Memoritmo

memoritmoJudul : Memoritmo
Penulis : Eross Chandra, Anto Arief, Mikael Johani, Rain Chudori, Maradilla Syachridar, Galih Wismoyo, Sarah Deshita, Cholil Mahmud, Kartika Jahja, Meng “Hotmaroni” Simamora, Hasief Hardiansyah, Ade Paloh, Valiant Budi, Sammaria Simandjuntak
Editor : Syafial Rustama
Proofreader : Resita Wahyu Febriati
Penerbit : Bukuné
Edisi : Cetakan pertama, September 2012
Format : Paperback, 180 halaman

You must respect your heart’s desire. Do what your heart tells you to. Anything less would be a  crime. (Hasief Hardiansyah, hal.137)

Empat belas orang berbagi tentang empat belas lagu kenangan masing-masing. Sebuah project yang dicetuskan oleh Maradilla Syachridar mengingat betapa lagu bersifat universal, dan beberapa lagu mungkin mengendap dan menguarkan kembali kenangannya ketika memori itu terusik.

Entah sejak kapan, saya terobsesi dengan segala buku (terutama fiksi) yang berkaitan, atau berbau, musik. Saya pun pernah memiliki project tersendiri (yang saat ini masih mandeg) menarasikan sebuah lagu dalam cerpen versi saya sendiri (beberapa saya tuliskan di sini). Karena itulah, sejak pertama kali melihat review kak Dewi tentang buku ini, saya ingin membacanya. Akan tetapi alasan terbesarnya tetap bahwa saya merasa terhubung dengan segala sesuatu, sampai saat ini, melalui musik.

Musik adalah sarana untuk melampiaskan perasaan. Saat ada suatu perasaan membuncah kemudian sebuah musik yang ‘pas’ tiba-tiba muncul, maka musik itu bisa menjadi obat, atau bahkan menjadi racun, bergantung pada dosis dan cara pemakaiannya. Musik yang ‘pas’ itu yang seperti apa memangnya?

See, that’s the great thing about music. A song can still resonate with you if you don’t know what it’s about, or even if it’s totally unrelated to your life. All you need is the right lyric, melody or chord sequence, and it becomes the soundtrack of your life. The song becomes what you need it to be. (Hasief Hardiansyah, hal.135)

Tepat seperti itu, tak perlu persis sama dengan kisah hidup kita. Mau satu kalimat saja yang sama, nuansa musiknya yang sesuai—tak peduli liriknya, atau bahkan satu kata yang tertancap begitu dalam, tak peduli apa makna sebenarnya dari lagu itu. Terkadang, seperti itulah musik bekerja. Dan saya selalu merasakan apa yang dikatakan oleh Eross Chandra.

Saya selalu bahagia dengan tafsir lagu menurut versi saya sendiri. Tidak peduli lagi apa maksud sebenarnya dari si penulis lagu dan itulah intinya sebuah art bagi saya. (Eross Chandra, hal.15)

Kita bisa mengatakan art itu hebat saat daya imajinasi kita berkembang baik dengan trigger si art itu sendiri. (Eross Chandra, hal.16)

Pada saat suatu lagu diperdengarkan ke telinga kita, maka yang bekerja bukan hanya logika, tapi emosi dan perasaan ikut menerjemahkannya, sesuai dengan diri kita, keadaan kita, kemauan kita. Musisi yang baik selalu bisa ‘masuk’ ke dalam cara yang berbeda-beda, menemukan pendengar dan penikmat yang berbeda-beda, juga bisa menerima sikap yang berbeda-beda.

Tapi buku ini bukan hanya tentang itu. Buku ini memuat berbagai macam cerita tentang musik. Ada yang menuliskan kenangannya, ada yang menuliskan pendapatnya, ada yang memfiksikan kisahnya, ada pula yang menarasikan puisi cintanya. Saya rasa tidak ada konsep yang pasti dalam tiap cerita kecuali musik itu sendiri. Buku ini merupakan himpunan memori dalam berbagai macam bentuknya.

Suatu saat, musik bisa menginspirasi…

Mungkin seharusnya seperti itulah hubungan yang sudah ditakdirkan gagal. Tidak perlu banyak merenung atau bahkan semakin terobsesi mengapa seseorang dapat membuat kita jatuh cinta atau dicintai. Biarkan saja semua itu berakhir. (Maradilla Syachridar, hal.63-64)

Sebahagia-bahagianya saya saat ini, saya masih sering sedih kalo inget yang dulu-dulu. I let go, I moved on. But what kind of heart doesn’t look back? Here I am, stronger than ever. Masa lalu saya yang membuat saya seperti sekarang ini. Dan saya suka saya yang sekarang. (Sarah Deshita, hal.91)

Suatu ketika, musik membuat kita lebih bijaksana…

… namun seni melupakan seseorang perlu dikembangkan dengan cara tidak melupakan, bahkan di setiap transisinya menuju keikhlasan, semua harus dikelola. (Maradilla Syachridar, hal.67)

Love is not about giving up what you have, own, or believe. Love is willingness to give it all up, for love needs no proof. The willingness to stay. To stick around when things get rough. (Sarah Deshita, hal.90)

Semuanya hanya masalah penafsiran. Karena itulah, musik itu universal.

Buku ini, tidak bisa saya kategorikan sebagai buku yang memuaskan. Beberapa sulit ditangkap oleh orang yang belum pernah mendengarkan lagu yang dimaksud. Beberapa berisikan sepenggal memoar sang penulis yang agak terlalu personal sehingga tidak berarti apa-apa bagi pembaca yang belum mengenalnya. Beberapa kalimat yang saya kutip mungkin bisa mencerminkan penulis mana saja yang memberikan sesuatu yang menarik bagi saya. Termasuk tulisan Kartika Jahja yang tampaknya merupakan fiksi tentang seorang wanita muda lewat lagu Bad Wisdom, juga kisah remaja Valiant Budi dalam Sahabat Gelap, yang cukup menarik meski penulisannya tak terlalu istimewa untuk saya.

Kemudian saya ingin melemparkan sebuah pertanyaan seusai membaca tulisan Ade Paloh yang berbunga-bunga. Benarkah sel memori, termasuk memori tentang musik, terletak di otak belakang?

Secara keseluruhan, saya suka idenya, meski tak terlalu menikmati buku ini. 3/5 bintang untuk musik dan memori.

Namun, kekuatan istimewa sebuah lagu ini punya satu konsekuensi buruk: sebuah lagu juga bisa memonopoli memori. Dan, bagaikan industri otomotif yang menghancurkan badan dan jiwa Jakarta lewat monopoli moda transportasi, beberapa lagu menjadikan monopoli memori mereka sebagai senjata untuk menjadi diktator ingatan kita. Sebuah lagu bisa tanpa ampun menyeret kita ke dalam masa lalu yang sebenarnya ingin kita lupakan saja. (Mikael Johani, hal.39)

*Posting bersama BBI Mei (2) Kumpulan cerpen

5 responses to “Memoritmo

  1. aduh bisa bikin buku sendiri kumcer dong🙂

  2. aku tipe orang yang nggak terlalu memusingkan lirik lagu, kalo musiknya enak didingerin dan pas sama liriknya oke aja, jadi ketika membaca buku ini perasaannya biasa aja, nggak ada yang special🙂

  3. Pingback: Baca Bareng BBI Januari – Desember 2013 | Mia membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s