To Kill A Mockingbird – Harper Lee

Judul buku : To Kill A Mockingbird
Penulis : Harper Lee (@1960)
Penerjemah : Femmy Shahrani
Penyunting : Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit Qanita, Oktober 2010
536 hal

To Kill a Mockingbird adalah kisah tentang pembangunan karakter anak. Atticus Finch digambarkan sebagai sosok seorang ayah yang mendidik kedua anaknya dengan cara yang berbeda dengan tradisi setempat, bahkan tradisi keluarga besarnya sendiri. Diceritakan dari sudut pandang putri bungsunya, Jean Louise ‘Scout’ Finch, yang hampir tak terpisahkan dengan kakaknya, Jeremy ‘Jem’ Finch, memberi kita gambaran tahap demi tahap dari pemahaman mereka atas sedikitnya tiga tahun kehidupan mereka.

Scout dan Jem digambarkan sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu. Kebebasan yang diberikan Atticus menjadikan mereka lebih kreatif. Mereka sangat mengagumi sosok ayah mereka, seorang role model dan panutan kedua anak mereka. Scout yang baru menginjak bangku sekolah menemukan metode pendidikan yang berbeda dengan yang diterapkan ayahnya hingga ia cenderung membangkang. Tetapi satu kata dari Atticus akan dia ingat dan sebisa mungkin tidak mengecewakan ayahnya. Sedangkan Jem yang mulai menginjak remaja mulai memperlihatkan nalurinya sebagai pelindung keluarga, termasuk Atticus.

Di sebuah kota kecil di Alabama, Maycomb, mereka ‘bertualang’ di antara para tetangga mereka, berdua atau bersama teman musim panas mereka, Dill.

Dalam waktu itu diceritakan bagaimana mereka mengalami masa sulit, bagaimana Atticus mengajarkan arti kemanusiaan, keadilan dan kehormatan pada anak-anaknya. Dia juga menanamkan kesabaran, keyakinan dan harga diri pada jiwa anak-anaknya. Rasanya kurang lengkap bila tak mengutip salah satu kata-kata Atticus yang paling penting (p.66): “Pertama-tama, kalau kau bisa mempelajari satu keterampilan sederhana, Scout, kau bisa bergaul lebih baik dengan berbagai jenis orang. Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau memandang suatu situasi dari sudut pandangnya, kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya.”

To Kill a Mockingbird, judulnya agak sedikit menggelitik keingintahuan saya. Frasa itu sendiri disebutkan pertama kali dalam bab 10 (p.179): “Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, kalau bisa kena, tetapi ingat, membunuh mockingbird itu dosa.” (kata Atticus kepada Jem).
“Ayahmu benar, mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apa pun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa.” (kata Miss Maudie pada Scout).
Jika Harper Lee tidak secara sengaja memasukkan nilai moral dari judul itu pada setiap kejadian, maka ini hanyalah berdasarkan penafsiran saya sendiri. Saya melihat banyak sekali ‘mockingbird’ dalam buku ini, sebagai sebuah simbol. Seorang Negro yang dikorbankan demi harga diri keluarga kulit putih, pengadilan yang digadaikan atas nama kehormatan turun-temurun, jiwa polos anak-anak yang hendak dimatikan oleh tradisi, setidaknya itulah beberapa yang saya tangkap. Dan pada bab 30 (p.524), disebutkan pula secara langsung Scout menghubungkan ‘membunuh mockingbird’ dengan kejadian percobaan pembunuhan dirinya dan kakaknya, kematian Bob Ewell, dan bantuan dari Arthur ‘Boo’ Radley yang misterius.

Bagian yang paling mengharukan adalah saat pembacaan kesimpulan oleh Atticus di pengadilan. Kalimat-kalimatnya berhasil menggetarkan hati saya, memberi saya keyakinan yang sama dengan Jem. Keyakinan bahwa kebenaran telah jelas terlihat, dan orang-orang yang masih memiliki hati nurani akan mampu mengambil keputusan dengan benar. Akan tetapi, sekali lagi, seekor mockingbird telah dibunuh. Dibunuh karena suatu tradisi rasis yang belum bisa mereka ubah.

Membaca buku dari sudut pandang seorang anak, bahkan anak secerdas Scout sekali pun, memaksa kita untuk menafsirkan sendiri sebagian kalimat dan kejadian yang didengar dan dilihatnya dari orang-orang dewasa. Sesuatu yang belum dia mengerti. Walaupun demikian, penuturan dalam kisah ini mengalir dengan cantik. Meski beberapa bagian terkesan panjang dan kurang begitu penting, akan tetapi secara tidak sadar, kita dituntun dalam suatu pemahaman akan apa yang terjadi setelahnya.

One response to “To Kill A Mockingbird – Harper Lee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s