Harry Potter and the Sorcerer’s Stone – J. K. Rowling

HP1Title : Harry Potter and the Sorcerer’s Stone
Author : J. K. Rowling (1997)
Format : ebook

Hogwarts, Hogwarts, Hoggy Warty Hogwarts,
Teach us something please,
Whether we be old and bald
Or young with scabby knees,
Our heads could do with filling
With some interesting stuff,
For now they’re bare and full of air,
Dead flies and bits of fluff,
So teach us things worth knowing,
Bring back what we’ve forgot,
just do your best, we’ll do the rest,
And learn until our brains all rot.

Meskipun saya yakin semua orang sudah tahu garis besar kisah Harry Potter, baik itu membaca atau menonton filmnya, saya rasa saya tetap akan memberi sedikit sinopsis.

Di Privet Drive nomor empat, tinggal keluarga Dursley, suami istri dan seorang anak laki-laki—Dudley. Keluarga Dursley adalah keluarga yang (merasa) paling masuk akal dan tidak percaya pada hal-hal yang tidak wajar. Pada suatu hari, keanehan demi keanehan terjadi. Mulai dari orang-orang berkeliaran dengan memakai jubah, kembang api besar yang tiba-tiba muncul, burung hantu berkeliaran di siang hari, dan puncaknya pada esok paginya, seorang bocah berusia satu tahun dititipkan di depan pintu rumah mereka.

Bocah itu adalah Harry Potter, yang tidak lain adalah putra dari saudari Petunia Dursley—Lily. Lily Potter adalah seorang penyihir, dan sejak masuk ke sekolah penyihir–Hogwarts, terlebih akhirnya menikahi penyihir juga—James Potter–Petunia melupakan bahwa Lily pernah ada. Pada hari yang ‘aneh’ itu, seorang penyihir yang dikatakan paling jahat—Voldemort—membunuh keluarga Potter. Namun saat hendak membunuh Harry, sihir itu berbalik pada dirinya, menghancurkannya, dan membuat kehebohan di dunia sihir. Nama Harry Potter dikenal seantero dunia sihir sebagai bocah yang berhasil lolos. Dumbledore–kepala sekolah Hogwarts dan salah satu penyihir paling hebat–memutuskan bahwa Harry harus hidup di dunia Muggle (non-penyihir), demi supaya ketenaran tidak mengganggu perkembangannya. Dan satu-satunya keluarganya yang tersisa hanyalah keluarga Dursley.

Kehadiran Harry di rumah Dursley tidak disambut dengan baik, mereka terpaksa. Harry dibesarkan secara tidak layak, bahkan seringkali tidak dianggap. Mereka tidak menceritakan kisah yang sebenarnya tentang orang tua Harry, apalagi tentang keberadaan dunia sihir yang selalu mereka sangkal. Sampai pada sehari menjelang ulang tahun Harry yang kesebelas, datang sebuah surat untuknya. Surat yang mengubah hidupnya. Meskipun Vernon Dursley berusaha menghalanginya membaca surat itu (dengan kisah seru yang lebih baik dibaca sendiri), tepat pada hari ulang tahunnya, seorang penyihir raksasa, guru Hogwarts, sekaligus sahabat orang tua Harry, membawakan surat itu sendiri untuk Harry, menyatakan bahwa dia akan bersekolah di Hogwarts.

Petualangan Harry di dunia yang sama sekali berbeda dimulai. Dia yang merasa hidupnya tak berarti, tak dihargai dan nyaris tak memiliki kesenangan, kini berbalik 180 derajat. Di dunia sihir, namanya sudah dikenal sebagai ‘pahlawan’. Tidak ada seorang pun—kecuali penyihir yang hidup di dunia Muggle—yang tidak mengetahui nama Harry Potter, dan bekas luka berbentuk petir di dahinya.

Akan tetapi, di Hogwarts, Harry tidak hanya belajar sihir. Dia belajar ‘hidup’.

