Harry Potter and the Order of the Phoenix – J. K. Rowling

HP5Title : Harry Potter and the Order of the Phoenix (Harry Potter #5)
Author : J. K. Rowling (2003)
Format : ebook

(Review Harry Potter #4)

And now the Sorting Hat is here
And you all know the score:
I sort you into houses
Because that is what I’m for,
But this year I’ll go further,
Listen closely to my song:
Though condemned I am to split you
Still I worry that it’s wrong,
Though I must fulfill my duty And must quarter every year
Still I wonder whether Sorting
May not bring the end I fear.
Oh, know the perils, read the signs,
The warning history shows,
For our Hogwarts is in danger
From external, deadly foes
And we must unite inside her
Or we’ll crumble from within
I have told you, I have warned you…
Let the Sorting now begin.

Liburan musim panas memang selalu buruk bagi Harry semenjak dia bersekolah di Hogwarts, karena dia harus kembali ke rumah keluarga Dursley. Namun liburan kali ini lebih menyiksa bagi Harry karena tak ada berita dari teman-temannya. Kembalinya Voldemort dan pemberitaan Daily Prophet yang ‘biasa-biasa’ saja terasa aneh dan tak cocok dengan apa yang diperkirakannya. Menunggu dan tak tahu apa-apa membuat emosi remajanya semakin tak stabil. Keadaan diperparah oleh hadirnya dua Dementor yang nyaris membunuh Dudley—sepupu Harry—di Little Winging, dan dia baru mengetahui bahwa selama ini dia diawasi atas perintah Dumbledore.

Dengan pertimbangan bahwa Harry sudah tak aman lagi di Privet Drive, dia dibawa oleh serombongan Auror—pemburu Death Eater—ke markas Orde Phoenix (the Order of the Phoenix) yang terletak di Grimmauld Place nomor 12, yang tak lain dan tak bukan adalah rumah milik Sirius Black. Orde Phoenix merupakan kelompok rahasia yang telah terbentuk sejak kejayaan Voldemort di masa lalu. Anggotanya adalah para Auror yang baru diperkenalkan di buku ini (favorit saya adalah Nymphadora Tonks, perempuan super yang stylish), juga Alastor Moody yang pernah ‘muncul’ di buku sebelumnya, Remus Lupin, Sirius Black, Professor McGonagall, Professor Snape, Arthur Weasley, Hagrid, dan tentunya Professor Dumbledore (serta beberapa nama yang terlewat). Selain anggota Orde–apalagi Harry dan lainnya yang masih bersekolah dan di bawah umur–tak dilibatkan dalam pembicaraan-pembicaraan penting mereka.

Di Grimmauld Place ini Harry mengetahui silsilah keluarga Black, latar belakang Sirius, dan keadaan keluarga Black yang tersisa (yang akan berhubungan dengan kisah selanjutnya). Harry juga memahami bahwa dunia sihir belum siap menerima berita kembalinya Voldemort yang dibawanya akhir tahun ajaran lalu, bahwa Kementerian Sihir sendiri yang memastikan bahwa berita itu tak dianggap serius (reaksi Menteri Cornelius Fudge bisa dilihat di sini). Bahkan Albus Dumbledore yang sangat disegani pun mendapatkan celaan dan fitnah hingga beberapa gelar kehormatannya dicabut. Hal lain yang tak kalah menyakitkan adalah Percy Weasley yang ikut-ikutan mengkritisi ayahnya sehingga pertengkaran dalam keluarga Weasley pun terjadi.

Di Hogwarts, keadaan tak jauh berbeda. Hanya sedikit yang mempercayai Harry dan kesaksiannya atas kembalinya Voldemort. Keadaan ini membuatnya semakin mudah marah, bahkan Ron dan Hermione tak luput dari teriakan-teriakannya, meski dia tak bermaksud untuk marah pada mereka. Di hari-hari ini, emosi Harry sangat mudah tersulut, terlebih dengan bekas lukanya yang semakin sering terasa nyeri dan mimpi-mimpi aneh dimana dia menelusuri sebuah lorong yang sama setiap malam.

