Mr. Justice Raffles – E. W. Hornung

AJRafflesTitle : Mr. Justice Raffles
Author : Ernest William Hornung (1909)
Translator : Melody Violine
Editor : Fitria Pratiwi
Publisher : Visimedia
Edition : Cetakan Pertama, Maret 2013
Format : Paperback, x+422 halaman

“Aku tidak heran lagi dengan hal paling buruk yang pernah kita lakukan, juga sebaliknya, tentu saja. Orang kaya ternyata miskin, orang jujur ternyata licik kita semua berpotensi melakukan apa saja.” (p.43)

Kisah dimulai dengan kepulangan A. J. Raffles dari Carlsbad—semacam tempat pengobatan—Austria. Raffles yang mulanya sehat dan atletis tampak kurus dan lesu. Dia mengatakan pada sahabatnya—sekaligus narator dalam buku ini—Bunny Manders, bahwa dia ke sana dalam sebuah ‘misi pencurian’ yang melibatkan seorang rentenir yang cukup ternama, Daniel Levy. Meskipun Raffles tidak benar-benar mencuri, dia cukup puas sudah berhasil mengerjai rentenir yang dijuluki Mr. Shylock itu.

“Penjahat yang serupa dengan hatiku yang hitam, Bunny! Musuh yang sangat kuat sehingga pantas menarik pedang Excalibur.” (p.144)

Sepulang keduanya, mereka menemukan salah satu sahabat Raffles yang juga murid kriketnya, Teddy Garland, sedang berusaha memalsukan cek milik Raffles. Teddy yang sedang mengalami masalah keuangan, tak bisa mengambil risiko pertandingan kriketnya besok berantakan karena ancaman dari sang rentenir, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dan Levy. Di luar dugaan Bunny, Raffles begitu mudah memaafkan dan memberi alasan atas tindakan Teddy itu, bahkan menawarkan bantuan untuk membantu Teddy melunasi hutangnya.

Namun, Raffles tidak membayar hutang Teddy dengan uangnya. Dengan kecerdikannya, dia mengajak Bunny untuk bersandiwara mengecoh Dan Levy. Seolah masalah belum cukup banyak, mereka dibuat bingung dengan hilangnya Teddy mennjelang pertandingan. Belum lagi dendam Dan Levy yang dilampiaskannya pada ayah Teddy, yang juga baru diketahui mengalami keterlibatan dengan rentenir itu.

Perjalanan Raffles dan Bunny menghadapi Mr. Shylock dengan dendamnya, baik pada ayah-anak Garland, maupun—terutama—pada Raffles yang telah mengecohnya, merupakan petualangan seru yang disuguhkan oleh buku ini. Raffles yang merupakan bintang kriket, sekaligus pencuri amatir, merupakan tokoh sentral yang diceritakan melalui narasi Bunny Manders.

Tak lepas dari penulis yang merupakan saudara ipar dari Sir Arthur Conan Doyle—pencipta karakter detektif Sherlock Holmes, penceritaan dan hubungan Raffles-Bunny ini sedikit banyak bisa dibilang mirip, sekaligus tidak terlalu mirip. Raffles digambarkan sebagai sosok yang sulit ditebak, memiliki pemikiran sendiri, namun—yang berbeda dari Holmes—dia memiliki rasa sayang, dan tak segan menunjukkannya, pada sahabat-sahabatnya. Salah satu hal yang tak habis dipikirkan oleh sahabatnya sendiri adalah bahwa saat di Carlsbad, dia menjalani pengobatan sungguhan, padahal dia hanya sedang menjalani ‘misi’ yang dianggapnya hanya main-main saja.

