Silang Hati – Sanie B. Kuncoro & Widyawati Oktavia

Judul buku : Silang Hati
Penulis : Sanie B. Kuncoro & Widyawati Oktavia
Editor : Ayuning
Penerbit : Gagas Media, 2012 (cetakan pertama)
Tebal buku : viii + 324 halaman

Namun, kenangan acapkali memiliki mekanisme geraknya sendiri. Datang dan pergi tak selalu terduga. Kadang pula hilang tiba-tiba. (SBK, p.35)

Seperti berjalan, kita tak sempat menghitung langkah
Seperti jatuh cinta, kita tak sempat menentukan arah
(WO, p.163)

Proyek Gagas Duet ini berisi dua cerita dari dua pengarang yang berbeda, yang saling memiliki benang merah.

Sanie B. Kuncoro menuliskan kisah Senandung Hujan (p.1-148), yang bercerita tentang seorang lelaki bernama Rajesh. Di suatu hari berhujan, Rajesh sedang menunggu di halte. Tubuhnya sedang kurang sehat, dia tidak ingin mengambil risiko sakit lebih parah lagi karena akan ada kegiatan pengenalan alam, dimana dirinya sebagai salah satu instrukturnya. Di tengah kebimbangannya, matanya menangkap seorang gadis yang baru turun dari bus. Melihat Rajesh yang kedinginan, gadis itu mengusulkan Rajesh menggunakan korek api untuk menghangatkan tubuhnya. Namun sayangnya, gadis itu tak membiarkan Rajesh mengenal dirinya lebih jauh. Hingga Rajesh mengenangnya sebagai Gadis Korek Api.

Rajesh adalah anggota dari klub pendaki gunung. Di masa lalu, dia dekat dengan adik salah seorang temannya, Magnolia—atau Magni. Namun dengan alasan perbedaan, Magni meninggalkan Rajesh. Hingga kini, bayangan Magni masih belum bisa pudar dari pikiran Rajesh, tidak sampai dia bertemu dengan Gadis Korek Api.

Sering kali diperlukan upaya yang tidak memaksa demi membuat sesuatu menghilang dengan baik. Paksaan justru akan memicu gerak yang defensif. (SBK, p.11)

Tak disangka, dalam acara pengenalan alam, Rajesh bertemu dengan Gadis Korek Apinya, Lotus namanya. Gadis itu masih tetap misterius, tampak selalu menghindar dari lelaki itu. Saat Rajesh disibukkan dengan rasa penasarannya pada Lotus, Magni kembali, menyusulnya ke gunung. Di sinilah Rajesh diuji, apakah dia dapat melepas Magni seutuhnya, atau justru penolakan Lotus memudahkannya menerima Magni kembali? Lalu apakah yang disimpan Lotus tentang masa lalunya?

Jika cinta adalah sebentuk perasaan bahagia, mungkin bisa dibilang, aku mencintainya. (WO, p.183)

Kisah dari Widyawati Oktavia yang diberi judul Persimpangan (p.150-322), masih berhubungan dengan gunung. Kali ini tentang wanita bernama Rubina, yang menyukai pendaki gunung bernama Aria. Rubina nekat bergabung pada pendakian Gunung Ciremai, hanya demi mengenal pria itu lebih dekat. Tanpa pengalaman apa pun, dengan penuh semangat gadis itu menunjukkan kemampuannya yang ternyata seiring dengan tekadnya. Akan tetapi, dalam prosesnya, dia menyadari bahwa Aria sudah memiliki orang lain. Meski saat itu Aria sudah mulai memperhatikannya juga, Rubina tak berani berharap lagi, saingannya terlalu berat.

Saat hari wisudanya, Aria menunggu Rubina, untuk memastikan hatinya sebelum dia pergi jauh. Namun Rubina tak sempat bertemu dengan Aria karena dia terlanjur sakit hati dengan pemandangan yang dilihatnya kala itu. Aria pergi ke luar negeri, Rubina berusaha melupakannya. Dua tahun berlalu, Rubina yang masih berjuang melupakan Aria mendapatinya kembali. Bisakah Rubina menerima Aria, dengan risiko sakit hati yang sama dengan masa lalu mereka?

