Esperanza Rising – Pam Muñoz Ryan

esperanzaTitle : Esperanza Rising
Author : Pam Muñoz Ryan (2000)
Translator : Maria M. Lubis
Editor : Jia Effendie
Publisher : Penerbit Atria
Edition : Cetakan I, Maret 2011
Format : Paperback, 238 pages

“Jangan takut untuk memulai lagi dari awal.”

Esperanza Ortega kecil hidup bak ratu di El Rancho de las Rosas di Aguascalientes, Meksiko. Sebagai anak tunggal dari tuan tanah yang kaya, segala kebutuhan dan keinginannya mudah saja diwujudkan. Selama ini dia dikelilingi orang tua yang menyayanginya, baju bagus yang bersih, pelayan yang selalu siap melayaninya, orang-orang yang menghormatinya, rumah yang besar dan nyaman. Hingga suatu ketika, dia menyadari bahwa di bawah kemewahan yang dinikmatinya, ada orang-orang yang menderita, yang bekerja keras demi bisa hidup, yang tersingkir, dan yang memberontak.

Tepat menjelang ulang tahunnya yang ketiga belas, kehidupannya berubah total. Kepentingan orang-orang terhadap El Rancho de las Rosas mengorbankan keluarganya. Dengan terpaksa, Esperanza dan Mama harus ikut dengan keluarga pekerja yang akan pindah ke Amerika Serikat. Tempat semua orang dapat maju dengan usahanya sendiri, tempat yang tak mengenal status sosial; selama mereka mau bekerja, mereka bisa menaikkan derajat. Perjalanan yang sulit untuk Esperanza yang selama ini hidup dalam prioritas.

Amerika ternyata tak seindah yang mereka bayangkan. Orang-orang Meksiko, juga para imigran dari negara lain, tetap dianggap sebagai warga kelas dua di bawah orang-orang kulit putih; meski mereka lahir di Amerika, sudah memiliki kewarganegaraan, bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke Meksiko. Kesempatan mereka terbatas, tetapi sebagian dari mereka percaya bahwa kerja keras mereka akan membuahkan hasil. Di sisi lain, ada para pekerja yang protes menuntut upah yang lebih layak.

Esperanza menatap kegelapan. Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Dia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira. (p.158)

Di sinilah Esperanza diuji. Dia harus menanggalkan kebiasaannya sebagai seorang ratu, dan harus turun tangan melakukan pekerjaan rumah bahkan pekerjaan kasar. Kerinduan dengan orang-orang tercinta melecutnya untuk bisa menghasilkan uang, untuk bertahan di pertanian California yang penuh persaingan. Di usianya yang belasan tahun, Esperanza belajar artinya kehilangan, kejatuhan, kematian, dan bagaimana harus bangkit, melepaskan, dan bertahan. Akankah segalanya menjadi lebih baik? Akankah keringat dan air matanya berbuah senyum dan kebahagiaan?

Dalam setiap kesulitan, manusia akan berubah, lebih dewasa atau terpuruk. Inilah yang dialami Esperanza, sebagaimana judulnya, Esperanza bangkit. Namun, perubahan yang dialaminya tidak drastis, wajar karena kekecewaan dan kesedihan masa lalu memang sulit dihapuskan dalam masa krisis. Romantisme masa lalu kadang menghambat proses penyesuaian hari ini, tetapi akan ada satu motivasi kuat yang pada akhirnya membuatnya sadar caranya bergerak naik; cinta.

Buku yang bersetting pada tahun 1930an ini menunjukkan Amerika yang masih melakukan diskriminasi berdasarkan ras dan kebangsaan, dari sudut pandang para imigran dan keturunan Meksiko. Bagaimana mereka harus bersaing tidak sehat dengan orang-orang Okkie (Oklahoma), dengan kompetensi di bawah mereka tetapi mendapatkan kesempatan lebih baik karena mereka rela dibayar murah.

