Harry Potter and the Deathly Hallows – J. K. Rowling

HP7Title : Harry Potter and the Deathly Hallows (Harry Potter #7)
Author : J. K. Rowling (2007)
Format : ebook

(Review Harry Potter #6)

Where your treasure is, there will your heart be also.

Setelah kematian Dumbledore yang disertai dengan misi yang dibebankannya pada Harry–mencari Horcrux Voldemort yang tersisa—Harry memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts. Baginya, Hogwarts tanpa Dumbledore terasa ‘kosong’, terlebih kondisi dunia sihir yang semakin berbahaya akibat menyusupnya Voldemort dan pengikutnya ke dalam Kementerian Sihir. Tidak hanya menyebarkan teror dari luar, kini Voldemort mengontrol dunia sihir sampai ke tingkat tertinggi. Akan tetapi, sesuai pesan Dumbledore sebelum kematiannya, Harry harus tetap kembali ke Privet Drive, sampai setidaknya genap berusia tujuh belas tahun. Oleh karena selama Harry masih menganggap rumah Dursley sebagai ‘rumah’nya, mantera yang melindunginya masih tetap bekerja.

Rencana pemindahan Harry dari rumah Dursley pada mulanya adalah tepat saat ulang tahunnya yang ketujuh belas, saat mantera pelindungnya hilang. Namun rencana tersebut sengaja dimajukan, karena para anggota orde Phoenix tahu bahwa Voldemort mengetahui rencana itu. Akan tetapi, ternyata Snape mengetahui pengajuan tanggal tersebut dan menginformasikannya kepada Voldemort. Harry beserta ketiga belas anggota orde yang melindunginya menuju The Burrow menjadi sasaran pengejaran para Pelahap Maut. Pada bab-bab awal ini kita pun disuguhkan kembali dengan kematian.

Death was impatient. …

Setibanya di The Burrow, Harry telah memutuskan untuk segera pergi, akan tetapi dia masih harus menunggu usianya genap tujuh belas tahun, juga pernikahan Bill dan Fleur keesokan harinya. Ron dan Hermione kembali berusaha meyakinkan Harry bahwa dia tidak sendirian, bahwa mereka berdua telah melakukan persiapan demi melindungi keluarga mereka kalau-kalau Voldemort hendak mengancam mereka untuk memberi tahu posisi Harry. Di luar dugaan, pada malam pernikahan Bill Weasley, kekacauan terjadi hingga Harry dan kedua sahabatnya harus segera pergi dari The Burrow.

Mereka menghabiskan hari-hari awal di Grimmauld Place, karena hanya di sanalah para Pelahap Maut tak bisa menemukan mereka. Di sanalah Harry pada akhirnya berhasil ‘berdamai’ dengan Kreacher—peri rumah yang diwarisinya dari Sirius—dan menemukan misteri RAB yang mengacu pada Horcrux asli yang mereka cari. Perjalanan panjang menuju Horcrux, mencari cara memusnahkannya, sempat terperangkap di rumah Malfoy, terkurung di Gringotts, tinggal berpindah-pindah, bahkan hampir tertangkap Lord Voldemort di Godric’s Hollow, tempat yang bersejarah bagi Harry. Sampai di suatu titik, mereka harus kembali ke Hogwarts—tempat Voldemort menyimpan salah satu Horcrux-nya.

But he was home. Hogwarts was the first and best home he had known. He and Voldemort and Snape, the abandoned boys, had all found home here.

It was not, after all, so easy to die.

Sepeninggal Dumbledore, Daily Prophet dipenuhi oleh kisah masa lalu beliau, spekulasi-spekulasi, dan kemunculan biografinya yang ditulis oleh Rita Skeeter. Masa lalu yang belum pernah Harry dengar sebelumnya, yang menimbulkan keraguan, yang menimbulkan kemarahan Harry karena merasa ‘ditipu’ dan dimanfaatkan, namun di satu sisi penting bagi pencarian mereka.

The idea of a teenage Dumbledore was simply odd, like trying to imagine a stupid Hermione or a friendly Blast-Ended Skrewt.

