2020 Reading and Blogging Plan

Tahun baru, mari membuat resolusi baru. Seperti sudah saya singgung di post 2019 in Review, enam bulan terakhir saya sudah mengukur kemampuan baca dan blogging, menyesuaikan dengan kesibukan baru. Rata-rata dalam bulan sibuk, saya bisa membaca dua novel dengan ketebalan standar, bisa lebih jika saya tambahkan picture book atau buku tipis sekali duduk. Dengan memperhitungkan hal di luar dugaan, dan kemungkinan saya ingin membaca buku tebal juga, maka saya putuskan tahun ini akan memasang target baca 22 buku di Goodreads. Saya agak yakin kalau bisa lebih, tapi karena memasuki dunia ‘baru’, saya tidak ingin berharap terlalu tinggi terlebih dahulu.

Sudah beberapa tahun saya bertahan dari reading challenge (RC) selain Goodreads, entah kali ini saya mungkin melihat banyak teman kembali bersemangat, terutama di grup BBI Joglosemar yang akhirnya membuat RC-nya sendiri, maka pertahanan saya runtuh juga. Tentunya saya memilih-milih tantangan yang sefleksibel mungkin, agar tidak menjadi beban tambahan. Untuk RC tahun ini, karena kemungkinan besar tidak mungkin saya review semuanya di blog, maka akan saya post di Instagram saja.

Saya ingin mempergunakan kesempatan ini untuk menghabiskan buku-buku timbunan yang sedikit banyak berhubungan dengan pendidikan yang saya tempuh, atau paling tidak menunjang dari segi keilmuan. Membaca untuk kesenangan juga rasanya masih perlu untuk menjaga kewarasan.

Untuk blogging, tidak banyak yang bisa saya rencanakan. Saya mengusahakan blog ini agar tetap hidup, tapi tidak bisa memasang target tertentu. Biarkan berjalan saja apa adanya dan sebisanya.

Mari memulai dekade baru dengan semangat!

2019 in Review

Memasuki 2020, belum lengkap rasanya kalau belum melihat kembali perjalanan di tahun 2019. Untuk target baca secara umum, tahun 2019 cukup menggembirakan karena sesuai dengan target di awal tahun. Dari rencana 55 buku, berhasil membaca 57 buku. Mengingat di paruh kedua tahun lalu saya memiliki kesibukan baru, tetapi berhasil ditutup karena awal tahun mood membaca saya lumayan bagus. Berikut hasil rekap dari Goodreads.

PicsArt_01-04-08.52.11.png

Saya cukup senang dengan buku-buku yang terbaca di tahun lalu. Beberapa kali saya menemukan buku yang tak terduga, dalam arti positif.  Saya juga berhasil membaca beberapa timbunan lama dan buku-buku yang sudah lama ingin sekali saya baca. Saya tidak akan membahas detail seperti tahun-tahun sebelumnya, lebih lengkapnya bisa dicek di akun Goodreads di sini.

Buku paling berkesan di tahun 2019, yang sudah saya buat reviewnya juga, adalah Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub. Ada hal yang jarang sekali saya lakukan, yaitu menamatkan satu seri sekaligus. Dan hal itu saya lakukan di awal tahun lalu, dengan membaca Doll People Set buku 1-3. Karena suka, saya pun memasukkan buku keempatnya sebagai wishlist. Ternyata berjodoh dengan buku itu dari BBW Jogja, hingga akhirnya saya baca di akhir tahun.

Lalu, ada satu momen di tahun lalu, tepatnya bulan Maret hingga pertengahan April, saya sengaja membaca buku-buku timbunan saya dari penulis perempuan. Beberapa buku dari penulis favorit, beberapa dari daftar yang ingin saya baca, dan beberapa memenuhi kriteria dari salah satu rencana saya di awal tahun 2019, yaitu buku yang sudah sangat lama di timbunan, yang saya tidak yakin lagi ingin mengoleksi, tetapi masih ingin saya baca. Tanpa diduga, buku-buku tersebut sungguh jauh lebih bagus dari ekspektasi saya. Yang tentunya membuat saya bahagia karena memutuskan membacanya.

