Character Thursday (23)

Mersault adalah tokoh sentral dalam buku Albert Camus yang berjudul The Stranger, yang sudah saya review di sini. Sebenarnya dalam review itu sudah saya tunjukkan seperti apa Mersault tersebut. Seorang penuh paradoks yang memiliki pemikiran berbeda dari sekitarnya. Mungkin dalam Character Thursday ini, saya akan mencoba menganalisis hal-hal yang belum saya sebutkan. Ada yang menyebutkan bahwa karakter Mersault adalah pencitraan dari diri Camus sendiri, citra absurditas dan paham eksistensialisme. Namun bagi saya, hal tersebut masih merupakan ide yang samar, sampai saya membaca sendiri buku tersebut.

Bagian yang pertama kali membuat saya tertarik pada karakter ini adalah saat dia sedang berbincang dengan atasannya tentang promosi dirinya untuk pindah ke cabang baru di Paris.

“Kau masih muda,” katanya, “dan kupastikan kau tentu menyukai hidup di kota Paris. Dan tentu saja kau mempunyai kesempatan mengelilingi Prancis.”
Kukatakan padanya, aku bersedia pergi, tapi aku tidak akan peduli dengan salah satu cara hidup yang dipaksakan padaku.
Kemudian ia bertanya, apakah suatu “perubahan hidup” tidak akan kulakukan dan kujawab, seseorang tidak pernah mengubah cara hidupnya, satu cara hidup akan sama baiknya dengan yang lain, dan cara hidupku yang sekarang adalah cocok betul dengan diriku.
(p.55-56)

Paragraf di atas sempat saya ulangi untuk memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Mersault. Dan kenyataan bahwa dia telah puas dengan cara hidupnya saat itu membuat saya mencoba memahami apa yang ada dalam pikirannya.

Hal yang saya sukai dari karakter Mersault adalah pendiriannya yang tidak mudah goyah oleh arus di sekitarnya. Menurut saya, orang-orang seperti itu sangat jarang, butuh keberanian dan mentalitas yang kuat untuk bisa seperti itu. Dia sanggup mengendalikan emosi, bukan hanya di luar saja, namun pengendalian emosi itu sudah mengakar dalam dirinya. Karena itulah dia tampak sebagai orang yang ‘keras hati’. Saya rasa Mersault bukannya tidak peduli pada ibunya, karena beberapa kali dia mengingat-ingat pesan ibunya. Menurut saya itu adalah salah satu bukti bahwa karakternya pernah dibentuk oleh ibunya, dan dia tidak melupakannya.

Aku lalu ingat pada salah satu buah pikiran ibu—yang selalu didengung-dengungkan—seseorang haruslah berusaha membiasakan dirinya pada sesuatu. (p.102)

Pemikiran ibunya yang diingat oleh Mersault tersebut membuatnya memandang penjara dengan cara yang berbeda, karena dia berusaha menyesuaikan diri dengan cepat.

Aku pernah membaca, bahwa dalam penjara seseorang akan menjadi tamat sudah oleh ketidakmampuannya memperhitungkan kekejaman berlalunya waktu. Tapi bagiku, waktu tidaklah mempunyai arti khusus lagi. Panjang dan atau pendeknya waktu tidak pernah lagi menjadi perhatianku. Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa waktu yang panjang adalah periode di mana kita hidup, tapi waktu begitu menggelembung dan hanya berakhir dengan saling menghimpit satu sama lain. Tapi aku tidak pernah memikirkan waktu dalam pengertian seperti itu. Hanya “kemarin” dan “besok” yang masih mempunyai arti bagiku. (p.107)

Bahkan di mata teman dekatnya, Celeste, Mersault bukanlah teman yang buruk. Meski jarang berbicara dengannya, sikap Mersault tidak pernah mengganggu atau membuat orang di sekitarnya tidak nyaman, maupun merasa tidak dihargai.

“Apakah ia orang yang penuh diliputi rahasia?”
“Tidak,” jawabnya, “aku tidak memandang dia seperti itu. Tapi ia bukanlah macam orang yang suka menyia-nyiakan hidup, seperti kebanyakan orang lain.” (p.123)

Saat dia dituduh dengan suatu kejahatan, dengan tuntutan yang dirasakannya tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya, reaksinya—bisa dikatakan—cukup tenang. Mersault seperti tidak memiliki rasa takut dan gentar atas ancaman yang diarahkan padanya. Hal yang menjadi masalah baginya hanyalah apa yang menjadi prinsipnya sendiri.

Aku telah menjadi orang yang hanya memikirkan masa sekarang atau masa depan dan bukan masa yang telah lampau. Dan tentulah dalam posisi di mana aku didesak ke dalam cara hidup seperti itu, tak ada persoalan atau pertanyaan tentang apa yang kukatakan pada siapa pun. Aku tidak mempunyai hak untuk menonjolkan perasaan-perasaan bersahabat atau memiliki maksud-maksud yang baik. (p.135)

Terlepas dari pemikiran-pemikirannya yang kontroversial, salah satunya ketidakpercayaannya atas Tuhan, Mersault tetaplah bukanlah sosok yang sangat mapan dan sempurna. Di penjara, dia memikirkan kembali hakikat hidup dan kehidupan. Puncak perubahan dirinya ada di bagian akhir, yang tidak akan saya sebutkan di sini karena akan menjadi spoiler. Pastinya, sosok Mersault adalah wujud dari pemberontakan manusia-manusia yang enggan untuk dikekang dan diatur oleh pihak-pihak lain.

Mersault dalam film adaptasi “La straniero” / “The Stranger” (1967) diperankan oleh Marcello Mastroianni, dan disutradarai oleh Luchino Visconti

Mari, bagikan karakter bacaanmu di Character Thursday.

6 responses to “Character Thursday (23)

  1. Aku belum pernah baca karya2nya Camus.. moga2 suatu hari nanti kesampaian baca karya beliau.

  2. Sekali lagi ketemu tokoh yang hold his own principles. Acungin jempol.. separo tapi karena dia gak percaya Tuhan😀

  3. kumpulan cerpen Camus, orang-orang terbungkam, sangat sastrawi, khas filsuf dan nobelis sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s