Character Thursday (4)

Hari Kamis untuk Character Thursday, sebagai pengingat:
Character Thursday
– Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
– Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
– Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
– Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.
Syarat Mengikuti :
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah post Fanda Classiclit. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Untuk hari ini, saya membawa dua karakter wanita utama dari buku:

Therese Raquin dan Mme Raquin.

Mme Raquin adalah seorang janda berputra satu yang sakit-sakitan. Suatu hari, saudara laki-lakinya membawa Therese, putrinya dari seorang wanita di daerah Afrika, yang tak sanggup dirawatnya. Mme Raquin membesarkan Therese seperti anaknya sendiri, dalam arti yang sebenarnya. Therese diperlakukan seperti anaknya yang sakit, dia harus tinggal di rumah pada hari yang dingin dengan selimut, minum obat-obatan, dan juga kasih sayang yang sama. Hingga pada saat mereka beranjak dewasa, Mme Raquin menikahkan anak dan keponakannya tersebut.

Tumbuh dengan cara seperti itu, Therese menjadi anak yang tertutup. Hasratnya baru terbuka saat dia bertemu dengan laki-laki bertubuh kokoh yang jauh lebih menarik dari suaminya sendiri yang kurus karena sakit-sakitan. Akan tetapi, dia kemudian terjerumus dalam hal yang justru menghancurkan hidupnya. Jiwanya yang sudah rapuh karena tumbuh dalam pendidikan yang tidak sesuai menjadikannya mudah ‘sakit’ oleh tekanan.

Sedangkan Mme Raquin sebenarnya tidak digambarkan sebagai seorang ibu yang sempurna. Dia mencurahkan kasih sayang dengan harapan, agar di masa tuanya dia bisa menghabiskan hidup yang bahagia, mengharapkan balas jasa dari anak-anaknya. Dia adalah tipe ibu yang yakin dengan pendapatnya sendiri, hingga menutup mata atas fakta yang tersaji di depan matanya. Pada akhirnya, dia sendiri yang merasakan derita karena keponakannya yang tak sempurna pembentukan emosi jiwanya.

Di dalam buku ini sebenarnya tidak ada tokoh yang ‘baik’, menurut saya. Semua karakter dalam buku ini adalah penonjolan dari sisi buruk manusia, sisi keji, sisi gelap, sisi yang memuakkan.

Therese Raquin sudah beberapa kali diangkat dalam teater, film, maupun serial televisi. Kabarnya, tahun 2012/2013 ini akan ada film adaptasi terbaru dari kisah ini.

Giacinta Pezzana sebagai Mme Raquin dalam Teatro dei Fiorentini tahun 1879 di Italia.

Simone Signoret sebagai Therese Raquin dalam film adaptasi berjudul The Adultress tahun 1953.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Glenn Close dan Elizabeth Olsen yang akan memerankan Mme dan Therese Raquin dalam film adaptasi yang terbaru.

Siapa karaktermu minggu ini? Gabung Character Thursday yuk.

2 responses to “Character Thursday (4)

  1. Ups…Elizabeth Olsen jadi Therese Raquin? Hmmm…. lihat aja deh nanti.
    Tapi aku kagum sama cara Zola “meneliti” apa yg akan terjadi pada karakter masing2 bila dihadapkan pada suatu masalah. Hebat!

    • hidup ini memang pilihan, di buku ini Emile Zola menampilkan pilihan terburuk dan hasil terburuk.. bener2 ga nemu hal klise atau fiksi yg sesuai harapan, terlalu nyata, hmm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s