PicsArt_01-01-01.09.34.png

Yang termasuk rencana saya di tahun lalu adalah mengubah profil rak buku di rumah. Saya sudah memulai, tetapi karena beberapa hal, belum bisa sesuai dengan ekspektasi. Lebih lagi saya sedang berpindah domisili sementara, maka penampilan rak buku sudah bukan menjadi hal utama yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini. Tentu saja akan tetap ‘dirapikan’ pelan-pelan.

Di pertengahan tahun lalu, ada perubahan dalam kehidupan saya. Saya memutuskan berhenti bekerja dan menempuh pendidikan lanjut. Otomatis ritme membaca saya berubah drastis. Selain membaca untuk kesenangan, ada lebih banyak bacaan yang wajib saya habiskan. Sebenarnya ini sudah saya antisipasi ini dari awal tahun lalu. Meski target membaca saya tetap, sebagian besarnya sudah saya habiskan di awal tahun. Enam bulan terakhir saya mengukur kapasitas saya sendiri untuk melanjutkan membaca dan blogging, untuk saya rencanakan di tahun 2020. Saya tidak ingin berhenti, sejak awal saya mengambil jalan ini sebisa mungkin yang tidak membuat saya berhenti. Namun, tentunya akan ada penyesuaian.

Traveling Aja Dulu! – Olivia Dianina Purba

43672931Judul : Traveling Aja Dulu!
Penulis : Olivia Dianina Purba (2018)
Editor : Shera Raynardia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, xiv+242 halaman

Kalau kamu tidak percaya bahwa masih banyak orang baik di luar sana, cobalah sesekali untuk traveling sendirian. Niscaya kamu akan selalu dapat menemukan orang baik yang mau membantu tanpa mengharapkan balasan. (hal.8)

Buku ini adalah kisah perjalanan penulis, yang sejak lulus SMA sudah memiliki visi untuk dapat berkeliling dunia. Penulis yang katanya bukan dari keluarga kaya mencari jalannya sendiri, mulai dari memilih jurusan kuliah yang sekiranya mendukung, mencari celah di setiap beasiswa, membuka jalan dengan mengikuti berbagai kegiatan kampus, termasuk aktif di bidang akademik yang membawanya ke berbagai konferensi dan aktivitas pelajar/mahasiswa.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk anak-anak muda, para remaja yang mungkin masih bingung apa yang ingin dilakukannya di masa depan, maupun yang sudah tahu apa yang ingin dilakukannya. Setidaknya, pengalaman penulis bisa menjadi salah satu sudut pandang, atau bahkan inspirasi untuk melakukan hal yang sama. Menurut saya, apa yang dilakukan oleh penulis ini sangat menginspirasi, bisa jalan-jalan dengan hemat, sekaligus memotivasi untuk terus berprestasi demi mendapatkan kemudahan-kemudahan tersebut. Saya sangat menekankan kata muda, karena untuk generasi yang lebih tua (termasuk saya, lol), mungkin memerlukan banyak modifikasi, karena tak bisa dimungkiri, usia sangat menentukan banyak hal di sini.

Selain menginspirasi, mengikuti jejak perjalanan penulis cukup seru juga. Ada acara ketinggalan pesawat, singgah di tempat asing tanpa rencana sebelumnya, sampai hampir salah naik kereta, membuat saya ikut khawatir saat membaca. Bisa dibilang, penulis terkadang cukup impulsif, jadi kita sebagai pembaca ikut was-was kalau-kalau ada yang salah. Tapi toh, selalu ada jalan, dan mungkin seperti itulah hidup jika kita menjalaninya. Saya agak skeptis saat penulis berulang kali menyebutkan bahwa dia beruntung. Menurut saya, segala persiapan dan usaha, sekecil apa pun, akan membantu kita. Dan itulah yang didapatkan oleh penulis, bahwa jalan itu ada karena sebenarnya dia tidak nekat begitu saja tanpa persiapan, karena impulsif tidak sama dengan ceroboh.

