Bumi Manusia – Antoine de Saint-Exupéry

Judul buku : Terre des Hommes / Wind, Sand and Stars / Bumi Manusia
Penulis : Antoine de Saint-Exupéry
Penerjemah : Ida Sundari Husen
Editor : Jean-Pascal Elbaz
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Desember 2011 (cetakan pertama)
Tebal buku : 224 halaman

Bumi Manusia (Terre des Hommes) adalah buku kedua Antoine de Saint-Exupéry yang saya baca. Awalnya saya berekspektasi menemukan kisah semacam Pangeran Kecil (Le Petit Prince), tetapi kemudian saya ingat bahwa Pangeran Kecil adalah, kalau tidak salah, satu-satunya karyanya yang ditujukan untuk anak-anak (meski kenyataannya banyak pesan dewasa yang tersirat di dalamnya).

Agak sulit menerima pesan buku ini di awalnya, kisah tentang latar belakang profesi Saint-Exupéry sebagai penerbang. Apalagi dalam edisi terjemahan pertama ini saya menemukan beberapa kesalahan ketik dan pemilihan kata yang janggal, sehingga menyebabkan fokus saya terpecah. Setelah mencoba bertahan dan melanjutkan membaca, ternyata banyak sekali yang saya temukan di dalamnya, dan lebih banyak lagi yang belum saya temukan.

Bumi Manusia ini menceritakan bagaimana Saint-Exupéry memandang bumi dari sudut pandangnya sebagai penerbang. Dia melihat banyak hal yang tak dilihat banyak orang; bagaimana kecilnya seorang raja yang hanya melihat jalanan lurus di negerinya yang sejatinya penuh kelokan bila dilihat dari langit, apa arti persahabatan bagi orang-orang yang pertemuan dan perpisahannya tidak dapat diprediksi, bagaimana makna menjadi seorang manusia, apa arti kebahagiaan sejati, dan masih banyak lagi mutiara yang terpendam di antara alunan kalimat-kalimatnya yang sarat makna.

“Kehidupan mungkin memisahkan kami dari teman-teman itu, mencegah kami untuk terus-menerus memikirkan mereka, tetapi mereka ada di suatu tempat entah di mana, diam dan terlupakan, tetapi begitu setia!” (p.39)

“Hanya hal yang tidak diketahui yang ditakuti orang. Tetapi bagi siapa yang harus menghadapinya, hal itu bukan lagi sesuatu yang tidak dikenal.” (p.55)

Saint-Exupéry menceritakan orang-orang dengan kehidupannya dan pengalamannya yang menjadikan mereka ‘manusia’, yang membuat mereka menemukan dirinya setelah kesulitan-kesulitan yang dialaminya. Kemudian, setelah pelajaran hidup itu diserapnya, dia mengalami sendiri sebuah peristiwa sulit. Saat dimana dia terjebak di gurun antah-berantah setelah terjebak di kegelapan malam dalam awan tebal.

“Aku sangat memerlukan melihat bahwa segalanya sederhana. Dilahirkan itu sederhana. Menjadi besar juga sederhana. Mati kehausan pun sederhana saja.” (p.156)

“Tetapi bagaimana jika aku ingin menceburkan diri dalam fatamorgana? Bagaimana jika aku ingin mempunyai harapan? Bagaimana kalau aku senang melihat benteng-benteng kota yang berlobang-lobang dan bertameng matahari? Bagaimana jika aku ingin berjalan lurus ke depan, dengan langkah ringan karena aku tidak lelah lagi, karena aku bahagia…” (p.164)

Begitulah buku ini menurut saya, mengumpulkan kebijaksanaan yang terserak dalam pemikiran sang penulis. Menggali lebih dalam dari apa yang sekedar terlihat oleh mata. Saint-Exupéry bukan hendak menyombongkan kekuatan dan kejayaannya, bukan hendak memamerkan pengalamannya dan teman-temannya, bukan pula sekedar berbagi tanpa tujuan. Jauh dalam tulisan-tulisannya, dia menyimpan sebuah harapan akan manusia-manusia yang mampu menemukan dirinya, yang mampu menemukan kebenaran dan menjadikannya ‘manusia. Mungkin kutipan-kutipan di atas sudah berbicara banyak, tetapi saya ingin menambahkan penutupan cantik dalam buku ini.

“Yang merisaukan hatiku bukanlah lubang-lubang, tonjolan-tonjolan ataupun keburukan rupa itu, melainkan sedikit Mozart yang terbunuh dalam diri setiap orang.” (p.218)

Segala hal-hal kecil yang tak tampak oleh kita tapi disajikan dengan apik, dikurangi edisi terjemahan yang kurang rapi, 4/5 untuk Bumi Manusia.

NB : Beberapa waktu setelah membaca buku ini, saya berkesempatan untuk terbang. Dan kesannya luar biasa, mengingat penerbangan terakhir saya adalah saat saya masih terlalu kecil untuk mengingat maupun berpikir. Saya melihat betapa kecilnya manusia, dan betapa luasnya “bumi manusia” ini. Beberapa saat saya membayangkan duduk di kursi pilot di cockpit, bagaimana rasanya mengenali “jalan-jalan” di bawah sana demi membawa pesawatnya ke tujuan. Jalan-jalan yang maha luas di bawah, tetapi terlihat sangat sederhana dari atas. Sebagaimana digambarkan Saint-Exupéry dalam buku ini, mengenai tanah perkebunan, sungai, laut, dan hal-hal kecil yang harus dipahami setiap penerbang. Bukan sesuatu yang ada dalam peta, tetapi sesuatu yang didapat dari pengalaman.

6 responses to “Bumi Manusia – Antoine de Saint-Exupéry

  1. Cihuuuy, terbang kemana nih mba?

  2. Boleh pinjam foto sampulnya buat dipampang di blog lain? (walaupun sudah dipampang sebelum dapat konfirmasi.)

  3. Pingback: Courrier Sud – Antoine de Saint-Exupéry | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s