The Good Earth – Pearl S. Buck

Judul buku : Bumi yang Subur (The Good Earth)
Penulis : Pearl S. Buck (1946)
Penerjemah : Gianny Buditjahya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Agustus 1989 (cetakan ketiga)
Tebal buku : 535 halaman

Ya, tapi tanah akan tetap tinggal di tempatnya. Uang dan makanan bisa terbang dan habis dimakan, dan kalau hujan dan panas tak berimbang, kelaparan datang lagi. (p.178)

Buku ini merupakan buku pertama dari trilogi. Menceritakan tentang seorang petani miskin, Wang Lung, yang sangat mencintai tanahnya. Dia adalah satu-satunya anak yang tersisa, sehingga tanah ayahnya yang tidak seberapa diwariskan seluruhnya kepadanya. Wang Lung bekerja mengolah tanahnya dengan sungguh-sungguh, karena dia sadar bahwa hanya dari tanahlah dia dan keluarganya bisa hidup. Karena miskin, maka saat tiba saatnya untuk menikah, dia hanya bisa ‘meminta’ salah seorang budak perempuan dari keluarga kaya untuk dinikahinya.

Istrinya, O Lan, adalah wanita yang ulet dan pekerja keras. Dia banyak membantu pekerjaan Wang Lung di tanahnya, maupun melahirkan dan membesarkan anak-anak demi kelangsungan keluarga Wang. Semenjak kehadiran O Lan, Wang Lung mulai dapat menabung karena kecerdikan istrinya untuk berhemat, serta keuletan untuk menghasilkan lebih banyak. Lambat laun, Wang Lung mampu membeli tanah dari keluarga kaya dimana O Lan dulu bekerja. Dari situ, penghasilannya semakin meningkat.

Namun, masa sulit selalu akan datang. Suatu ketika hujan tak turun hingga tanah-tanah kering dan tak dapat ditanami. Tabungan Wang Lung yang belum seberapa telah menipis, belum lagi tekanan dari keluarga pamannya, maupun warga sekitarnya yang malas dan hanya bisa mengandalkan meminta-minta dari Wang Lung. Hingga suatu titik, mereka sekeluarga mengungsi ke selatan.

Di sana, Wang Lung melihat betapa kehidupan kota tidak cocok untuknya. Penghasilan yang tidak seberapa, belum lagi pengaruh buruk yang timbul bagi anak-anaknya. Maka ketika keadaan kira-kira telah membaik, mereka kembali ke kampung halaman, mengolah kembali tanah mereka.

Banyak sekali hal positif yang dapat kita lihat dari sosok Wang Lung. Dia pekerja keras yang percaya bahwa segala sesuatunya bisa dicapai dengan mengeluarkan keringat. Dia rela bekerja berpeluh-peluh, bukan lagi demi uang, tapi demi kelangsungan kesuburan tanah yang dicintainya itu. Dia percaya bahwa dari tanahlah dia dan keluarganya masih dapat bernapas. Namun, karena kurangnya pendidikan, terkadang Wang Lung sering terombang-ambing oleh orang-orang yang kelihatannya lebih pintar daripada dia. Orang-orang di sekitarnya pun, kecuali O Lan, tak mau menyadari bahwa kekayaan Wang Lung pada hari itu bukannya jatuh begitu saja dari langit. Orang-orang itu menyembunyikan rasa malas mereka di balik alasan keberuntungan dan ketidakberuntungan.

Di samping itu, Wang Lung ternyata kurang berhasil mendidik anak-anaknya sesuai dengan keinginannya. Memang kedua anak laki-lakinya yang besar disekolahkan hingga pandai membaca, menulis dan berhitung. Akan tetapi Wang Lung gagal mewariskan kecintaan pada tanah yang menghidupi mereka. Di sinilah saya ikut merasakan keterikatan itu, hingga pada akhir buku ini, hendak mengetahui bagaimana kehidupan Wang Lung dan anak-anaknya hingga masa tuanya.

Penulis benar-benar membawa kita pada situasi China pada masa itu. Pemikiran manusianya, perilaku masyarakatnya, hingga keadaan alamnya. Semuanya diceritakan secara apik, meski kadang terkesan bertele-tele dan beberapa penjelasan seperti diulang kembali. Penerjemahannya pun agak kurang bervariatif dalam pemilihan kata, mungkin ini pula yang menimbulkan kesan bertele-tele tadi. Salah satu hal yang saya acungkan jempol di sini adalah pemilihan karakter seperti Wang Lung (lebih lanjut dapat dibaca di sini), dengan segala kebaikan yang ada padanya, tapi tak luput pula dari hal-hal yang kadang membuat saya benci juga pada tokoh ini. Cukup manusiawi. 4/5 untuk kebaikan alam.

7 responses to “The Good Earth – Pearl S. Buck

  1. Ini terbitan lama ya? pernah diterbitkan ulang nggak ya? penerjemahan penting banget untuk buku2 kaya gini ya, kalau salah malah bisa jadi boring hehe

  2. iya, belinya second soalnya.. ada sih yg terbitan thn 2000an. tp udah jarang juga kayanya

    • aq suka banget the good earth, tentang kehidupan sederhana serta cita-cita buat masa depan, sayang setelah masuk era yang lebih modern, kehilangan kesan-kesan mendalam tentang tradisi dan sejarah yang aku suka

  3. Pingback: Character Thursday (19) « Bacaan B.Zee

  4. Pingback: First Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s