Selain tentang perjalanannya sendiri, buku ini juga banyak menyinggung tentang persiapan, termasuk cara dan tips membuat paspor dan visa, aplikasi dan jejaring yang bisa membantu para travelers, sampai trik mendapatkan tiket murah. Di sepanjang cerita pada perjalanannya di negara tertentu, penulis juga menceritakan budaya, kebiasaan, juga aturan di negara tersebut yang penting diketahui sebelum menuju ke sana. Mulai dari pertama kali traveling ke Bali di tahun 2008, hingga sepuluh tahun kemudian, penulis sudah menjelajah lebih dari 37 negara di seluruh dunia. Tentunya, ada kerja keras dan pengorbanan, yang saya yakin, tidak semuanya diceritakan dalam buku ini.

Di luar penilaian saya terkait buku ini, saat membaca pengalaman penulis sebagai duta wakil negara di konferensi-konferensi mahasiswa, ada beberapa hal yang mengganjal. Banyak sekali dana dikucurkan dari seluruh dunia untuk kegiatan ini. Para pemuda diajak berpikir dan merumuskan masalah-masalah di dunia ini, tetapi berapa banyak hasilnya yang benar-benar dipakai untuk memperbaiki dunia? Sependek pengamatan saya, para pejabat negara ini kebanyakan berbicara bahwa pemuda adalah aset bangsa, lalu seolah-olah melatih mereka untuk menjadi pemimpin dan sebagainya, tetapi sesungguhnya mereka tidak memandang pemikiran muda ini sebagai solusi. Mereka lebih mengagungkan cara lama, memandang pengalaman mereka jauh lebih penting, dan anak-anak muda itu dianggap belum mengerti kehidupan. Justru sektor nonpemerintah yang mungkin lebih menghargai anak-anak muda, terutama yang memang diinisiasi oleh anak-anak muda, sehingga hasilnya lebih terlihat nyata dan signifikan. Mungkin saya salah, dan semoga ini hanyalah generalisasi saya saja.

Kembali ke bukunya, jika kalian ingin tahu sensasi tersesat di Nepal yang berakhir mengesankan, menetap di Canberra yang unik dengan beasiswa master, menggebu-gebu di Kolombia dan mengunjungi tempat-tempat indah, serta berenang di sungai tengah kota Zurich, menjelajahlah bersama buku ini. Siapa tahu, suatu saat nanti, kalian bisa benar-benar berada di sana. Intip juga tulisan-tulisan lainnya di www.travelingajadulu.com, atau di www.instagram.com/traveling.aja.dulu

traveling tidak harus bermodal banyak atau memiliki keluarga yang sangat baik secara finansial. Kamu hanya perlu semangat, keuletan, dan kerja keras untuk bisa melihat dan mempelajari keindahan alam dan keunikan budaya di luar sana. (hal.237)

Uncommon Type – Tom Hanks

37901431. sy475 Title : Uncommon Type: some stories
Author : Tom Hanks (2017)
Publisher : Alfred A. Knopf
Edition : First edition, third printing, November 2017
Format : Paperback, viii+405 pages

Pada awal kemunculan buku ini, keramaian otomatis muncul karena nama Tom Hanks di situ. Terlebih dalam sebuah buku fiksi. Keramaian agak mulai semakin menarik saat ada banyak pujian, baik dari pembaca, maupun sesama penulis, juga para kritikus. Dan setelah mencoba membaca sendiri, ternyata memang penulisannya mengesankan dan sangat bisa saya nikmati. Yang baru saya ketahui dari bagian about author di belakang, dan mungkin juga tak banyak yang mengetahui, tulisan Tom Hanks pernah beberapa kali dimuat di The New York Times, Vanity Fair,dan The New Yorker.