Ada sesuatu yang terasa sangat salah karena mengusir orang-orang dari “negara bebas” mereka sendiri, karena mereka mengungkapkan pikiran mereka. (p.187)

Salah satu karakter menarik di buku ini adalah Miguel—anak pasangan pekerja di Aguascalientes yang mengajak mereka ke Amerika—yang hampir seusia dengan Esperanza. Miguel, yang kerap merasakan kebaikan hati Papa, memiliki tekad yang kuat untuk maju. Dia yang juga merasa berutang dengan keluarga Ortega selalu berada di samping Esperanza kala dibutuhkan.

Buku ini juga kaya dengan penggunaan simbol dan metafora yang halus. Seperti mawar yang dibawa dari Aguascalientes sebagai simbol keluarga, pola renda yang diajarkan Abuelita (ibu dari Mama) membentuk lembah dan gunung, serta yang paling saya suka adalah suara degup jantung bumi yang didengar di Meksiko dan di Amerika adalah sebuah pertanda sesuatu yang besar. Penggunaan bab-bab berdasarkan musim panen menambah keunikan buku ini.

Meski sempat bosan di awal karena kekeraskepalaan Esperanza, buku ini diakhiri dengan sangat manis dan hangat. 4/5 bintang untuk buah-buah anggur yang mengawali dan mengkhiri kisah ini.

The Wonderful Wizard of Oz – L. Frank Baum

oz1

Title : The Wonderful Wizard of Oz
Author : L. Frank Baum (1900)
Illustrator : W. W. Denslow
Publisher : Project Gutenberg
Edition : January 6, 2014 [EBook #43936]
Format : ebook

Dorothy tinggal di sebuah rumah kecil di tengah padang rumput kelabu yang kering di Kansas, bersama Uncle Henry dan Aunt Em, serta Toto, anjing kecilnya. Hari itu terlihat lebih kelabu, ada awan tebal menggantung, mengancam membawa badai topan bersamanya. Mereka sudah bersiap untuk berlindung di ruang bawah tanah. Namun, sebelum tiba di pintu, Dorothy yang memegang Toto sudah terbang bersama rumah yang terjebak topan.

A strange thing then happened.
The house whirled around two or three times and rose slowly through the air. Dorothy felt as if she were going up in a balloon.
The north and south winds met where the house stood, and made it the exact center of the cyclone. In the middle of a cyclone the air is generally still, but the great pressure of the wind on every side of the house raised it up higher and higher, until it was at the very top of the cyclone; and there it remained and was carried miles and miles away as easily as you could carry a feather.

Rumah kecil itu, bersama Dorothy dan Toto, mendarat dengan mulus di Negeri Oz. Negeri yang masih dikuasai oleh penyihir di empat penjuru negerinya, di mana terdapat penyihir jahat di Timur dan Barat, serta penyihir baik di Utara dan Selatan. Akan tetapi, tak ada penyihir yang bisa melampaui kekuatan sang Penyihir Hebat Oz yang tinggal di kota Emerald. Kota yang untuk menuju ke sana harus mengikuti jalan berbata kuning. Untuk bisa pulang ke Kansas, Dorothy harus menempuh jalur tersebut, dengan segala bahayanya, sendirian, dengan bekal hadiah dan perlindungan dari Penyihir Utara.

oz1-3Di perjalanannya, Dorothy bertemu dengan orang-orangan sawah yang sangat ingin memiliki otak, penebang kayu dari kaleng yang ingin memiliki hati, dan singa penakut yang ingin memiliki keberanian. Mereka menduga pastilah sang Penyihir Oz dapat memberi mereka semua itu. Berbagai rintangan, mulai dari menghadapi binatang buas, taman bunga yang mematikan, sampai bertemu dengan Oz ternyata juga membutuhkan pengorbanan tersendiri. Apakah mereka bisa meyakinkan Oz untuk membantu mereka? Apakah Oz yang menakjubkan bisa memberikan apa yang diinginkan keempatnya? Harga apa yang harus dibayarkan mereka demi memperolehnya?

“I cannot understand why you should wish to leave this beautiful country and go back to the dry, gray place you call Kansas.”

