Harry Potter and the Goblet of Fire – J. K. Rowling

hp4Title : Harry Potter and the Goblet of Fire (Harry Potter #4)
Author : J. K. Rowling (2000)
Format : ebook

(Review Harry Potter #3)

He was used to bizarre accidents and injuries; they were unavoidable if you attended Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry and had a knack for attracting a lot of trouble.

Dalam buku ini, bahkan sebelum menginjakkan kaki di Hogwarts, sudah ada masalah yang menyambut Harry. Berawal dari mimpi, dimana Harry merasa berada di tempat yang sama dengan Lord Voldemort, mendengar percakapannya dengan Wormtail tentang perencanaan pembunuhannya, diakhiri dengan rasa sakit di bekas lukanya sehingga dia terbangun. Kepahitan pertama di awal kisah, dimana kita diingatkan kembali bagaimana ‘sendiri’nya Harry di rumah Dursley, keluarganya yang tersisa. Meskipun dikatakan bahwa The Weasleys were Harry’s favorite family in the world; namun rasanya berita ini terlalu ‘besar’ jika disampaikan pada mereka, maupun kedua sahabatnya, Ron dan Hermione.

What he really wanted (and it felt almost shameful to admit it to himself) was someone like – someone like a parent: an adult wizard whose advice he could ask without feeling stupid, someone who cared about him, who had had experience with Dark Magic….

Kemudian dia teringat bahwa dia memiliki ayah angkat, Sirius Black. Sejak kemunculannya yang diceritakan di buku ketiga, pada buku ini peranan Sirius menjadi cukup penting bagi Harry. Selain sebagai tempat mencurahkan segala masalahnya, Sirius juga tahu apa yang harus dilakukan dan mengerti bahaya apa yang dihadapi Harry, lebih dari siapa pun—selain Dumbledore tentunya.

Dalam tahun itu juga ada Quidditch World Cup, Harry pun berkesempatan untuk menontonnya bersama dengan keluarga Weasley. Dalam kesempatan tersebut, untuk pertama kalinya Harry menemui  Charlie dan Bill Weasley, dua kakak tertua Ron. Ayah Ron yang bekerja di kementerian sihir, juga Percy yang baru saja lulus dari Hogwarts, memberi Harry gambaran—baik secara langsung maupun diceritakan oleh Ron—mengenai orang-orang penting di kementerian, jabatan apa saja dan apa yang dikerjakan oleh kementerian sihir. Termasuk dunia sihir secara internasional, yang merupakan hal baru bagi Harry yang semenjak kecil dibesarkan oleh Muggle (plus sangat anti-sihir). Pada malam seusai final Quidditch World Cup, terjadi kekacauan. Sekelompok penyihir dengan topeng yang merupakan Death Eater (pengikut Lord Voldemort) muncul dan pada puncaknya, muncul the Dark Mark, yang dulunya adalah tanda bahwa Voldemort dan pengikutnya melakukan pembunuhan.

Kekacauan rasanya belum cukup buruk bila belum dipoles kembali oleh media. Munculnya reporter, yang lebih cocok disebut sebagai tukang gosip, bernama Rita Skeeter, memperburuk semua yang telah buruk. Pada awalnya, dia mengusik kementerian dengan pemberitaan yang tidak berimbang dan dipenuhi spekulasi yang dibuat-buat.

“there certainly will be rumors now she’s printed that.” –Arthur Weasley

Tidak berhenti di situ, sepanjang buku ini, dia akan mewarnai media massa dengan berita yang tidak bertanggung jawab. Berbekal Quick-Quotes Quill yang mampu menulis sendiri sementara kita berbicara, Skeeter membuat berita sensasional yang kebenarannya dipelintir sedemikian rupa sehingga segala hal menjadi buruk. (Lebih baik Quick-Quotes Quill buat saya saja, lebih berguna). Merasa tidak asing? Yup, setidaknya Madam Rowling memperingatkan kita untuk lebih berhati-hati dalam menerima berita dari media massa, seterkenal apa pun media massa itu (Daily Prophet! Hampir semua penyihir berlangganan, namun nyatanya berita sampah Skeeter lolos juga).

Event besar pun menunggu di Hogwarts. Tahun ini diselenggarakan Turnamen Triwizard, yang melibatkan tiga sekolah sihir: Hogwarts, Durmstrang, dan Beauxbatons. Masing-masing sekolah akan dipilih seorang pemenang oleh Piala Api (the Goblet of Fire). Oleh karena turnamen ini sempat memakan korban, maka diputuskan bahwa batasan usia untuk mengikuti turnamen ini adalah 17 tahun. Namun kejutan muncul saat piala telah memuntahkan tiga nama pemenang dari ketiga sekolah tersebut, muncul nama keempat yang sangat kontroversial : Harry Potter.

