1984 – George Orwell

Review in both Bahasa Indonesia and English.

Judul buku : 1984 (Nineteen Eighty-Four)
Penulis : George Orwell (1949)
Penerjemah : Landung Simatupang
Penerbit : Bentang Budaya, Desember 2003 (cetakan pertama)
Tebal buku : xi + 436 halaman

“Perhaps a lunatic was simply a minority of one.”

“Kebebasan ialah kebebasan untuk mengatakan bahwa dua tambah dua sama dengan empat. Jika itu dijamin, semua yang lain mengikuti.” (p.110)

Buat saya, buku ini adalah buku masa depan. Tak peduli dibaca pada tahun berapa pun, meskipun yang tertulis adalah tahun 1984, tapi segala yang tergambar adalah gambaran masa depan. Mungkin itulah yang menjadikan buku ini klasik, buku ini tak pernah ketinggalan zaman. Lagipula, tak ada yang tahu pasti kan.

“Dia duduk melorot. Perasaan tak berdaya yang begitu sempurna merasukinya. Pertama, dia sama sekali tidak tahu pasti bahwa ini memang tahun 1984. Tentulah ini sekitar tahun itu, karena dia cukup pasti bahwa usianya tiga puluh sembilan, dan yakin dia lahir tahun 1944 atau 1945; tetapi sekarang ini mustahil orang memastikan hari dan tanggal tertentu pada satu atau dua tahun yang silam.” (p.9)

Di tahun itu, dunia hanya terbagi atas tiga kekuasaan: Oceania yang mencakup Inggris, Amerika dan sebagian Afrika; Eurasia yang meliputi Eropa dan sebagian besar Asia; serta Eastasia yang terdiri atas Jepang, Cina, India, dan sekitarnya, mungkin juga Indonesia. Ketiga kekuatan itu saling berperang dan bersekutu, tak begitu jelas siapa berperang dengan siapa, atau siapa bersekutu dengan siapa. Keadaan bisa berubah, tetapi tak banyak pengaruhnya pada dalam negeri sendiri, karena masing-masing menganut prinsip bahwa tak boleh ada komunikasi antara penduduk negara yang satu dengan negara yang lain. Hal ini dimaksudkan sebagai kontrol pola pikir penduduknya akan arti kesejahteraan dan kemakmuran.

London, yang merupakan bagian dari negara Oceania, berada di provinsi Airstrip One (kemungkinan dulunya disebut Inggris, tak ada yang tahu pasti). Di sana hidup seorang pria di akhir usia tiga puluhan tahun bernama Winston Smith. Dari sudut pandangnya lah kita digiring untuk mengenal sistem yang berlangsung di Oceania, yaitu Sosing (Ingsoc), yang dipimpin oleh Bung Besar (Big Brother) sebagai pemimpin tertinggi Partai. Penduduk Oceania sendiri terbagi atas tiga kelompok, yaitu anggota Partai Inti yang hanya sekitar 2% dari seluruh penduduk, kemudian anggota Partai yang lebih rendah, dan kaum Prol yang mencakup sekitar 85% dari seluruhnya.

Anggota Partai hidup dalam aturan-aturan Partai. Mereka diawasi setiap saat, dengan teleskrin, yang bisa menangkap gerak-gerik dan suara, terpasang di setiap sudut rumah, kantor dan jalanan. Mereka tidak boleh menunjukkan gelagat meragukan ataupun mempertanyakan, apalagi menentang prinsip-prinsip Partai, jika tidak ingin berurusan dengan Polisi Pikiran. Dan tampaknya seluruh anggota Partai memang sudah terbiasa untuk menerima apa pun yang dikatakan oleh pimpinan tanpa mempertanyakan, meskipun hal itu bertentangan dengan apa yang sudah dikatakan sebelumnya atau pun kenyataannya. Inilah yang disebut dengan doublethink, pikir ganda, salah satu prinsip yang harus dijalankan tanpa dipertanyakan. Intinya Partai selalu benar. Meskipun Winston seorang anggota Partai, dia menentang Partai dalam pikiran, crimethink, Penjahat Pikiran.

“Doublethink means the power of holding two contradictory beliefs in one’s mind simultaneously, and accepting both of them.”

Berbeda dengan anggota Partai, kaum Prol tidak terikat oleh aturan-aturan ini. Di pemukiman mereka bebas dari teleskrin. Mereka juga tidak banyak bergaul dengan anggota Partai. Inilah salah satu hal yang membuat Winston percaya bahwa perubahan hanya bisa terjadi di tangan kaum Prol. Akan tetapi, tampaknya kaum Prol sekalipun tak menyadari apa yang sesungguhnya terjadi di dunia mereka. Mereka hanya disibukkan oleh hal-hal kecil dalam dunia mereka yang sudah berantakan.