“That is because you have no brains,” answered the girl. “No matter how dreary and gray our homes are, we people of flesh and blood would rather live there than in any other country, be it ever so beautiful. There is no place like home.”
The Scarecrow sighed.
“Of course I cannot understand it,” he said. “If your heads were stuffed with straw, like mine, you would probably all live in the beautiful places, and then Kansas would have no people at all. It is fortunate for Kansas that you have brains.”

Pada pengantarnya, penulis mengatakan hendak mengubah kebiasaan dongeng anak klasik yang penuh dengan pesan moral dan kejadian-kejadian menakutkan. Penulis hendak menghadirkan keceriaan dan hiburan murni untuk anak-anak dengan kisahnya ini. Dan memang benar, buku ini adalah petualangan yang tidak mengajak anak untuk menjadi seperti ini atau seperti itu. Tantangan dapat terlalui dengan relatif mudah, dengan kecerdikan, keberanian, dan keberuntungan. Namun, di balik kesederhanaan plot ini, tersimpan pesan tersirat yang sangat dalam.

oz1-6

Bahwa apa yang kita cari hingga jauh, sebenarnya sudah ada dalam diri kita, sudah kita miliki, sudah diberikan kepada kita, bahkan mungkin sudah kita pergunakan selama ini. Hanya masalah waktu, kapan kita menyadarinya, kapan kita siap mempergunakannya, serta saat bagaimana kita bisa menghargainya. Dalam kisah singkat yang terkesan serba kebetulan ini, kita dapat melihat seberapa pentingnya proses terhadap kedewasaan dan kesiapan kita menerima sesuatu yang lebih besar.

oz1-5The Tin Woodman knew very well he had no heart, and therefore he took great care never to be cruel or unkind to anything.
“You people with hearts,” he said, “have something to guide you, and need never do wrong; but I have no heart, and so I must be very careful. When Oz gives me a heart of course I needn’t mind so much.”

Twist dalam kisah ini sebenarnya akan mengecewakan pembaca yang berharap banyak, tetapi justru di situlah kisah ini menjadi lebih bermakna. Peran utama bukan lagi dipegang Oz yang berada di judulnya, tetapi Dorothy beserta rombongan yang melalui petualangan yang menantang.

“…. Experience is the only thing that brings knowledge, and the longer you are on earth the more experience you are sure to get.”

4/5 bintang untuk dongeng klasik yang modern pada masanya.

“…. True courage is in facing danger when you are afraid, and that kind of courage you have in plenty.”

Review #34 of Classics Club Project

Review #41 of Children’s Literature Reading Project

oz1-1

Menyoal Stigma tentang Komik

Pada post saya terdahulu mengenai sejarah, saya sempat menyinggung sebuah manga yang membuat saya tertarik untuk mempelajari materi sejarahnya. Saya ingat saya terobsesi dengan astronomi sejak kecil. Saya juga ingat saya tergila-gila pada anime Sailor Moon. Jika saya tarik kembali masa itu, kemungkinan besar ketertarikan saya akan astronomi dikarenakan saya suka Sailor Moon, jadi saya penasaran untuk mempelajari ilmu perbintangan.

Kecenderungan orang tua di Indonesia, sejak dulu bahkan hingga sekarang, menganggap bahwa membaca komik hanya buang-buang waktu, menghambat belajar, membuat malas, dan berbagai stigma negatif yang lain. Komik dijadikan kambing hitam, dicap hina, dan dipandang sebelah mata. Padahal, saya adalah salah satu bukti hidup bahwa komik berhasil menggelitik rasa ingin tahu saya dan membuat saya mencari tahu lebih dari buku-buku yang lain. Memang, ada anak yang berhenti di komik, lalu tidak membaca lagi, tidak bergairah belajar, tetapi saya rasa itu kisah yang berbeda. Banyak teman saya di komunitas baca bermula dari komik.

Jika kita menilik dari sisi yang lebih luas, pada intinya komik adalah salah satu bentuk penyampaian informasi.

