Pinocchio – Carlo Collodi

Review in both Bahasa Indonesia and English

Judul buku : Pinokio (Pinocchio)
Penulis : Carlo Collodi (1883)
Ilustrasi : William D. Kuik (1976)
Penerjemah : Wiwin Indiarti
Penerbit : Liliput, Februari 2005 (cetakan pertama)
Tebal buku : 282 halaman

Centuries ago there lived–
“A king!” my little readers will say immediately.
No, children, you are mistaken. Once upon a time there was a piece of wood.

Tuan Antonio (Mastro Antonio) memiliki sepotong kayu yang tadinya hendak dijadikan kaki meja kecil. Akan tetapi, saat mengerjakannya, dia diganggu oleh suara, teriakan, dan tawa dari kayu tersebut. Kebetulan saat itu sahabatnya, Gepeto (Geppetto), datang ke tempatnya. Tak disangka kayu itu membuat keonaran kembali hingga Tuan Antonio kehilangan kesabaran dan menghadiahkan kayu tersebut pada Gepeto. Dengan senang hati diterimanya kayu itu, dia berencana membuat sebuah boneka yang dinamakan Pinokio (Pinocchio).

Seperti adaptasi-adaptasi yang seringkali kita dengarkan tentang boneka kayu yang satu ini, Pinokio sangat nakal sekali. Bahkan sebelum dia jadi dengan sempurna, dia sudah menyusahkan Gepeto. Saat kakinya telah dibuat, dia langsung berlari keluar rumah dan menyebabkan Gepeto masuk dalam penjara. Tak cukup sampai di situ, masih banyak sekali deretan kenakalan yang dilakukannya. Dia menyia-nyiakan kebaikan ‘ayahnya’, mengacuhkan pengorbanan Gepeto, dan tak mendengarkan nasehatnya maupun nasehat orang-orang (atau makhluk-makhluk) yang melihat tingkah lakunya.

I guess there’s nothing much I should say about the story. Everyone must have known Pinocchio and his nose that could grow longer everytime he tells a lie. What I should say is, this Pinocchio–the book version one, was far more naughty and stubborn than every other adaptation versions that I have seen before. The plot was simple, but the adventures went so long before the Marionette turned into a boy. That was a worthy waiting, because there are many lessons and much more fun to read the original version of the story. At least, Carlo Collodi had shown that even a Marionette have a desire to grow and be a better boy.

Sebenarnya kisah boneka kayu ini sangat konyol dalam hal alur dan detailnya. Banyak hal tidak masuk akal dan tingkah laku boneka kayu itu seringkali menjengkelkan. Akan tetapi cukup menghibur, dan tidak sedikit pelajaran yang tersirat dari situ. Disebutkan dalam penutup (tampaknya tambahan dari editor) bahwa Carlo Collodi menggunakan karakter boneka kayu agar menjadi ‘pembenaran’ dari kenakalan dan kekeraskepalaannya itu. Karena beberapa
kali dikatakan bahwa Pinokio telah menyesal dan ingin berubah, tetapi dia seringkali terjebak dalam kesalahan yang sama.

Illustration by William D. Kuik

Ada satu paragraf yang membuat saya mempertanyakan terjemahannya.

Dia menyimak, tapi tak terdengar bunyi apa pun. Dari waktu ke waktu hembusan angin yang sangat keras datang, tapi akhirnya dia tahu bahwa angin itu berasal dari jantung monster. Kau perlu tahu bahwa paus itu menderita asma akut sehingga ketika dia bernapas seolah angin utara sedang berhembus. (p.246-247)

Pertanyaan saya, bagaimana bisa jantung mengeluarkan angin, dan apa hubungannya dengan asma akut? Pertanyaan kedua, dengan deskripsi semacam itu, yakin asmanya akut? Untungnya buku klasik sangat mudah didapatkan versi ebook-nya. Setelah saya cek edisi terjemahan bahasa Inggris pada paragraf yang sama, bunyinya seperti ini:

He listened for a few moments and heard nothing. Once in a while a cold wind blew on his face. At first he could not understand where that wind was coming from, but after a while he understood that it came from the lungs of the monster. I forgot to tell you that the Shark was suffering from asthma, so that whenever he breathed a storm seemed to blow.

Oh, jadi benar saja kecurigaan saya, masalahnya bukan pada Carlo Collodi. Semoga saja tidak ada yang ‘luput’ lagi, karena saya tidak menyadari ada kejanggalan di tempat lain (kalau toh ada saya sudah lupa). Akan tetapi secara umum, terjemahannya cukup bagus, maksud dari kalimat-kalimatnya bisa ditangkap dengan mudah, dan pemilihan katanya juga cocok untuk anak-anak. Sambil iseng, saya cek sekalian kalimat terakhir (saya rasa bukan spoiler karena semua orang sudah tahu akhirnya).

“How ridiculous I was as a Marionette! And how happy I am, now that I have become a real boy!”

Diterjemahkan menjadi:

“Betapa menggelikannya aku ketika masih menjadi boneka! Dan betapa bahagianya aku menjadi seorang anak lelaki kecil yang berperilaku baik!”

Okay, 4/5 for Indonesian translation edition of this stubborn Marionette.

Review #6 of Classics Club Project

Entered to The Classic Bribe 2012 Challenge & Giveaway

Reviewed for A Victorian Celebration (non-British writer)

6 responses to “Pinocchio – Carlo Collodi

  1. Pingback: What We Did Last Summer – The Classic Bribe Wrap-Up |

  2. Pingback: First Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  3. Kenapa ada tambahan “berperilaku baik” ya
    Heran

  4. Pingback: Children’s Classics Literature: Berbagai Genre, Berbagai Masa | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s