Tuesdays With Morrie – Mitch Albom

Judul buku : Tuesdays With Morrie (Selasa Bersama Morrie)
Penulis : Mitch Albom (1997)
Penerjemah : Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Juni 2007 (cetakan kelima)
Tebal buku : 220 halaman

Selasa Bersama Morrie: Pelajaran Tentang Makna Hidup, begitulah terjemahan ini diberi judul, dan begitu pulalah isinya. Morrie Schwartz, seorang profesor sosiologi favorit penulis, yang berjuang melawan penyakit mematikan yang dideritanya. Penyakit yang merenggut segalanya dalam hidupnya, kesenangannya berdansa, kemampuannya mengajar, bahkan suatu saat akan membawanya ke titik dimana dia sangat bergantung pada orang lain. ALS atau amyotrophic lateral sclerosis, penyakit saraf yang akan melumpuhkan seluruh ototnya sedikit demi sedikit.

“Belajarlah dari lambat dan perlahannya proses kematianku. Perhatikan apa pun yang terjadi padaku. Belajarlah bersamaku.” (p.11)
Itulah wujud perlawanannya.

Mitch Albom, sang penulis, menjalani tahun demi tahun hidupnya setelah wisuda sebagaimana kebanyakan orang. Tetapi pekerjaan, rumah, mobil, istri, dan segala yang sudah dicapainya ternyata tidak membawa kebahagiaan seperti yang diharapkannya. Di saat itulah, dia mendengar profesornya sakit, guru yang telah lama terlupakan. Mitch pun kembali ke gurunya, kembali ke bangku kuliah, kuliah kehidupan di ruang baca sang profesor setiap hari Selasa.

“Begitu banyak orang menjalani hidup mereka tanpa makna sama sekali. Mereka seperti separuh terlelap, bahkan meskipun mereka sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang menurut mereka penting. Ini karena mereka memburu sasaran-sasaran yang salah. Satu-satunya cara agar hidup ini menjadi bermakna adalah mengabdikan diri untuk menyayangi orang lain, mengabdikan diri bagi masyarakat di sekitar kita, dan mengabdikan diri untuk menciptakan sesuatu yang memberi kita tujuan serta makna.” (p.46)

Dari kuliah kehidupan itulah Mitch belajar kembali tentang apa yang seharusnya dicarinya dan dicapainya.

“…kita sibuk dengan triliunan perkara kecil dalam rangka mempertahankan keberlangsungan semua itu. Maka kita tidak terbiasa berdiam diri sejenak untuk merenungkan hidup kita dan berkata, Hanya inikah? Hanya inikah yang kuinginkan? Adakah sesuatu yang hilang?” (p.69)

Mitch merekam semuanya, mulai dari masalah dunia, penyesalan, kematian, keluarga, emosi, uang, menjadi tua, budaya, dan segala permasalahan hidup yang umum kita alami. Semuanya terangkum dalam satu buku ini, Tuesdays with Morrie, yang sekaligus merupakan tesis akhirnya dengan sang guru. Dengan demikian, sejatinya kuliah setiap hari Selasa itu bukan hanya untuk Mitch, tetapi telah diikuti pula–secara tidak langsung–oleh pembaca buku ini.

Profesor Morrie Schwartz, telah mengalahkan penyakitnya dengan cara ini. Meski tubuhnya tak berdaya, tetapi dia memberi makna bagi banyak orang dengan pemikirannya. Meski dia tak bisa memberi kuliah di universitas karena penyakitnya, tetapi dia telah memberi kuliah bagi dunia melalui penyakitnya.

Sebuah kisah nyata, mutiara kebijaksanaan dari seorang yang sedang menghadapi ajalnya, tentunya mampu menyentuh sisi-sisi yang peka dari kesadaran kita. Bahwa ada sesuatu yang baru kita sadari saat kita dihadapkan pada maut. Melalui Mitch, Morrie berharap bahwa setiap orang mampu menyadari banyak hal lebih awal, saat dirinya masih kuat untuk melakukan lebih banyak hal pada sekitarnya.

Buku ini juga dapat menjadi penguat orang-orang yang sedang memerangi penyakit ataupun ancaman kematian.

“Kematian sama alaminya dengan hidup itu sendiri. Bagian dari proses yang kita jalani.” (p.184)

Pada awalnya, buku ini terasa sedikit membosankan. Mungkin karena hanya terdiri atas susunan-susunan peristiwa, atau karena ‘kuliah’ yang saya harapkan belum saya temukan sampai sekian puluh halamannya. Akan tetapi, begitu masuk ke dalam buku ini dan menerima ‘kuliah’ Morrie Schwartz satu demi satu, rasanya sulit untuk melepaskannya sampai akhir halaman.

Kuliah ini tak akan pernah berakhir. (p.207)

Nilai 4/5 untuk pelajaran hidup seumur hidup.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s