya lepaskan satu per satu, entah itu dengan terpaksa maupun dengan tujuan pasti. Frekuensi saya mengelola blog pun menurun drastis. Saya tahu ada beberapa hal yang salah, meski belum ada energi ekstra untuk memperbaikinya. Namun, melepaskan blog ini bukan jalan yang akan saya pilih saat ini. Blog buku dan BBI adalah awal dari perjalanan hidup baru saya di 2012, di sini saya menemukan passion, jalan, dan keluarga baru.

Saya tidak pernah lelah berbicara mengenai buku. Meski saat itu saya sudah hampir dua minggu tidak membaca buku, saya tidak bisa melepaskan diri dari hasrat untuk melahap dan membicarakannya. Saya masih mendatangi acara buku, masih memenuhi rak buku dengan buku yang entah kapan bisa terbaca, masih dengan semangat menyebarkan kecintaan untuk ini.

Di BBI, saya menemukan teman untuk merawat semangat ini. Ada anak-anak muda yang masih bersemangat, yang mengingatkan dengan saya saat awal-awal di sini. Ada blogger senior, yang frekuensi blogging dan membacanya sudah jauh menurun, tapi masih menyempatkan membaca dan membicarakan buku dengan apik, meski hanya sesekali. Ada juga blogger senior yang tak surut frekuensi dan kualitas blogging dan membacanya. Mereka semua yang memberi motivasi secara tidak langsung, bahwa ada hari saya akan kembali pada waktunya. Dengan alasan yang sama, saya tidak mengumbar kemalasan dan keterpurukan saya, hanya demi menemukan orang lain ikut termotivasi untuk tetap terpuruk. Biarkan mereka yang bersemangat yang memotivasi kita, bukan sebaliknya.

Saat berbicara di luar blog, di luar komunitas, saya butuh sebuah identitas. Narablog buku adalah identitas yang perlu saya rawat untuk saat ini, demi bisa terus menulis dan berbicara di luar sana. Bukan hanya karena saya belum memiliki identitas lain, tapi juga karena kebanggaan, bahwa dengan membaca dan menuliskannya di blog, saya memiliki kualifikasi untuk secara percaya diri membicarakannya sesuai pengalaman saya.

Saya selalu bangga menjadi pembaca. Saya juga suka menulis, dan alhamdulillah, beberapa tulisan saya satu per satu terbit melalui beberapa media. Namun, saya belum bisa mengidentifikasikan diri sebagai penulis. Saya tahu beberapa orang yang menganggap pembaca itu masih satu level di bawah penulis, bahwa jika kita sudah membaca banyak buku, harus dilengkapi dengan menjadi penulis. Meski begitu, saya tetap merasa pembaca memiliki kelas yang berbeda dari penulis, tidak lebih rendah, tapi berbeda. Pembaca dan blogger ada di kelas para kritikus, yang tidak perlu menulis buku, tapi berhak menilai dan menuliskan apresiasi terhadap sebuah buku. Bahkan apresiasi dan kritikan itu suatu saat bisa saja dibukukan, tapi intinya, tidak semua orang harus jadi penulis dalam artian sempit. Kita bisa menulis apa saja tanpa harus jadi penulis.

Buku-buku yang tersusun di rak buku saya juga kerap menjadi motivasi saya. Perasaan ingin menyusuri halaman-halaman itu, mengabadikan rasa yang muncul saat dalam proses itu. Ada masa dalam hidup, saya menyusun prioritas dan tujuan hidup, tak sekali pun saya berpikir mampu melepaskan hasrat saya untuk mencicip buku-buku klasik, sastra Indonesia, judul-judul, dan penulis-penulis yang sudah saya koleksi. Saya yakin, ikigai saya akan melibatkan mereka.

Terakhir, saya tetap memiliki harapan. Untuk BBI, semoga seseorang yang pernah berniat menghidupkanmu kembali masih memiliki semangat untuk itu dan berhasil mewujudkannya. Saya tetap di sini, menanti hidupmu kembali, meski hanya memberi dukungan dari jauh.

Aroma Karsa – Dee Lestari

37830526Judul : Aroma Karsa
Penulis : Dee Lestari
Penyunting : Dhewiberta
Penerbit : Penerbit Bentang
Edisi : Cetakan Pertama, Maret 2018
Format : Paperback, xiv + 710 halaman

“Rampok itu perempuan ayu.” (hal.290)

Legenda Puspa Karsa sudah mendarah daging ke tiga generasi Prayagung; Janirah, Raras, dan Tanaya Suma. Bunga yang dipercaya bisa mengubah dunia sesuai keinginan pemiliknya ini menimbulkan obsesi mendalam pada Janirah, yang merupakan anak abdi dalem rendahan Keraton Yogyakarta. Dia merintis usaha produk kecantikan yang diberi nama Kemara, yang hampir ambruk saat dipegang anak lelakinya, tetapi berhasil bangkit dan mencapai kesuksesan lebih besar saat diambil alih cucunya, Raras. Raras pulalah yang mewarisi obsesi neneknya untuk menemukan Puspa Karsa. Bunga yang hanya akan membuka dirinya pada orang yang dipilihnya.

