Anansi Boys – Neil Gaiman

Review in Bahasa Indonesia and English

Anansi BoysTitle : Anansi Boys (Anak-Anak Anansi)
Author : Neil Gaiman (2005)
Translator : Femmy Syahrani Ardianto
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Agustus 2007
Format : Paperback, 432 halaman

Dongeng mirip dengan laba-laba, karena semua berkaki panjang, dan dongeng mirip jaring laba-laba, yang menjerat manusia tetapi tampak begitu cantik kalau dilihat di balik daun dalam embun pagi, dan dalam cara anggun mereka saling berhubungan, satu dengan yang lain. (p.57)

Fat Charlie Nancy hidup dalam bayang-bayang ayahnya. Ayahnya yang masih eksentrik meski tak muda lagi. Apa pun yang dikatakan atau dilakukan oleh ayahnya akan berpengaruh besar pada Fat Charlie. Bahkan, panggilan Fat itu tak menghilang karena ayahnya yang memberikannya.

Suatu ketika, Fat Charlie mendapatkan berita kematian ayahnya (yang kejadiannya sangat memalukan baginya). Fat Charlie baru diberitahu oleh mantan tetangganya dua hal yang menakjubkan. Satu, ayah Fat Charlie bukan manusia. Dua, Fat Charlie punya saudara laki-laki yang tidak diingatnya. Mr. Nancy adalah Dewa Anansi, dewa laba-laba.

Kemunculan saudaranya, Spider, membuat hidup Fat Charlie berantakan. Spider memiliki semua sifat sempurna yang tak dimiliki Fat Charlie. Mereka berdua bagaikan cermin yang berkebalikan. Spider merebut Rosie, tunangan Fat Charlie. Spider membongkar skandal keuangan Grahame Coats, bos Fat Charlie, menyeret saudaranya dalam masalah yang jauh lebih rumit.

Kini yang diinginkan Fat Charlie hanya satu: menyingkirkan Spider dari kehidupannya selama-lamanya. Bahkan meski dia harus menghadapi makhluk-makhluk kejam yang mendendam pada ayahnya.

Bisa laba-laba memiliki beragam bentuk. Biasanya perlu waktu lama untuk mengetahui pengaruh penuh gigitan itu. Para ahli alam telah bertahun-tahun merenungkan hal ini: ada laba-laba yang gigitannya menyebabkan tempat yang digigit jadi membusuk dan mati, kadang-kadang lebih dari setahun setelah digigit. Soal alasan mengapa laba-laba melakukan ini, jawabannya sederhana. Ini karena laba-laba menganggap hal ini lucu, dan mereka tak ingin kau melupakan mereka. (p.380)

It’s a story about the sons of the late Anansi god. Fat Charlie thought his life was normal, until his brother came and ruin every plan and every routine of his life. There’s no superpower, no magical ability, no secret charm, but we’re to bring into an unusual world that contains fairy tales and reality at the same time.

Dark fantasy with typical style of Neil Gaiman; witty, creepy, adventurous and extraordinary, all in one package. From a few that I’ve read, I think most of Neil Gaiman’s book characters were struggling against themselves, against their weakness and disgrace. The male characters weren’t likable from the beginning, but they learned, slowly but steady. To be honest, Fat Charlie was too slow for me, but that’s okay. This one gave some surprising twists that didn’t like what I’ve expected nor predicted, a little bit cliche, but I can’t help loving it.

Menjalani kematian mungkin mirip dengan hal-hal lain dalam hidup: sebagian dipelajari sambil jalan, dan sisanya improvisasi. (p.265)

Di awal, mungkin kelambanan Fat Charlie terasa mengganggu. Hal-hal yang tak perlu dan tak seharusnya terjadi, maupun yang seharusnya dapat diselesaikan dengan mudah. Tapi tampaknya Gaiman memang punya caranya sendiri untuk menyampaikan banyak hal. Dipenuhi dengan anekdot dan legenda, namun tetap nyata terjadi di dunia yang sama dengan yang kita tinggali. Kreatif, gila dan menghibur. 4.5/5 bintang untuk akhir yang memuaskan.

Setiap orang yang dulu atau sekarang atau kelak ada, memiliki lagu. Bukan lagu yang dituliskan orang lain. Lagu ini memiliki melodinya sendiri, liriknya sendiri. Sangat sedikit orang yang berkesempatan menyanyikan lagu mereka sendiri. Kebanyakan orang takut suaranya tak akan sepadan dengan lagu itu, atau lirik kita terlalu bodoh, atau terlalu jujur, atau terlalu aneh. Jadi, orang-orang hanya menjalani lagunya. (p.213)

“Yang penting soal lagu adalah, lagu mirip dengan dongeng. Lagu tidak berarti apa-apa kalau tidak didengar orang.” (p.373)

Review #2 for Fantasy Reading Challenge 2013

Review #5 for What’s in a Name Challenge 2013

Review #2 for 2013 TBR Pile Challenge

*Posting bersama BBI Maret (2) Science-fiction/fantasi/paranormal. (see more)

6 responses to “Anansi Boys – Neil Gaiman

  1. Jadi makin pengen batja nih ._.

  2. Pingback: Scene on Three (13) | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: 2013 TBRR Pile Mystery and Fantasy Wrap Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: 2013 TBR Pile Challenge Wrap-Up | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s