Oliver Twist – Charles Dickens

Review in Bahasa Indonesia and English.

Oliver TwistTitle : Oliver Twist (The Adventures of Oliver Twist)
Author : Charles Dickens (1837-1839)
Translator : Reni Indardini
Editor : Nunung, Dyna, Ika
Publisher : Penerbit Bentang
Edition : Cetakan II, Agustus 2011
Format : Paperback, vi + 578 halaman

 “Ini adalah kisah sejati penuh kesedihan dan cobaan, serta duka, anak muda,” balas Tuan Brownlow. “Dan, kisah semacam ini memang biasanya begitu. Jika isinya penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan semata, pasti pendek sekali.” (p.519)

Lahir dan dibesarkan di rumah sosial pada abad kesembilan belas di Inggris bukanlah hal yang menyenangkan bagi Oliver Twist kecil. Ibunya meninggal setelah melahirkannya, dan jadilah dia tanggungan pemerintah. Namun, rumah sosial tidak seperti nama dan penampakannya. Di dalamnya hanya ada penderitaan dan kepasrahan. Anak-anak itu hanya menjadi sarana untuk memperkaya para ‘pekerja sosial’ itu, mereka diberi makan seadanya, seolah mereka tak diperbolehkan untuk menjadi kuat dan sehat, karena nantinya akan menjadi ‘berandal’ dan ‘pemberontak’. Begitu pula orang-orang miskin yang semestinya mendapatkan tunjangan dari pemerintah, tak menikmati haknya secara layak.

“Prinsip utamanya adalah memberi kaum papa sesuatu yang tak mereka inginkan sehingga akhirnya mereka bosan datang minta bantuan.” (p.233)

Itulah yang terjadi pada Oliver yang malang. Hanya penderitaan dan penindasan yang dia dapatkan dari rumah sosial, maupun tempat dia magang karena sudah cukup umur. Segala kesalahan yang diperbuat orang lain akan ditimpakan kepadanya. Pada puncak kesabarannya, dia melarikan diri dari desa tempatnya tinggal selama dua belas tahun. Berjalan kaki berhari-hari hingga mencapai kota London.

Di London dia memasuki wilayah yang ‘salah’. Orang yang pertama ditemuinya adalah Jack Dawkins alias The Artful Dodger—Si Pandai Berkelit, yang membawanya pada Fagin, mengajak Oliver yang polos untuk masuk ke lingkungan para pencopet. Kesialan dan keberuntungan tampaknya mewarnai perjalanan hidup Oliver di London. Masalah demi masalah diikuti sebuah keberuntungan, namun membawanya kembali pada masalah yang berbeda. Berkali-kali ‘ditemukan’ oleh orang yang baik, berkali-kali pula dipaksa kembali pada Fagin.

Kisah menyentuh yang diceritakan melalui gaya Dickens yang membawa sesuatu yang tampaknya tak berhubungan, atau sedikit berhubungan, kemudian menemukan hubungan yang lebih dalam dan luas. Potret kehidupan sehari-hari yang pada saat buku ini ditulis, bahkan hingga kini hampir dua abad berlalu, buku ini masih menggambarkan kenyataan di sekitar kita. Nilai kemanusiaan, kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, kebahagiaan dan kesedihan, kehidupan dan kematian, serta segala di antara keduanya.

‘The persons on whom I have bestowed my dearest love, lie deep in their graves; but, although the happiness and delight of my life lie buried there too, I have not made a coffin of my heart, and sealed it up, forever, on my best affections. Deep affliction has but strengthened and refined them.’

“Orang-orang yang paling kusayangi, terbaring jauh di dalam kubur mereka. Namun, walaupun kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupku terkubur di sana juga, aku belum lagi mengubur kasih sayang terbaik dalam hatiku, dan menyegelnya selamanya. Musibah mendalam semata-mata menguatkan dan menjernihkan perasaanku.” (p.133-134)

We need be careful how we deal with those about us, when every death carries to some small circle of survivors, thoughts of so much omitted, and so little done—of so many things forgotten, and so many more which might have been repaired! There is no remorse so deep as that which is unavailing; if we would be spared its tortures, let us remember this, in time.

