Fall of Giants – Ken Follett

Judul buku : Fall of Giants (Runtuhnya Dinasti Raksasa) : Buku Pertama dari The Century Trilogy
Penulis : Ken Follett (2010)
Penerjemah : Alphonsus C. Putro
Editor : Johanes Trihartanto, Fransiska R. Uli, Yuki Anggia Putri
Penerbit : Esensi (divisi dari Penerbit Erlangga)
Tebal buku : xii + 930 halaman

Sejak masa sekolah, saya hampir tidak pernah menyukai pelajaran sejarah. Saya paling tidak suka saat disuruh menghapalkan tahun-tahun perang ini, tahun kelahiran ini-itu, nama-nama
Panglima ini-itu, jumlah pasukan sana-sini. Ada beberapa guru yang kadang berhasil membuatnya jadi menyenangkan, meski saat ujian tiba, saya masih dihadapkan pada masalah yang sama. Meski begitu, saya menikmati saja ketika disuguhkan sebuah buku historical fiction setebal 900an halaman ini. Memang sampai akhir halaman saya tetap tidak hapal tahun-tahun dan segala hal mengenai angka dan nama-nama. Namun setidaknya, saya sekarang mengerti sejarah Perang Dunia Pertama🙂

Pasca Revolusi Perancis, pembesar dan bangsawan negara-negara Eropa mulai cemas akan kedudukan dan situasi dalam negeri mereka. Ada gerakan-gerakan yang menuntut pemerintahan yang demokratis, hak pilih untuk warga kelas bawah dan hak-hak wanita. Meski pada awal abad kedua puluh hubungan antar negara relatif baik, tetapi ada sisa-sisa pertikaian di masa lalu yang belum terselesaikan. Ketegangan antar negara mulai terasa mengancam saat terjadi
pembunuhan atas Archduke Franz Ferdinand, pewaris kaisar Austria, di Sarajevo oleh Gavrilo Princip dari kelompok nasionalis Bosnia. Hal ini diduga melibatkan pihak intelijen Serbia, sehingga kedua negara yang bertikai ini berada dalam ancaman perang. Sayangnya, letak kedua negara itu terlalu strategis untuk diabaikan oleh negara-negara besar di sekitarnya. Akan
ada masalah ekonomi dan perdagangan antar negara yang menyertainya. Keputusan berperang berada di tangan orang-orang yang berkuasa, keputusan untuk melibatkan negara lain juga berada di tangan orang-orang yang berkuasa.

Alurnya tidak setegang itu. ‘Pelajaran sejarah’ yang akan diberikan oleh Follett diramu dalam sekian konflik yang berdiri sendiri-sendiri, kemudian seiring dengan berjalannya cerita akan menampakkan hubungannya. Ada konflik mengenai cinta, keluarga, masyarakat, negara, sampai pada yang lebih besar lagi adalah antar negara yang berujung pada Perang Dunia ini.

Di Aberowen, Wales Selatan, Inggris, yang merupakan kota tambang, keluarga Williams tinggal dan bekerja. David Williams merupakan organisator serikat pekerja, sedangkan anaknya, Billy, mulai bekerja di tambang sejak tahun 1911, saat dia telah cukup usia. Sedikit gambaran tentang Billy Williams pernah saya gambarkan di sini. Karakternya yang keras pada akhirnya membuatnya menjadi ‘pahlawan’ saat perang. Sementara kakaknya, Ethel Williams, juga pernah saya ceritakan di sini. Karena ‘kisah’nya dan sang Earl berakhir kurang baik, dia mengasingkan diri di London. Di sana dia meniti karirnya sampai menjadi editor sebuah surat kabar terkemuka, dan bersama Lady Maud Fitzherbert–adik dari Earl Fitzherbert–memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.

