East Wind West Wind – Pearl S. Buck

Judul buku : East Wind West Wind (Angin Timur Angin Barat)
Penulis : Pearl S. Buck (1930)
Penerjemah : Lanny Murtihardjana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Februari 2009
Tebal buku : 240 halaman

Kwei-lan, sebagaimana layaknya keturunan dari keluarga terhormat yang masih menjunjung tradisi, telah dijodohkan dengan seorang pria yang setara dengannya. Namun pada saat tiba hari tersebut, keadaan menjadi sulit lantaran sang suami tidak seperti pria China saat itu. Suami Kwei-lan telah mengenyam dua belas tahun pendidikan di Amerika. Di malam pernikahan, suaminya menyatakan:

“Kau memang tidak harus langsung tertarik kepadaku pada pandangan pertama, sama seperti aku, saat melihatmu untuk pertama kalinya. Kau telah dipaksa masuk ke dalam pernikahan ini, sama seperti aku. Dalam hal ini kita sama-sama tak berdaya, sampai saat ini. Tapi sekarang, setelah kita berdua saja, kita boleh mengatur kehidupan kita sesuai keinginan. Aku sendiri ingin mengikuti cara yang baru. Dalam segala hal aku ingin menganggapmu setara denganku. Aku takkan pernah memaksamu dalam hal apa pun. Kau bukanlah benda milikku, semacam barang bergerak. Kalau mau, kau boleh jadi temanku.” (p.35-36)

Pernyataan suaminya tersebut membuat Kwei-lan terpukul. Seumur hidupnya, dia telah dididik dengan cara yang lama. Dia memang harus bersikap malu-malu, tidak menawarkan diri secara terbuka, tunduk pada suaminya sesuai dengan apa yang diajarkan ibunya. Kata-kata suaminya itu hanya berarti penolakan atas dirinya, terlebih sejak saat itu mereka tidur terpisah. Segala cara untuk tampil cantik dan menarik seolah tak ada artinya lagi. Kwei-lan tidak mengerti suaminya yang telah mengikuti cara modern. Hingga pada suatu hari, suaminya menyinggung tentang kaki Kwei-lan yang diikat. Dia, yang mempelajari kedokteran barat, menentang tradisi itu. Hal itulah yang pada akhirnya menjadi pintu gerbang berkembangnya kasih sayang suami istri tersebut.

Namun ternyata, cultural shock yang dialami Kwei-lan tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang terjadi kemudian. Kakak laki-laki Kwei-lan, putra pertama dan satu-satunya dari Nyonya Pertama, mengutarakan keinginannya untuk belajar di Amerika. Dia adalah orang yang berkemauan keras, hingga saat ibunya meminta dia menikah terlebih dahulu dengan perempuan yang telah dijodohkan dengannya sejak kecil, dia menolak. Ibunya sangat sedih, namun kemauan keras putranya itu sulit dilawannya. Ibunya khawatir jika terjadi apa-apa pada putranya di negeri yang jauh itu, dia belum memberikan seorang cucu laki-laki untuk meneruskan nama keluarga. Jika itu yang terjadi, maka kedudukannya akan tergeser oleh putra laki-laki para selir.

Kekhawatiran sang ibu beralasan, beberapa tahun berlalu, putranya membawa kabar bahwa dia akan menikahi perempuan Amerika. Larangan serta ancaman tidak dapat menggoyahkan tekad kakak Kwei-lan tersebut. Dia pulang membawa istrinya yang sangat asing, tanpa restu orang tuanya. Dalam masa itulah, Kwei-lan sendiri belajar tentang cinta, cinta yang sulit untuk diungkapkan tapi telah dialaminya sendiri. Kwei-lan juga mengerti kegigihan ibunya yang memegang teguh tradisi, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menyatukan dua generasi yang berbeda pandangan tersebut.

Tapi bagaimana mungkin kata-kata, yang tak lebih daripada sarana kaku dan resmi, mampu melukiskan inti cinta itu sendiri? Ini sama saja dengan mencoba menyimpan awan di dalam wadah besi. Seperti melukis kupu-kupu dengan kuas bambu yang kasar. (p.145)

Saya suka sekali dengan kisah ini. Meski singkat saja, konfik yang diangkatnya justru menjadi sangat mengena, serta penggunaan sudut pandang Kwei-lan sebagai orang pertama berhasil membuat konflik emosionalnya lebih terasa. Meski ini adalah novel Pearl S. Buck yang pertama, saya bisa merasakan kejeniusannya dalam merangkai kata dan kalimat. Penulisannya juga termasuk unik, Kwei-lan menceritakan kisahnya pada seorang yang dia sebut ‘saudariku’, bukan orang sebangsanya yang sulit memahami perbedaan budaya, bukan pula perempuan asing yang tak tahu cara hidup bangsanya.

Seumur hidup kau telah tinggal di antara kami. Walaupun kau berasal dari negeri jauh tempat suamiku mempelajari buku-buku baratnya, kau pasti akan mengerti. (p.9)

Konflik antara dua kebudayaan yang berbeda. Mulai dari perbedaan sesederhana laki-laki dan perempuan, budaya ‘semi-barat’ dan timur, sampai yang paling besar, penyatuan budaya barat dan timur. Belum lagi perbedaan generasi yang digambarkan sangat berpengaruh pada pola pikir dan keterbukaan seseorang. Pada masa-masa itu, dimana pengaruh barat baru saja mulai terasa di China. Generasi muda yang lebih terbuka, yang sedang belajar, yang masih terombang-ambing, atau yang mengalami sendiri kebaikan dari perbedaan budaya tersebut, dihadapkan pada generasi tua yang tak boleh mereka bantah. Sedangkan generasi tua yang sudah turun-temurun merasa tak ada yang kurang dengan tradisi mereka, berusaha mati-matian untuk membendungnya. Tak mudah untuk keduanya, tak akan ada yang menang dalam ‘pertarungan’ ini, karena semua pihak sebenarnya tak ingin menyakiti satu sama lain. Pertentangan semacam ini adalah hal nyata yang berlangsung sampai saat ini. Zaman berubah dan akan selalu berubah. Sampai detik ini dan detik yang akan datang, hanya perubahan yang akan selalu ada.

Saya rasa dalam buku tipis ini tidak ada kejadian sia-sia yang dituliskan. 5/5 bintang untuk angin yang berlawanan arah.

Note : Dalam buku ini, tidak disebutkan secara pasti setting waktunya. Akan tetapi dikatakan bahwa teknologi telegram masih termasuk baru di China saat itu. Telegram pertama kali diperkenalkan pada tahun 1871 (source), sehingga diperkirakan buku ini mengisahkan China pada akhir abad 19 atau awal abad 20.

8 responses to “East Wind West Wind – Pearl S. Buck

  1. wah, saya suka buku-buke yang mengangkat tema budaya gini mbak. Masuk wishlist,🙂

  2. Yaay, bintang 5, saya juga suka banget buku ini, walau tipis bisa mencakup permasalahan ‘culture shock’ dengan jelas dan kesannya sangat natural dan tidak dibuat-buat.

  3. maaf sblumnya,, klo boleh tahu nama sadara siapa, kok dak ada profile tau semacamnya d blok saudara ????
    tuk referensi gan…

    • referensi? setahu saya klo di ranah pendidikan harus pke referensi ilmiah yg bs dipertanggungjawabkan. blog kan (termasuk blog sy) byk opininya. tapi klo ttp mau dipakai, tulis bzee aja

  4. Pingback: First Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Buying Monday #4 : October 2013 | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s