Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan JuniJudul : Hujan Bulan Juni
Penulis : Sapardi Djoko Damono
(Kumpulan Puisi Pilihan dari 1964-1994, diterbitkan pertama kali oleh PT Grasindo)

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Hujan Bulan Juni, 1989)

Sejujurnya saya bukan penikmat puisi. Dulu, saya suka menulis puisi, tapi itu hanya sebagai wahana pelampiasan. Jika dihadapkan pada sebuah puisi, saya tak tahu bagaimana harus menilainya. Namun, beberapa waktu yang lalu saya sempat mencoba membaca sebuah buku puisi berbahasa Inggris, dan mencoba untuk menikmati serta menilai. Kebetulan, bulan Juni lalu BBI (Blogger Buku Indonesia) membuat sebuah proyek membaca buku puisi Hujan Bulan Juni. Ini salah satu kesempatan untuk belajar ‘membaca’ puisi kembali.

Ternyata, puisi Pak Sapardi ini sangat nikmat. Beliau tak harus menggunakan kata berbunga-bunga untuk membuatnya kuat secara makna. Bahkan beberapa kata singkat saja sudah dapat berbicara banyak. Puisi-puisinya mengambil banyak hal di sekitar kita, kemudian membolak-balikkan situasinya, menjadikannya absurd, unik, lucu, mengajak kita merenung, mengerutkan dahi, atau sekadar tersenyum.

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang.”

(Percakapan Malam Hujan, 1973)

Sebagaimana judulnya, kumpulan puisi ini berisikan sajak-sajak tentang hujan, serta segala metafora yang mungkin melekat padanya; kesedihan, kesepian, penantian, nostalgia, hingga kematian. Tapi tidak, tidak hanya itu, puisi-puisi dapat dimaknai secara luas sekali. Pada dasarnya, menikmati puisi hampir sama dengan menikmati lagu, kita yang memilih kisah kita sendiri, untuk kita maknai sendiri.

Sebenarnya hampir lebih dari setengah isi buku ini menjadi favorit saya, dengan alasannya masing-masing. Mungkin Lirik Untuk Lagu Pop maupun Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka tak sepopuler puisi Aku Ingin, tapi memberikan efek romantis yang sama. Dengan menggunakan alam sebagai metafora, saya merasa imajinasi saya termanjakan, menimbulkan gambaran yang damai dari bunga-bunga, angin, dan suara-suara murni yang bisa dibayangkan. Begitu pula puisi Di Beranda Waktu Hujan, yang menggambarkan kesepian dengan begitu manis. Sajak Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari terkesan sederhana, hanya satu bait, tapi membawa pesan kemanusiaan, menyindir egoisme manusia. Malam Itu Kami di Sana ‘hanya’ menggambarkan keadaan sebuah stasiun yang kosong, kemudian mengundang pertanyaan tentang keberadaan. Bahkan ada pula puisi semacam Kami Bertiga yang—sangat saya sekali–beraroma ‘gelap’, mengancam, dan mungkin kemarahan yang terpendam. Juga yang ini:

mata pisau itu tak berkerjap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat terbayang olehnya urat lehermu.
(Mata Pisau, 1971)

Rasanya membaca puisi yang sama untuk kedua, ketiga, keempat atau kelima kalinya akan memiliki rasa yang berbeda, terutama jika situasinya berbeda. Kita dapat memaknainya ‘apa adanya’, atau mencari makna di baliknya. 4/5 bintang.

HBJAkhir Juni 2013 lalu, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan Hujan Bulan Juni ini dengan cover baru yang sangat cantik. Dan saya jadi ingin memilikinya, adakah peri buku yang mau berbaik hati membaginya?😀

cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
meraung, tersedan, atau terisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
(Cermin 1, 1980)

Review #3 untuk Membaca Sastra Indonesia 2013 (Kontemporer #1)

14 responses to “Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono

  1. Wah, Zee, keren nih reviewnya. Selamanya kayaknya aku bakal susah nulis review buku puisi begini meski background kuliah sastra, tapi tetep aja otak kurang prima #hiks….

  2. Puisi ‘yang fana adalah waktu’ itu termasuk Hujan Bulan Juni ga ya? Itu puisi favoritku (selain ‘aku ingin’, tentu saja) dari SDD.😀

  3. Pingback: Selesai Membaca Sastra Indonesia 2013 | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: The Man Who Loved Books Too Much – Allison Hoover Bartlett | Bacaan B.Zee

  5. Buku puisi yang sederhana tp dalam maknanya

  6. Arrrgghh…. jadi pengen baca….!!!

  7. Genre puisi liris Sapardi sepakat sederhana namun kuat mengikat makna dan satu lagi, genre ini sangat luwes untuk diwarnai dengan musikalisasi

  8. Suka ya baca puisi2nya.

    Bzee, ini samaan kaya aq, tiap ke gramed ngelus2 buku bersampul putih cantik ini. 😇

  9. Pingback: Scene on Three (89) | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s