The Hours – Michael Cunningham

The HoursTitle : The Hours
Author : Michael Cunningham (1998)
Publisher : Picador USA (Farrar, Straus and Giroux)
Edition : First Printing, October 2002
Format : Paperback, 230 pages

I have no time to describe my plans. I should say a good deal about The Hours, & my discovery; how I dig out beautiful caves behind my characters; I think that gives exactly what I want; humanity, humour, depth. The idea is that the caves shall connect, & each comes to daylight at the present moment.
–Virginia Woolf, in her diary, August 30, 1923

Seusai menutup halaman terakhir buku ini, saya kembali membaca kalimat di atas yang dikutip pada halaman pertama. Saat itulah saya menyadari apa yang telah diperbuat oleh buku ini. Mungkin juga saya mengerti mengapa buku ini dianugerahi Pulitzer Prize pada tahun 1999.

Kisah dibuka dengan prolog mengenai detik-detik terakhir kehidupan Virginia Woolf, kisah yang sudah lazim ditemukan pada biografi ataupun artikel tentang beliau. Kemudian pada bab pertama, dengan setting New York akhir abad kedua puluh, kita dipertemukan dengan Mrs. Dalloway. Bukan, bukan Mrs. Dalloway tokoh rekaan Mrs. Woolf, tapi Clarissa Vaughan yang oleh mantan kekasihnya, Richard, dijuluki Mrs. Dalloway karena kemiripan kisah hidupnya. Saat itu, Clarissa hendak mempersiapkan sebuah pesta untuk Richard yang menerima Carrouthers Prize, salah satu penghargaan bidang literatur. Pada saat itu Clarissa memikirkan kembali hidupnya. Memikirkan makna hidup dan pilihan yang dijalaninya bertahun-tahun silam. Berpisah dengan Richard, tinggal serumah bersama ‘teman’ wanitanya, memiliki seorang anak perempuan yang dalam beberapa hal tumbuh tak sesuai dengan keinginannya.

There is still that singular perfection, and it’s perfect in part because it seemed, at the time, so clearly to promise more. Now she knows: That was the moment, right then. There has been no other. (p.98)

Selanjutnya, setting berpindah pada Mrs. Woolf sendiri, saat-saat dimana dia mengalami kegundahan dalam menulis. Merasa tak cukup baik, tak cukup terencana; hidupnya bisa jadi bahagia, tapi terkadang ada sakit kepala dan suara yang mengganggunya. Kemudian ada Mrs. Brown, di Los Angeles tahun 1949. Laura Brown sangat suka membaca, dan dia sangat mengagumi karya Virginia Woolf. Saat itu dia sedang mengandung anak kedua, dia punya alasan untuk bermalas-malasan dan membaca sepanjang hari, dia akan dimaklumi meski hari itu ulang tahun suaminya. Tapi dia memutuskan untuk berbuat sesuatu, membuat kue, memberi sedikit perhatian untuk anak pertamanya, Richie, yang disadarinya pada saat itu memberikannya kekuatan dan kebahagiaan.

She inhales deeply. It is so beautiful; it is so much more than . . . well, than almost anything, really. In another world, she might have spent her whole life reading. But this is the new world, the rescued world—there’s not much room for idleness. So much has been risked and lost; so many have died. (p.39)

Kisah ketiga wanita ini diceritakan bergantian secara paralel, masing-masing memiliki penghubung, namun pada permulaannya tetap saja hubungan itu masih terasa kabur. Ketiga karakter ini memiliki persamaan pada kecenderungan depresi yang dialami. Hal itu terkesan sangat kuat sampai lebih dari dua pertiga buku, begitu depresif, dipenuhi oleh keinginan dan perencanaan bunuh diri.

