Short Story : Taruhan – John Steinbeck

Sligo dan Si Bocah mengambil cuti 48 jam jatah mereka. Bar-bar di Aljazair biasanya tutup jam delapan, tapi itu tak masalah. Mereka membawa beberapa botol anggur untuk bersantai di pantai. Malam itu udara cukup hangat. Setelah menghabiskan botol kedua, mereka membuka pakaian masing-masing dan berendam di air yang tenang lalu berjongkok dan duduk di situ, hanya menyisakan kepala tersembul di permukaan air. “Asyik kan? kata Sligo. “Banyak orang musti membayar mahal untuk kesenangan semacam ini, tapi kita mendapatkannya tanpa perlu membayar.”

Kemudian Sligo dan Si Bocah berbicara tentang keinginan mereka untuk pulang. Dengan yakin, Sligo mengatakan bahwa dia akan pulang. Mereka pun bertaruh dua puluh dolar untuk itu.

“Kamu tak akan berhasil,” kata Si Bocah.
“Kamu mau bertaruh?”
“Tentu saja. Kapan kamu akan bayar?”
“Kamu yang musti bayar, bukan aku….”

Mereka kembali ke pantai, dan melihat kapal-kapal berlabuh di dermaga. Tampak seratusan tentara Italia yang tertawan yang akan dikirim ke New York. Mereka berpakaian compang-camping dan sebagian terpaksa mengenakan seragam tentara Amerika karena seragam mereka sendiri sudah tak layak pakai. Tiba-tiba Sligo mengotori celana dan merobek kemejanya, berlari membaur ke para tawanan perang itu. Sligo memenangkan taruhan.

Cerpen Steinbeck ini adalah salah satu cerpen dari antologi Perang, Cinta, dan Revolusi : Cerita-cerita Anti Perang yang diterbitkan oleh Jalasutra pada tahun 2003, pada halaman 121-125.

Saya baru sekali membaca karya Steinbeck, The Pearl, itu pun sudah sekian tahun yang lalu, dan sudah agak lupa dengan detailnya. Dari keduanya, saya melihat kesamaan dalam gaya Steinbeck mengangkat isu sosial, tetapi mengambil konflik yang tidak terduga. Meski demikian, konflik tersebut cukup sederhana, seperti kisah di atas, hanya tentang taruhan dua orang bocah untuk bisa pulang. Dalam latar belakang yang kompleks, tetapi menyuplik hal kecil di dalamnya.

Saking sederhananya, sampai saya kesulitan menuliskan sinopsis dan harus menuliskan kutipan. Steinbeck tidak menyinggung masalah perang, tidak mengatakan bagaimana kedua bocah tersebut bisa sampai ke Aljazair dan tidak bisa pulang. Akan tetapi dia dapat menyampaikan betapa pentingnya arti pulang bagi mereka, betapa sulitnya hingga mereka berani bertaruh. Saya jadi tidak sabar untuk membaca beberapa karya Steinbeck yang sudah ada dalam reading list saya.

2 responses to “Short Story : Taruhan – John Steinbeck

  1. Pingback: Pengumuman Pemenang #ShortyJuly « Baca Klasik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s