Character Thursday (24)

Scarlett O’Hara adalah karakter utama dalam buku Gone With The Wind karya Margaret Mitchell. Akan tetapi berbeda dengan kebanyakan buku yang telah saya baca, karakter utama dalam buku ini justru orang yang sangat mudah dibenci dan sulit dikagumi.

Scarlett tidaklah cantik—seperti yang dikatakan oleh penulisnya—namun dia punya cara untuk membuat para pria terpikat padanya. Pada mulanya Scarlett hidup serba berkecukupan, rumah yang nyaman, dengan semua orang memuja dan memanjakannya, kecuali Ellen—ibunya, dan Mammy—pengasuhnya yang bisa keras kepadanya, sayangnya sikap keras dan disiplin mereka tidak bisa mengubah sifat buruk Scarlett. Dia adalah gadis keras kepala, menurun dari darah Irlandia Gerald—ayahnya, senang menjadi pusat perhatian, seperti nenek Robillard dari pihak ibunya. Pada dasarnya dia adalah gadis yang malas berpikir dan impulsif. Kata-kata saktinya adalah “akan kupikirkan besok”, walau kenyataannya besok juga tak memberi jawaban yang bagus untuknya. Saat cintanya kepada Ashley Wilkes tak disambut, dia ‘membalas’ Ashley dengan menikahi Charles Hamilton, sungguh cara pembalasan yang aneh dan gegabah.

Perang berlangsung, namun dia tak juga peka melihat orang-orang di sekitarnya terluka, yang dia pikirkan hanya kesenangannya sendiri. Titik baliknya yang pertama adalah saat Atlanta hampir jatuh ke pasukan Utara, dan dia menjadi tumpuan bagi semua orang. Kekuatan yang sesungguhnya ada dalam dirinya muncul, meski sikap keras kepala dan manjanya tidak menghilang. Kemudian saat kembali ke Tara dan mendapati semuanya telah hancur, dia berhasil menjadi seorang pekerja yang ulet, dengan kekuatan yang datang dari rasa lapar dan penderitaan. Saya rasa itu adalah prestasi pertama Scarlett. Dari semua karakter yang dimiliki buku ini, saya tidak yakin ada orang bisa berubah sedemikian rupa seperti perubahan Scarlett saat itu. Dia melakukan apa pun demi mendapatkan uang. Dia takut kelaparan dan menderita lagi, dan tampaknya dia hanya terpreokupasi* pada uang, apa pun konsekuensinya, meski harus terkucil dari pergaulan.

Scarlett gigih dan cerdik dalam mengelola bisnis dan keuangan, tapi dia bodoh dalam segala hal lainnya. Bahkan pada perasaannya sendiri dia tidak tahu, sekali lagi karena dia bukanlah pemikir yang baik. Dia tidak bisa bertahan beberapa menit untuk menganalisis dirinya sendiri, apalagi menganalisis orang lain. Dengan segala yang dia alami, segala kekurangan Ashley yang dilihatnya, dan contoh lelaki tangguh yang ditemuinya, saya tidak habis pikir untuk alasan apa dia masih menyimpan cintanya pada Ashley. Mungkinkah Ashley Wilkes adalah preokupasinya juga? Tampaknya begitu.

Saya rasa karakter Scarlett masih merupakan misteri untuk saya. Segala tingkah laku dan pemikirannya jauh di luar ekspektasi saya, perubahannya sekalipun tak bisa ditebak. Justru di situlah daya tariknya, saya seolah ditunjukkan bahwa di luar sana ada manusia yang memiliki standar yang berbeda. Saya tidak mengatakan yang dilakukan Scarlett benar, tetapi yang dilakukannya beralasan, masuk atau tidak masuk di akal, baik atau tidak baik, alasannya bisa diterima. Seseorang tidak bisa menyalahkan kesalahan pengambilan keputusan oleh orang yang tidak kompeten, begitu pula Scarlett, kita tidak bisa menuntut terlalu banyak dari orang dengan pemikiran sedangkal Scarlett. Dia sudah meraih sukses dalam keuangannya, itu sudah sangat bagus sekali.

Seperti yang pernah saya singgung di update post Part 3, titik mula sifat dan kepribadian seseorang adalah sejak dia masih kecil. Jadi apakah Scarlett bisa sepenuhnya disalahkan jika pikirannya dangkal? Saya masih berpikir ulang tentang itu. Memang benar orang tuanya, terutama Ellen, telah berusaha menjadikan Scarlett wanita baik-baik. Tapi dalam bentuk apa? Dari apa yang saya baca, sistem pendidikan saat itu masih sangat kaku, tak heran jika diam-diam Scarlett bersikap berbeda di luar sana. Mungkin di sini juga pentingnya ‘membedakan’ anak-anak. Setiap anak itu unik. Dengan sistem pendidikan yang sama saja, ketiga putri O’Hara memiliki sifat yang bertolak belakang. Scarlett dewasa akan tetap memiliki sifat dasar yang dikembangkannya semasa anak-anak dan remaja, itulah satu hal yang saya dapat.

Vivien Leigh sebagai Scarlett O’Hara pada film adaptasi berjudul sama tahun 1939, yang disutradarai oleh Victor Fleming

Saat tiba pada halaman-halaman terakhir, saat Scarlett menyadari banyak hal, sejujurnya saya tidak yakin perubahannya akan signifikan seandainya buku itu dilanjutkan. Toh ujian yang dialaminya sebelum itu tak kalah berat juga. Bagaimanapun, saya salut pada Margaret Mitchell yang telah menciptakan karakter yang sedemikian konsisten dalam kenaifannya.

*preokupasi = pemikiran yang berulang-ulang dan terpusat pada suatu hal tertentu

3 responses to “Character Thursday (24)

  1. “Scarlett gigih dan cerdik dalam mengelola bisnis dan keuangan, tapi dia bodoh dalam segala hal lainnya.” << Sebetulnya dia bisa berpikir, kurasa, cuma dia suka mengabaikan pemikirannya sendiri karena kuatnya determinasi dia (I'll think about it later). Tentang karakter dia terbentuk sedari kecil, bukankah semua orang juga begitu? Ada hal2 yang akan berubah setelah ia dipengaruhi banyak hal/orang, tapi ada yg takkan berubah.D alam hal Scarlett–sayangnya–yang tak berubah itu adalah yg paling mendasar. Eh…tapi dia ada yg berubah gak ya? Perasaan kok gak ada…😛

    • klo sifat dasar justru memang sulit berubah menurutku. kecuali ada kejadian luar biasa, tp kok kejadian yg ktanya luar biasa buat Scarlett perubahannya ga kentara gitu.

  2. Pingback: #5BukuDalamHidupku : Berkat BBI | Bzee's Inner Space

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s