Kau adalah cinta, yang tak akan habis meski berseteru dengan waktu… (WO, p.278)

Dua kisah ini memuat tema yang mirip, tentang perpisahan dan pertemuan kembali saat masing-masing sedang menata hati untuk melupakan. Selain ‘bersilangan’ di tema, kedua kisah ini pun seolah terjadi di belahan dunia yang berbeda di waktu yang sama. Dalam kedua kisah ini disebutkan tentang pertemanan Aria dan Rajesh, yang dulunya mereka satu sekolah. Rajesh hadir dalam pendakian Gunung Ciremai bersama Aria dan Rubina. Sedangkan kisah Aria beberapa kali disinggung Rajesh saat dia bercerita dengan sahabatnya tentang Magni atau Lotus.

Saya suka sekali dengan gaya penulisan Sanie B. Kuncoro. Kisah yang dituliskannya sebenarnya sederhana saja, konfliknya tidak terlalu muluk, dan plotnya mudah diikuti. Namun, dia menuliskan kisah ini dengan bahasa yang indah, membuat kisah sederhana ini terasa sangat nikmat. Penggunaan bahasa kiasan, dipadu dengan diksi yang ‘tak biasa’, membuat saya larut dalam halaman demi halaman kisah ini, deskripsinya justru lebih menarik ketimbang kisahnya sendiri. Penggunaan alur maju mundur, dengan perubahan setting setiap bab yang pendek-pendek tidak membingungkan, justru merangsang otak saya bekerja dengan baik untuk mencernanya.

“Aku menyadari bahwa cinta bukanlah sesuatu yang rumit, hanya sesuatu yang membuatmu tenang—membuatmu nyaman. Dan, yang terpenting, membuatmu tak hilang harapan,” (WO, p.200)

Widyawati Oktavia menggunakan cara yang berbeda. Pada mulanya saya pikir dia menggunakan gaya penulisan yang sama puitisnya dengan penulis pertama. Namun ternyata kesan pertamanya tidak seperti kesan keseluruhan. Gaya bahasa penulis kedua ini lebih kekinian dan ‘ringan’. Beberapa kali juga penulis menyebutkan detail seperti merk tas, model pakaian, bentuk asesoris, dan lain sebagainya. Konflik yang disuguhkan lebih rumit, terutama bagaimana pembaca dituntut menyelami pola pikir masing-masing tokohnya. Tarik ulur kisah cintanya lumayan membuat saya tidak sabar untuk mengetahui akhirnya, sekaligus bertanya-tanya karena sulit sekali ditebak. Di situlah daya tariknya, selain kata-kata inspiratif yang terkadang muncul, hingga berkali-kali saya menandainya. Namun, ada sebuah kejanggalan logika yang mengganggu dalam kisah kedua ini. Yaitu pada saat Aria meminjam buku di perpustakaan–buku yang berhubungan dengan Rubina–dia melupakan buku itu sampai hari wisudanya, bahkan dia meninggalkan buku itu bersama Rubina selama dua tahun kepergiannya. Pertanyaan saya, apakah perpustakaan kampus–yang katanya ternama di Jakarta itu, sebegitu baiknya ‘mengikhlaskan’ bukunya dibawa oleh mahasiswa yang telah diwisuda? Sampai dua tahun lebih? Yah, mungkin penulisnya lupa dengan fakta itu karena ingin memberi kisah tersendiri tentang buku itu.

Saya berikan 4 bintang untuk kisah pertama, dan 3 bintang untuk kisah yang kedua. Karena saya selalu memberikan nilai bulat, keseluruhannya saya bulatkan menjadi 4 bintang untuk cover yang cantik dari penerbit.

“Apakah kau percaya bahwa cinta akan menemukan jalannya sendiri?”
“Percaya. Dan itu yang akan terjadi pada kita. Pada saatnya nanti, jalan cinta itu akan terbuka seluas-luasnya sehingga ke arah mana pun kita menuju, selalu akan tersedia cinta untuk kita.”
(SBK, p.43)

Karena cinta itu hangat meski dalam bentuk sederhana; sebuah doa, (WO, p.304)

Desainnya seperti membuka sebuah amplop.

Review #4 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge 2012

3 responses to “Silang Hati – Sanie B. Kuncoro & Widyawati Oktavia

  1. Big thanks Busyra

  2. Big Thanks Busyra.
    Review mu ini adalah yang pertama untuk Silang Hati.
    Seolah hujan pertama di awal musim semi sesudah kemarau panjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s