Earl Fitzherbert, atau biasa disapa Fitz, adalah pemilik dari pertambangan di Aberowen. Dia menikah dengan Putri Bea dari Rusia, menjunjung tinggi tradisi bangsawan, dan sangat ingin berperang untuk menunjukkan keberaniannya. Jauh berbeda dengan adiknya, Maud, yang berpandangan liberal. Salah satu alasan Maud menentang perang adalah bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan seorang diplomat Jerman bernama Walter Von Ulrich. Jika peperangan
terjadi, Inggris dan Jerman akan berada di pihak yang saling bermusuhan, sementara mereka juga mencintai negara mereka masing-masing.

Di Rusia, Peshkov bersaudara yang sudah saya singgung di sini, pada akhirnya ternyata menunjukkan peranan mereka. Grigori akan memegang peranan penting dalam revolusi yang menjatuhkan dinasti Tsar, dan menjadi bagian penting dalam pemerintahan partai sayap kiri, Bolshevik, pada penghujung Perang Dunia.

Di Amerika, sejarah dikisahkan melalui salah seorang kepercayaan presiden Woodrow Wilson, Gus Dewar. Dimana pada saat itu Amerika masih berusaha netral. Sebagai negara yang sudah menganut demokrasi dan liberalisme, Amerika tidak ingin terlibat dalam perselisihan bangsa-bangsa Eropa yang notabene masih didominasi oleh monarki. Akan tetapi, pada suatu batas, Wilson terpaksa menyeret bangsanya ke dalam Perang Dunia, dan mulai bertindak sebagai ‘polisi dunia’, dengan menawarkan perjanjian perdamaian melalui sebuah liga bangsa-bangsa.

Saya rasa untuk fakta sejarah tidak akan ada banyak kejutan, terkecuali untuk beberapa detail, terutama pada orang-orang yang tidak terlalu mendalami sejarah. Akan tetapi, salah satu daya tarik yang membuat saya tidak ingin berhenti membaca adalah kelanjutan kisah dari para tokoh fiksi yang ada. Dalam buku ini, Follett menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas, dan berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan cerita. Meskipun sama-sama menceritakan saat Maud dan Walter sedang berduaan, Follett bisa saja menggunakan narasi yang berbeda. Karena itu pula pada saat di Aberowen, jika sudut pandangnya terbatas pada Billy, maka akan ada kata Ma atau Pa yang merujuk pada orang tua Billy, dan hanya perasaan Billy yang diceritakan. Sedangkan pada tempat yang sama, narasi akan menjadi Tuan dan Nyonya Williams jika saat itu Fitz yang sedang disorot. Menurut saya, gaya penceritaan semacam ini justru relatif tidak membingungkan, karena pada satu bagian hanya ada satu karakter yang disorot perasaannya, mengingat begitu banyaknya karakter dalam buku ini, yang tentunya memiliki perasaan dan sudut pandang yang berbeda-beda.

Perang memang membawa kesengsaraan. Dengan berbagai macam sudut pandang yang disuguhkan dalam buku ini dapat membuka sebuah pengertian baru, bahwa perang itu bukan kesalahan satu pihak. Bukan ambisi satu orang atau agresi satu negara yang menjadikan perang, terutama Perang Dunia yang memakan begitu banyak korban. Akan tetapi ada hubungan sebab akibat,
rangkaian peristiwa, suatu mata rantai keputusan yang tak seorang pun dapat memprediksikan hasil akhir dari keputusan yang sudah dibuatnya. Satu kesalahan yang bisa merusak banyak kebenaran, maupun satu niat baik yang pada akhirnya tetap membawa kesalahan. Seperti yang dituturkan oleh Walter:

Tidak satu negara pun benar-benar bersalah. Kekhawatiran utama para pemimpin kedua belah pihak yang bertikai adalah bagaimana caranya mempertahankan negara mereka masing-masing. Tidak ada satu orang pun di antara mereka yang bermaksud menceburkan dunia ke dalam perang terbesar dalam sejarah. Tidak Asquith, tidak Poincare, tidak Kaiser, tidak Tsar, maupun kaisar Austria. Bahkan Gavrilo Princip, pelaku pembunuhan di Sarajevo, tampaknya terkejut ketika ia menyadari akibat dari tindakannya. Namun, bahkan Gavrilo Princip pun tidak bertanggung jawab atas “semua kerugian dan kerusakan.” (p.862)

