Ma Yan – Sanie B. Kuncoro

Judul buku : Ma Yan
Penulis : Sanie B. Kuncoro
penyunting : Rahmat Widada
Penerbit : Penerbit Bentang, Mei 2011 (cetakan pertama)
Tebal buku : viii+228 halaman

Perjuangan dan Mimpi Gadis Kecil Miskin di Pedalaman China untuk Meraih Pendidikan. Itulah subjudul yang tertera di sampul buku ini. Dan begitu pula lah isinya. Ma Yan, adalah putri sulung dari pasangan keluarga miskin di daerah terpencil di China. Saking terpencilnya, dikatakan bahwa orang tak mungkin datang ke sana secara tidak sengaja. Selain itu, daerah tersebut mengalami kekeringan berkepanjangan akibat kebijakan pemerintah sebelumnya, sehingga meskipun bermata pencaharian sebagai petani, penduduk desa tersebut hampir tak bisa menghasilkan bahan pangan apapun untuk dijual.

Ma Yan dan adik laki-lakinya harus berjalan kaki ke sekolah sejauh dua puluh kilometer. Asrama sekolah hanya menyediakan semangkuk nasi setiap harinya dari beras yang dibawa anak-anak sebagai biaya sekolah. Ma Yan pulang ke rumah pada hari Jumat siang, dan kembali ke sekolah di hari Minggu. Sebagai bekal lima hari di asrama, ibunya hanya membekalinya dengan uang satu yuan yang hanya bisa digunakan untuk membeli sayur ala kadarnya, dan lima buah roti kukus untuk makan malam selama seminggu. Pada pagi hari, dia hanya mengganjal perutnya dengan teh panas yang disediakan di dapur asrama.

Suatu ketika, Ma Yan sangat ingin membeli pena. Harganya dua yuan. Dia sadar benar bahwa orang tuanya tak mungkin memiliki uang lebih dari satu yuan per minggu untuk diberikan kepadanya, sementara untuk makan pun ibunya masih harus berhitung dengan teliti. Dia pun menahan perut dan lidahnya untuk tidak membeli sayuran sampai perutnya mual karena hanya diberi nasi tawar setiap hari. Dengan perjuangan seperti itu, dia baru bisa memiliki sebuah pena seharga dua yuan.

Suatu ketika, pengeluaran keluarga itu harus ditekan sedemikian rupa sehingga ada yang harus dikorbankan. Tidak ada jalan lain selain menekan biaya sekolah. Sebagai perempuan, Ma Yan lah yang menjadi korban pertama. Akan tetapi, tekad gadis kecil itu sedemikian kuatnya, dia memohon kepada ibunya untuk dicarikan jalan agar tetap bisa bersekolah. Ibunya pun tak tega melihat Ma Yan, gadis kecilnya yang cerdas dan sungguh-sungguh dalam belajar, harus bernasib sama sepertinya. Diam-diam, kedua ibu dan anak ini memiliki keyakinan yang sama bahwa hanya dengan pendidikan mereka bisa keluar dari kemiskinan dan penderitaan yang mereka akrabi selama ini.

Kisah ini merupakan gambaran nyata dari masyarakat miskin yang jumlahnya masih banyak. Entah itu di negeri China, tempat yang diceritakan dalam buku ini, atau bahkan negara kita sendiri. Semangat gadis kecil untuk terus belajar demi masa depan, dan perjuangan tak kenal lelah dari seorang ibu demi anak-anaknya, sungguh merupakan hal yang patut diteladani. Sebenarnya kisah ini diangkat dari kisah nyata, tetapi sepertinya penulis menceritakan sendiri menurut versinya. Jadi mungkin masih dalam kategori fiksi.

Penulis memiliki kepiawaian tersendiri dalam menyusun kalimat-kalimatnya sehingga enak dibaca tetapi tetap indah. Akan tetapi, masih ada beberapa pengulangan yang tampaknya kurang perlu. Yang paling mencolok adalah persamaan analogi surat dalam botol yang digunakan oleh ibu Ma Yan, yang notabene tidak berpendidikan, dengan Pierre Haski, seorang jurnalis yang menceritakan kisah Ma Yan pada dunia. Kesannya seolah-olah mereka memiliki sudut pandang yang sama, padahal dunia yang mereka jalani jauh berbeda.

3/5 untuk pendidikan dan hak perempuan.

7 responses to “Ma Yan – Sanie B. Kuncoro

  1. Ini yg gubahan mbak Sanie ya? katanya ada naskah asli yang lebih tebal? diksinya berbunga-bunga ngak as usual karya2 mbak Sannie?

  2. Ternyata di sana juga masih ada kondisi2 kayak di Indonesia ya. Tapi sepertinya di Indonesia masih jauh lebih banyak, hehe🙂

    • hehe, kok gitu, di sana 1 milyar lho penduduknya, kita cuma seperempatnya. Tapi sepertinya kebijakan pemerintahnya yg ‘lebih’ di sana

  3. Sanie B Kuncoro

    Naskah aslinya disusun Pierre Haski dari diary Mayan, lebih berupa laporan jurnalis sehingga terkesan ‘berat’ dibaca, apalagi untuk anak-anak.
    Maka harus diolah sedemikian rupa dengan beberapa metafor demi supaya lebih mudah dimengerti dan tingkat keterbacaannya tinggi bagi pembaca muda.
    Terimakasih ya telah mengapresiasi buku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s