My Life as Video Music Director – Haqi Achmad

Judul buku : My Life As Video Music Director
Penulis : Haqi Ahmad
Penyunting : Gina S. Noer
Penerbit : Plotpoint Publishing (PT Bentang Pustaka), Mei 2012 (cetakan pertama)
Tebal buku : viii+180 halaman

“hidup itu bukan sebuah proses pencarian, tapi hidup itu sebuah proses penciptaan.” (p.155)

Setiap melihat video klip yang bagus dari sebuah lagu, apakah yang pertama kali kita pikirkan? Pernahkah kita membayangkan proses di baliknya, orang-orang yang berada di balik visualisasi musik tersebut? Dalam buku seri “My Life As” ini, penulis mengajak kita untuk menyimak pengalaman tiga sutradara video klip ternama di Indonesia; Angga Dwimas Sasongko, Renny Fernandez dan Sim F.

Alkisah, di saat sebuah label rekaman hendak membuat video klip untuk salah satu produknya, label akan mencari seorang sutradara. Si sutradara inilah yang akan membuat konsep dan mempersiapkan segala hal, sampai pada pelaksanaannya. Label hanya akan memberi anggaran untuk itu. Akan tetapi, prosesnya tidak sesederhana kalimat itu. Ada tawar-menawar dan perdebatan yang harus dilalui; sutradara yang seringkali kesulitan meyakinkan pihak label tentang konsepnya, label yang terkadang ‘pelit’ dalam masalah anggaran, dan lain sebagainya.

Meski tak ada bukti bahwa kesuksesan sebuah video klip menentukan penjualan album secara fisik, video klip tetap menjadi salah satu media promosi. Banyak lagu yang dikenal oleh masyarakat berawal dari video klip. Video klip sendiri tercatat dimulai tahun 1894, dengan dibuatnya slide foto untuk lagu berjudul The Little Lost Child oleh George Thomas. Setelahnya, teknologi mulai berkembang, dari Soundie (potongan-potongan sajian musical), musikal pendek, dan seterusnya. Munculnya MTV (Music Television) pada 1 Agustus 1981 berdampak besar pada promosi musik melalui video klip. Di Indonesia sendiri video klip diawali dari tampilnya para musisi di dalam film pada tahun 1960an.

Buku yang terbagi dalam sepuluh bab ini merangkum mulai dari apa video klip itu, bagaimana pembuatannya, proses yang harus dilalui seorang sutradara video klip, sampai tips untuk menjadi sutradara video klip. Buku ini semacam panduan untuk remaja yang masih memiliki berbagai macam cita-cita dan masih berkesempatan membuka banyak pintu untuk dilalui. Namun bukan berarti buku ini tidak bisa dibaca oleh orang dewasa tua, nilai inspirasi dan perjuangan yang tersirat dalam buku ini, serta berbagai informasi cukup menarik untuk dinikmati.

Penulis meramu pengalaman ketiga sutradara tersebut dan meleburnya ke dalam masing-masing bab dalam buku ini. Sehingga bisa dikatakan bahwa memang yang diutamakan dalam buku ini adalah proses dan kehidupan para sutradara, bukan hanya terbatas pada ketiga tokoh itu. Mereka adalah contoh dan narasumber yang melengkapi sekaligus memperkuat isi dari buku ini. Berikut saya rangkum sedikit hal penting tentang mereka bertiga.

Angga yang lulusan Broadcasting UI, memulai dari membuat film pendek. Dia terjun ke dunia perfilman terlebih dahulu. Video klip pertamanya adalah proyek coba-coba untuk Cozy Street Corner. Setelah itu, beberapa video klip independen masih digarapnya, berlanjut dengan tawaran iklan, dokumenter dan film layar lebar. Video klip dari label besar yang pertama disutradarainya adalah Tompi dengan Sedari Dulu. Video klip Angga selalu bermain dengan personifikasi dan simbol, yang seringkali berbeda dengan lirik lagu tersebut sebagai proses kreatifnya. Karyanya yang paling berkesan secara pribadi adalah Puritan oleh Molukka Hip-Hop. Video klip yang digarap dengan keterbatasan, namun dirasanya sangat kuat.