Membaca buku ini, saya merasa dilempar-lempar dalam lompatan berbagai realitas dan masa. Terkadang batasnya sangat jelas, tetapi tak jarang juga saya kehilangan orientasi tempat dan waktu, sampai disebutkan penanda-penandanya, seperti landmarks tertentu, jenis gawai dan media sosial yang digunakan pada masa itu, atau kejadian sejarah. Namun, di antara hal-hal yang terlihat acak, ada beberapa benang merah yang dijahit dengan manis di antaranya.

Salah satu hal yang cukup menonjol adalah penggunaan mesin tik, yang konon menjadi media penulis untuk membuat buku ini. Selain dengan foto-foto berbagai jenis mesin tik koleksi Hanks di setiap awal cerita, yang diambil dengan berbagai pose yang cantik, mesin tik juga mendapatkan porsi dalam beberapa cerita. Ada saat mesin tik menjadi cameo, yang tidak sekadar ditempelkan, tetapi juga memberi kesan kuat. Dalam kisah These Are the Meditation of My Heart, mesin tik menjadi bagian utama, yang digambarkan dengan romantisme tersendiri. Dimulai dari seorang manusia modern yang tertarik dengan mesin tik murahan yang hampir tidak berfungsi, kemudian membawanya berkenalan dengan mesin-mesin tik lain, dengan berbagai jenis dan merek dari berbagai masa, yang digambarkan sebagai mahakarya dengan kelebihannya masing-masing. Your Evangelista, Esperanza yang ditulis dengan format surat kabar (Our Town Today with Hank Fiset) menceritakan seseorang yang melepaskan diri dari teknologi, dan hidup bahagia dengan mesin tik saja. Sebuah peranti klasik yang memberinya pengalaman yang tak kalah kaya dari gawai-gawai modern.

Empat orang sahabat yang membuka buku dengan kisah Three Exhausting Weeks, secara tak terduga muncul kembali di tengah dan akhir buku, dalam Alan Bean plus Four dan Steve Wong is Perfect. Kisah pertama tampak seperti romansa kontemporer biasa, tanpa ada hal yang menonjol mengenai settingnya. Hingga di kisah kedua, pembaca diajak ke dalam setting futuristik yang sangat kental, yang membuat kita jadi mempertanyakan di tahun berapa keempat sahabat tersebut hidup. Fiksi sains dengan imajinasi liar yang dibumbui dengan humor agak mengingatkan saya pada Hitchhiker’s Guide karya Douglas Adams yang belum lama saya baca. Kemudian di cerita ketiga, kita dikembalikan pada suasana Amerika yang tampaknya normal-normal saja, kali ini dengan karakter yang memiliki kemampuan menakjubkan.

Suasana historis yang mengharukan dari seorang veteran perang dihadirkan dalam Christmas Eve 1953, yang settingnya sudah terlihat dari judulnya. Dengan fokus pada hubungan keluarga, pertemanan, dan trauma. Kisah keluarga muncul juga di Welcome to Mars, A Month on Greene Street, dan A Special Weekend dengan berbagai dinamikanya, perceraian, hubungan orang tua-anak, anak dengan lingkungan, perselingkuhan, dan membuka hati kembali. Suasana masa lalu yang dilatarbelakangi time travel ada di The Past is Important to Us. Lalu latar belakang dunia hiburan, yang tentunya sangat dekat dengan penulis, tak luput diangkat dalam A Junket in the City of Light dan Who’s Who?.

Selain menceritakan orang-orang kulit putih, penulis juga memunculkan karakter-karakter imigran dan etnis lain di Amerika Serikat. Yang paling menonjol tentunya adalah empat orang sahabat yang saya sebut sebelumnya, di mana salah dua di antaranya adalah keturunan Asia dan Afrika. Go See Costas memberikan sudut pandang imigran ilegal dari masa yang lebih lampau (saat Amerika tak seketat sekarang), dari sisi manusiawinya. Beberapa kisah dengan napas ini (termasuk Who’s Who) menunjukkan bahwa Amerika pada umumnya, dan New York pada khususnya, pernah (dan mungkin masih) menjadi simbol pengharapan dan kehidupan yang lebih baik.