Comics is a medium used to express ideas by images, often combined with text or other visual information. (source)

Earliest known comic book (source)

Komik sebenarnya sudah dikenal sejak sejarah manusia ada, lihat saja abjad bangsa Mesir kuno yang menggunakan gambar-gambar. Komik sendiri hanyalah bentuk, tidak ada batasan genre dan usia dalam kontennya. Anggapan bahwa komik adalah untuk anak-anak adalah salah besar, karena banyak komik atau manga yang ditujukan untuk dewasa. Kesalahan persepsi ini mungkin salah satu yang menimbulkan antipati orang tua terhadap komik, karena mereka melihat adanya konten yang tidak layak untuk anak.

Mengenai genre pun sesungguhnya beragam, baik fiksi maupun nonfiksi–termasuk sejarah, biografi, dan lain sebagainya. Komik tidak identik dengan budaya populer ataupun konten yang dangkal. Salah satu manga favorit saya, Topeng Kaca (Garasu no Kamen), memiliki konflik yang kompleks, karakterisasi yang utuh, dan dibuat berdasarkan riset yang dalam. Di dalam komik tersebut, kita disuguhkan seluk-beluk dunia akting dan panggung, pertunjukan adaptasi teater/film dari karya sastra dunia, hingga hubungan-hubungan antar manusia yang nyata.

Trajan’s Column; an early precursor to print comics (source)

Memang sebenarnya stigma negatif komik tidak hanya terjadi di Indonesia, karena itulah pada pertengahan abad ke-20 muncul istilah graphic novel (gravel/novel grafis). Pada dasarnya gravel dan komik hampir serupa, istilah gravel muncul untuk alasan marketing, hingga kini istilah tersebut digunakan untuk komik yang berdiri sendiri (stand alone), dengan plot yang lebih kompleks (source). Di Jepang, Yoshihiro Tatsumi memperkenalkan istilah gekiga yang membedakannya dari manga. Gekiga diharapkan menjangkau pembaca yang lebih dewasa dan mewadahi karya yang lebih ‘literer’ (source).

Dalam literature, kita mengenal picture book untuk anak-anak, bahkan illustrated fiction yang tidak selalu untuk anak-anak. Sastra klasik dewasa seperti karya Charles Dickens, George Elliot atau Sir Arthur Conan Doyle termasuk yang diperkaya dengan ilustrasi.

A picture book combines visual and verbal narratives in a book format, most often aimed at young children. (source)

Illustrated fiction is a hybrid narrative medium in which images and text work together to tell a story. It can take various forms, including fiction written for adults or children, magazine fiction, comic strips, and picture books. (source)

Ilustrasi atau gambar berfungsi menegaskan narasi, menyampaikan sesuatu yang tak bisa dinarasikan, melengkapi narasi, atau bahkan menggantikan narasi sama sekali. Sebagaimana lukisan dipamerkan dalam galeri, maka buku juga bisa menjadi galeri yang bergerak.

Jadi sebenarnya tidak tepat menilai sebuah buku dari jumlah ilustrasi di dalamnya, atau bentuk ilustrasinya, atau di rak mana dia menempati toko buku. Menurut saya, komik juga sama seperti novel; ada yang picisan, ada yang mahakarya, sama juga seperti buku nonfiksi yang berupa teks; ada yang menginspirasi atau informatif, ada juga yang berisi omong kosong atau racauan delusional penulisnya. Semuanya kembali pada selera dan preferensi masing-masing dalam melihat konten, bukan hanya sampul.

The Devotion of Suspect X – Keigo Higashino

kesetiaan-mr-xTitle : Yōgisha X no Kenshin / Kesetiaan Mr. X (Detective Galileo #3)
Author : Keigo Higashino (2005)
Translator : Faira Ammadea
Editor : Dessy Harahap
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2016
Format : Paperback, 320 pages

“Mana yang paling sulit: menciptakan soal yang sulit atau memecahkannya? Hanya ada satu jawaban pasti. Bagaimana? Menarik, bukan?” (p.139)

Hari-hari Tetsuya ‘Daruma’ Ishigami teratur seperti jarum jam, pagi hari dari apartemennya dia akan melewati jalur yang sama menuju ke SMA tempatnya mengajar matematika. Namun, sebelumnya dia akan mampir ke kedai bento Benten-tei, tempat Yasuko Hanaoka bekerja. Apartemen Ishigami bersebelahan dengan Yasuko tetapi mereka jarang bertegur sapa, hanya di Benten-tei, alasan guru itu membeli bento setiap harinya.

