The Heretic’s Daughter – Kathleen Kent

Judul buku : The Heretic’s Daughter
Penulis : Kathleen Kent (2008)
Penerjemah : Leinovar Bahfein
Penerbit : M-pop (Kelompok Penerbit Matahati), Mei 2011 (cetakan pertama)
Tebal buku : 282 halaman

Jika kita bisa melihat hari esok, berapa banyakkah di antara kita yang akan berusaha mati-matian mengubah masa depan? Bagaimana jika penglihatan itu menunjukkan bahwa kita akan kehilangan rumah, keluarga, atau nyawa, sementara satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya harus ditukar dengan nyawa kita sendiri? Siapakah dia antara kita yang rela melepas sesuatu yang sudah berada dalam genggaman kita? (p.192)

Pada Desember 1690, Thomas dan Martha Carrier bersama kelima putra-putri mereka pindah dari Billerica ke rumah ibu Martha di Andover. Kepindahan untuk menghindari wabah cacar air itu ternyata terlambat, mereka justru membawa penyakit itu ke Andover. Selain karena wabah cacar air yang mereka bawa, Martha Carrier juga bukanlah tipe orang yang mudah disukai, sehingga jadilah keluarga mereka dikucilkan dalam pergaulan di Andover. Kedua putri bungsu mereka, Sarah dan Hannah, diduga belum terkena virus tersebut sehingga dengan cepat dan diam-diam diungsikan ke rumah saudari Martha, Mary Toothaker, di Billerica.

Putri dari Mary dan Roger Toothaker, Margaret, sudah seperti saudari kembar bagi Sarah. Mereka selalu bersama, bermain dan saling berbagi rahasia. Sampai pada saat wabah cacar air dinyatakan telah berlalu, Sarah dan Hannah dipulangkan kembali ke Andover, dengan berita bahwa neneknya telah meninggal. Sarah tidak pernah dekat dengan ibunya. Ibunya keras dan berlidah tajam, dia seringkali terkena hukuman karena sama keras kepalanya dengan ibunya. Sebelumnya, hanya dengan neneknya Sarah bisa dekat dan berbagi, tetapi kini dengan kepergian neneknya dan jauh dari Margaret, hilang pula kehangatan yang dirasakannya pada masa kanak-kanak.

Berbagi rahasia adalah cara kaum perempuan menyatukan diri. Karena rahasia menunjukkan kepercayaan dan rasa senasib. Menyimpan rahasia orang lain merupakan bentuk sikap saling percaya dan suatu perlawanan. Wajar bagi perempuan untuk menyimpan rahasia sampai tiba waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Bukankah itu sesuai dengan cara terbentuknya tubuh mereka? (p.51)

Ada perselisihan antara keluarga Carrier dan Toothaker yang membuat mereka saling memusuhi, masalah tanah warisan nenek Sarah. Lidah tajam Martha juga tak disukai oleh tetangga-tetangganya. Pernah suatu ketika ternak mereka mati setelah beradu mulut dengan Martha, atau kebakaran yang menghanguskan panen tetangganya, dan bukannya milik keluarga Carrier. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Martha Carrier adalah penyihir. Segala desas-desus, prasangka, dan pertikaian membuat keluarga Carrier memiliki musuh dari berbagai arah.

Jarum itu sangat kecil, mudah patah, dan hanya bisa menarik sehelai benang tipis. Tapi karena tajam, jarum bisa merobek pakaian yang paling kasar. Tusukkan jarum ke kanvas berkali-kali dengan benang yang kuat, dan terciptalah layar yang akan menggerakkan kapal melewati samudra. Begitu juga lidah yang tajam. Dengan jalinan benang gosip yang tipis, terjalinlah kisah yang tahan melawan angin kencang. Tiupkan kisah itu ke tiang-tiang ketakhayulan dan seisi kota akan diselimuti angin ketakutan. (p.69-70)

Pada tahun 1692, isu tentang orang-orang yang mempraktikkan sihir memanas di Desa Salem. Puluhan orang ditangkap, diadili, dan menunggu hukuman mati mereka. Mereka akan diampuni jika bisa menyebutkan penyihir lain yang mereka kenal. Jadilah keluarga Toothaker terseret, dan tak ayal Martha Carrier pun menjadi salah satu tertuduh. Sebelum ditangkap, Martha berpesan pada Sarah agar mengatakan apa pun yang diinginkan pengadilan, demi keselamatan keluarga mereka, meski itu berarti Martha akan digantung. Dalam posisi seperti itulah, Sarah mulai memahami ibunya, ibu yang selama ini tak pernah dekat dengannya.

Kisah ini ditulis dengan menggunakan sudut pandang Sarah Carrier sebagai orang pertama. Berawal dari surat yang dituliskannya untuk cucunya, yang membuka kisah hidup yang sebenarnya sangat ingin dilupakan. Akan tetapi dia menyadari pentingnya sejarah keluarganya, juga pelajaran yang dapat diambil oleh cucunya tersebut tentang kehidupan keras yang sudah menempa keluarga mereka.

“Kau tak bisa memanen jagung kecuali kau masuk ke ladang jagung.” (p.167)

Untuk mengambil pelajaran dari sejarah, untuk mengerti apa yang terjadi, kita harus berani kembali ke masa lalu. Itulah perjuangan awal Sarah untuk menguak tragedi yang terjadi di keluarganya. Hingga akhirnya dia sendiri mengerti dan menerima sejarah kelam tersebut, kemudian memulai hidup yang baru, dengan kenangan akan pahit getir masa lalu.

“Tak ada kematian bagi kenangan. Kenangah aku, Sarah. Kenanglah aku, dan sebagian diriku akan selalu bersamamu.” (p.246)

Awalnya, saya mengharapkan sebuah kisah penyihir ‘sungguhan’ dalam buku ini, sehingga ekspektasi saya itu mengecewakan diri saya sendiri. Kisah ini adalah kisah keluarga. Bagaimana hubungan ibu dengan putrinya, hubungan kakak beradik, saudara dekat maupun jauh, dan dengan lingkungan sekitarnya. Kathleen Kent mengangkat sejarah keluarga Carrier, dan bagaimana perjuangan mereka agar tetap ada. Bertahan hidup, saling mengerti, dan melanjutkan keturunan. Thomas dan Martha Carrier, serta keturunan mereka yang diceritakan dalam buku ini benar-benar pernah ada.

Mungkin karena ekspektasi yang berlebihan itu, saya merasa kurang menikmati membaca buku ini pada awalnya. Namun demikian, saya menyukai cara penulisan yang digunakan oleh Kent. Kalimat demi kalimat terasa hidup, dan seharusnya bisa dinikmati dengan lebih baik. Saya juga cukup puas dengan terjemahannya.

“Kebahagiaan akan datang pada mereka yang punya keberanian untuk meraihnya.” (p.186)

Ada berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Seperti buku yang diwariskan Martha pada Sarah, yang berisi masa lalu ayahnya, tak pernah terkuak isinya. Meski demikian, segala hal yang diceritakan dalam buku ini membawa kesan emosional yang berbeda dari sekedar sejarah keluarga. Kent menuliskannya sedemikian rupa sehingga kita ingin tahu, ingin menjadi bagian dari rahasia yang disimpan itu. Demi membuktikan kebodohan dan kekonyolan orang-orang di sekitar mereka, yang ikut andil dalam pengadilan yang tidak adil tersebut.

4/5 bintang untuk Carrier dan keturunannya.

Tetapi kemuliaan seorang manusia terletak pada pemahamannya akan perasaan orang lain. (p.230)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s