A Note From Ichiyo – Rei Kimura

Judul buku : A Note From Ichiyo (Catatan Ichiyo)
Penulis : Rei Kimura
Penerjemah : Moch. Murdwinanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Maret 2012 (cetakan pertama)
Tebal buku : 280 halaman

“Aku adalah sesosok makhluk dalam belas kasihan suasana hatiku. Mereka berkata, tanpa terungkapkan, perasaan di dalam hati akan membusuk. Dan perasaanku terlalu banyak, kesedihan, kebahagiaan, kekecewaan, ketakutan, kebanggaan, semuanya membuncah dalam diriku.” (p.105)

Pada malam tanggal 22 November 1896, Ichiyo Higuchi terbaring sekarat. Hanya ada adiknya, Kuniko, yang merawatnya siang dan malam, serta penggemar-penggemar setianya yang secara bergantian ikut menjaganya. Ichiyo yang baru berusia 24 tahun telah dikalahkan oleh tuberkulosis yang dideritanya. Pada pagi hari tanggal 23 November itu, Ichiyo meninggal dengan tenang. Menyisakan kenangan dan karya-karyanya yang mengagumkan banyak orang. Namun, dalam buku ini, kisah wanita dalam uang kertas 5000 yen tersebut baru akan diceritakan.

Sejak memutuskan untuk menikah secara diam-diam dan keluar dari kampung halaman mereka, Noriyoshi Higuchi dan Furuya Ayame merintis hidup mereka dari nol di Edo. Usaha Noriyoshi perlahan menunjukkan hasil. Dia berhasil mengangkat derajat keluarganya meski harus mengorbankan putri pertama mereka tanpa asuhan dari Furuya. Setelah melahirkan dua anak lelaki, yang mana salah seorang dari mereka meninggal, lahirlah Natsuko.

Natsuko tumbuh berbeda dari saudara-saudarinya. Dia memiliki bakat dalam bidang sastra dan puisi, yang disadari oleh Noriyoshi sejak dini. Dengan arahan dari ayahnya, Natsuko dididik di jalur yang benar. Namun, Natsuko kecil–seberapa unggulnya dia di komunitas cendekiawan teman Noriyoshi–terkucil di antara teman-teman sebayanya. Sampai pada suatu ketika dia bertemu dengan Masao.

Natsuko menyadari bahwa Masao menciptakan perasaan baru yang asing dalam dirinya, dapatkah ia menyebutnya rasa sayang kepada sahabat yang timbul dari kekaguman dan rasa hormat kepada satu-satunya anak seusianya yang memiliki kecerdasan dan kegeniusan setara dengannya dalam bidang sastra? (p.58)

Kehadiran Masao yang hanya sejenak itu pun mengubah jalan hidup Natsuko selanjutnya. Natsuko memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Ichiyo.

“Kuharap Ayah dan Ibu tidak keberatan, tapi aku sudah memutuskan bahwa nama Natsuko terdengar terlalu biasa dan kurang menunjukkan identitasku sebagai penulis dan penyair masa depan. Aku ingin mengambil nama Ichiyo, sehelai daun, kata terindah yang pernah kutemui dan aku ingin menjadi sehelai daun dari halaman buku-buku yang ingin kutulis mulai sekarang.” (p.67)

Cobaan demi cobaan seolah tak mau melewatkan kesempatan untuk mendera keluarga Higuchi. Sentaro, kakak laki-laki Ichiyo menderita tuberkulosis, pendidikan Ichiyo pun mulai terancam, kemudian bisnis Noriyoshi perlahan menuju ke arah yang berkebalikan dengan apa yang telah dirintisnya. Kematian, depresi, kecerobohan, dan keputusasaan memperburuk keadaan, hingga pada akhirnya Ichiyo ditinggalkan sebagai kepala keluarga yang harus mengurus keuangan keluarga Higuchi.