He was sick of it; sick of being the person who was stared at and talked about all the time. If any of them knew, if any of them had the faintest idea what it felt like to be the one all these things had happened to…

Hogwarts kedatangan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru, Dolores Umbridge, dari Kementerian Sihir. Di sana, dia memastikan bahwa pelajaran Hogwarts sesuai dengan apa yang diinginkan Kementerian Sihir, jangan sampai ada celah bagi para murid untuk mempelajari hal-hal yang bisa mereka pergunakan untuk melawan kementerian. Tokoh Umbridge ini digambarkan dengan cardigan pink, bermulut manis, tapi sesungguhnya dia lebih kejam daripada siapapun yang pernah ada di Hogwarts. Kelas Umbridge hanya diisi dengan membaca buku, tak boleh ada tongkat sihir. Hal ini menimbulkan keresahan, terutama bagi Harry, Ron dan Hermione. Di samping karena ini adalah tahun OWL (Ordinary Wizarding Level) bagi mereka, yang akan menentukan karir di kemudian hari, juga mereka merasa perlu mempersiapkan diri menghadapi dunia luar, terlebih saat ini. ‘Perlawanan’ Harry berupa protes dan sarkasme berbuah detensi yang kejam dan sangat ‘membekas’.

“Do you really think this is about truth or lies? It’s about keeping your head down and your temper under control!” –Minerva McGonagall

Atas dasar inilah, Hermione mengumpulkan beberapa murid untuk belajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam secara diam-diam. Mereka mendeklarasikan diri sebagai Dumbledore’s Army (D.A.) atau Laskar Dumbledore.

Saya suka bagaimana para guru Hogwarts bersatu dengan cara yang halus dan tidak memprovokasi, namun cukup memberi ‘pelajaran’ bagi Umbridge. Apalagi Professor McGonagall yang selama ini terkenal sangat disiplin, beberapa kali memberi pelajaran pada Umbridge dengan caranya sendiri, yang selalu membuat saya mengidolakannya lebih daripada biasanya.

“I wonder,” said Professor McGonagall in cold fury, turning on Professor Umbridge, “how you expect to gain an idea of my usual teaching methods if you continue to interrupt me? You see, I do not generally permit people to talk when I am talking.”

“Thank you so much, Professor!” said Professor Flitwick in his squeaky little voice. “I could have got rid of the sparklers myself, of course, but I wasn’t sure whether or not I had the authority.”

“I’m terribly sorry to have to contradict you, Minerva, but as you will see from my note, Harry has been achieving very poor results in his classes with me -”
“I should have made my meaning plainer,” said Professor McGonagall, turning at last to look Umbridge directly in the eyes. “He has achieved high marks in all Defense Against the Dark Arts tests set by a competent teacher.”

Ron masuk ke tim Quidditch. Ron mulai menunjukkan kekaguman pada Hermione (meski belum seserius yang dapat terjadi). Berbeda dengan Harry yang menunjukkan gejala romansa remaja pada Cho Chang, salah satu murid Ravenclaw.

“Hermione, you are honestly the most wonderful person I’ve ever met,” said Ron weakly, “and if I’m ever rude to you again -”
“- I’ll know you’re back to normal,” said Hermione.

Buku ini mengeksplorasi lebih banyak karakter ‘sampingan’ lain. Seperti Neville Longbottom yang kali ini digambarkan mengalami transformasi yang menunjukkan bahwa dia memang adalah Gryffindor sejati. Ada Luna Lovegood yang dianggap aneh, tapi sebenarnya memiliki pola pikir yang luar biasa, serta selalu bersikap apa adanya. Juga akan ada rahasia mengapa Sibyll Trelawney dipertahankan di Hogwarts, padahal jelas semua orang tahu kemampuannya (atau ketidakmampuannya).

“Sibyll Trelawney may have Seen, I do not know,” continued Firenze, and Harry heard the swishing of his tail again as he walked up and down before them, “but she wastes her time, in the main, on the self-flattering nonsense humans call fortune-telling. I, however, am here to explain the wisdom of centaurs, which is impersonal and impartial. We watch the skies for the great tides of evil or change that are sometimes marked there. It may take ten years to be sure of what we are seeing.”

Fred dan George dengan ‘penelitian-penelitian’nya untuk Weasleys’ Wizarding Wheezes, membantu sekolah untuk menghadapi Hogwarts. Juga jalan hidup mereka yang tidak biasa pada akhirnya, namun akan sangat dihargai di kemudian hari.

“One day,” said Hermione, sounding thoroughly exasperated, “you’ll read Hogwarts: A History, and perhaps it will remind you that you can’t Apparate or Disapparate inside Hogwarts. Even Voldemort couldn’t just make you fly out of your dormitory, Harry.”

