Character Thursday (16)

Ketemu dengan hari Kamis berarti ketemu lagi dengan Character Thursday yang digagas oleh Fanda Classiclit ini.

Karena minggu lalu tidak banyak karakter baru dalam bacaanku, maka saya akan mengambil karakter yang tidak biasa. Karakter ini berasal dari buku nonfiksi yang kebetulan baru saya baca, artinya orang ini benar-benar pernah hidup.

 

Yup, sesuai judulnya, ‘tokoh utama’ dalam buku ini adalah Daendels sendiri.

Di sini saya juga hanya akan membahas Daendels pada saat menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, saat dia berperan langsung dalam sejarah pembangunan jalan raya pos yang diceritakan oleh Pramoedya Ananta Toer.

Karena agak sulit menilai orang yang sebenarnya tidak benar-benar diceritakan dalam buku ini, maka saya akan mempergunakan panduan pertanyaan yang ada di sini.

 

  • Are they protagonist or antagonist?

    Definitely antagonist.

  • Who are they? What was their role in the book?

    Herman Willem Daendels (1762-1818) diangkat oleh Raja Belanda–Lodewijk Napoleon (atau Louis Napoleon dalam bahasa Prancis, yang ternyata adalah saudara Napoleon Bonaparte)–menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1808 sampai dengan 1811. Maarschalk en Gouverneur General van Indie ini sebenarnya bukanlah wakil kerajaan Belanda di Hindia, melainkan wakil kerajaan Belanda di bawah Prancis (p.15).

    Buku ini membahas mengenai pembangunan Jalan Raya Pos, atau Jalan Daendels yang membentang 1000 kilometer dari Anyer sampai Panarukan (p.7), jadi peranan Daendels yang dibahas di sini adalah dalam pembangunan jalan itu sendiri.

  • What was your strongest impression on the character(s)? You can quote the dialogue or narration you got the impression from.

    Sejak di sekolah, kita diajarkan mengenai kekejaman Daendels yang menerapkan kerja paksa (rodi) demi pembangunan salah satu jalan terpanjang dalam sejarah Hindia Belanda. Dalam buku ini pun tak jauh berbeda, hanya saja, ada ‘sisi lain’ yang ditunjukkan oleh Pramoedya, mengenai ‘sisi manusia’ dari Daendels. Bahwa pelajaran sejarah memberi kesan penjajah-kejam-tak-berperasaan, akan tetapi sesungguhnya kita lupa bahwa Daendels sendiri memegang suatu misi dari negaranya, terlepas dari apakah caranya benar atau salah.

  • What are the strengths or weaknesses of your character(s)?

    Disebutkan bahwa Daendels bukanlah administrator yang baik. Selama menjadi Gubernur Jenderal, banyak pemberontakan yang terjadi tanpa dia bisa memadamkannya melalui jalur diplomasi. Akan tetapi, Daendels adalah seorang diktator. Segala sesuatunya diselesaikan dengan ancaman dan senjata. Dia tak segan-segan menembak mati lawan bicaranya (p.16).

    Meski dalam ucapan dia mengagung-agungkan semboyan Revolusi Prancis, Liberte, Egalite, Fraternite, akan tetapi pada kenyataannya tidak demikian jika diterapkan pada rakyat Pribumi (p.19).

  • How do they develop throughout the book?

    Daendels pada mula datang ke Hindia Belanda dengan semangat baja. Dia mengemban misi untuk mengamankan Batavia sebagai ibukota kerajaan dunia Belanda di Asia dari serangan Inggris. Dia berangkat melalui New York dengan nama samaran untuk menghindari kapal Inggris. Dia tiba di Anyer dan membangun benteng di sana. Daendels menempuh perjalanan ke Batavia selama empat hari. Dari situlah dia mulai memerintahkan pelebaran jalan itu, sehingga Anyer-Batavia dapat ditempuh dalam satu hari perjalanan saja (p.19-20).

    Setelah itu, demi kebutuhan transportasi yang lebih efektif proyek dilanjutkan hingga mencapai ujung timur pulau Jawa. Di sinilah terlihat betapa ambisiusnya seorang Daendels, cara apa pun dilakukannya, meskipun itu berarti dia melakukan pembantaian tidak langsung secara besar-besaran.

  • What makes you love/hate them?

    Meski saya salut pada keberhasilan Daendels membangun jalan terpanjang pada masa itu dalam waktu satu tahun saja–dengan kekerasan hati dan ambisinya–tetapi tetap saja saya tidak bisa memungkiri bahwa Daendels adalah orang yang kejam dan ‘berdosa’ terhadap bangsa saya.

    Biaya untuk pembangunan jalan tersebut hanya sebagian kecil saja yang keluar dari kantong pemerintah Hindia Belanda, sebagian besar adalah jerih payah keringat dan darah rakyat Pribumi yang tidak dibayar, dan dari pemerintahan kabupaten setempat yang berasal dari hasil bumi rakyat juga. Belum lagi nyawa para pekerja rodi yang harus melayang karena kelaparan, kelelahan dan penyakit (terutama malaria karena banyak terjadi pembukaan daerah rawa). Pada intinya, proyek pembangunan jalan ini merupakan salah satu pembantaian tidak langsung terbesar dalam sejarah Indonesia.

  • What lessons or influences you got from them?

    Kesimpulan saya adalah, sekeras apa pun orang berusaha untuk memberikan yang terbaik–seperti Daendels dan proyek pembangunan jalannya–tetap saja hal buruk yang menyertainya akan tercatat dalam sejarah. Daendels boleh berbangga hati dengan keberhasilan pembangunan jalannya, akan tetapi oleh bangsa Indonesia yang telah merdeka saat ini, dia tetap merupakan ‘penjahat kejam’ yang membunuhi orang hanya karena ambisinya.

Saya memiliki satu pertanyaan yang menggelitik. Terlepas dari keringat dan darah yang dikorbankan pada dua abad silam (penghargaan setinggi-tingginya bagi mereka), pantaskah Daendels mendapatkan SEDIKIT rasa terima kasih dan penghargaan atas jalan raya yang telah dibangunnya itu?

Jika ada karakter yang menarik dalam bacaanmu, bagi di Character Thursday yuk, caranya bisa dilihat di sini.

5 responses to “Character Thursday (16)

  1. I’m not a type of person who believe in nationality or anything. I see history as written by the winner, which means that if Hindia Belanda didn’t become a free nation called Indonesia, perhaps Daendels would be proclaimed a hero inspite of his cruelty, wouldn’t he (which would very much the same thing if Hitler won the WW II, for example)?

    So, despite his cruelty, which could never be called “right”, he did something very impressive and also left us his legacy, the road sprinkled by the blood of the natives. And who can freely say that it was nothing? I think he deserves a LITTLE, as you said, appreciation for what he did.

    • wow, thanks for your opinion, i found it enlightening. you’re right, history is a subjective matter. it’s about our point of view of yesterday’s decisions.

  2. Liberte, Egalite, Fraternite itu mungkin cuma dia terapkan pada bangsanya sendiri, karena bagaimana pun dia diutus oleh atasannya ke negara jajahan. Memang susah menilai dengan adil, dan pada akhirnya yang salah adalah negara2 besar yg serakah itu, bukan rakyatnya. menarik tapi, karena CT-mu kali ini adalah tokoh nyata

    • krn tokoh nyata dan ga ada catatan yg objektif ttg tokoh itu jd ga bs mnghakimi.. makanya semua pd akhirnya jd opini saja

  3. Pingback: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels – Pramoedya Ananta Toer « Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s