Pengantin Surga (Layla & Majnun) – Nizami Ganjavi

Judul buku : Pengantin Surga (The Story of Layla and Majnun / Layli o Majnun)
Penulis : Nizam Ganjavi (1180)
Penerjemah : Ali Nur Zaman
Penyunting : Salahuddien Gz
Penerbit : Dolphin, Juli 2012 (cetakan pertama)
Tebal buku : 250 halaman

Pada suatu masa di Arabia, seorang penguasa Badui dari Bani Amir memiliki seorang putra yang dikatakan ‘bersinar seperti rembulan di hari keempat belas’ (p.12) yang diberi nama Qays. Qays tumbuh sebagai pria yang rupawan dan berprestasi dalam seni baca-tulis. Hingga suatu ketika, dia terpikat pada seorang murid perempuan bernama Layla.

“Kalau dipandang, ia bagai rembulan Arabia. Di bawah bayang-bayang gelap rambutnya, wajahnya seperti nyala lentera, atau lebih tepatnya sebuah obor, dengan burung-burung gagak menjalin sayap-sayap di sekitarnya. Dan siapa menyangka jika suara yang merdu dan manis bisa mengalir dari bibirnya yang kecil? Mungkinkah mengobrak-abrik prajurit sejuta dengan sebutir gula? Gincu merah pun malu untuk memoles bibirnya.” (p.13)

Mereka pun menjalin kasih, begitu mabuknya hingga terlambat menyadari tatapan kejam dari dunia. Cinta yang memabukkan Qays membuat orang-orang menyebutnya sebagai Majnun, atau orang gila. Menyadari hal itu, orang tua Layla menganggapnya sebagai aib, lalu mengurung putrinya itu di rumah.

“Selamat tinggal! Lihatlah, anggur telah tumpah, gelas telah lepas dari genggaman, pecah berkeping-keping. Dari kebahagiaan, hanya pecahan yang tertinggal, dengan ujung tajam yang bisa menyebabkan luka mendalam. Tapi kalau kalian datang, jangan takut kakimu terluka. Banjir air mata telah menggelontor pecahan-pecahan beling itu jauh.” (p.37)

Akan tetapi, cinta kedua manusia itu tak bisa dipisahkan. Mereka tetap saling mencinta dan membutuhkan. Qays dalam kegilaannya, hingga tak sadar akan sekitarnya, berkeliaran di jalan-jalan, merobek-robek pakaiannya, hingga mengasingkan diri dari kehidupan beradab dan hidup bersama dengan alam. Dia tak ingat lagi pada keluarga, yang diingatnya hanyalah Layla, dengan kemampuan bersyair dan merangkai kata-kata indah, mengalun dari bibirnya menuju ke telinga Layla.

Sementara Layla sendiri dalam ketersiksaan di dalam kurungan, meski telah dinikahkan dengan seorang terhormat, tetapi tak sedikit pun dia menanggalkan kesetiaannya atas Qays. Dengan setia dia menanti sekedar puisi cinta dari kekasihnya itu.

Kisah Layla dan Majnun yang begitu ternama itu, baru dapat saya baca kisah utuhnya di buku ini. Akan tetapi, jangan mengharapkan kisah cinta yang indah, karena yang saya tangkap dari buku ini bukan kisahnya, tetapi lebih kepada hakikat cinta serta rangkaian kalimat-kalimat indah yang mengalun di tiap halamannya. Berbeda dengan kisah klasik Barat di era abad ke-18 atau 19 yang lebih mengacu pada kehidupan sehari-hari serta isu sosial, karya Nizami Ganjavi ini mengingatkan pada karya-karya Shakespeare yang menggunakan kata-kata manis dan berbunga-bunga. Bahkan dikatakan bahwa kisah Layla dan Majnun inilah yang menginspirasi Shakespeare menulis Romeo and Juliet. Saya sengaja membandingkannya dengan sastra Barat, karena memang di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, lebih banyak mengenali sastra Barat daripada sastra Timur, termasuk Persia dalam hal ini.

Dikatakan bahwa kisah ini benar-benar pernah terjadi, dan terdapat banyak versi yang pernah dituliskan. Dalam versi Nizami ini, dia tak hanya menyoroti dua manusia yang saling mencinta, tetapi lebih dari itu, Nizami ingin menunjukkan hakikat cinta dalam ajaran sufi. Seperti tersirat di bagian saat Qays menemukan kertas bertuliskan namanya dan Layla, kemudian dia merobeknya dan membuang bagian yang bertuliskan Layla, serta menyimpan bagian yang bertuliskan Majnun. Ketika ditanya dia menjawab:

“Karena satu nama lebih baik daripada dua. Satu nama bisa dipakai untuk berdua. BIla kau tahu hakikat seorang pencinta, kau akan menyadari bahwa ketunggalan harus meniadakan dirinya, untuk musnah ke dalam pelukan kekasihnya.” (p.146)

Kenapa dia membuang nama Layla?

“Karena orang bisa melihat cangkang kerang, bukan mutiara yang dikandungnya. Kalian paham? Nama hanyalah cangkang luaran dan akulah cangkang itu. Aku adalah selubung, wajah di dalamnya Layla belaka.” (p.147)

Sejujurnya, saya sendiri tidak dapat ‘masuk’ ke dalam ‘hakikat’ yang ingin disampaikan oleh penulis. Tidak pada tempatnya juga jika hanya membaca ‘kisah’ dalam buku ini, karena bukan itu titik tangkapnya. Oleh karena jika kita membaca ‘kisah’, kita hanya akan menemukan kisah orang yang gila karena cinta yang tak akan dapat kita ambil moral positifnya. Akan tetapi, saya mendapatkan suatu karya sastra ‘indah’ dalam artian kalimat-kalimat berbunga yang ‘berbeda’, yang jarang dapat disamakan dengan budaya sastra lain.

3/5 untuk kisah cinta penuh bunga berduri.

3 responses to “Pengantin Surga (Layla & Majnun) – Nizami Ganjavi

  1. Pingback: First Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  2. ini bedanya sama yang judulnya Laila Majnun apa ya?, apa isinya sama cuma beda judul ya…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s