Oleh karena saya belum membaca Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf, saya sama sekali tak bisa menebak ke mana arah cerita ini. Padahal, setelah saya melihat-lihat sinopsisnya, plot dan karakterisasi dalam buku ini sangat mirip dengan Mrs. Dalloway. Jadi, mungkin dengan membaca The Hours ini saya mendapatkan banyak spoiler tentang Mrs. Dalloway. Terlepas dari kemiripannya, saya sungguh tercengang dengan ide kisah ini dan bagaimana sang penulis mengeksekusinya. Saya belum bisa menilai mana yang merupakan ide asli penulis, dan mana yang terinspirasi dari Virginia Woolf, sehingga saya tidak membahas mengenai itu. Saya tak bisa memilih kata yang lebih tepat selain tercengang, selain karena tak tertebak, ide yang kemudian ditanamkan di akhir kisah juga sangat jauh berbeda dibandingkan dengan suasana yang dibangun sepanjang buku ini berkisah.

Penulis menggali kegundahan ketiga wanita itu dengan masalahnya masing-masing, namun semua berakar dari sudut pandang mereka memaknai hidup yang mereka jalani. Saat mereka merasakan kebahagiaan, tapi tak bisa meyakinkan diri mereka bahwa mereka benar-benar bahagia, bahwa kebahagiaan itu yang mereka butuhkan. Saat mereka mengambil sebuah pilihan kontroversial–mengenai homoseksualitas yang juga diangkat dalam beberapa karya Virginia Woolf–kemudian mereka mempertanyakan kebenaran perasaan itu, atau juga mengapa perasaan itu harus dilarang. Saat mereka memikirkan tentang kematian, betapa mudah dan tersedianya cara mereka untuk menjemput kematian, tapi ternyata ada hal lain tentang kematian yang pada akhirnya membawa mereka pada suatu titik balik yang baru. Membawa kisah ini pada sebuah twist yang, tak bisa dibilang menghilangkan kesan depresif, tapi cukup memberi sebuah harapan baru, batas antara hidup dan mati.

“I don’t have any regrets, really, except that one. I wanted to write about you, about us, really. Do you know what I mean? I wanted to write about everything, the life we’re having and the lives we might have had. I wanted to write about all the ways we might have died.” (p.67)

Hanya dengan membacanya satu kali, saya merasa banyak hal yang saya lewatkan. Buku ini, untuk saya, adalah buku yang harus dibaca ulang untuk mendapatkan pemahaman yang utuh. Banyak simbolisasi dan perasaan yang masih belum saya pahami seutuhnya. Bahkan saat saya memikirkan kembali, membuka-buku sepintas untuk membuat review ini, saya yakin akan bisa menilai dengan lebih baik. Namun, mungkin saya akan membacanya lagi setelah saya membaca Mrs. Dalloway karya Mrs. Woolf. Sementara ini (sambil menunggu ada yang menghadiahi saya buku ini), saya berikan 4/5 untuk sebuah titik balik yang mengubah segalanya.

Here she is with another hour before her. (p.226)

Review #2 for New Authors Reading Challenge 2013

Review #5 for Books in English Reading Challenge 2013

*Posting bersama BBI Februari (2) Buku-buku yang diadaptasi ke layar lebar dan masuk nominasi atau menang Oscar, untuk merayakan awards season selama Januari-Februari.
Adaptasi The Hours (2002) disutradarai oleh Stephen Daldry, dan dibintangi oleh Nicole Kidman (Virginia Woolf), Meryl Streep (Clarissa Vaughan), Julianne Moore (Laura Brown), serta Ed Harris (Richard). Masuk dalam nominasi Best Picture Academy Award tahun 2002.
Nicole Kidman memenangkan Academy Award di tahun yang sama untuk kategori Best Actress. Sedangkan sederet nominasi lain diraih dalam kategori Best Director, Best Adapted Screenplay, Best Supporting Actress, Best Supporting Actor, Best Editing, Best Costume Design, dan Best Original Score. (source)

7 responses to “The Hours – Michael Cunningham

  1. wah penghargaannya banyak, buku ini udah diterjemahin blm sih mbak?

  2. Jalasutra sering obral buku ini, aku sampai beli dua kali tapi tetep juga belum kebaca. Kira2 terjemahannya bagus nggak ya untuk buku sebagus ini?

    • kayanya lebih ‘ngena’ kalo baca bahasa aslinya deh, tapi ‘ide’nya sih semestinya cukup tersampaikan meski diterjemahkan

  3. Pingback: Baca Bareng BBI Januari – Desember 2013 | Mia membaca

  4. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Books in English 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s