9 Summers 10 Autumns – Iwan Setyawan

Judul buku : 9 Summers 10 Autumns (Dari Kota Apel ke The Big Apple)
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Februari 2011
Tebal buku : 221 halaman

Kisah nyata perjalanan seorang anak sopir angkot di kaki Gunung Panderman, Kota Batu, Jawa Timur. Iwan, satu-satunya anak laki-laki di keluarganya, menjadi tumpuan keluarga, dan akhirnya sukses menjadi direktur di sebuah perusahaan di New York City.

Iwan menceritakan bagaimana rumah sederhana tempatnya dibesarkan, bagaimana kesederhanaan ternyata dapat membawa kedamaian dan kebahagiaan, bagaimana rasa persaudaraan dan kekeluargaan begitu erat di dalamnya. Setelah menceritakan satu per satu anggota keluarganya, dia menceritakan mengenai perjalanannya. Pertama kali hidup jauh dari keluarga untuk kuliah di Bogor, menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar zona amannya, sampai memasuki dunia kerja di Jakarta, dan pada akhirnya mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di New York City dan melanjutkan karir di sana.

Buku ini ditulis dari sudut pandang si penulis sendiri sebagai orang pertama, akan tetapi ada yang berbeda. Ada sosok seorang bocah berseragam SD yang tidak jelas siapa dan apa peranannya. Saya menduga bocah itu adalah personifikasi dari hati nurani si penulis. Meskipun dalam kisah disebutkan bahwa ada kontak fisik secara nyata antara penulis dan bocah itu, tetapi karena tak ada tanda-tanda halusinasi ataupun ilusi, maka saya anggap itu adalah pengembangan cerita saja, walaupun rasanya aneh karena dalam novel semacam ini tersisip suatu hal yang sulit ditangkap logika.

Buku ini mengandung banyak pesan yang harus diserap sendiri oleh pembaca. Tampaknya, meskipun memutuskan untuk menuliskan kisahnya, penulis tidak membuatnya terlalu dalam. Saya pribadi kurang bisa merasakan emosi dalam kisah ini. Akan tetapi ada kalimat yang membuat saya yakin bahwa kisah ini tak seperti kelihatannya.

Menulis kembali kenangan masa lalu butuh sebuah keberanian. Banyak lembaran ingatan yang tak berani aku sentuh, karena melankoli yang muncul bisa meledak dan tak ada kekuatan diriku untuk meredamnya. (p.23)

Butuh keberanian untuk menceritakannya, ada emosi yang mewarnai tiap lembaran kisah ini. Entah penyampaiannya yang kurang, atau penulis sendiri yang tidak ingin membuatnya terlalu emosional. Yang jelas, untuk orang yang tidak pernah mengalami pengalaman yang serupa, kisah ini akan terasa datar-datar saja. Dengan sedikit pemahaman dan rasa empati, saya bisa tahu beratnya kehidupan penggemar Dostoevsky ini. Tahu, tapi tidak merasakan sepenuhnya.

Aku telah menyimpan kisah ini begitu lama, dan baru sore ini aku bisa berdamai dan melepaskan kisah ini.

Aku lega. (p.28)

By the way, saya suka apel, 3/5 untuk inspirasi dan keberanian.

4 responses to “9 Summers 10 Autumns – Iwan Setyawan

  1. Untuk gaya berceritanya kalo di bandingin sama N5M enakan mana?

  2. @Oky : kalau ini pengarangnya menceritakan dari sudut pandangnya sendiri (Iwan) jadi kita seperti membaca biografi gitu, tapi di N5M dia memakai tokoh yang lain, yaitu Alif jadi seperti perpaduan antara cerita fiksi dan cerita fakta….

    @Bzee : abak SD itu sebagai penggambaran dari isi hatinya Iwan yang terlalu malu atau sungkan dia ungkapkan… kayak waktu anak SD itu bilang dia rindu bapak, sebenarnya yang rindu itu Iwan, tapi dia malu untuk bilang….

    • selain sudut pandang ada perbedaan lain kah?
      yup, tentang anak berseragam SD jg sdh kusebutkan “personifikasi dari hati nurani si penulis”🙂
      Makasih tambahannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s