Penyesalan selalu datang terlambat. Jika ingin terhindar dari siksaan rasa penyesalan ini, lakukanlah yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita saat ini juga. (p. 342)

Karakter-karakter yang terlahir dalam buku ini benar-benar menarik. Mulai dari Tuan Bumble, pelayan masyarakat yang sombong; Fagin, si penjahat yang licik; Nancy, ‘anak didik’ Fagin yang keras karena hidup tapi sejatinya berhati lembut; Rose Maylie yang ‘cantik sempurna’, baik hati, tampak rapuh tapi memiliki keteguhan hati yang tak terduga; sampai perkembangan Oliver sendiri yang menggambarkan perpaduan pengaruh lingkungan dan sifat asal yang didapat dari orang tuanya. Semuanya diramu dengan begitu manusiawi, membuat saya bisa sekali waktu merasa kasihan pada para penjahat, atau gemas pada para penyelamat Oliver. 4/5 untuk edisi terjemahan ini.

Namun, kematian, kebakaran, dan perampokan menjadikan semua orang setara. (p. 286-287)

But, death, fires, and burglary, make all men equals;

Born and lived in a public buiding has led Oliver Twist in an adventurous life. His life wasn’t easy, he had to receive maltreating from people around him. However, life is a cycle, there were some chances when Oliver met good people and lead him into a better life, even though it didn’t last long enough until the ‘bad people’ catch him again.

‘It is a true tale of grief and trial, and sorrow, young man,’ returned Mr. Brownlow, ‘and such tales usually are; if it were one of unmixed joy and happiness, it would be very brief.’

I like the main idea of this story that portrayed real life, not only the places and the events, but also the characterizations that were so ‘human’. The author could potray the ‘good’ side of the villains, as well as the ‘bad’ side of the gentlemen. In short, there are no pure evil nor pure angel in human (even at Miss Maylie), we could see that every single action has a cause, and there are chain reactions of how people choose their ways.

Alas! How few of Nature’s faces are left alone to gladden us with their beauty! The cares, and sorrows, and hungerings, of the world, change them as they change hearts; and it is only when those passions sleep, and have lost their hold for ever, that the troubled clouds pass off, and leave Heaven’s surface clear. It is a common thing for the countenances of the dead, even in that fixed and rigid state, to subside into the long-forgotten expression of sleeping infancy, and settle into the very look of early life; so calm, so peaceful, do they grow again, that those who knew them in their happy childhood, kneel by the coffin’s side in awe, and see the Angel even upon earth.

There are so many factors could ‘build’ a human. Environments, educations, and conditions are just few of them, but they took important roles—that are shown in this story—and have strong enough powers to affect our decisions. However, the greatest power that determine us to be ‘good’ or ‘bad’, lay on ourselves.

Such is the influence which the condition of our own thoughts, exercise, even over the appearance of external objects. Men who look on nature, and their fellow-men, and cry that all is dark and gloomy, are in the right; but the sombre colours are reflections from their own jaundiced eyes and hearts. The real hues are delicate, and need a clearer vision.

celebrating-dickens-button

Review #11 of Classics Club Project

Review #3 for What’s in a Name Challenge 2013

Review #1 for Read Big!

13 responses to “Oliver Twist – Charles Dickens

  1. Kamu ngerasa Oliver itu too good to be true gak sih? Dia tampak vulnerable, tapi kok bisa bertahan tetap “bersih” setelah tinggal bareng Fagin & grupnya. Trus nasibnya kayaknya “lucky” terus secara kebetulan deh (tapi kisah2 Dickens kan emang penuh dgn kebetulan ya, hehehe)

  2. Hmmm buku ini masuk list Classics Clubku sih, tapi setelah baca beberapa review kok jadi nggak terlalu tertarik ya… kok rasanya mendingan re-read A Tale of Two Cities gitu. #ditendangomDickens

  3. Pingback: First Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Scene on Three (2) | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Bookish Top Ten (2) : Literary Villains | Bacaan B.Zee

  6. Sempat nyerah baca buku ini. Gara-gara susah mahaminnya, padahal udah versi terjemahan -_- haha. Tapi baca reviewnya jadi semangat ngelanjutin deh mbak😀

  7. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  8. Pingback: Read Big! Wrap Up | Bacaan B.Zee

  9. thanks kak for summery nya. membantu tugas introduction to english culture saya loh.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s