Setelah gerbang mengenai asal-usul Kemara dan Raras Prayagung dibuka, kisah ini melipir ke TPA Bantar Gerbang yang beraroma ragam sampah dan pembusukan. Jati Wesi, pemuda dua puluh enam tahun yang konon dibuang ke sana, tinggal bersama Nurdin Suroso yang busuk, menjalankan rupa-rupa pekerjaan yang pada akhirnya harus dikuras ke kantong ayah angkatnya tersebut. Salah satu pekerjaan yang paling dinikmatinya adalah bersama Khalil Batarfi, meracik parfum tiruan di toko Attarwalla. Jati memiliki bakat yang berbeda, dia sangat peka dan bisa mengidentifikasi bau. Pemuda itu bisa mendeskripsikan bau, menguarkan unsur-unsurnya, komposisinya, bahkan menyusun kembali tiruannya. Hingga suatu kejadian mendorong Jati masuk ke kerajaan Prayagung, dia terpaksa bekerja untuk Raras, dan berhadapan dengan Suma yang memiliki bakat yang sama dengannya, tetapi disikapi dengan berbeda.

Selanjutnya, pembaca diajak untuk mengenal lebih jauh dan lebih dalam mengenai karakter-karakter yang ada beserta interaksinya. Banyak karakter yang bermunculan akan menyempurnakan jalinan kisah ini, menjadi sebuah ramuan petualangan, kisah keluarga, cinta, dengan sentuhan realisme magis yang merupakan saripati kisah ini. Ada Arya Jayadi, pacar sekaligus sahabat Suma, yang sejak awal Suma masih merasakan permusuhan pada Jati, sudah memahami pentingnya peran pemuda berhidung tikus itu. Ada Anung yang linglung, tetapi menyimpan rahasia misteri yang menuntun Jati menemukan asal-usulnya. Bahkan karakter minor semacam Imas yang pernah dibantu Jati menemukan mayat suaminya, Sarip si sipir penjara, Wijah pelayan keluarga Prayagung, dan Fendi pengacara Raras, digambarkan secara bulat sehingga pembaca bisa menangkap benar peran dan sifat mereka. Kejadian demi kejadian tersusun apik, mulai dari perkenalan, masuknya Jati, perencanaan, sampai ekspedisi pencarian Puspa Karsa. Segenap indera kita, terutama melalui hidung Jati, diajak menjelajah gemerlap Kemara, wangi Grasse yang merupakan surga pembuat parfum, sakralnya olfaktorium, mengintip penggalian situs sejarah Majapahit, dan angkernya legenda gaib di Gunung Lawu.

Saya sendiri tidak asing dengan tulisan Dee, meski sebelumnya baru mencecap kumpulan cerita pendeknya. Praktis, buku ini merupakan novel pertama Dee yang saya baca. Melihat banyak respon positif dari pembaca versi digital, saya tak ragu untuk mereguk novel tebal ini, dengan keyakinan bahwa karya ini akan saya sukai. Keyakinan saya ternyata tak salah, dengan bab-bab pendek yang tak membuat kehabisan napas, untaian kalimat yang mengalir, serta balutan misteri yang mengundang penasaran, membuat buku ini sangat mudah terlahap dalam waktu relatif singkat. Satu masalah yang sering saya temui pada novel tebal adalah pengulangan pada beberapa detail yang mengganggu, tidak saya temukan di sini.

Sesungguhnya, banyak sekali unsur yang bisa dikupas di buku ini. Satu hal yang menarik saya adalah berupa-rupa karakter wanita yang ada, serta kekuatan yang disimpannya. Dari keluarga Prayagung sendiri sudah jelas menampilkan generasi perempuan yang ambisius dan cerdas, atau bisa dikatakan licik. Tanaya Suma yang, meski bukan darah daging Raras, juga menyimpan potensi kuat, yang ditekan oleh sesuatu, tetapi akhirnya berhasil dikuak oleh Jati. Inti dari kisah ini, Puspa Karsa sendiri, beserta kekuatan di sekitarnya pun akan memiliki kaitan erat dengan potensi perempuan secara umum.

Dari segi misteri, Aroma Karsa tidak menyimpan sendiri misteri-misterinya untuk dibuka sekaligus di akhir layaknya novel detektif pada umumnya. Misteri di novel ini ibarat sebuah rumah besar dengan ruangan yang berlapis-lapis. Saat penulis membukakan pintu, pembaca akan langsung mendapatkan beragam jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di pintu yang tertutup sebelumnya, tanpa harus memberi penjelasan. Namun, pertanyaan belum semuanya terjawab, dan saat akan muncul pertanyaan baru, pintu kedua dibuka, menampilkan beberapa jawaban dan pertanyaan sekaligus. Banyak petunjuk diberikan secara terbuka sehingga pembaca bisa menebak lebih awal dari sang karakter, tetapi sama sekali tidak mengurangi unsur kejutan saat ada fakta baru yang dimunculkan. Sampai pada akhirnya kisah ini ditutup, Dee masih menyisakan sebuah misteri yang bisa memerlukan atau tidak memerlukan jawaban. Saya pribadi sangat puas dengan akhir dari buku ini yang sangat pas dan elegan. Tidak terlalu terbuka, tetapi juga tidak terlalu misterius. Dee sendiri mengatakan tidak menutup kemungkinan adanya kisah lain di semesta Aroma Karsa ini, kalaupun tidak ada, tidak akan ada masalah berarti, dan saya setuju.

Di tengah kesempurnaan kisah, susunan, sampul, dan tata letak buku, saya cukup terganggu dengan adanya beberapa kesalahan ketik. Untungnya, sudah ada daftar revisi yang akan dilakukan pada edisi berikutnya, termasuk penjelasan mengenai beberapa hal kecil yang belum ada. Revisi ini hadir berkat proses tak biasa dalam kehadiran novel ini, yaitu penyuguhan melalui dua penerbit dengan dua media yang berbeda, cetak dan digital. Lebih lengkapnya, bisa dibaca di sini.

5/5 bintang saya sematkan untuk segenap aroma yang memperkaya lembar demi lembar buku ini, riset yang sangat rapi, dan bangunan utuh kisah kehidupan yang menghanyutkan.