The Stranger – Albert Camus

Judul buku : Orang Aneh (The Stranger/The Outsider/ L’Étranger)
Penulis : Albert Camus (1942)
Penerjemah : Max Arifin
Penyunting : Dian
Penerbit : Mahatari, Februari 2005 (cetakan pertama)
Tebal buku : 165 halaman

Tapi, walaupun aku tidak begitu yakin tentang sesuatu yang menarik perhatianku, aku dengan mutlak yakin terhadap apa yang tidak menarik perhatianku. (p.156)

Kisah ini dibuka oleh berita kematian ibu Mersault di Wisma Lansia di Marengo, lima puluh mil dari Algeria. Mersault pun langsung meminta cuti dan mengendarai bus ke tempat ibunya menghembuskan napas terakhir kali, dan akan disemayamkan di tempat itu juga. Sudah tiga tahun sejak Mersault mengirim ibunya ke wisma, alasannya karena mereka tak banyak berbicara. Setelah minggu-minggu awal penyesuaian, Mersault melihat bahwa ibunya mulai betah dengan kawan-kawan barunya di wisma.

Selepas penguburan ibunya, Mersault langsung pulang hari itu juga, dan menjalani kehidupannya. Saat pergi ke pelabuhan untuk berenang, dia bertemu Marie, wanita yang disukainya—dan tampaknya membalas perasaannya. Kembali bekerja, makan siang bersama rekan kerjanya—Emmanuel, di restoran Tuan Celeste—langganannya. Di apartemennya ada seorang tua bernama Salamano yang memiliki anjing tua, yang anehnya meski selalu bersama-sama, mereka tidak pernah akur. Juga ada Raymond Sintes yang sedang bermasalah dengan seorang wanita.

Suatu hari, Raymond mengajak Mersault berlibur ke bungalownya di dekat pantai, bersama seorang teman di sana. Di sana, tampaknya Raymond diikuti oleh sekelompok orang, dimana salah satunya adalah kakak dari wanita yang bermasalah dengannya. Awalnya mereka diserang oleh gerombolan itu, meski terluka, namun Raymond, Mersault dan kawan mereka berhasil menanganinya. Siang itu, Mersault kembali ke pantai sendirian, bertemu dengan salah seorang dari gerombolan itu, yang juga sedang sendirian, dan menembaknya, lima kali.

Aku sendiri tidak begitu merasa menyesal atas apa yang telah kuperbuat. Menurut pendapatku, ia terlalu melebih-lebihkan masalahnya dan aku ingin sekali memperoleh kesempatan untuk menjelaskan padanya dengan cara-cara yang bersahabat dan ramah bahwa selama hidupku aku tidak pernah menyesal atas apa saja yang kukerjakan. (p.135)

Di dalam penjara inilah, kita mulai melihat ke dalam pemikiran Mersault. Dia dituduh atas kejahatan pembunuhan berencana, dan jaksa mengajukan pemberat berupa kenyataan bahwa Mersault tidak menangis pada penguburan ibunya, menolak untuk melihat mayat ibunya, bahkan tidak menunjukkan sikap sedih pada saat itu. Jaksa memaparkan tentang kencannya dengan Marie, yang hanya berjarak beberapa hari dari kematian ibunya. Singkatnya, jaksa itu menonjolkan  ‘kekerasan hati’ Mersault. Di lain pihak, Mersault menyusahkan pengacaranya dengan tidak memberikan bantahan atau bukti sebaliknya dari apa yang dituduhkan padanya. Mersault tidak memiliki alasan, dia mungkin tidak seperti yang dituduhkan, tetapi dia tak bisa memberikan bukti sebaliknya.

Ibu selalu bilang padaku dulu, bahwa betapapun miskinnya dan menderitanya seseorang, namun selalu ada sesuatu tempat kita mengucapkan syukur. (p.152)

Buku ini tentu saja tidak menawarkan kisah pembunuhan dan pengadilan. Buku ini menyajikan Mersault, dan sifat serta sikapnya yang tak terpahami oleh orang-orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya hanya bisa melihat ‘kulit luar’nya saja. Mersault yang praktis dan jarang menampakkan emosi, baik dari kata-kata maupun tindakannya. Namun demikian, apa sebenarnya yang ada di dalam benaknya itu? Benarkah dia adalah seseorang yang keras hati?

Menurut saya, Mersault adalah gambaran ‘unik’ yang menarik dari seorang manusia. Dia tidak berpikir seperti kebanyakan orang, segala tindakannya didasari oleh alasan yang sederhana saja—jika tidak boleh dikatakan tidak memiliki alasan yang besar. Di dalam dirinya berkecamuk pertanyaan-pertanyaan mendasar, jiwanya memberontak atas apa yang tampak sebagai hal yang ‘wajar saja’, dan dia pun memegang suatu prinsip hidupnya sendiri. Di tengah kecamuk pikirannya dalam penjara, perlahan kita melihat betapa hakikat sesungguhnya kehidupan dalam pandangan Mersault. Dia bukannya tidak takut akan hukuman mati, tapi dia menghadapinya dengan caranya sendiri. Ada paradoks dalam diri Mersault, tetapi Camus berhasil meramunya dengan indah dan ‘wajar’.

