Dengarlah Nyanyian Angin – Haruki Murakami

DNATitle : Dengarlah Nyanyian Angin (Kaze No Uta O Kike)
Author : Haruki Murakami (1979)
Translator : Jonjon Johana
Editor : Dewi Anggraeni
Publisher : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edisi : Cetakan Pertama, Oktober 2008
Format : Paperback, iv + 147 halaman

“Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.” (p.1)

Buku ini dibuka dengan narasi ‘aku’ yang menceritakan perjuangannya untuk menulis. Mencoba menjadi ideal atau sedikitnya sesuai dengan yang seharusnya. Sampai dia menemukan seorang penulis yang berpengaruh padanya.

Aku banyak belajar tentang kalimat dari Derek Heartfield. Mungkin seharusnya aku bilang bahwa hampir semuanya kupelajari dari dia. Sayangnya, Heartfield adalah seorang pengarang yang gagal. Apabila membaca karyanya, baru kau dapat mengerti. Kalimat-kalimatnya sulit dipahami, plotnya berantakan, dan temanya kekanak-kanakan. Namun dialah satu dari sedikit pengarang hebat yang mampu berperang dengan menjadikan kalimat sebagai senjata. Kupikir,bila disandingkan dengan pengarang-pengarang sezaman seperti Hemingway dan Fitzgerald, gaya siap perang Heartfield yang seperti itu samasekali tidak kalah. Sayangnya, sampai akhir hayat Heartfield tidak dapat dengan pasti menentukan lawan bertarungnya sendiri. Akhirnya, dia gagal. (p.3)

‘Aku’ adalah seorang mahasiswa berusia dua puluh satu tahun, yang sedang berlibur di kampung halamannya. Sahabatnya, Nezumi, adalah anak seorang kaya yang tidak menikmati hidupnya. Mulai dari kebiasaan mabuknya, dengan cara yang ‘aneh’ memulai kebiasaan membaca novel-novel tebal dan menulis sesuatu. Sementara ‘aku’ sendiri, yang menularkan kebiasaan membaca kepada Nezumi, hidup dalam pemikiran yang seolah tak memiliki arah.

Seorang gadis yang ditemui ‘aku’ secara tak disengaja pun mengisi kisah buku tipis ini dengan hal-hal baru, memberikan pengalaman di luar kebiasaan ‘aku’, dan memberi potret tersendiri tentang kehidupan wanita pada lingkup masyarakat tertentu.

Tak banyak yang bisa diceritakan tentang buku ini, kebanyakan diisi dengan pemikiran-pemikiran dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang esensi kehidupan dan makna yang saling diberikan dalam masyarakat. Pergulatan pemikiran maupun sumber diskusi didominasi oleh ‘aku’ sebagai tokoh sentral. Terlebih dengan tidak adanya karakter yang kuat sebagai pengimbangnya.

“Kenapa manusia pasti mati?”
“Karena mereka berevolusi. Karena tubuh satu individu tidak mampu menghadapi energi evolusi, terjadilah pergantian generasi. Tentu ini tidaklah lebih daripada sekadar teori.”
“Apakah sekarang pun manusia sedang berevolusi?”
“Ya, sedikit demi sedikit.”
“Kenapa berevolusi?”
“Ada beberapa pendapat tentang hal itu. Namun yang pasti, alam semesta sendiri mengalami evolusi. Terlepas dari ada atau tidak adanya arah serta keinginan yang turut-campur di dalamnya, alam semesta terus berevolusi, dan kita hanya satu bagian dari evolusi tersebut.”
(p. 123-124)

Alhasil, buku ini mengajak kita berpikir sejenak. Mungkin di suatu bagian kita bisa merasa setuju dengan ‘aku’, namun pada beberapa bagian bisa saja kita berkeinginan kuat untuk mendebat ‘aku’. Pada intinya, tidak ada hal khusus yang saya tangkap setelah membaca buku ini yang merupakan hal besar, hanya cuplikan episode hidup, memberikan tambahan sudut pandang dan opini baru. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tetap saja saya menikmati gaya penulisan, serta beberapa ide yang terbersit dalam buku ini. 3/5 dari saya untuk karya pertama Haruki Murakami.

“Di mana pun tidak akan ada manusia tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.” (p.110)

*Posting bersama BBI Maret (1) Sastra Asia, buku-buku yang ditulis oleh pengarah berkebangsaan atau yang berasal dari negeri-negeri Asia. (see more)

14 responses to “Dengarlah Nyanyian Angin – Haruki Murakami

  1. wah kirain ka bzee bakal kasih bintang lebih dari 3

  2. Buku ini rada gak jelas ya ceritanya apa, hihihi.. Mungkin karena tipis dan ini buku pertamanya. Aku waktu baca rada garuk-garuk kepala sendiri hahaha. Tapi banyak bnget kutipan bagus..

  3. ak mau nyoba Dunia Kafka dulu kalo sreg ak mau pinjam buku ini mbak, wakakakaka

  4. Hm, agak filosofis gitu ya bukunya~ penuh perenungan yg cuma di mengerti penulisnya sendiri kayaknya😛

  5. belum pernah baca karya murakami… fufufufu

  6. hmm, Haruki Murakami yang ini masuk daftar 1001 Buku gak ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s