Untung Surapati – Yudhi Herwibowo

untung surapatiJudul buku : Untung Surapati
Penulis : Yudhi Herwibowo (2010)
Editor : Sukini
Penerbit : Metamind (Creative imprint of Tiga Serangkai), 2011 (cetakan pertama)
Tebal buku : xxviii + 660 halaman

Dan, bagaimana engkau melukiskan waktu?
Mungkin itu bagai walet-walet yang selalu terbang di atas kepala kita, kala senja mulai tiba. Tak pernah benar-benar tersadari. Karena engkau tak akan pernah benar-benar mencoba untuk menghitungnya? Hari kemarin, hari ini, dan hari esok? Terus seperti itu, berulang-ulang. Tanpa pernah engkau tahu, kapan walet-walet itu merasa lelah beterbangan?

(p.584)

Di paruh akhir abad ketujuh belas, di tengah keramaian pasar di Banten, dua orang bocah kecil sedang dipindahtangankan dari seorang pedagang budak kepada seorang perwira VOC. Tak lama kemudian, kedua budak itu berpindah ke rumah seorang saudagar Belanda di Batavia, Mijnheer Moor. Kedua bocah itu, Pande dan Kurus, tinggal bersama keluarga Moor. Kebetulan Moor memiliki seorang anak perempuan yang kurang lebih sebaya mereka–Suzanne, sehingga seringkali mereka hanya bertugas menemaninya bermain.

Seiring berlalunya waktu, Moor merasa bahwa kehadiran kedua anak itu membawa keberuntungan bagi keluarga Moor. Sampai suatu hari, salah seorang dari kedua budak itu melarikan diri dari rumah, Moor merasa bahwa anak yang tetap tinggal inilah yang membawakan keberuntungan untuknya. Anak ini diberinya nama baru, Untung.

Untung tumbuh dewasa bersama dengan Suzanne, tak ayal benih-benih cinta tumbuh di antara mereka berdua. Saat cinta terlarang itu tercium oleh Moor, mau tak mau untuk menghindari masalah baru dan amuk sang majikan, Untung melarikan diri dari rumah tempatnya tumbuh dewasa. Dia menetap di sebuah kota di tengah hutan yang telah ditinggalkan penduduknya, membangun sebuah perkumpulan yang secara diam-diam melawan pasukan VOC dan merampok mereka. Sejak itulah secara resmi Untung menjadi musuh bebuyutan VOC.

Takdir hidup Untung ternyata harus melalui petualangan. Dia mengemban misi untuk mengembalikan putri seorang Patih di Kartasura. Di samping itu, pertempuran terakhirnya tampaknya membuat posisinya tak lagi aman di Batavia. Dalam perjalanannya tersebut, Untung membantu perjuangan kabupaten-kabupaten yang dilewatinya. Gelar Surapati didapatnya dari Kesultanan Cirebon.

Di Kartasura, posisi Untung Surapati tidak juga lebih mudah. Keraton sudah memiliki perjanjian khusus dengan VOC. Meski pada awalnya dukungan secara diam-diam bisa dilakukan, pada akhirnya VOC tahu. Untung Surapati pun terpaksa keluar dari Kartasura, dan menaklukkan Pasuruan.

Namun, satu pertanyaannya yang akan muncul jika Untung Surapati dan Benteng Bangil dikalahkan adalah: siapa lagi sosok yang akan dengan berani menentang Kompeni di tanah Jawa ini? (p.640)

Manusia pasti akan mengalami kematian. Hidup Untung Surapati tidak panjang, namun ternyata perjuangan yang dilakukan demi tanah airnya sangatlah panjang. Kabupaten demi kabupaten, desa demi desa, orang-orang terdekatnya yang setia sampai titik darah terakhir, dan pengikut-pengikutnya yang mewarisi keberanian pemimpin mereka.

dan hari mungkin sekadar hari …
dan kekalahan mungkin sekadar kekalahan …
seperti matahari yang tenggelam, hilang …
untuk kembali muncul esok ….
(p.446)

Sebagaimana karya lain penulis yang pernah saya baca, saya menyukai pilihan kata dalam banyak bagian dalam buku ini. Akan tetapi, untuk novel bernuansa sejarah, saya kurang dapat menangkap sisi heroik dalam karakter Untung Surapati pada awal bagian buku ini. Dikisahkan bagaimana Untung Surapati dibesarkan dalam lingkungan keluarga Belanda, dan jarang berinteraksi dengan kaum pribumi, apalagi pejuang-pejuangnya, pun tidak ada tanda-tanda keresahan atau pergolakan batin atas pendudukan orang asing di tanahnya. Kemudian pada suatu titik dimana dia bermasalah dengan kehidupan percintaannya, mengapa tiba-tiba timbul perasaan nasionalisme? Entah mungkin saya yang tidak mengerti.

Seiring dengan perkembangan kisah, yaitu setelah dia menjadi pemimpin bagi para pejuang, barulah saya bisa sisi heroik dalam karakter Untung Surapati dapat benar-benar diterima. Penulisan kejadian dan adegan dalam buku ini sangat mendetail, sehingga saat membacanya serasa menonton film. Bahkan efek suara semacam “dhuuuarh!!!” atau “wuuuush!” yang bertebaran di halaman-halaman buku. Ekspresi tiap karakter juga digambarkan dengan cukup jelas. Untung Surapati yang diceritakan di sini adalah seorang manusia yang penuh dengan emosi, dengan sisi sentimental juga.

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah detail sejarahnya. Mulai dari sejarah suatu tempat, pendirinya, penguasanya, sejarah penaklukannya, tahun-tahun kejadian, dan lain sebagainya. Dalam balutan fiksi, sejarah bisa menjadi lebih mudah diterima. Data-data yang dimasukkan dalam novel ini berdasarkan studi dari berbagai sumber, sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

3/5 untuk sejarah salah satu pahlawan nasional kita.

lalu, satu per satu teriakan itu hilang
menjadi rintihan dan diam ….
lalu, satu per satu dari mereka, jatuh
tewas dan menjadi kisah ….
(p.620)

Review #6 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s