Dia belajar bahwa seseorang yang mengingatkannya pada Dudley—congkak dan manja—tidak layak untuk dijadikan teman dekat.

“I think I can tell who the wrong sort are for myself, thanks,” (Harry to Draco)

Dia menemukan persahabatan sejati. Bertemu dengan Ron Weasley saat perjalanan menuju Hogwarts, yang menerimanya apa adanya serta terbuka untuk saling berbagi satu sama lain. Bertemu Hermione Granger, yang pada awalnya terkesan ‘sok’ karena dia sering mengatakan apa yang dibacanya (hampir semua buku pelajaran tingkat pertama telah dibacanya), yang selalu ikut campur saat Harry dan Ron hendak melanggar peraturan sekolah, namun ternyata itulah yang disebut sebagai kepedulian. Pada akhirnya mereka menjadi sahabat.

There are some things you can’t share without ending up liking each other, and knocking out a twelve-foot mountain troll is one of them.

Mungkin kepedulian Harry terlalu besar, hingga dia terlibat pada sebuah masalah besar yang terjadi di sekolah.

You’re too nosy to live, Potter.

Kejadian demi kejadian yang tak disengaja membawanya pada masalah itu. Mereka menemukan bahwa sebuah benda berharga disimpan di dalam sekolah, sebuah benda yang diincar oleh Voldemort. Mereka belum cukup mengenal Hogwarts untuk tahu bagaimana mengatasinya, tapi pada akhirnya mereka melakukan apa yang mereka anggap benar. Meski harus melanggar peraturan sekolah, meski harus bermasalah dengan Snape—guru yang entah mengapa kelihatannya sangat membenci Harry, meski dengan risiko kehilangan nyawa mereka sendiri.

Ini adalah kedua kalinya saya membaca buku ini, dan saya melihat banyak sekali hal yang bisa saya dapatkan—hal-hal yang belum saya lihat saat pertama kali membacanya. Segala hal-hal kecil, entah disengaja atau tidak, memiliki makna yang begitu dalam dan luas. Sungguh saya sangat mengagumi bagaimana kisah fantasi bisa memiliki nilai kemanusiaan yang semacam ini. Saya tahu mengapa buku ini layak untuk disebut klasik di masa depan.

Mungkin karena buku ini ditujukan untuk anak-anak, maka klise semacam orang baik selalu menang, dan yang jahat akan mendapat balasan harus tetap ada. Akan tetapi, jalan untuk menuju kemenangan bagi si baik juga tidak mudah. Harry yang berkali-kali ditegur, mendapat hukuman sampai dikucilkan dari teman-teman Gryffindor-nya. Perjuangan yang membutuhkan keberanian, tekad baja, kecerdikan, kepandaian, bukan hal-hal yang secara alamiah dimiliki karena semata-mata dia pahlawannya. Harry dimasukkan dalam tim Quidditch karena dia membela Neville dengan mengambil risiko tulangnya patah akibat terjatuh dari sapu. Hermione bisa lolos dari Devil’s Snare karena dia rajin membaca dan memperhatikan apa yang diajarkan padanya. Dan Neville berhasil menggenapkan kemenangan Gryffindor karena keberaniannya, keberanian yang dipelajarinya dari teman-temannya, namun digunakannya untuk menghadapi mereka juga.

It takes a great deal of bravery to stand up to our enemies, but just as much to stand up to our friends.

Jika boleh saya memaknai secara berbeda apa yang dikatakan Firenze, sang Centaur, tentang pembunuhan Unicorn:

You have slain something pure and defenseless to save yourself, and you will have but a half-life, a cursed life, from the moment the blood touches your lips.