Kesalahan memang banyak sekali dilakukan, akan tetapi sekali lagi mereka punya alasan. Entah alasan besar semacam nasionalisme melindungi negara, menuntut hak-hak yang tidak terpenuhi, atau alasan-alasan konyol semacam menyombongkan harga diri atau mencari harta dan kekuasaan. Kesederhanaan penulisan kisah ini dapat menutupi kekompleksan cerita yang sesungguhnya, tetapi tidak dapat mengecilkan makna sesungguhnya dalam kisah ini yang begitu besar. 4/5 untuk pelajaran sejarah yang menyenangkan.

Posting bersama BBI bulan Juli 2012, bertemakan Historical Fiction.

Buku ini merupakan giveaway dari blog Fanda’s Historical Fiction.

21 responses to “Fall of Giants – Ken Follett

  1. Aaah…seandainya Ken Follet jadi guru sejarah kita, pastilah tiap ulangan kita dapat angka 100 :)) Tapi serius..sering aku berpikir, kenapa pelajaran sejarah tidak dibuat semenarik ini ya, ketimbang mempelajari neolitikum blablabla yang kayaknya juga gak ada gunanya >_<

    • kayanya waktu pmbuatan textbook, di samping ahli bidang itu harus ada sastrawannya ya, hehe.. oya, thx again atas bukunya

  2. setuju sama mba fanda =) seandainya dulu pelajaran sejarah diselingi dengan baca novel2 hisfic, pasti seru banget yaaa..anyway salut sama mbak bzee yang berhasil menyelesaikan salah satu buku bantal ini!

    • iya ya, dulu pas pljran ttg Revolusi Perancis lbh nyambung krn sdh baca Rose of Versailles (nyari2 Oscar di buku pelajaran ga ada, hehe).. harus koleksi hisfic kali ya, buat bekal utk yg akn bljr sejarah😀

  3. bwahahaha, ak juga suka mabok kalo pelajaran sejarah dan kayaknya bakal mabok juga baca ini, tebelnyaaaaa

  4. bacanya butuh waktu berapa lama mbak, hehehe
    tebelnyaaa

  5. 3 bulan mas Tezar, itu krn lbh sering kutinggal krn jarang di rumah juga.. bahasanya lumayan ringan kok, jd sekali duduk bs habis banyak

  6. aaakkhh.. Buku ini udah nongkrong manis di timbunan tapi belum kebaca ajah.. Tebel bangeett😀

  7. Salut buat dirimu mbaaak, karena sanggup bertahan baca buku sexy ini😀

  8. Masih belom berani melahap karya Ken Follett manapun… tahun depan semoga bisa deh

  9. wah dikau sdh melahap ‘santapan’ nan tebal duluan mbak😀 aq masih sayang-sayang bungkusan buku-ku yang rapi, cmn dipake buat bantal *kaburrr*

  10. buku seksi…🙂
    dulu kalo pelajaran sejarah, sukanya pas bagian kerajaan2 kaya’ majapahit, sriwijaya, atau sejarah kaya’ mesir kuno.
    tapi kalo yang udah bagian2 perang jaman belanda, terus pki.. yah, udah males deh…
    kapan ya bisa baca buku bantal ini… ?

    • disediakan aja di samping bantal, sebelum tidur baca beberapa halaman, ntr nagih sendiri pasti, lama2 juga selesai🙂

  11. Pingback: Book Kaleidoscope 2012 : Top Five Book Boy Friends | Bacaan B.Zee

  12. Pingback: Scene on Three (15) | Bacaan B.Zee

  13. Pingback: Bagaimana Saya Melihat Sejarah | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s