“Sebelum mereka menjadi sadar, mereka tidak akan pernah berontak; dan sebelum mereka berontak mereka tidak pernah menjadi sadar.” (p.96)

Bahkan dari sesama anggota Partai yang juga memberontak, Winston tak bisa sepenuhnya membagi pikirannya. Dia seperti hidup sendirian dalam pemikiran yang berbeda.

“… Winston menyadari betapa mudah berlagak ortodoks sembari tidak paham sama sekali tentang arti ortodoksi. Dari segi tertentu, pandangan-dunia Partai tertanamkan secara paling sukses dalam diri orang-orang yang tidak mampu memahaminya. Orang-orang itu dapat dibikin menerima pemerkosaan realitas yang paling terang-terangan, karena mereka tidak pernah sepenuhnya memahami besarnya hal yang dituntut dari mereka, dan tidak punya cukup minat pada peristiwa publik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Karena kurangnya pemahaman, mereka dapat bertahan waras. Mereka sekedar menelan segala sesuatu, dan apa yang mereka telan bulat-bulat itu tidak mencelakakan mereka, karena tidak meninggalkan sisa dan limbah apa pun, persis seperti sebutir jagung yang akan keluar lagi tanpa dicerna melewati tubuh burung.” (p.215)

“Orthodoxy means not thinking–not needing to think. Orthodoxy is unconsciousness.”

Apakah yang terjadi kemudian? Apakah Winston bisa selamanya lolos dari Polisi Pikiran? Apakah gerakan pemberotak yang disebut Persaudaraan benar-benar ada? Apakah Winston akan berhasil keluar dari tatanan dunia yang sedemikian itu, dikurung, dikekang dan diawasi?

Buku ini diterjemahkan sedemikian rupa sehingga terkadang saya ‘kehilangan rasa’ bahwa ini buku terjemahan, terkesan seperti membaca sebuah sastra Indonesia. Penerjemahnya sangat piawai dalam merangkai kata-kata, bahkan tak jarang pula terselip kata-kata ‘aneh’ yang jarang saya dengar seperti sember (p.104), ngungun (p.139), sebat (p.153), barik (p.199), berendeng (p.216), bungkil (p.221), dan masih banyak lagi, termasuk kata-kata serapan dari bahasa daerah yang agak kurang familiar.

The ‘future’ world that there’s no freedom, no peace, everything is watched and controlled. Winston Smith with his ‘crime-thoughts’ that something was wrong. Life isn’t always like that, there was moments in the past when people lived in a better way, better world.

Honestly, I found it very hard to make this review. I can’t help myself for putting too many facts about Oceania, The Party, Winston, and the world that Orwell brought to this book. But, things are clear that this book give us a new perspective of life. Not quite new actually, it reminds us the nature of human being. While the powerful one wants more power, the weak needs guarantee of welfare and peace. Sounds familiar with our recent world, but more extreme and dramatic.

Bukankah memang selalu seperti ini, bahwa yang kuat berusaha mengendalikan yang lemah. Mengatur apa pun agar sesuai dengan kehendak dan kepentingannya. Dan kemudian, dengan segala hiruk-pikuk kekacauan itu, setidaknya kita masih bisa mengharapkan sedikit kebenaran.

“Being in a minority, even in a minority of one, did not make you mad. There was truth and there was untruth, and if you clung to the truth even against the whole world, you were not mad.”

Nilai 4/5 untuk dunia yang familiar tapi (semoga) tidak nyata seluruhnya.

Review #3 of Classics Club Project

Entered to The Classic Bribe 2012 Challenge & Giveaway

13 responses to “1984 – George Orwell

  1. wah dapat dimana mbak bukunya, aku masih cari nih🙂

  2. wah, ini termasuk buku wishlist saya–apalagi ini buku dystopia. Makin penasaran >.<

  3. Pingback: Character Thursday (13) « Bacaan B.Zee

  4. Pingback: What We Did Last Summer – The Classic Bribe Wrap-Up |

  5. Pingback: January Meme for The Classics Club | Bacaan B.Zee

  6. Pingback: First Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  7. Pingback: Down and Out in Paris and London – George Orwell | Bacaan B.Zee

  8. Pingback: Bookish Top Ten (2) : Literary Villains | Bacaan B.Zee

  9. min boleh tahu tentang kediktatoran? dan apa dampak negatif paling signifikan dari kediktatoran terhadap wiston? buat bahan skripsi saya

    • Maaf, ini blog pribadi, dan saya tidak punya kompetensi utk menjawab pertanyaan itu. Ada baiknya mencari di sumber yg lebih valid, seperti text book atau journal. Terima kasih.
      (Kalau sudah ketemu jawabannya boleh juga dishare di sini supaya saya & pengunjung blog ini ikut belajar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s