Nights in Rodanthe – Nicholas Sparks

Judul buku : Nights in Rodanthe (Malam-Malam di Rodanthe)
Penulis : Nicholas Sparks (2002)
Penerjemah : Marina Suksmono
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, November 2006
Tebal buku : 308 halaman

“Aku hanya berharap kau berlari mengejar sesuatu, bukan menghindari sesuatu.” (p.46)

Kehidupan pernikahan Adrienne memang tidak berhasil, dia ditinggalkan oleh mantan suaminya demi wanita lain yang lebih muda. Meskipun begitu, dia tetap bertahan membesarkan ketiga anaknya hingga berhasil. Akan tetapi masalah baru muncul ketika anak keduanya, Amanda, tiba-tiba harus menjanda karena suaminya meninggal dunia. Pukulan ini tidak hanya mengancam putri satu-satunya itu, tetapi juga cucu-cucunya dari Amanda. Untuk membangkitkan Amanda kembali, Adrienne ‘terpaksa’ mengungkit masa lalunya yang terpendam. Kisah cinta ‘rahasia’nya saat berada di Rodanthe.

Dalam masa-masa keputusasaan, Adrienne menyanggupi permintaan temannya untuk menjaga penginapan miliknya di Rodanthe. Dengan satu-satunya tamu bernama Paul Flanner, yang memiliki masalahnya sendiri. Oleh karena hanya tinggal berdua saja, mau tidak mau mereka melakukan banyak hal berdua. Akan tetapi bukan hanya itu, sejak awal telah ada ketertarikan tersembunyi di antara mereka berdua. Adrienne dan Paul pun mulai berbagi kisah dan rahasia, sampai mereka sadar bahwa ada suatu ikatan kuat di antara mereka yang sulit untuk diabaikan.

Meski saling membutuhkan, tetapi perjalanan kisah janda dan duda ini tidak semulus yang diharapkan. Suatu hal memisahkan mereka, dan suatu hal mencegah mereka bersatu kembali. Inilah yang dijadikan alasan bagi Adrienne untuk menceritakan rahasia terbesarnya pada Amanda. Rahasia yang mengubah hidupnya untuk selamanya. Rahasia yang mendewasakannya kembali dalam hal cinta, yang diharapkannya mampu mendewasakan anaknya juga.

Sekarang ini orang tak habis-habisnya bicara tentang indahnya masa muda, tapi Adrienne tak punya keinginan menjadi muda lagi. Setengah baya, mungkin, tapi bukan muda. Betul, dia kehilangan beberapa hal–melompati anak tangga, membawa lebih dari sekantong belanjaan sekaligus, atau punya cukup tenaga untuk mengimbangi cucu-cucunya ketika mereka berlarian keliling rumah–tapi dengan senang hati dia bersedia menukar semua itu dengan pengalaman-pengalaman yang didapatnya, dan pengalaman-pengalaman itu hanya bisa diperoleh lewat bertambah usia. (p.14)

Seperti buku-buku Nicholas Sparks pada umumnya yang berusaha menggambarkan cinta sejati, begitu pula buku ini. Tentang bagaimana menerima takdir dan memaafkan masa lalu. Melanjutkan hidup dengan kesadaran bahwa setiap manusia itu berharga. Dalam buku ini, penulis juga menyoroti cinta dalam keluarga, bagaimana sesuatu hal yang terpenting bagi orang tua, yaitu anak-anaknya, bisa mengalahkan segalanya. Tentang bagaimana seorang anak selalu terlambat mengerti orang tua mereka, tidak sebelum mereka merasakan sendiri menjadi orang tua.

Satu hal lagi yang berkesan adalah cara menghadapi kesedihan yang diajarkan Adrienne pada Amanda.

“Kau tak bisa mengontrol emosi. Kau masih tetap akan menangis, kau masih tetap akan mengalami saat-saat ketika kau merasa tak sanggup melanjutkan hidupmu. Tapi kau harus bersikap seakan-akan kau mampu. Pada masa-masa seperti ini, tindakan adalah satu-satunya yang bisa kaukontrol.” (p.295-6)

Perpisahan memang menyakitkan. Kisah ini memang tragis. Tapi Sparks membuat tokohnya bisa menyikapinya dengan indah. 4/5 untuk cinta sejati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s