Dan sedikit banyak pada akhirnya, kita diperkenalkan dengan masa lalu Dumbledore yang sesungguhnya, baik melalui buku Skeeter, konfirmasi para sahabat, juga saudaranya–Aberforth Dumbledore.

“I knew my brother, Potter. He learned secrecy at our mother’s knee. Secrets and lies, that’s how we grew up, and Albus … he was a natural.”

Adalah Hermione yang selalu mengingatkan Harry, betapa mereka harus selalu percaya pada Dumbledore, bahwa kebaikan dan tindakannya pada mereka selama ini yang harusnya mereka pegang, bukan kata-kata Rita Skeeter.

“He loved you,” Hermione whispered. “I know he loved you.”

Beban berat yang dipikulnya, misi pencarian Horcrux yang harus dirahasiakan—bahkan dari anggota Orde, adalah sebuah ‘ujian’ pembuktian persaudaraan dan persahabatan dari orang-orang di sekitar Harry. Bagaimana mereka tetap mempercayainya, sebagai remaja yang baru cukup umur, mendukungnya, tanpa tahu tepatnya apa yang terjadi. Hal yang menurut saya adalah tingkat kepercayaan yang paling tinggi, sebagaimana mereka terhadap Dumbledore.

‘Harry is the best hope we have. Trust him,’ –Albus Dumbledore to Remus Lupin and Kingsley Shacklebolt

“And what would you say to Harry if you knew he was listening, Romulus?”
“I’d tell him we’re all with him in spirit,” said Lupin, then hesitated slightly. “And I’d tell him to follow his instincts, which are good and nearly always right.”
Harry looked at Hermione, whose eyes were full of tears.
“Nearly always right,” she repeated.

“My brother Albus wanted a lot of things,” said Aberforth, “and people had a habit of getting hurt while he was carrying out his grand plans. You get away from this school, Potter, and out of the country if you can. Forget my brother and his clever schemes. He’s gone where none of this can hurt him, and you don’t owe him anything.”

Pasca jatuhnya Kementerian Sihir di bawah Voldemort, sistem pun menganut apa yang dikehendaki olehnya. Pendataan penyihir kelahiran Muggle, semakin buruknya perlakuan terhadap makhluk non penyihir (peri rumah, goblin, dan lain-lain), juga mengubah mindset masyarakat terhadap Harry, dari the Chosen One menjadi orang yang dicurigai terlibat dalam kematian Albus Dumbledore. Semuanya dilakukan dengan strategi politik yang meyakinkan—dan mungkin dengan beberapa mantera Imperius.

“Why didn’t Voldemort declare himself Minister of Magic?” asked Ron.
Lupin laughed.
“He doesn’t need to, Ron. Effectively he is the Minister, but why should he sit behind a desk at the Ministry? His puppet, Thicknesse, is taking care of everyday business, leaving Voldemort free to extend his power beyond the Ministry.
“Naturally many people have deduced what has happened: There has been such a dramatic change in Ministry policy in the last few days, and many are whispering that Voldemort must be behind it. However, that is the point: They whisper. They daren’t confide in each other, not knowing whom to trust; they are scared to speak out, in case their suspicions are true and their families are targeted. Yes, Voldemort is playing a very clever game. Declaring himself might have provoked open rebellion: Remaining masked has created confusion, uncertainty, and fear.

Dalam masa-masa ini, kontak pikiran antara Harry dengan Voldemort yang tahun sebelumnya telah berhenti, kini muncul kembali. Kesempatan inilah yang membuat Harry—dan kita sebagai pembaca—mengetahui tindak-tanduk Voldemort, apa saja yang dikerjakan dan direncanakannya, serta sebagai pemicu untuk bertindak terlebih dahulu sebelum terlambat.

“Harry, he’s taking over the Ministry and the newspapers and half the Wizarding world! Don’t let him inside your head too!” –Hermione Granger

“Lord Voldemort’s soul, maimed as it is, cannot bear close contact with a soul like Harry’s. Like a tongue on frozen steel, like flesh in flame —” –Albus Dumbledore

Di dalam buku ini, kita juga bisa melihat bagaimana Harry terus belajar dari kesakitan, penderitaan, dan kehilangan yang berturut-turut dialaminya.

