Character Thursday (18)

Di hari Kamis, kita bisa berbagi analisis karakter dari buku yang sedang atau telah dibaca.

Blog meme ini di-host oleh Fanda Classiclit. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di sini.

 

Minggu ini saya membahas karakter dari buku karya Pearl S. Buck yang sudah saya baca, The Good Earth.

Dalam buku ini, tokoh sentralnya adalah seorang petani miskin bernama Wang Lung.
Awalnya dia hanyalah seorang laki-laki yang minder karena kurang pendidikan dan masih berpegang teguh pada tradisi yang kuno. Namun, semakin kita melihat kesehariannya, semakin terlihat bahwa dia adalah seorang pekerja keras. Tidak seperti orang-orang lain yang hanya mengandalkan apa yang bisa mereka dapatkan hari itu, Wang Lung selalu berpikir ke depan, merencanakan apa yang bisa dia dapat di masa depan dari apa yang sudah dimilikinya hari itu.

 

 

Dia terus mengembangkan apa yang dimilikinya, dalam hal ini tanahnya, yang dia cintai melebihi apa pun di dunia ini. Dia percaya bahwa tanah dan hanya tanah yang bisa membuatnya hidup, yang bisa membuatnya berhasil. Dia pun membuktikannya.

Karena pada dasarnya dia adalah pekerja, dia berkeyakinan kuat bahwa seseorang hanya berhak mendapatkan sesuatu dari bekerja saja. Maka
saat Wang Lung sekeluarga mengungsi ke selatan dan kesulitan mendapatkan pekerjaan, maka dia lebih memilih menarik rickshaw dengan pendapatan yang tidak seberapa, ketimbang mengemis apalagi mencuri. Meski demikian, keadaan membuatnya tak bisa menghalangi keluarganya untuk mengemis, karena dengan begitu pun mereka masih kekurangan. Bahkan dalam keadaan lapar, Wang Lung masih berpegang pada keyakinannya itu.

“Kita boleh makan daging yang bisa kita beli atau dapat dari hasil mengemis, tapi bukan daging yang kita curi. Kita boleh jadi tukang minta-minta, tapi jangan jadi pencuri.” (p.158)

Wang Lung berhasil melalui ujian kemiskinan. Di saat dia menghadapi ujian kekayaan, saya menilai dia kurang berhasil. Dia melupakan dewa-dewa yang telah dipujanya saat dia miskin dulu, dia juga mengkhianati istrinya yang
telah mengorbankan nyawa demi melahirkan anak-anaknya. Pandangannya tentang wanita, sebagaimana pandangan umum pada masa itu, tidak memandangnya sebagai manusia yang sederajat, bahkan istrinya sendiri. Dia seolah lupa bahwa di balik kesuksesannya, peranan O Lan sangat besar. Pada satu titik, dia menjadi sombong dan tak pernah puas. Meski demikian, tetap ada satu sisi baik Wang Lung yang tak hilang, bagaimana pun keadaannya.

Di satu sisi, kerja keras Wang Lung memang memberikan hasil. Namun di sisi lain, pandangan sempitnya bisa jadi menghancurkan semuanya.

5 responses to “Character Thursday (18)

  1. Pingback: The Good Earth – Pearl S. Buck « Bacaan B.Zee

  2. Aku jadi teringat lagi buku ini. Ya, sayangnya Wang Lung jadi ‘lupa daratan’ ketika menjadi kayak, sesuatu yang sulit dihindari dan salah 1 kelemahan manusia ya!

  3. Pingback: Character Thursday (19) « Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s