Mockingjay – Suzanne Collins

Judul buku : Mockingjay
Penulis : Suzanne Collins (2010)
Penerjemah : Hetih Rusli
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, April 2012 (cetakan ketiga)
Tebal buku : 432 halaman

PERHATIAN : Bagi yang belum membaca buku pertama dan kedua The Hunger Games disarankan tidak membaca review ini JIKA Anda berniat membaca trilogi ini tanpa kehilangan kejutannya.

Review buku 1 : The Hunger Games
Review buku 2 : Catching Fire

Sudah tidak ada lagi Distrik 12, keadaan distrik-distrik lain pun dalam taraf yang mengkhawatirkan. Capitol menunjukkan taringnya, bahwa melawan berarti hancur. Tapi masih ada Distrik 13, yang selama 75 tahun telah dianggap musnah, ternyata diam-diam membangun kekuatannya di bawah tanah. Katniss beserta penduduk Distrik 12 yang tersisa–termasuk Gale, Prim dan ibunya– serta pemberontak dari Capitol, tinggal di Distrik 13.

Distrik 13 bukan tempat yang nyaman bagi orang luar, semua kegiatan mereka terjadwal, semua kebutuhan serba dihemat, bagi yang tak terbiasa–terutama orang-orang Capitol yang terbiasa hidup serba ada–rasanya sangat tidak nyaman. Setelah semua yang dialaminya dari dua Hunger Games dan keadaan kampung halamannya, Katniss menjadi sangat tidak stabil. Apalagi keadaan Peeta yang berada di tangan Capitol belum diketahui.

Sementara itu, Katniss, setelah melalui tawar-menawar dengan Presiden Coin–pemimpin Distrik 13–bersedia untuk menjadi Mockingjay, simbol pemberontakan. Mereka mulai dari menyatukan distrik-distrik yang masih tersisa dalam kelompok pemberontak, menyusup ke siaran Capitol demi menunjukkan kekuatan para pemberontak, serta sang Mockingjay, dan mengirim tim khusus untuk membebaskan tawanan Capitol, yang berhasil membawa Peeta, meski dalam kondisi yang tidak utuh.

Misi yang sebenarnya adalah masuk ke Capitol, mengambil alih kekuasaan dari Presiden Snow, dan meneriakkan revolusi. Di sinilah cerita mulai membuatku sulit mengambil napas.

Dari awal, buku ketiga ini sudah penuh dengan kejutan-kejutan yang membuatku tidak rela untuk meletakkannya. Melelahkan, mempermainkan emosi dan jiwa, rasanya ingin cepat-cepat selesai. Sampai pada halaman-halaman akhir, aku sudah kehabisan napas.

Aku bisa merasakan kerinduan pada Cinna, yang tiba-tiba kukagumi di sini, aku juga bisa melihat ikatan-ikatan yang kuat di antara para pemenang Hunger Games yang masih hidup. Teman-teman baru yang rela mengorbankan diri demi Katniss, sementara dia sendiri sepertinya masih jauh dari berpikir dan bertindak dewasa.

Aku menyesali apa yang terjadi akhirnya, bahwa ternyata apa yang terjadi setelah pemilihan peserta Hunger Games yang ke-74, dan yang terjadi saat ini ternyata berakhir sama, dengan perkecualian korban nyawa yang jauh lebih banyak.

Aku sedih dan putus asa, karena aku sendiri jadi kehilangan harapan akan sesuatu yang baik jika kita mau berjuang. Akan tetapi, pada akhirnya penulis mengakhirinya dengan cantik. Tepat setelah adegan paling menyayat hati, kemudian segalanya berjalan sesuai yang seharusnya, hidup harus terus berlanjut. Mau bilang apa lagi, meski tampaknya Katniss tidak mengalami perubahan sifat yang drastis setelah semua yang menimpanya, mungkin memang seharusnya seperti itu. Paling tidak, banyak pelajaran tersirat, kitalah yang harus jeli menangkap dan meresapinya.

