Playing “God” – Rully Roesli

Judul buku : Playing “God”
Penulis : Rully Roesli
Penyunting : Rini Nurul Badariah
Penerbit : Penerbit Qanita, Januari 2012 (cetakan pertama)
Tebal buku : 200 halaman

Sebuah memoar dari profesor penyakit dalam ahli ginjal dalam perjalanannya saat harus mengambil keputusan sebagai seorang dokter. Beliau menyadari bahwa dalam masyarakat kita, ekonomi masih merupakan kendala dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang semestinya. Beliau tidak menutup mata bahwa banyaknya bantuan yang disediakan untuk pelayanan kesehatan masih jauh di bawah jumlah pasien yang membutuhkannya.

Bagaimana dengan orang miskin yang tidak masuk kriteria BPS? Siapa yang membiayai orang yang tidak miskin, tapi tidak kaya? Siapa yang membiayai kelompok “sadikin” (sakit jadi miskin)? Bukankah biaya pengobatan sangat besar, dan berlangsung seumur hidup? (p.45)

Kemudian ujung-ujungnya, pasien-pasien tersebut harus ‘dikorbankan’. Mereka terpaksa pulang tanpa perawatan yang semestinya. Sebagian dari mereka akan meninggal karena penyakitnya, bahkan tidak sedikit yang memilih mengakhiri sendiri hidupnya karena frustasi akan penyakit kronis yang dideritanya.

Dalam hal inilah penulis menceritakan bagaimana seorang dokter harus ‘Playing God’. Bagaimana memilih pasien yang diutamakan untuk memperoleh bantuan dana, mana pasien yang harus dinomorsekiankan, atau bahkan keputusan kecil yang ternyata mampu mengubah hidup pasien tersebut. Bukan hanya dokter, keputusan dari pasien itu sendiri, maupun keluarganya, juga turut berperan dalam ‘Playing God’ ini. Apakah pasien atau keluarganya bersedia melanjutkan pengobatan meski tercekik ekonomi, atau membiarkan saja penyakit itu menggerogoti tubuhnya karena tak punya biaya, bahkan mengambil jalan pintas untuk keluar dari penderitaan di dunia.

Salah satu yang cukup berkesan dalam kisah ini adalah saat penulis mengambil keputusan untuk membuat surat pernyataan palsu demi kepentingan pasiennya. Sungguh pergolakan batin yang pasti sulit. Di satu sisi dia melanggar kode etik, di sisi lain dia memberi harapan untuk kelangsungan hidup pasiennya. Setelah ternyata keputusan itu diambil, dan baik dokter maupun pasiennya selamat, saya tergelitik oleh pertanyaan. Seandainya sang dokter menolak untuk membuat surat pernyataan palsu tersebut, akankah Tuhan membuka jalan lain untuk menyelamatkan hidup pasien tersebut? Wallahu a’lam.

Pertanyaan serupa juga muncul saat penulis berniat untuk ‘membiarkan’ pasiennya meninggal karena harapan perawatan berikutnya sangat kecil, lagi-lagi soal biaya. Akan tetapi, hati nurani penulis tak bisa meneruskannya, beliau tetap memberikan pertolongan gawat darurat yang pada akhirnya membawa masalah yang ditakutkan tersebut. Tanpa diduga, pasien tersebut akhirnya mendapat pertolongan dari seorang dermawan, dan berlanjut pada jalan yang mulai terbuka satu per satu. Masalahnya terjawab, Tangan Tuhan bekerja dari arah yang tak disangka-sangka. Subhanallah.

Penulis menggambarkan bagaimana dilema dalam hati dan profesi seorang dokter. Dokter yang harus siaga setiap saat, tak peduli apakah dia sudah beristirahat atau belum, jika tugas memanggil, sulit untuk mengelak. Terutama dokter ahli yang jumlahnya masih sedikit sehingga sulit untuk mencari akses ke dokter lain. Kalau pun ada dokter lain, terkadang pasien pun tak yakin jika bukan dengan dokter langganannya. Padahal dokter juga manusia, yang tak melulu menunggu orang sakit, yang tak bisa diprediksikan waktunya. Dokter butuh istirahat, butuh hiburan, juga butuh belajar.

Mungkin hanya dokter yang untuk menambah ilmu diatur oleh undang-undang. (p.160)

Penulis sendiri menampilkan sosok dokter yang bersahaja dan berdedikasi. Dan ada peran seorang ibu di baliknya. Ibu beliau adalah seorang dokter umum yang disegani pada masanya. Beliau mewariskan hartanya yang paling berharga pada anak-anaknya, ilmu dan kebijaksanaan.

“…jangan mengandalkan harta. Dalam sekejap bisa lenyap. Andalkanlah ilmu. Dengan ilmu, kamu bisa mencari harta lagi.” (p.33)

“Tuhan berilah anakku kepasrahan untuk menerima suatu keadaan yang tidak dapat diubahnya. Keberanian untuk melakukan perubahan untuk keadaan yang bisa diubahnya. Kebijaksanaan untuk dapat membedakan keduanya.” (p.37)

Cucu dari sastrawan Marah Roesli dan kakak dari musisi Harry Roesli ini merangkum pengalaman berharganya dalam sebuah buku. Buku kecil yang memiliki makna yang tidak kecil. Beliau menggali banyak hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, terutama orang yang tidak tahu mengenai profesi dokter. Bahasanya runtut, mudah dimengerti dan beliau juga mampu menelaah dalam sudut pandang yang positif. Akan tetapi, hubungan per bab dalam buku ini kurang, sehingga terkesan seperti penggalan kisah-kisah.

Mencerahkan, 4/5 bintang untuk hidup dan kemanusiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s