The Tales of Beedle the Bard – J. K. Rowling

beedle the bardTitle : The Tales of Beedle the Bard (Harry Potter Companion Books #3)
Author & Illustrator : J. K. Rowling (2008)
Publisher : Children’s High Level Group in association with Bloomsbury
Edition : First Printing, 2008
Format : Hardcover, 109 pages

Jika dongeng kita dipenuhi oleh penyihir dan peri, apakah dalam dongeng penyihir ada ‘keajaiban’ yang lain? Dongeng dari Beedle ini berbeda dari dongeng kita, para Muggle. Dalam pendahuluan buku ini, penulis pun menyebutkan bahwa biasanya dongeng kita menjadikan sihir sebagai masalah—apel beracun, putri yang ditidurkan, pangeran yang disihir, dan sebagainya. Berbeda dengan dongeng para penyihir, yang menbuat sihir menjadi senjata bermata dua, di satu sisi dia bisa menjadi masalah, namun di sisi lain menawarkan pemecahannya.

Untuk saya, pada akhirnya tak ada perbedaan antara dongeng peri para Muggle dengan dongeng Beedle, semuanya membutuhkan imajinasi. Terkecuali bahwa memang sasaran dalam dongeng Beedle sudah merupakan dunia yang paten, sehingga akan lebih dapat diterima dengan sempurna bila kita mengenal dunia shir Harry Potter. Sebagai buku companion, The Tales of Beedle the Bard ini memang tak berniat sama sekali untuk memisahkan diri dari serial Harry Potter yang bersetting ratusan tahun setelahnya. Terbukti bahwa dalam halaman depan, dituliskan bahwa buku ini diterjemahkan dari rune kuno oleh Hermione Granger. Buku yang diterjemahkan oleh Hermione ini ceritanya adalah milik Professor Dumbledore, jadi di setiap akhir kisah akan ada komentar (atau review) dari Professor Dumbledore. Review beliau juga sangat bermanfaat, ada pembahasan mengenai sisi historis, pesan moral, nilai logika, pendapat pribadi beliau, dan lain sebagainya. Satu nilai plus bagi penulis yang bisa benar-benar ‘menghidupkan’ dunia sihirnya sendiri.

Ada lima dongeng yang dikisahkan di buku ini:

1. The Wizard and the Hopping Pot

Tentang penyihir yang tidak mau membantu Muggle di sekitarnya, kemudian dihantui oleh benda ajaibnya sendiri. Selain pesan untuk saling membantu, kisah ini juga menyinggung sentimen anti-Muggle. Kalau dalam dunia Muggle, dapat pula diaplikasikan untuk diskriminasi SARA.

2. The Fountain of Fair Fortune

Air mancur keberuntungan ini hanya dibuka setahun sekali dan hanya berlaku untuk satu penyihir. Saat itu, beratus-ratus penyihir saling bersaing untuk meraih keberuntungan, tetapi saat akhirnya tiga penyihir berhasil memasuki gerbang, seorang ksatria Muggle secara tak sengaja terbawa masuk. Dalam perjalanan selanjutnya, kita ditunjukkan betapa relatifnya ketidakberuntungan dan ketidakbahagiaan itu.

3. The Warlock’s Hairy Heart

Cinta dapat membuat manusia kehilangan akal sehatnya dan melemahkan dirinya. Kesadaran itu membuat seorang penyihir muda mengunci hatinya. Suatu saat, hatinya tetap harus diberikan pada seorang wanita, namun saat itu terjadi, hal mengerikan mengikutinya.

4. Babbity Rabbity and Her Cackling Stump

Kisah seorang raja Muggle yang ingin belajar sihir. Tak ada penyihir yang mengambil risiko itu—karena saat itu mereka menyembunyikan identitas sebagai penyihir. Seseorang mengambil kesempatan untuk mengaku dirinya sebagai penyihir, demi keuntungan pribadinya. Babbity Rabbity, penyihir wanita yang mengetahui penipuan itu, memberi pelajaran bagi keduanya sekaligus—sang raja dan penipunya.

5. The Tale of the Three Brothers

Kisah ini diceritakan juga di Harry Potter and the Deathly Hallows (Harry Potter #7), tentang tiga bersaudara yang menghindari maut. Meski diragukan asal-usul sesungguhnya, tapi ada tiga benda penting dalam dongeng ini yang menjadi dasar dalam kisah Harry Potter tersebut, yang berhubungan dengan usaha Voldemort meraih kehidupan abadi.

Itulah yang dilakukan oleh dongeng, diceritakan secara turun-temurun, membawa pesan moral dalam fiksi bercampur fakta, kemudian batas antara fakta dan fiksi perlahan memudar. Akan tetapi, pesan moral yang ada dalam dongeng akan tetap abadi. Perubahan zaman tak mengubah karakteristik dasar manusia. Begitu pula ras, Penyihir maupun Muggle, memiliki hasrat yang sama. Karena itulah buku ini sangat universal, bagian masa kecil dari setiap penyihir, tapi tak menutup kemungkinan para Muggle untuk menikmati dan mengambil pesan moralnya.

Salah satu isu yang agak dominan dalam kelima dongeng ini memang diskriminasi Muggle. Sampai-sampai–dikatakan bahwa–beberapa golongan penyihir yang anti-Muggle (termasuk keluarga Malfoy sebagai contoh) melarang dongeng-dongeng Beedle diperdengarkan oleh anak-anak mereka, dan menuntut buku dongeng Beedle dimusnahkan.

5/5 untuk kekonsistenan dunia sihir ciptaan penulis.

Wizards and Muggles alike are imbued with a lust for power; how many would resist ‘the Wand of Destiny’? Which human being, having lost someone they loved. Could withstand the temptation of the Resurrection Stone? Even I, Albus Dumbledore, would find it easiest to refuse the Invisibility Cloak; which only goes to show that, clever as I am, I remain just as big a fool as anyone else. (p.105)

Review #4 for Hotter Potter

Review #3 for Fantasy Reading Challenge 2013

Review #8 for Books in English Reading Challenge 2013

FYE buttonBeberapa kisah di buku ini agak ‘gelap’ dan suram. Cukup aman untuk anak usia 13 tahun ke atas. Untuk anak yang lebih muda, ada baiknya buku ini dibacakan atau didampingi oleh orang dewasa, sekadar memastikan mereka memperoleh pemahaman yang ‘benar’.

4 responses to “The Tales of Beedle the Bard – J. K. Rowling

  1. Pingback: Harry Potter and the Deathly Hallows – J. K. Rowling | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Hotter Potter 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: 2013 TBRR Pile Mystery and Fantasy Wrap Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Books in English 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s