Yasuko adalah seorang janda dengan seorang putri yang duduk di bangku SMP bernama Misato. Suatu sore, mantan suami yang selalu menerornya—Togashi, mendatangi wanita itu ke Benten-tei dan mengikutinya sampai ke apartemen. Keributan terjadi hingga dalam pembelaan diri, Togashi meninggal di tangan ibu dan anak tersebut. Kebetulan Ishigami mendengar keributan tersebut dan menawarkan bantuan untuk menutupi kejahatan tersebut, karena menyerahkan diri ke polisi mau tak mau harus melibatkan Misato.

Sebagai jenius matematika, Ishigami menggunakan kemampuan logikanya untuk membuat alibi dan menghilangkan bukti. Polisi dibuat kebingungan dengan penemuan-penemuan yang terkesan serampangan tetapi saat ditelusuri kejanggalan tersebut justru membawa mereka semakin jauh dari kebenaran. Satu-satunya tersangka kuat hanya sang mantan istri, tetapi tak ada bukti yang mendukung. Detektif Kusanagi yang menangani kasus ini berteman dengan Dr. Manabu Yukawa, Profesor Galileo yang ahli di bidang fisika, serta kerap membantu polisi tersebut. Namun kali ini posisinya berbeda karena ternyata Ishigami adalah teman kuliah Yukawa, sekaligus orang yang dikaguminya. Apakah kejeniusan Yukawa bisa mengalahkan Ishigami, dan apakah Yukawa tega menyingkap tindakan kawannya seandainya dirinya menemukan bukti?

“Menurutmu mana yang paling mudah saat mengerjakan soal matematika? Mencari jawaban sendiri? Memastikan jawaban dari orang lain benar atau salah? Atau malah kau ingin tahu seberapa tinggi tingkat kesulitannya?” (p.98-99)

Meski merupakan buku ketiga dari seri Detektif Galileo, membaca buku ini saja tidak membingungkan sama sekali. Terkecuali saya sempat salah mengira karakter utama karena begitu simpatiknya karakter Ishigami digambarkan, dan mungkin pandangan saya mengenai Yukawa akan berbeda seandainya bukan buku ini yang pertama saya baca. Cara penulis menghidupkan karakter Ishigami begitu manusiawi, dengan detail yang menjadikan pembaca begitu dekat, kemudian saat Yukawa masuk dan memberi sentuhan kehangatan kawan lama, saya bisa merasakan dilema antara kebenaran dan kemurahan hati. Ramuan logika dan kecerdasan kedua jenius tersebut lebur dengan pertemanan dan nostalgia, menjadikan buku ini bukan sekadar pemecahan misteri biasa. Apalagi ditambah selipan tentang prinsip dasar matematika dan fisika yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Satu persamaan di antara Ishigami dan Yukawa: mereka ingin membangun dunia ini berdasarkan teori. Namun metode pendekatan yang digunakan sama sekali berbeda. (p.92)

Suasana sendu semacam ini jamak pada sastra Jepang, sejauh yang pernah saya baca, tetap berpadu manis dengan kekerasan sadis yang tidak ditutup-tutupi pada genre misterinya. Buku ini tidak hanya berbicara tentang pembunuhan dan pemecahannya, tetapi mengupas juga seperti apa kehidupan seorang pembunuh. Dalam kasus Yasuko yang terpaksa melakukan kejahatan itu dan berusaha melanjutkan hidupnya, tidak mudah memiliki utang budi pada seseorang yang tadinya bukan siapa-siapa. Masalah baru timbul saat seorang pria dari masa lalu mendekatinya kembali dan membuat penolongnya cemburu.