Hal ini sebenarnya tidak hanya terjadi di dunia sihir, tapi juga di dunia kita. Seringkali kita melihat dan mendengar bagaimana orang-orang yang kuat, baik secara fisik, materi, maupun status sosial, menindas orang-orang yang lebih lemah dari mereka demi keuntungan mereka sendiri. ‘Kutukan’ itu akan mengikuti mereka, terkutuk karena doa orang-orang yang teraniaya. Tidak hanya tentang ini, tapi banyak hal yang saya dapatkan relevan dengan kehidupan sehari-hari, nilai kemanusiaan yang tak saya sangka bisa didapat dari sebuah kisah fantasi.

“Mars is bright tonight. Unusually bright.” (Ronan, the Centaur)

“The planets have been read wrongly before now, even by centaurs. I hope this is one of those times.” (Firenze)

“It sounds like fortune-telling to me, and Professor McGonagall says that’s a very imprecise branch of magic.” (Hermione)

Pada January meme saya telah menyebutkan seorang karakter guru terfavorit saya. Namun, masih ada kebijaksanaan beliau yang ingin saya kutip:

“The truth.” Dumbledore sighed. “It is a beautiful and terrible thing, and should therefore be treated with great caution. However, I shall answer your questions unless I have a very good reason not to, in which case I beg you’ll forgive me. I shall not, of course, lie.”

Satu lagi alasan saya ingin seperti beliau:

“Another Christmas has come and gone and I didn’t get a single pair. People will insist on giving me books.” (LOL)

Last but not least, the most important thing in life. The difference between good and evil. The thing that makes our life’s alive. Love.

“Your mother died to save you. If there is one thing Voldemort cannot understand, it is love. He didn’t realize that love as powerful as your mother’s for you leaves its own mark. Not a scar, no visible sign… to have been loved so deeply, even though the person who loved us is gone, will give us some protection forever. It is in your very skin.”

hotter-potter-logo-1

Children need to educate how to love, not to hate each other. 5/5 stars for a very deep children’s fantasy.

After all, to the well-organized mind, death is but the next great adventure.

Review #1 for Hotter Potter

Review #2 for Books in English Reading Challenge 2013

Review #1 for What’s in a Name Challenge 2013

FYE buttonPembaca buku ini saya rasa dimulai dari anak-anak sebaya Harry. Usia 11 tahun cukup layak untuk menikmati buku ini. Konsep kematian yang diimbangi dengan cinta, perbedaan yang jelas antara ‘kebaikan’ dan ‘kejahatan’.

Buku ini mendapatkan : Nestlé Smarties Book Prize 1997 Gold Medal 9-11 years, FCBG Children’s Book Award 1997 Overall winner and Longer Novel Category Birmingham, Cable Children’s Book Award 1997, Young Telegraph Paperback of the Year 1998 Carnegie Medal 1998 (Shortlist), British Book Awards 1997 Children’s Book of the Year, Sheffield Children’s Book Award 1998, Whitaker’s Platinum Book Award 2001

13 responses to “Harry Potter and the Sorcerer’s Stone – J. K. Rowling

  1. ini buku bener-bener tidak hanya berisi fantasi yaa..pesan moralnya banyak banget..metafora yang mengarah pada cara kerja Cinta juga banyak banget🙂 btw, aku juga suka Quote tentang cinta yang diberikan Lili Potter utk Harry

  2. ini buku bisa dimasukkin bildungsroman gak, zee? *komen yg gak nyambung*

    Btw aku terharu lagi deh baca quote2nya Dumbledore. Oh…how I love and respect that old man😦

  3. ya aku juga suka quote2 yg ada di posting ini. bhs harry bisa selamat dari serangan voldemort karena ‘cinta’ ibunya, itu menyentuh bgt. quote dr dumbledore yg terakhir juga jd favoritku.🙂

  4. Pingback: Harry Potter and the Chamber of Secrets – J. K. Rowling | Bacaan B.Zee

  5. “Deep” children’s book, it totally is! Makna lain kata-katanya Firenze itu keren!

  6. Pingback: Hotter Potter 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  7. Pingback: 2013 TBRR Pile Mystery and Fantasy Wrap Up | Bacaan B.Zee

  8. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  9. Pingback: Books in English 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s