Tidak ada yang tahu siapa yang memasukkan nama Harry dalam Piala Api, yang jelas bukan dirinya sendiri karena Dumbledore telah memasang sihir pelindung agar hanya penyihir di atas 17 tahun yang dapat memasukkan nama ke Piala Api. Banyak yang tak setuju dengan adanya dua pemenang dari Hogwarts, namun tak ada yang bisa dilakukan, karena setiap nama yang keluar dari Piala Api telah terikat kontrak sihir untuk menyelesaikan tugasnya di turnamen.

Pro-kontra di dalam Hogwarts sendiri tak terelakkan, kebanyakan beranggapan buruk terhadap Harry, kecuali teman-teman seasrama Gryffindor yang tak peduli asalkan pemenangnya dari asrama mereka, karena pemenang Hogwarts sebenarnya, yang terpilih di awal adalah Cedric Diggory dari Hafflepuff. Pengucilan bukan hal baru bagi Harry, yang baru adalah kenyataan bahwa Ron, sahabatnya sendiri, tak mau berbicara dengannya. Ron yang merasa selalu tampak ‘inferior’ di samping Harry tampaknya cemburu atas apa yang diraih Harry. Hanya Hermione yang percaya bahwa masuknya Harry dalam Turnamen Triwizard adalah rencana seseorang untuk mencelakakannya.

Harry liked Hermione very much, but she just wasn’t the same as Ron. There was much hess laughter and a lot more hanging around in the library when Hermione was your best friend.

Sekali lagi ujian persahabatan harus dilalui oleh mereka. Suatu hal yang pasti terjadi dalam hubungan yang bersifat jangka panjang.

Selain persahabatan, untuk remaja 14 tahun, cinta monyet adalah menu yang wajar. Terlebih dengan adanya momen Yule Ball, yang boleh diikuti oleh siswa tingkat empat ke atas, membuat mereka mulai ‘melihat’ dengan siapa mereka ingin pergi ke pesta dansa. Meski masing-masing tak berhasil pergi dengan pasangan yang mereka inginkan, Harry dan Ron terlihat telah merasakan perasaan yang (mendekati) cinta dan cemburu.

“Just because it’s taken you three years to notice, Ron, doesn’t mean no one else has spotted I’m a girl!”

“Next time there’s a ball, ask me before someone else does, and not as a last resort!”

Guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang (selalu) baru, Alastor ‘Mad-Eye’ Moody memberi suasana yang berbeda. Sebagai mantan Auror (pemburu Death Eater), agak paranoid (CONSTANT VIGILANCE!), tapi metode mengajarnya sangat disukai. Dia mengajarkan banyak hal baru, termasuk tiga Unforgivable Curses sebagai pengetahuan untuk menghadapi apa pun yang terjadi di luar sana. Perseteruannya dengan Snape—mengingat reputasi Moody—menguatkan prasangka Harry dan Ron atas hal buruk tentang guru yang paling tak disukai (dan tak menyukai Harry).

“I don’t care what Moody says,” Hermione went on. “Dumbledore’s not stupid. He was right to trust Hagrid and Professor Lupin, even though loads of people wouldn’t have given them jobs, so why shouldn’t he be right about Snape, even if Snape is a bit -“
“- evil,” said Ron promptly.

Perkenalan Harry dengan Pensieve milik Dumbledore, secara tak sengaja menguak keterlibatan beberapa orang di sekitarnya saat ini dengan penyihir hitam di masa lampau. Di dalam Pensieve tersebut, Dumbledore sedang ‘menata’ ingatannya, membantunya untuk melihat sesuatu yang terlewatkan olehnya.

Spekulasi tak terelakkan dari segala kejadian aneh yang menimpa Harry adalah rencana besar yang melibatkan Voldemort. Tapi apa? Bagaimana? Melalui siapa?

“Wormtail, I need somebody with brains, somebody whose loyalty has never wavered, and you, unfortunately, fulfill neither requirement.” –Lord Voldemort

*SLIGHTLY SPOILERS*

Melalui jalan yang tak tertebak, dan melalui orang yang tak terduga, jebakan Voldemort berhasil memancing Harry dan mengawali kebangkitan kembali Voldemort serta kekuatan dan kejahatannya. Namun tanpa adanya saksi yang dapat meyakinkan Menteri Sihir, Cornelius Fudge, dengan alasan keguncangan bagi kedamaian yang telah tercipta, Fudge memutuskan untuk tak memercayai bahwa Voldemort telah bangkit, bahwa harus ada usaha untuk melindungi dunia sihir dari kekacauan yang seperti belasan tahun silam.

“we have reached a parting of the ways. You must act as you see fit. And I – I shall act as I see fit.”

