The Five People You Meet in Heaven – Mitch Albom

Judul buku : The Five People You Meet in Heaven (Meniti Bianglala)
Penulis : Mitch Albom (2003)
Penerjemah : Andang H. Sutopo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, April 2011 (cetakan kelima)
Tebal buku : 208 halaman

Masing-masing orang mempunyai bayangan sendiri tentang surga, begitu pula sebagian besar agama; semuanya patut dihormati. Versi yang digambarkan di sini hanyalah dugaan, harapan, agar paman saya, dan orang-orang lain seperti dia–yang merasa keberadaannya di dunia tidaklah penting–akhirnya menyadari betapa mereka sangat berarti dan disayangi. (p.5)

Saya rasa cukup adil penulis telah menyebutkannya pada halaman persembahan, sehingga–menurut saya–buku ini tidak berbicara mengenai keyakinan atau kepercayaan apa pun. Murni sebagai karya fiksi yang filosofis dan imajinatif.

Kisah ini diawali dengan kematian Eddie di Ruby Pier, taman hiburan tempatnya bekerja seumur hidupnya. Dari kematian itu, dikisahkan bahwa dia tidak langsung menuju ke ‘surga’nya, tapi harus melalui surga orang lain, lima orang yang harus ditemuinya terlebih dahulu. ‘Surga’ yang disinggahinya adalah tempat yang ada di dunia, yang merupakan tempat paling berarti bagi orang yang sudah meninggal tersebut.

Di antara kelima orang yang ditemuinya itu, tak semuanya dikenal oleh Eddie. Namun, baik itu secara langsung atau tidak langsung, mereka memiliki hubungan dengan kehidupan Eddie. Masing-masing orang yang ditemuinya mengajarkan makna dari peristiwa yang tidak dipahami oleh Eddie semasa hidupnya.

“Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehidupan lain, sama seperti kau tidak bisa memisahkan embusan udara dari angin.” [Pelajaran Pertama] (p.52)

“Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain.” [Pelajaran Kedua] (p.97)

“…Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri.” [Pelajaran Ketiga] (p.145)

“Kehidupan harus berakhir, tapi cinta tidak.” [Pelajaran Keempat] (p.179)

Kemudian orang terakhir, yang kelima, mengajarkan hakikat eksistensi dan arti hidup Eddie untuk orang lain. Kelima pelajaran yang saya kutip di atas hanyalah kesimpulannya. Proses mencapai kesimpulan itulah yang juga menjadi salah satu keindahan buku ini. Pendekatan yang digunakan begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, mengenai penyesalan atas hidup yang dijalani, rasa marah karena penyesalan hidup itu, hingga menjadikan kita kurang menghargai kehidupan itu sendiri. Dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda, maka kita dapat dengan mudah menerima apa yang kita dapatkan dalam hidup.

“Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian.” (p.55)

Mengenai terjemahan buku ini, saya agak bertanya-tanya dengan penggunaan kata ‘alam baka’, yang saya duga adalah terjemahan dari ‘heaven’. Meski secara hakikat sama, namun menurut saya penggunaan kata ‘surga’ saja lebih menggambarkan ‘heaven’ yang dimaksudkan oleh penulis. Alam baka dapat diartikan bebas sebagai tempat yang kekal, namun penulis tidak menggambarkan tempat itu kekal untuk Eddie, tempat itu hanya kekal untuk orang-orang yang ditemui Eddie di sana. Konsep ini mengingatkan saya akan ‘tujuh tingkatan langit’ dalam beberapa agama, yang juga menggunakan istilah ‘heaven’ dalam bahasa Inggris. Tapi sekali lagi, Albom memang tidak mengacu pada agama maupun kepercayaan apa pun.

Jelasnya, saya suka dengan buku Albom yang ini, sama seperti yang sebelumnya. Hanya saja sebelumnya saya membaca karyanya yang dari kisah nyata, sedangkan ini fiksi. Hanya satu yang mengganjal untuk saya adalah bahwa kita harus menunggu kematian untuk mengerti apa yang terjadi dalam hidup. Padahal, saya meyakini bahwa segala ujian di dunia adalah untuk membawa kita menuju pribadi yang lebih baik. Kita HARUS mencapai pengertian itu, dan mensyukurinya ketika masih hidup. Sehingga kita bisa bersyukur tanpa harus menunggu nyawa kita dicabut terlebih dahulu. Kita menginginkan kematian yang tenang, bukan kematian penuh tanda tanya yang hanya akan terjawab setelah kita mendapat pelajaran dari lima orang di surga. Berbeda halnya jika kematian itu bukan kematian yang sesungguhnya, seperti mati suri mungkin. Tapi sekali lagi, Albom memiliki tujuannya sendiri, buku ini dipersembahkan untuk pamannya.

4/5 untuk lima pelajaran dari ‘surga’.

2 responses to “The Five People You Meet in Heaven – Mitch Albom

  1. aku suka banget endingnya buku ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s