Grief, it seemed, drove Voldemort out … though Dumbledore, of course, would have said that it was love. …

You gave Ron the Deluminator. You understood him. … You gave him a way back. …
And you understood Wormtail too. … You knew there was a bit of regret there, somewhere. …
And if you knew them … What did you know about me, Dumbledore?
Am I meant to know, but not to seek? Did you know how hard I’d find that? Is that why you made it this difficult? So I’d have time to work that out?

Teka-teki mengenai Deathly Hallows (Relikui Kematian), yang disebutkan secara tersirat pada The Tale of the Three Brothers di dalam buku The Tales of Beedle the Bard, sempat menghambat pencarian Horcrux. Keraguan bahwa relikui tersebut merupakan salah satu hal penting yang juga harus mereka cari, sebagaimana Voldemort mengincarnya, untuk menjadikannya tak terkalahkan, bahkan oleh Kematian sekalipun.

“And his knowledge remained woefully incomplete, Harry! That which Voldemort does not value, he takes no trouble to comprehend. Of house-elves and children’s tales, of love, loyalty, and innocence, Voldemort knows and understands nothing. Nothing. That they all have a power beyond his own, a power beyond the reach of any magic, is a truth he has never grasped.” –Albus Dumbledore

“… because the true master does not seek to run away from Death. He accepts that he must die, and understands that there are far, far worse things in the living world than dying.” –Albus Dumbledore

Di buku terakhir dalam serial Harry Potter ini, banyak sekali informasi—rahasia dan misteri dari buku-buku sebelumnya, latar belakang beberapa orang yang tak terduga sebelumnya (atau mengkonfirmasi dugaan kita), serta mekanisme sihir yang lebih rumit, cara kerja sihir yang menjadikan segala kejadian dalam tujuh buku Harry Potter ini menjadi berhubungan dan masuk akal. Informasi-informasi ini memenuhi buku ini sehingga, menurut saya, menjadikannya sangat jauh lebih kompleks. Terlebih mengenai legenda dan hal ‘tak biasa’, yang baru dialami dalam kondisi luar biasa semacam ini.

Di luar itu semua, kembali saya mengapresiasi J. K. Rowling setinggi-tingginya, atas dunia yang hampir sempurna, yang sangat logis, dan yang dicintai oleh banyak sekali anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa di seluruh dunia. Hanya satu pertanyaan yang masih mengganggu saya, Invisibility Cloak (Jubah Gaib) yang dimiliki oleh Harry dikatakan merupakan salah satu Relikui Kematian yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang artinya hanya ada satu di dunia, tetapi dalam serial keempat, Harry Potter and the Goblet of Fire, dikatakan bahwa Barty Crouch Jr. menggunakan sebuah Jubah Gaib untuk menyembunyikan dirinya. Meski dikatakan bahwa Jubah Gaib mungkin bisa dibuat dengan ramuan atau mantera tertentu yang bersifat sementara, tak ada keterangan tersirat maupun tersurat bahwa jubah milik Crouch bukanlah true Invisibity Cloak. Or did I miss something?

hotter-potter-logo-14.5/5 bintang untuk penutup yang manis.

Wit beyond measure is man’s greatest treasure.

Review #8 for Hotter Potter

♥Finished rereading and reviewing all seven books of Harry Potter plus one companion at this day, 31st July 2013.

Happy birthday, Jo Rowling

Happy birthday, Harry James Potter

Happy birthday, Neville Longbottom

I’m glad to have you all in my life, in my literary journey, and everything in your world that seems connected to ‘my real world’.♥

Review #17 for Books in English Reading Challenge 2013

Review #13 for What’s in a Name Challenge 2013

5 responses to “Harry Potter and the Deathly Hallows – J. K. Rowling

  1. Pingback: Scene on Three (4) | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Hotter Potter 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: 2013 TBRR Pile Mystery and Fantasy Wrap Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Books in English 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s