 “It is my belief, however, that the truth is generally preferable to lies, and that any attempt to pretend that Cedric died as the result of an accident, or some sort of blunder of his own, is an insult to his memory.”

“Remember Cedric. Remember, if the time should come when you have to make a choice between what is right and what is easy, remember what happened to a boy who was good, and kind, and brave, because he strayed across the path of Lord Voldemort. Remember Cedric Diggory.”

–Albus Dumbledore

*END OF SPOILERS*

Pada akhirnya, di sinilah salah satu titik balik pendewasaan Harry. Melawan ketakutan dan perasaan bersalah, serta bersiap untuk menghadapi hal buruk apa pun di masa yang akan mendatang.

“Understanding is the first step to acceptance, and only with acceptance can there be recovery. He needs to know who has put him through the ordeal he has suffered tonight, and why,”

Numbing the pain for a while will make it worse when you finally feel it.

–Albus Dumbledore

Oleh karena tampaknya telah menjadi takdir Harry Potter untuk menjadi orang yang istimewa, orang yang terpilih, the boy who lived, sehingga masa kanak-kanak dan remajanya tak dapat seperti teman-temannya yang lain. Dan dia tak bisa memilih.

What wouldn’t he have given to be one of these people, sitting around laughing and talking, with nothing to worry about but homework?

Hal-hal menarik lain dalam buku ini adalah konsep ‘perbudakan’ yang diangkat oleh Hermione menyangkut Peri Rumah. Di sisi lain, kesetiaan ‘buta’ Peri Rumah meski diperlakukan semena-mena oleh majikannya.

“If you want to know what a mans like, take a good look at how he treats his inferiors, not his equals.” –Sirius Black

Juga usaha Fred dan George untuk menghasilkan uang dan memanfaatkan kreativitas dan bakat mereka untuk membuat toko lelucon, yang ditentang oleh ibu mereka. Saya suka dengan prinsip si kembar yang tak terpaku pada standar yang diyakini oleh kebanyakan orang. Mereka tak yakin dapat menjadi sepandai ketiga kakak mereka dan memperoleh pekerjaan cemerlang yang diimpikan kebanyakan orang, tapi keduanya membuka jalan bagi diri mereka sendiri. Mereka berwiraswasta—meski dengan hal yang kelihatan sepele—tapi dengan serius sehingga tak diragukan mereka bisa meraih keberhasilan dengan cara yang berbeda.

Sehubungan dengan meme bulan ini mengenai buku, tak lengkap rasanya jika tak menyinggung buku ‘andalan’ Hermione, buku terpenting bagi yang ingin mengetahui seluk-beluk Hogwarts.

“Aren’t you two ever going to read Hogwarts, A History?”
“What’s the point?” said Ron. “You know it by heart, we can just ask you.”

Satu lagi fakta menarik tentang Invisibility Cloak, ternyata ada seseorang dalam kisah ini yang memilikinya selain Harry. Apakah ini berarti bahwa Cloak of Invisibility yang sesungguhnya, yang diceritakan dalam The Tale of the Three Brothers bukanlah jubah yang sama dengan yang dimiliki Harry? Ataukah dongeng Beedle itu yang memang sekadar dongeng? (Ingatkan saya untuk memberi kesimpulan seusai membaca kembali buku #7)

“Curiosity is not a sin,” he said. “But we should exercise caution with our curiosity. . . yes, indeed …”

Satu hal yang baru saya sadari di buku keempat ini adalah bagaimana J. K. Rowling menjaga sudut pandang yang digunakan tetap berdasarkan sudut pandang Harry Potter, meski diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga (sudut pandang orang ketiga terbatas). Hal ini saya sadari karena setiap penulis ingin menyampaikan rencana Voldemort, dua kali melalui mimpi Harry. Kalau saya tidak salah,ini juga berlaku di buku sebelumnya, kecuali pada buku pertama, bagian awal, sebelum kehadiran sosok Harry.

hotter-potter-logo-15/5 bintang untuk buku yang mendorong saya untuk tak melewatkan setiap detailnya.

You place too much importance, and you always have done, on the so-called purity of blood! You fail to recognize that it matters not what someone is born, but what they grow to be!

Review #5 for Hotter Potter

Review #10 for Books in English Reading Challenge 2013

Review #8 for What’s in a Name Challenge 2013

FYE buttonMulai ada bumbu-bumbu cinta monyet, aroma kematian yang lebih ‘menakutkan’, usia 13 tahun sudah cukup ‘tua’ untuk ini.

5 responses to “Harry Potter and the Goblet of Fire – J. K. Rowling

  1. Pingback: Harry Potter and the Order of the Phoenix – J. K. Rowling | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Hotter Potter 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: 2013 TBRR Pile Mystery and Fantasy Wrap Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Books in English 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s