Mana yang lebih mudah, merencanakan kejahatan atau menutupi kejahatan yang tak terencana? Jawaban yang disajikan akan sangat mengejutkan, karena petunjuknya ternyata sudah ada sejak halaman awal. Detail yang tampak tak penting akan menjadi kunci, karena, bukankah kita perlu menutupi sebuah kejahatan? 4/5 bintang untuk akhir kejahatan yang menyayat hati.

“Pertama-tama, kau harus mencari jawabannya sendiri, baru menyimak jawaban orang lain,” (p.245)

Career of Evil – Robert Galbraith

career-of-evilTitle : Career of Evil
Author : Robert Galbraith (2015)
Publisher : Sphere (imprint of Little, Brown Book Group)
Edition : Paperback edition, 2016
Format : Paperback, 584 pages

…the writings done in blood. –Blue Ӧyster Cult, ‘O.D.’d on Life Itself’ (p.82)

Suatu Senin pagi, Robin Ellacott menjalani rutinitasnya menuju kantor detektif Cormoran Strike. Di depan kantor, seorang kurir sudah menunggu dengan bungkusan yang diharapkan berisi pesanannya. Namun, setelah dibuka, ternyata paket itu berisi potongan tungkai kanan seorang wanita muda beserta pesan yang berisi lirik lagu Blue Ӧyster Cult. Seorang pembunuh gila sedang mengincarnya hanya karena dia asisten Cormoran.

Dari pengamatan awal atas motif dan metode pelaku, Cormoran mencatat empat orang yang sangat dendam kepadanya yang mungkin melakukannya; Terence “Digger” Malleys yang pernah punya riwayat kejahatan mutilasi, Donald Laing yang punya riwayat kekerasan terhadap wanita, Noel Brockback yang punya kecenderungan pada perempuan muda, dan Jeff Whittaker yang pernah menikahi dan membunuh Leda Strike—ibu kandung Cormoran. Keempat orang itu, yang punya catatan kejahatan seksual, kekerasan maupun obat-obatan terlarang, punya alasan yang sangat kuat untuk membenci Cormoran. Hampir bisa dipastikan keempatnya rela melakukan apa saja asal bisa membuatnya menderita, seperti penderitaan yang mereka dapatkan karena campur tangan detektif itu. Oleh karena penjahat ini sudah mengancam orang lain, yaitu Robin, Cormoran merasakan dorongan untuk segera menyelesaikannya dengan efektif. Hubungannya dengan polisi beberapa waktu belakangan sedang kurang baik karena kasus Lula Landry dan Owen Quine, maka dari itu dia menghubungi Eric Wardle yang tidak bermasalah dengannya untuk menangani kasus ini secara resmi. Menyingkirkan Robin dari kasus sudah bukan sebuah pilihan karena asistennya berkeras untuk tidak ‘lari’ dari apa yang sudah seharusnya menjadi pekerjaannya juga. Lagipula, bukankah ini yang selama ini diinginkannya, bekerja di kantor detektif, apapun risikonya. Keduanya harus berkolaborasi untuk menyelesaikannya dengan cepat, meski harus menghadapi bahaya.

Penulis pernah mengatakan bahwa dari ketiga buku Cormoran Strike, dia paling menikmati proses menulis buku ini. Salah satunya karena dia mengeksplorasi lirik lagu Blue Ӧyster Cult di hampir setiap babnya. Alih-alih memberi judul atau angka pada pergantian bab, dia menuliskan sebaris dua baris lirik, atau judul lagu band itu, yang sekiranya mewakili isi bab tersebut. Menurut saya itu sebuah tantangan yang menarik, sekaligus membuat saya penasaran pada band tersebut karena ternyata banyak lirik yang ‘menantang’ serta judul-judul ‘menggelitik’ di sana. Alasan lain adalah penulis mengeksplorasi Britania Raya dengan sangat terperinci. Dalam penyelidikannya, Cormoran harus melakukan perjalanan ke beberapa tempat di belahan utara negaranya. Di sini, penulis tidak sekadar meminjam tempat, dia menggambarkan dengan rinci geografi wilayah tersebut, gaya bangunannya, masyarakatnya, sejarahnya, hingga ke bahasa atau dialek daerah itu.