Dalam edisi terjemahan yang saya baca ini sebenarnya cukup dapat diterima, meskipun kesalahan ketik masih tersebar dimana-mana. Akan tetapi, saya merasa agak janggal dengan penerjemahan “Orang Aneh” pada judulnya. Saya lebih menyukai penerjemahannya menjadi “Orang Asing” (yang saya lihat digunakan oleh penerbit lain untuk buku yang sama), atau bahkan “Orang Luar” yang mengacu pada terjemahan bahasa Inggris dari “The Outsider”. Oleh karena yang saya tangkap di sini, Camus ingin menonjolkan seorang pribadi yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya, atau bisa dikatakan di luar lingkaran komunitas manusia yang berpikiran sama. Menurut saya, kata “aneh” kurang dapat merepresentasikan makna tersebut, meskipun secara arti kata tetap bisa diterima.

4/5 bintang untuk absurditas yang mengajak kita berpikir di luar lingkaran.

*Review ini dibuat dalam rangka #PostingBersama @BBI_2011 dengan tema penulis peraih penghargaan Nobel.

Sekilas tentang penulis:

Albert Camus (7 November 1913 – 4 Januari 1960) adalah penulis, jurnalis dan filsuf berkebangsaan Perancis, lahir dan tinggal di Algeria. Dia berkontribusi atas berkembangnya filosofi absurdisme dan eksistensialisme, meskipun dia sendiri menolak untuk dihubung-hubungkan dengan ideologi apa pun. Dia mendapatkan Nobel Prize for Literature pada tahun 1957  “for his important literary production, which with clear-sighted earnestness illuminates the problems of the human conscience in our times”. Camus adalah penerima Nobel termuda kedua setelah Rudyard Kipling. Dia meninggal karena kecelakaan mobil, dua tahun setelah menerima penghargaan Nobel.

Pemikiran filosofisnya dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Camus mewujudkannya dengan menciptakan karakter dan peristiwa fiksi yang dramatis, bukan hanya berupa pemikiran dan analisis. Ide absurditas, atau hal-hal yang bertentangan dengan pandangan umum, serta pemikiran-pemikiran paradoksnya tertuang dalam karya-karyanya, yang salah satunya terlihat dalam karyanya yang ini.

Semasa hidupnya, Camus telah menerbitkan tiga novel (The Stranger, The Plague dan The Fall),  dan dua esai filosofis yang utama (The Myth of Sisyphus dan The Rebel). Di samping itu juga ada novel autobiografi (The First Man), beberapa cerita pendek, esai, artikel, naskah drama, terjemahan dan adaptasi (beberapa karya dariCalderon, Lope de Vega, Dostoyevsky, dan Faulkner).

Lebih lengkap dapat dilihat di:
http://www.iep.utm.edu/camus/
http://en.wikipedia.org/wiki/Albert_Camus
http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1957/camus-bio.html

23 responses to “The Stranger – Albert Camus

  1. How strange he is ? What is the deepest secret inside his mind ? Apakah banyak pergolakan batin seperti The Count of Monte Cristo atau semacam perenungan seperti Paulo Coelho’s novel ?

    • Salah satunya seperti quote yg kucuplik tentang penyesalan itu, dia tidak menyesal telah membunuh, walaupun dia tahu bahwa hal itu salah dan membawanya dalam masalah. Dia punya pandangannya sendiri tentang ‘benar’ dan ‘salah’, apa yg terjadi dan apa yg di luar kendali, semacam itu. Klo dibandingkan dengan Paulo Coelho bisa juga, cuma menurutku gaya penulisan Camus ga se-‘jelas’ Coelho. Sesuai zamannya mungkin.

  2. Hah penerbit Matahati atau Mahatari ini mbak? *belum pernah denger* Jd ini masih sama dengan buku Orang Asing karya Camus itu ya? kalo ga salah YoI …bener ngak?

    • Bener Mahatari, Sleman punya itu, entah masih ada/ga. Iya aku lihat ada beberapa terjemahan penerbit lain pke judul Orang Asing

  3. astridfelicialim

    wah, ini psikologi banget ya novelnya mba… btw, setuju kalau judul orang aneh kayaknya kurang tepat (orang aneh berarti weirdo ya? hehehe)… orang asing kayaknya lebih bagus.

  4. Menarik nih. Kapan-kapan coba baca Inggrisnya ah…

  5. Kayaknya jenis yang aku bakal suka nih, karena aku sendiri merasa seperti ‘a stranger’ di pergaulan, meski gak sampe jadi weirdo, tapi pemikiranku sering beda sama pemikiran umum. The Stranger sama The Plague bakal masuk list nih… Thanks for the review! ^__^

  6. you’re welcome, smoga bener2 suka, bukannya trtipu dgn review-ku, hehe

  7. okeh…dari covernya, ini tipe buku yang gak bakal kulirik (still judge a book by its cover though). tapi reviewmu bikin penasaran. Laaahhh…aku sendiri sering dibilangin orang aneh kok. Kali aja si Mersault ini bisa jadi temenku :))

  8. Hyaaaa udah lama banget pengen coba baca Albert Camus.. Baca yang ini dulu kali ya..

  9. Pingback: Character Thursday (23) « Bacaan B.Zee

  10. Waaaw mba bzeee berhasil baca Camus! Ini buku udh masuk list dimana-mana, wajib baca kayaknya!

  11. Hemm.. buku terjemahan ini bisa di beli di mana yah?
    Atau ada yang mau minjemi?
    Terima kasih

  12. Pingback: First Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s