Ada sebuah cerita yang disampaikan dalam format drama, tentang industri, pembangunan, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi bisnis lama yang penuh kisah dan romantika. Stay With Us pada akhirnya memberikan sebuah kesan yang menyejukkan, meski di awal kita diajak dalam perjalanan bersama dua orang yang sangat eksentrik. Our Town Today With Hank Fiset muncul beberapa kali, setelah tiga cerita. Terkadang ada kesan bahwa berita itu berhubungan dengan cerita sebelumnya, tetapi dengan karakter dan detail yang agak berbeda.

Sejujurnya, meski secara keseluruhan saya sangat suka dengan buku ini, beberapa bagian terasa agak berat untuk dibaca, entah karena terlalu banyak detail, alurnya lambat, atau untuk alasan yang saya tidak sadari. Namun, saya tak meragukan bahwa buku debut Tom Hanks cukup berhasil membuat saya memasukkan buku berikutnya (semoga ada) ke dalam daftar bacaan suatu hari nanti.

If I ever run into Al Bean again, I’ll ask him what life has been like for him since he twice crossed the equigravisphere. Does he suffer melancholia on a quiet afternoon, as the world spins on automatic? (p.153)

Scene on Three (129): 6th Anniversary Edition

Kembali lagi di Scene on Three, yang edisi perdananya tepat hari ini enam tahun yang lalu. Sebenarnya tak ada yang patut dirayakan sekarang, karena SoT sudah jarang sekali muncul. Tapi kalau boleh berbangga, setidaknya ada postingan lagi hari ini.

Kutipan kali ini saya ambil dari buku The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy by Douglas Adam.

‘What do you mean you’ve never been to Alpha Centauri? For Heaven’s sake, mankind, it’s only four light-years away, you know. I’m sorry, but if you can’t be bothered to take an interest in local affairs that’s your own lookout.’ (p.30)

Kalimat ini dilontarkan oleh alien yang akan menghancurkan bumi. Sebelumnya dia mengatakan bahwa pengumuman tentang hal ini sudah ada di salah satu departemen di Alpha Centauri. Ini adalah salah satu aspek yang membuat saya suka buku ini, hal-hal tak terbatas di dalamnya. Bayangkan saat manusia bumi masih bergelut dengan penerbangan ke bulan, mencari-cari jejak kehidupan di Mars, ternyata makhluk lain di luar sana sudah mencapai kemajuan yang bahkan tidak kita bayangkan.

Di samping itu, situasi ini hampir sama persis dengan yang dialami karakter utamanya, Arthur Dent, yang rumahnya akan digusur untuk proyek kota. Hanya tentu saja skalanya jauh berbeda. Namun, di luar itu, ada satu hal yang saya tangkap, mengenai relativitas. Bahwa apa yang kita anggap kecil, mungkin besar bagi orang lain, begitu pula sebaliknya. Kita tidak bisa menyamakan cara pandang orang lain dengan kita, jika masing-masing berdiri di posisi dan situasi yang berbeda.

Sama seperti apa-apa yang belakangan kerap (di)ramai(kan) di media sosial, tentang berapa gaji yang layak, harus sudah punya apa di usia sekian, kriteria macam-macam, dan segala jenis pencapaian, adalah sebuah pembicaraan yang bukan untuk disamaratakan. Latar belakang keluarga, pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, tanggungan, adalah sedikit dari hal-hal yang membedakan kita, yang ujung-ujungnya membedakan segala apa itu di atas. Jadi ya, sebaiknya jangan berkecil hati dengan apa yang dimiliki orang lain. Karena setiap kita punya porsi masing-masing dalam kehidupan. Tak perlu juga terlalu berbangga diri jika sudah merasa mencapai dan memiliki segalanya. Malu sama alien.