Setidaknya ada beberapa poin yang kutangkap dari ke’tega’an Suzanne Collins ini:

  1. Pembunuhan tak kenal ampun para karakter penting yang sudah melekat dalam hati pembaca, sebenarnya adalah caranya untuk menunjukkan bahwa tidak ada kematian yang tidak penting. Dalam perang, kecelakaan, bencana alam, kadang kita kurang bisa berempati dengan para korban yang ‘biasa’, yang tidak kita kenal sebelumnya. Padahal sesungguhnya mereka semua punya keluarga, mereka punya orang-orang yang menyayangi dan membutuhkan mereka. Di sinilah, di trilogi ini, kita tahu rasanya, jika belasan, puluhan orang yang meninggal adalah orang yang penting untuk kita, yang punya tempat di hati kita.
  2. Sekuat apa pun seorang Katniss, sehebat apa pun dia menghidupi keluarganya di usianya yang sebelas tahun, dia tetaplah seorang remaja yang labil. Dia masih anak-anak ketika ditinggalkan oleh ayahnya, ibunya pun tak bisa menjalankan perannya dengan baik. Katniss menjadi dewasa sendirian, tanpa panutan. Yang dimilikinya hanya Gale, yang juga seorang anak-anak. Sampai remaja mereka dibiarkan begitu saja. Tumbuh dan berkembang tanpa figur orang dewasa yang mapan dan stabil tidak akan pernah sama. Akibatnya, saat dia didera oleh segala macam hal di Hunger Games dan Capitol, dia tidak bisa mengkompensasinya dengan baik. Tidak ada anak yang menjadi baik dan sempurna tanpa pendidikan yang baik.
  3. Soal akhirnya, mau tidak mau aku teringat pada sebuah moral, bahwa sekeras apa pun kita berusaha, jika takdir berkata ‘itu’, maka tak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya. Bahwa manusia itu berbatas, ada kekuatan yang lebih besar yang menentukan segala-galanya.

Sejujurnya, aku tidak tahu harus memberi berapa bintang untuk buku ini. Tapi di goodreads, aku menganugerahkan 5/5 untuk Mockingjay ciptaan Suzanne Collins.

Nyata atau tidak nyata?

17 responses to “Mockingjay – Suzanne Collins

  1. Buku ke-3 ini memang bikin ‘torn’ between good or bad review … dari segi ‘seru’ memang jauh banget dibandingkan kedua buku sebelumnya, tapi untuk pesan-pesan moral justru jauh lebih dalam dibahas di sini oleh penulis. Jika para penggemar sebelumnya yang mencari sekedar sensai, maka kebanyakan dari mereka kecewa berat dengan ending buku ke-3 ini. For me, it’s still a good books😀
    Btw, aq copas link postingannya ke fanpage BBI ya .

    • iya, ibaratnya buku ini ngajak kita ikut dewasa juga, dari buku 1 yg terasa ‘remaja banget’
      iya, makasih

  2. astridfelicialim

    aku cukup puas sama ending trilogi ini…dan hubungan segitiga katniss-peeta-gale juga dibahas cukupan lah disini, nggak lebay2 banget hehehe

  3. Yay, akhirnya selesai baca series The Hunger Games! Selamat!

    Hihi endingnya emang rada2 yaaa…
    Tapi emang bagus sih, begitulah aku ingin endingnya diakhiri. Jadi susah terlupakan deh saking jengkelnya haha

  4. spoiler neh… walaupun gak terlalu suka buku pertamnya aku tetep beli lanjutannya smoga jalan ceritanya memang benar-benar menarik.^^

  5. belom baca satupun serial The Hunger Games…. *nangis dipojokan*

  6. waduh.. isi PERHATIAN di atas kayaknya ditujukan pada saya deh🙂
    belum baca. niatnya ntar kalau trilogi Millenium kelar.

  7. Hunger Games! salah satu buku seri favoritku :)) nice review😉

  8. belum bacaaa.. masih tertimbun😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s