Tahun Kedua Bersama Bebi

HepiBdayBB

Kemarin, tepatnya 13 April 2013, BBI (Blogger Buku Indonesia) memperingati dua tahun eksistensinya di dunia perblogbukuan Indonesia. Belum genap dua tahun sebenarnya keanggotaan saya di BBI, karena saya masuk pada Januari 2012, maka kira-kira sudah 1 tahun 3 bulan–menjalani tahun kedua. Kisah mengenai masuknya saya menjadi anggota BBI pernah saya ceritakan di sini. Kali ini, di ulang tahun BBI yang kedua, saya ingin membagi kegiatan dan keseruan bersama teman-teman BBI.

1. Review. Yak, apalah arti blogger buku jika tak ada review buku. Meskipun tak semua buku yang dibaca sempat direview, atau tak selalu ada waktu untuk mereviewnya saat itu, tapi tak bisa dipungkiri, inilah salah satu hal utama dalam book blogging. Dengan adanya wadah BBI ini, saya belajar bagaimana membuat review yang bagus dan menarik. Dari sini pula saya belajar menyikapi sebuah review. Jika suatu saat buku favorit saya direview ‘jelek’ oleh blogger A, maka pada saat yang lain, review ‘jelek’ dari si A akan menjadi pertimbangan saya untuk membaca buku tersebut (bergantung juga pada isi reviewnya). Sebaliknya, blogger yang ‘sehati’ dengan saya pasti akan menjadi acuan untuk memilih bacaan selanjutnya. Intinya, dari review kita mengenal sebuah buku, tapi hanya dari review kita juga bisa mengenal sang pembuat review. Dengan adanya puluhan, bahkan sekarang sudah seratusan, blogger buku, maka kita tak pernah kehabisan referensi buku yang belum sempat kita baca, dari orang-orang yang telah kita ketahui karakteristiknya dalam penilaian buku.

2. Baca dan posting bersama. Kurasa ini adalah kegiatan BBI paling rutin dan saya juga mewajibkan diri untuk mengikutinya setiap bulan. Dulu, tema baca bersama ditentukan melalui forum di grup tertutup. Tahun ini, dengan adanya kepanitiaan baru dalam BBI, divisi event (kak Mia, Oky, Ndari) membuat jadwal baca bersama yang sangat keren. Temanya beragam, sesuai dengan event pada bulan yang bersangkutan, dan masih sangat bisa menjadi event yang menyenangkan. Ada kisah menarik pada awal keanggotaan, sebelum diundang dalam grup tertutup BBI, saya baru mengetahui tema posting bersama pada hari yang ditentukan tersebut. Namun, untungnya, ternyata saya telah membaca buku yang sesuai dengan tema, dan kebetulan belum saya review. Jadilah saya membuat review kilat untuk diikutsertakan. Ini belum termasuk reading challenge dan reading event yang diadakan oleh beberapa member yang jumlahnya terus bertambah.

3. Para penimbun kutu buku. Dari semua kegiatan di atas, tak ayal kita akan berinteraksi dengan manusia-manusia di balik blog itu. Saya menjumpai beragam manusia, berbagai latar belakang, berbagai pekerjaan, berbagai budaya dan banyak perbedaan lain. Akan tetapi, kita disatukan oleh satu hal, buku (meski kenyataannya buku yang kita ‘geluti’ pun beragam genre). Hubungan yang terjalin tak sebatas di blog maupun di grup, tapi juga di berbagai media sosial, yang pada perkembangannya menghubungkan hal-hal yang bersifat pribadi. Dari situ kita pun menjadi berkembang, wawasan dan sudut pandang terhadap dunia semakin luas, memiliki koneksi di berbagai tempat dan kota (bahkan seluruh Indonesia). Di satu sisi kita melihat keberagaman, di sisi lain kita juga dapat merasakan bahwa kita bukanlah satu-satunya. Bukan satu-satunya orang yang terlihat ‘aneh’, bukan satu-satunya orang yang berpikiran ‘berbeda’, bukan satu-satunya yang gemar menimbun buku dan merasakan ‘dosa terindah’nya😀

4. Buku, buku dan buku. Namanya juga blogger buku🙂. Sejak bergabung dengan BBI, saya menjadi tahu lebih banyak tentang buku, dan karenanya menjadi lebih mencintainya. Dari koneksi yang terjalin sesama anggota di berbagai kota, kita dapat saling memberi informasi keberadaan dan ketersediaan buku langka yang setengah mati kita cari. Saling bertukar buku pun menjadi lebih menyenangkan karena kita tahu bahwa buku–meski tak begitu kita sukai–jatuh ke tangan yang tepat, yang bisa merawat dan menyayanginya🙂

5. Berbagi. Berawal dari seringnya mendapat buku gratis, baik dari penerbit, dari kuis, maupun giveaway. Dari kelegaan mendapatkan buku langka ataupun buku murah, serta dari kemudahan lain yang terfasilitasi berkat BBI, berbagi menjadi suatu hal yang dirasakan harus dilakukan sekali waktu. Sebagai bentuk syukur, sebagai penebusan ‘dosa’ menimbun, sebagai perwujudan kepedulian kita terhadap pembaca atau calon pembaca lain yang tak seberuntung kita.

Dan semua yang telah saya sebutkan itu belum bisa mengungkapkan semuanya. Dua tahun pasti tak akan sepi kisah dan kejadian. Di tahun keduanya, BBI sudah memiliki struktur organisasi yang rapi, dengan bang Helvry sebagai ketua periode pertama. Pembenahan di sana-sini terus dilakukan, mulai dari pembuatan web, penyebaran melalui media sosial, maupun di dalam keanggotaan sendiri.

Di bulan April yang berbahagia ini, BBI mempersembahkan tiga event besar, BBI Giveaway Hop, Close-Up Interview, dan BBI (Berbagi Buku itu Indah). Jika tak segera saya akhiri, mungkin ini akan menjadi sebuah cerpen. Jadi, akhir kata, saya beruntung dan bangga telah menjadi bagian dalam komunitas ini, Blogger Buku Indonesia.

Edited by Pak Ketua

Edited by Pak Ketua

Ucapan dari anggota BBI yang lain:

2 responses to “Tahun Kedua Bersama Bebi

  1. dikau keren, zee. Bisa bikin review kilat sesuai dengan tema posting bareng. Aku dulu malah ndak tahu apa2 soal posting bareng X)

  2. Pingback: Perubahanku Setelah Bersama Bebi | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s