Seperti sudah saya singgung, bahwa Harry mengalami mimpi-mimpi yang dicurigainya berhubungan dengan apa yang sedang dirasakan oleh Voldemort, serta di tempat disembunyikannya sesuatu yang diincar oleh Voldemort. Dumbledore pun merasa perlu untuk melindungi Harry dengan memerintahkan Professor Snape mengajari Harry Occlumency—ilmu untuk menutup pikiran, sehubungan dengan kekhawatiran bahwa Voldemort dapat masuk dan menguasai pikiran Harry.

I’m just getting flashes of what mood he’s in. –Harry Potter

“… he’s got other plans… plans he can put into operation very quietly indeed… stuff he can only get by stealth… like a weapon. Something he didn’t have last time.”

“Only Muggles talk of ‘mind-reading’. The mind is not a book, to be opened at will and examined at leisure. Thoughts are not etched on the inside of skulls, to be perused by any invader. The mind is a complex and many-layered thing, Potter – or at least, most minds are.” –Severus Snape

Pelajaran yang tidak mudah bagi Harry, selain karena gurunya adalah musuh bebuyutannya (dan ayahnya, serta Sirius), Harry tampak setengah hati menutup pikirannya dari mimpi-mimpi yang membuatnya penasaran.

“Fools who wear their hearts proudly on their sleeves, who cannot control their emotions, who wallow in sad memories and allow themselves to be provoked so easily – weak people, in other words – they stand no chance against his powers! He will penetrate your mind with absurd ease, Potter!” –Severus Snape

Di antara ketujuh buku Harry Potter yang saya baca beberapa tahun lalu, saya ingat buku kelima ini yang paling membuat saya sedih. Waktu itu mungkin karena saya masih merasakan emosi yang sama dengan Harry Potter. Pada pembacaan ulang ini, kebiasaan buruk saya muncul, berharap bahwa ceritanya bisa berubah karena saya sudah tahu ‘rahasia’nya. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, yang berujung pada penyesalan selamanya, ending yang sangat menyesakkan. Dan harga itu harus dibayar oleh Harry karena kecerobohannya, karena ketidakstabilan emosinya, karena arogansi yang diwarisi dari ayahnya ditambah kebaikan hati yang diwarisi dari ibunya.

“You know,” said Phineas Nigellus, even more loudly than Harry “this is precisely why I loathed being a teacher! Young people are so infernally convinced that they are absolutely right about everything. Has it not occurred to you, my poor puffed-up popinjay, that there might be an excellent reason why the Headmaster of Hogwarts is not confiding every tiny detail of his plans to you? Have you never paused, while feeling hard-done-by, to note that following Dumbledores orders has never yet led you into harm? No. No, like all young people, you are quite sure that you alone feel and think, you alone recognize danger, you alone are the only one clever enough to realize what the Dark Lord may be planning -”

Saya tidak menyalahkan fluktuasi hormon Harry, ataupun kenyataan bahwa Harry berbeda dan selalu diperlakukan berbeda dengan anak lain. Jalan hidupnya tak mudah, emosi yang ditunjukkannya adalah pilihannya, dan konsekuensi yang ditanggungnya akan membantunya untuk tumbuh dewasa. Saya rasa pesan ini penting, dan penulis tak luput untuk memasukkan sisi manusiawi (atau remajawi?) ini pada sosok pahlawan rekaannya.

Dan sekali lagi, saya selalu dibuat kagum oleh Professor Dumbledore. Di akhir, beliau menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa dengan membebankan seluruh kesalahan pada dirinya sendiri, melindungi Harry begitu kuatnya.

“Youth cannot know how age thinks and feels. But old men are guilty if they forget what it was to be young… and I seem to have forgotten, lately…” –Albus Dumbledore

“I cared about you too much,” said Dumbledore simply. “I cared more for your happiness than your knowing the truth, more for your peace of mind than my plan, more for your life than the lives that might be lost if the plan failed. In other words, I acted exactly as Voldemort expects we fools who love to act.

hotter-potter-logo-15/5 bintang untuk kebenaran yang pahit.

“…the world isn’t split into good people and Death Eaters,” –Sirius Black

Review #6 for Hotter Potter

Review #12 for Books in English Reading Challenge 2013

Review #9 for What’s in a Name Challenge 2013

FYE buttonSemakin gelap, semakin mengarah kepada remaja-dewasa. Menurut saya mulai usia 14-15 tahun seharusnya sanggup menerimanya.

6 responses to “Harry Potter and the Order of the Phoenix – J. K. Rowling

  1. Pingback: Harry Potter and the Half-Blood Prince – J. K. Rowling | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Hotter Potter 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Bookish Top Ten (2) : Literary Villains | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: 2013 TBRR Pile Mystery and Fantasy Wrap Up | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  6. Pingback: Books in English 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s