Coraline – Neil Gaiman

Review both in Bahasa Indonesia and English.

Judul buku : Coraline
Penulis : Neil Gaiman (2002)
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, November 2004
Tebal buku : 232 halaman

“Dongeng-dongeng itu benar sekali: bukan karena menceritakan bahwa naga benar-benar ada, melainkan karena menceritakan bahwa naga-naga bisa dikalahkan.” (G.K. Chesterton)

Namanya Coraline, bukan Caroline, dia dan keluarganya baru pindah ke sebuah flat di lantai dua, yang ditinggali bersama Miss Spink dan Miss Forcible di lantai bawah, dan seorang lelaki pecinta tikus di loteng. Orang tuanya bekerja di rumah, meski demikian, sedikit waktu mereka yang dihabiskan bersama Coraline. Gadis itu memiliki hobi menjelajah, saat hari cerah, dia menjelajahi lingkungan di sekitar rumahnya, sampai dia bisa menemukan banyak hal.

Akan tetapi, cuaca tak selamanya cerah. Hari itu hujan turun sangat deras, dia tak bisa keluar rumah, orang tuanya sedang sibuk, dan dia tak memiliki kegiatan lain untuk dilakukan. Ayahnya menyarankan Coraline untuk menjelajah rumah. Dia melakukannya, dan menemukan sebuah pintu yang terkunci di ruang duduk. Kuncinya ada, tetapi apa yang terdapat di balik pintu itu hanyalah tembok bata. Kata ibunya, kemungkinan pintu itu mengarah ke flat kosong yang dulunya menjadi satu dengan flat yang ditinggalinya.

Suatu hari, Coraline membuka pintu itu, dan menemukan tembok batanya tidak ada. Dia masuk, menemukan rumah yang mirip dengan rumahnya, dan orang-orang yang mirip dengan orang-orang dalam flatnya. Mirip bukan berarti sama. Segala yang ada di rumah itu menyenangkan, tapi Coraline tak nyaman berada di sana. Saat kembali, dia menemukan bahwa orang tuanya tidak ada. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan orang tuanya adalah kembali masuk ke flat satunya, melawan ketakutannya, mempertaruhkan keselamatannya.

Awalnya kukira Coraline adalah kisah anak-anak, tetapi setelah membacanya, kurasa ini bukan sekedar kisah anak-anak biasa. Ada unsur horror dan suspense yang menjadikan buku ini tak bisa dibaca oleh semua usia jika tak ingin bermimpi buruk. Saya tak yakin mengenai batasan usia, karena menurut saya jelas buku ini dinarasikan dengan gaya anak-anak.

Di luar itu, saya benar-benar terkesan dengan kisah petualangan Coraline ini. Seperti quote yang dikutip di halaman pertama buku ini, dongeng mengajarkan kita bahwa naga bisa dikalahkan. Di sini, salah satu hal yang harus dikalahkan oleh Coraline adalah ketakutannya sendiri. Bukan berani namanya saat menghadapi hal yang kau tak punya pilihan atasnya.

“Kalau kau merasa takut, tapi tetap nekat maju terus, itu namanya berani.” (p.85)

Sedikit melenceng dari cerita, ada satu kutipan menarik di sini:

Dia membolak-balik buku yang sedang dibaca ibunya, tentang penduduk di suatu negeri yang jauh; setiap hari mereka menggambar dengan lilin, di helai-helai kain sutra putih, kemudian kain-kain itu direndam dengan larutan pewarna, lalu mereka menggambarinya lagi dengan lilin, kemudian mencelupnya lagi, kemudian merebus lilinnya dalam air panas, dan akhirnya kain-kain yang sudah indah itu dimasukkan ke api dan dibakar hingga menjadi abu. (p.36)

(I read the Indonesian translation copy, so I’m not sure what exactly the original paragraph said)

I’ve got one question for Mr. Gaiman. Did that referred to batik from Indonesia? But why did you say that they burn the fabrics after finishing it? I still can’t get it, and I’m burning of curiousity.

Saya juga dibuat kagum dengan detail-detail yang menghiasi buku ini.

Perabot kaku warisan neneknya masih ada di sana, juga lukisan buah-buahan yang aneh, yang dipasang di tembok (tapi sekarang buah-buahan dalam lukisan itu sudah dimakan, dan yang tersisa di dalam mangkuk hanyalah bagian tengah apel yang sudah cokelat, beberapa biji plum dan persik, serta batang bekas secarang anggur). (p.181)

Actually, who does really care about fruits that missing on that painting. I mean, it does not make any difference for the whole story or the scene mentioned. But, in fact, that made this story alive, Mr. Gaiman put some unimportant details just to show us that the story is real (though it’s, obviously, not).

Overall, I’m impressed with this children horror tale (may I say that?), however, I don’t encourage children to read it. I do love the writing, the plot, the simplicity of it, yet the complexity also. I often judge children books by its flexibility to read by adult. And this one, uhm, I can’t even say it is a children book. I’m not sure about it.

The second Gaiman book I read, 5/5 rate for this ambiguous adventure.

6 responses to “Coraline – Neil Gaiman

  1. ada filmnya! ada filmnya!😀 filmnya keren dan bikin kaget!😄

  2. *nyari review mbabz yang ternyata udah dibaca 3 tahun lalu =))*

    iya mbaak aku juga kepikirannya lilin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s