Fahrenheit 451 – Ray Bradbury

fahrenheit 451Title : Fahrenheit 451
Author : Ray Bradbury (1953)
Publisher : Ballantine Bal-Hi Books
Edition : Eighth Bal-Hi Printing, May 1969
Format : Paperback, 150 pages

“There was a silly bird called a Phoenix back before Christ, every few hundred years he built a pyre and burnt himself up. He must have been first cousin to Man. But every time he burnt himself up he sprang out of the ashes, he got himself born all over again. And it looks like we’re doing the same thing, over and over, but we’re got one thing the Phoenix never had. We know the silly thing we just did. We know all the silly things we’ve done for a thousand years and as long as we know that and always have it around where we can see it, some day we’ll stop making the funeral pyres and jumping in the middle of them. We pick up a few more people that remember, every generation.” (p.146)

Guy Montag adalah seorang fireman. Bukan, bukan pemadam kebakaran, tapi dia adalah orang yang harus membakar sebuah rumah jika ditemukan buku-buku di dalamnya. Pada masa itu, buku adalah ilegal. Tak ada seorang pun yang boleh menyimpan sebuah buku pun di rumah mereka. Mereka hidup dengan teknologi, televisi yang dapat ‘berinteraksi’, radio, tapi tak ada buku, cetak maupun elektronik.

Montag terbiasa dengan apa yang dilakukannya, sampai dia bertemu dengan seorang gadis muda bernama Clarisse McClellan, yang mengatakan hal yang terjadi pada masa lampau. Salah satunya adalah bahwa firemen dulunya adalah pemadam api, bukan sebaliknya.

“I sometimes think drivers don’t know what grass is, or flowers, because they never see them slowly. If you showed a driver a green blur, Oh yes! he’d say, that’s grass! A pink blur? That’s a rose garden! White blurs are houses. Brown blurs are cows. My uncle drove slowly on a highway once. He drove forty miles an hour and they jailed him for two days. Isn’t that funny, and sad, too?” (p.8)

“I’m antisocial, they say. I don’t mix. It’s so strange. I’m very social indeed. It all depends on what you mean by social, doesn’t it? Social to me means talking to you about things like this. Or talking about how strange the world is. Being with people is nice. But I don’t think it’s social to get a bunch of people together and then not let them talk, do you?” (p.27)

Sejak itu, Montag menyadari keresahan yang dia rasakan. Hubungan dengan istrinya yang tidak terasa ‘hidup’, makna kebahagiaan, kemudian pencariannya berakhir pada ketertarikannya untuk mempelajari apa yang dimiliki oleh sebuah buku, apa yang ditakuti darinya.

Sayangnya, ‘pembelotan’ Montag disadari juga oleh atasannya. Dengan segala cara, atasannya menanamkan pentingnya pemusnahan buku-buku, demi kepentingan umat manusia.

“It isn’t as simple as just picking up a book you laid down half a century ago. Remember, the firemen are rarely necessary. The public itself stopped reading of its own accord. (p.78)

“Classics cut to fit fifteen-minute radio shows, then cut again to fill a two-minute book column, winding up at last as a ten- or twelve-line dictionary resume.” (p.50)

Buku yang tidak seberapa tebal ini ternyata cukup sulit untuk saya, cukup ‘alot’ untuk dikunyah, dan cukup mengaduk-aduk emosi. Beberapa kali saya terbawa sentimen pribadi atas buku-buku yang dibakar, buku-buku yang dilarang, dan buku-buku yang dijadikan kambing hitam. Sudah sangat lumrah bagi kita bahwa beberapa buku mengundang kontroversi yang begitu besar. Inilah salah satu pembenaran untuk pemusnahan buku, demi kedamaian batin manusia.

Namun, seperti yang dialami oleh Montag, kita kehilangan ‘sesuatu’, kita tidak sepenuhnya bahagia. Siapa kita? Kenyataannya, banyak orang merasa hidup yang mereka jalani baik-baik saja. Istri Montag, para tetangga, firemen yang lain, tak merasakan keresahan itu. Hanya beberapa orang yang ditemui oleh Montag, yang pada masa lalu begitu terikat oleh buku. Jadi, manakah yang benar, manakah yang salah?

Guy Montag adalah karakter pemberontak yang dapat muncul pada segala zaman dan masa, dalam kasus apa pun. Dia melawan sesuatu hal yang sudah biasa dan membudaya, tapi dianggapnya salah. Namun, apakah tolok ukur dari benar dan salah? Bukankah kedua hal itu sangat relatif? Jika mayoritas berkata itu benar, apakah itu kebenaran, dan sebaliknya? Di sinilah Ray Bradbury mengaduk-aduk logika dan perasaan kita, di satu sisi kita melihat dari sudut pandang Guy Montag, di sisi lain, kita juga didoktrin secara panjang lebar tentang alasan ‘masuk akal’ mengapa buku-buku harus dimusnahkan.

3/5 untuk aroma buku yang lolos tak terbakar.

So if he burnt things with the firemen and the sun burnt Time, that meant that everything burned!
One of them had to stop burning. The sun wouldn’t, certainly.
(p.125)

“And when he died, I suddenly realized I wasn’t crying for him at all, but for the things he did.” (p.139)

Review #4 for 2013 TBR Pile Challenge

Review #4 for Fantasy Reading Challenge 2013

Review #9 for Books in English Reading Challenge 2013

*Posting bersama BBI April (2) Buku tentang buku, untuk merayakan ulang tahun BBI yang jatuh pada 13 April.

21 responses to “Fahrenheit 451 – Ray Bradbury

  1. sejak dulu pingin baca buku ini, tapi malas baca in english jadi nunggu terjemahannya, tapi sampai sekarang belum ada terjemahannya ya..

  2. Sama, aku cekot-cekot juga baca buku tipis ini. Di beberapa bagian malah sama sekali nggak ngerti, misalnya yang Denham’s Dentrifice itu, apa sih maksudnya? Walopun begitu, banyak quote bagus dalam buku ini ya🙂

    • aku sih nangkepnya cuma iklan gitu. jadi pas dia baca, ada iklan Denham’s yg diulang itu smpe terngiang2, cmiiw
      iya… banyak bgt quote yg kutandai

  3. mmm…buku tipis tapi sarat dengan perenungan ya. Jadi penasaran. Sementara masukan dalam wishlist. Buku tipis yang lmyn butuh perenungan sejauh ini aq temukan dlm karya Ismail Kadare dan Tolstoy, hrs diulang-ulang bacanya utk mendapatkan pemahaman atas maksud sang penulis.

    [ http://my-fantasy-readings.blogspot.com ]

  4. eh nggak mau bukuku dibakar

  5. mau dong buku ini diterjemahkan.. apa udah mbak?

  6. fingerprintale

    Ih keren, kok beberapa quote yang dicantumkan mengingatkanku kepada CHuck Palahniuk ya ?

  7. buku ini suraaaam hehehe…dan banyak bagian2 yang kurang bisa masuk di imajinasiku…tapi emang pesannya sih kuat banget ya… dan biarpun singkat, kalimat2nya sangat bermakna…

  8. Pingback: 2013 TBRR Pile Mystery and Fantasy Wrap Up | Bacaan B.Zee

  9. Pingback: 2013 TBR Pile Challenge Wrap-Up | Bacaan B.Zee

  10. Pingback: Books in English 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  11. Pingback: Second Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s