Renny tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang berhubungan dengan directing. Dia belajar dari mengikuti kakaknya, Ria Warna, setiap syuting video klip. Keterlibatannya dimulai saat Sim F memperkenalkannya dengan Eugene Panji. Perlahan, mulai dari talent coordinator, asisten produser, produser, asisten sutradara, dan pada akhirnya dia menyutradarai video klip Harapan Jaya yang berjudul Presiden Rock-nroll yang cakupannya masih independen. Video klip komersil pertamanya adalah Kau Auraku dari Ada Band, yang sekaligus menjadi awal karir Renny sebagai sutradara video klip. Ciri khasnya adalah storytelling, yang dianggapnya lebih disukai masyarakat, sekaligus dapat melampiaskan hobi menulisnya. Video klip garapannya yang paling berkesan adalah Dan Lagi oleh Lyla, karena pertama kali dia menggunakan adegan di bawah air, padahal dia sendiri tak bisa berenang.

Sim memulai langkahnya saat dia membuat sebuah film pendek. Perjalanannya melalui account manager, video jockey, asisten sutradara. Video klip pertamanya untuk Seurieus, Gadisku, dibiayainya sendiri. Sim sebenarnya lebih sering menyutradarai iklan, karena sebagai sutradara video klip bisa dibilang dia adalah seorang yang idealis. Dikatakan bahwa karena idealismenya itu dia jarang dicari oleh label, namun ternyata karya berbicara, banyak penghargaan yang sudah didapatkannya. Di antaranya Best Video of The Year versi MTV Indonesia pada tahun 2005 lewat Jangan Ganggu (Project Pop) dan tahun 2009 pada Cinta Pertama dan Terakhir (Sherina). Sim juga mengantongi penghargaan dari Dahsyatnya Awards dan Klik Awards. Dalam video klip yang dibuatnya, Sim seringkali bermetafora dengan simbol.

Perjuangan ketiga sutradara tersebut bukannya selalu mulus. Ada halangan yang harus dilalui, mulai dari dukungan dan kepercayaan orang tua, atau jalan yang harus berbelok dulu sebelum tiba di tujuan. Akan tetapi pada akhirnya semuanya terbayar. Mereka mendapat kepuasan dari mengerjakan apa yang mereka sukai, dan mendapatkan uang darinya. Meski demikian, Sim mengaku bahwa uang bukan tujuannya, dia merasa cukup dengan kepuasan dan pengalaman yang didapatkan. Sedangkan kedua sutradara lain punya pengalaman menarik dengan kesempatan menyutradarai video klip idola mereka. Angga yang mengidolakan Padi dipercaya untuk membuatkan video klipnya, juga kesempatan untuk dekat dan bekerja bersama Gigi dan Netral. Renny yang sejak kecil memfavoritkan Sheila on 7, pada akhirnya diberi kesempatan untuk membuat video klip untuk lagu Yang Terlewatkan pada tahun 2008.

Di antara kisah manis pahit ketiga sutradara ini, tersebut dua sutradara hebat yang menjadi inspirasi mereka: Dimas Djay dan Rizal Mantovani, dilengkapi dengan riwayat singkat karir mereka. Begitu banyak informasi dan inspirasi yang diberikan oleh buku yang tebalnya tidak sampai 200 halaman ini. Dengan halaman-halaman penuh warna, ukuran tulisan yang nyaman dibaca, serta layout yang tidak membosankan. Dan rasanya tidak akan lengkap jika tidak membacanya sendiri.

2 responses to “My Life as Video Music Director – Haqi Achmad

  1. Waduh buku2 model baru ya kayak gini, layout dan pembahasan serta sampul kesannya modern banget. Duh jd ingat jatah saya blm diambil di kos mbak Desty pdahl ada dua waduhhh. Ini ada foto2nya ga bukunya?

  2. ada foto2 sutradara itu aja sih, bukan yg informatif buat isi bukunya. tp selain itu ada bagan2, timeline, dan sejenisnya, semacam highlight dari keseluruhan bab trtentu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s