Is it any wonder that my mind’s on fire? –Blue Ӧyster Cult, ‘Flaming Telepaths’ (p.35)

Sebagaimana dua buku sebelumnya, saya sangat menikmati interaksi personal antara Cormoran dan Robin, juga bagaimana kehidupan mereka dikupas satu per satu. Termasuk hubungan mengharukan antara Cormoran dengan Shanker, pria yang dulu diselamatkan Leda dan hingga kini kerap membantu penyelidikan Cormoran melalui jalur ‘tidak resmi’. Penyelidikan terhadap penjahat di masa lalunya mau tak mau membuka kembali masa lalu Cormoran yang belum diperlihatkan di buku sebelumnya. Apalagi penjahatnya kali ini menggunakan tungkai kanan sebagai ancaman, tungkai yang hilang dari Cormoran. Masalah tungkai ini nantinya mempertemukan mereka dengan orang dengan kelainan ingin memutilasi diri sendiri, gangguan yang sangat sensitif bagi orang yang terpaksa harus diamputasi.

Kali ini, jarak antara Robin dengan bosnya semakin mengecil akibat ancaman yang selain membuatnya harus selalu dalam pengawasan, juga mengalami ketegangan hubungan dengan Matthew—tunangannya, seiring makin dekatnya hari pernikahan mereka. Saya tak menyangka di balik sosok Robin yang efisien itu terdapat masa lalu yang kelam, yang membuat saya semakin kagum padanya. Teror yang diterima Robin mau tak mau menguji keteguhan hatinya, apakah dia mampu mempertahankan kepercayaan diri yang dibangunnya dengan susah payah pasca trauma masa lalu.

It had happened all over again. A man had come at her out of the darkness and had ripped her not only her sense of safety, but her status. (p.504)

Secara umum, buku ini menggambarkan dengan sangat apik bagaimana pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat berjalan beriringan. Bagaimana pada umumnya orang mengatasi gesekan antara kedua aspek tersebut; saat masalah pribadi membuat kita tidak fokus terhadap pekerjaan, atau justru pekerjaan membuat kita lupa pada masalah pribadi hingga menggunakannya sebagai pelarian—disadari atau tidak.

Berbicara tentang karakter, saya rasa tak perlu diragukan lagi dari karakter-karakter yang telah saya sebutkan semuanya memiliki kekuatan dan ciri unik yang menjadikan mereka tergambar utuh dalam benak pembaca. Bahkan hingga karakter-karakter minor, tidak menjadikan mereka digambarkan secara samar. Ada seorang karakter yang muncul hanya sebentar tetapi dialognya sangat terasa menjengkelkan, begitu nyata hingga saat membaca kalimat-kalimatnya, saya bisa merasakan emosi yang sama dengan yang dirasakan oleh Cormoran sekaligus kekhawatiran Robin bahwa orang tersebut akan menimbulkan masalah. Sehubungan dengan kasus, karakter para tersangka yang diselidiki juga menjadi salah satu petunjuk kuat yang membuat saya bisa menebak orangnya, meski saya masih ragu karena satu sandungan yang disimpan oleh penulis sebagai jebakan.

Singkatnya, saya suka sekali dengan segala sisi dalam buku yang kaya dengan berbagai aspek penceritaan ini. Penulis berhasil membangun rasa penasaran, ketegangan, humor, simpati, hingga ketidaksabaran dalam sebuah buku. 5/5 bintang untuk kehidupan yang keras sekaligus indah.

Baca juga kontemplasi saya tentang feminisme dalam serial ini di sini.

You could find beauty nearly anywhere if you stopped to look for it, but the battle to get through the days made it easy to forget that this totally cost-free luxury existed. (p.198)