Ichiyo yang berusaha keluar dari kemiskinan melalui bakat menulisnya, tidak juga mengalami titik terang. Dia pun meninggalkan penanya untuk beberapa saat, tapi segala usaha yang dilakukannya tidak bisa memperbaiki keadaan. Ichiyo hampir membawa dirinya pada area yang tidak terhormat, hanya demi bisa mengangkat ekonomi keluarganya kembali. Seorang lelaki yang berpengaruh pada hidupnya saat itu, Nakarai Tosui–seorang penulis picisan–tidak juga bisa membantunya. Kedekatan Ichiyo dengan Nakarai membawa dampak buruk bagi Ichiyo maupun tulisannya. Akan tetapi, ada ikatan yang sulit dipahami di antara mereka. Melalui dukungan tiada henti dari adiknya, Kuniko, perlahan Ichiyo kembali menulis dan menghasilkan beberapa karya. Bahkan dalam masa produktifnya di tahun 1895-1896, dia menelurkan lima buah novel dan namanya pun terangkat.

“Mengapa seorang penulis harus dianggap berbeda hanya karena ia wanita? Bukankah pria dan wanita dilahirkan dengan otak, kaki dan tangan yang sama? Satu-satunya yang berbeda adalah kehidupan kaum wanita lebih sulit karena masyarakat berusaha merendahkan mereka sementara pria diizinkan berjalan dan tumbuh dengan tujuan hidup mereka masing-masing! Aku tak menyukai cara para penulis resensi ini merendahkan penulis dan penyair wanita hanya karena jenis kelamin mereka!” (p.255)

Menjadi penulis wanita pada zaman itu berarti menentang arus, tetapi dengan gigih Ichiyo membuktikan dirinya melalui tulisan-tulisannya. Pada masa jayanya pun, dia terus memaksakan diri, hingga melupakan kesehatannya sendiri.

Membaca kisah ini, seperti halnya perjuangan wanita pada zaman dahulu, rasanya menimbulkan emosi tersendiri. Dibawa pada masa dimana wanita hanya dilahirkan untuk menikah dan mengurus rumah tangga, padahal tak sedikit wanita yang memiliki kemampuan lebih daripada pria. Melalui jiwa pemberontak, keteguhan dan kerja keras dari tokoh utamanya, buku ini telah berhasil menekankan pentingnya mimpi, tekad dan usaha demi meraih cita-cita.

Sebenarnya, gaya penulisan Kimura–atau terjemahannya–tidaklah terlalu istimewa menurut saya. Saya menemukan beberapa kalimat yang diulang di bab berikutnya, bahasa yang digunakan juga sangat biasa. Dari sisi kemudahan diterima, bisa jadi ini merupakan kelebihan. Keunggulan Kimura terletak pada caranya menyusun alur yang sedemikian penuh dengan kejadian-kejadian, bahkan yang terkecil, menjadi suatu kesatuan yang unik. Meski tidak terlalu berhasil menunjukkan kedalaman jiwa Ichiyo, penulis telah menggambarkan semuanya. Saya dapat menemukan penjelasan mengenai ikatan rumit antara Ichiyo dan Nakarai, namun entah mengapa, saya tak bisa merasakan hal itu ada di dalam jiwa dan langkah Ichiyo. Emosi dalam kisah itu sendirilah yang membuatnya menjadi istimewa. Tidak mudah menuliskan kisah hidup seseorang yang belum pernah ditemui. Namun, melalui catatan harian Ichiyo Higuchi, penulis telah membuat sebuah kisah yang seolah keluar dari mulut Ichiyo sendiri. Sebuah kisah yang begitu dekat dengan wanita-wanita pejuang, pada zaman apa pun, di mana pun.

Untuk semangat tiada henti dari wanita hebat yang menjadi inspirasi buku ini, serta wanita yang menuliskan buku ini, 4/5 bintang.

“…Namun aku tak akan pernah menyerah atau berkompromi dengan tulisanku untuk memuaskan para kritikus itu dan aku bersumpah suatu saat nanti aku akan menjadi tokoh sastra yang sangat diperhitungkan!” (p.128)

2 responses to “A Note From Ichiyo – Rei Kimura

  1. Pingback: Character Thursday (22) « Bacaan B.Zee

  2. Hmmm…kayaknya kok gak terlalu istimewa ya, skip dulu deh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s