“Aku mengikuti peraturan permainan setaat mungkin, tidak kalah taatnya dengan pemuka agama.” (p.8)

Imajinasi dan pandangan Raffles ke depan jelas cenderung mendahului perkataannya, bahkan ide-idenya akan mengkristal saat tuturnya mengalir, menjadi cukup gamblang bagi pendengarnya. Kalimat yang dimulai  dengan gagasan samar pada akhirnya akan menjadi proyek yang jelas. Raffles bagaikan membuat gambar yang menyatu pada fokus lensa dengan perincian yang banyak. (p.61)

Raffles sendiri tak menganggap dirinya seorang yang suci, namun dia memiliki hati yang tak membiarkan sahabat dan keluarganya (dalam hal ini ayah-anak Garland) menjadi korban dari kelicikan dan dendam seeorang, apalagi dia juga menyadari bahwa hal ini tak lepas dari kesalahannya juga. Yang tak kalah pentingnya adalah, dia tidak melibatkan sahabat-sahabatnya dalam pekerjaan ‘kotor’nya.

Kesimpulan apakah yang bisa diambil dari karakter Raffles, apakah dia orang baik, ataukah seorang penjahat?

“Aku tahu aku ini apa,” kata Raffles, “tapi sepertinya kau sudah tak tertolong lagi dan menjadi pemuja penjahat!”
“Bukan si penjahat yang aku pedulikan,” jawabku dengan bersungguh-sungguh pada setiap kataku. “Melainkan olahragawan di balik si penjahat, seperti yang sangat kau pahami.”
“Aku sedikit lebih memahami si penjahat di balik si olahragawan,” jawab Raffles, tertawa kala aku paling tidak menduganya, “tapi kau seperti melupakan keberadaannya sama sekali. Aku tidak akan heran jika suatu hari kau menulisku sebagai pahlawan besar, Bunny, dan membuat kejahatanku tampak bersih! Biarlah ini menjadi pengingatmu tentang aku ini apa dan akan tetap menjadi apa hingga akhir.” (p.321-322)

Dengan tak melupakan bahwa kisah ini dinarasikan oleh Bunny Manders, rasanya agak bias jika penilaian itu diserahkan sepenuhnya pada buku ini. Dengan membacanya sendiri, mungkin kita bisa menarik kesimpulan sendiri. Atau, justru semakin bingung?

Alur dalam buku ini mengalir dengan halus dan tak menyimpan terlalu banyak misteri terlalu lama. Meski begitu, bumbu-bumbu ketegangan dan pertanyaan tetap terasa dalam berbagai keadaan. Bahasa terjemahannya mengalir cukup lancar, saya suka dengan diksinya yang luwes dan tidak menghilangkan kesan klasiknya, meski karena itu tak jarang juga beberapa kalimat terlihat kaku sehingga harus dicerna beberapa kali.

3/5 untuk “Pencuri Legendaris dari Inggris”.

Review #4 for New Authors Reading Challenge 2013

Review #10 for What’s in a Name Challenge 2013

*Posting bersama BBI Juni (1) Sastra Eropa, buku-buku yang ditulis oleh pengarang yang berasal dari negeri-negeri Eropa.

16 responses to “Mr. Justice Raffles – E. W. Hornung

  1. waah penulisnya saudara ipar conan doyle? kayaknya lumayan seru ya si raffles…ini ada serialnya kah?

    • Iya, seru kok. Kalau ga salah ini satu-satunya novel, tapi cerpen seri Raffles nya buanyak. Jadi serial yang lain bentuknya kumcer.

  2. ipar doyle? baru tahu kalo penulis juga hehehe

  3. Hah ipar Doyle? Pengen buku ini tapi nunggu harganya obralk dulu. Kenapa sih Gagasmedia gak ada di Tm

    weh …penerjemahnya Melody

  4. melodyvioline

    ayo semua baca Mr. Justice Raffles
    seru loh :p
    biasanya kita ngikutin Sherlock nebak2 kemarin pelaku pake trik apa, di sini kita bisa liat trik2 itu lagi dilakukan

  5. Oh ini seri terbaru si Raffles ya, blom punya hehe, yang edisi sebelumnya juga belum sempat baca, tapi penerbitnya beda ya, meski masih dalam satu grup.

  6. Halo, aku minta izin comot review ini buat dipajang pas IRF ya. Tq

  7. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  8. Pingback: Second Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s