Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

SKTLAJudul : Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
Penulis : Maggie Tiojakin (2013)
Editor : Mirna Yulistianti
Ilustrasi & desain cover : Staven Andersen
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan Pertama, Juli 2013
Format : Paperback, 241 halaman

Terdiri dari empat belas cerita pendek, kumpulan kisah ini merupakan ‘percobaan’ pertama saya terhadap Maggie Tiojakin. Memang agak terlambat, tapi tampaknya pilihan saya tidak salah. Meski disebut sebagai ‘Kumpulan Cerita Absurd’, saya tidak merasa buku ini terlalu absurd, pada beberapa kisah. Menurut saya, beberapa kisah dalam buku ini ‘hanya’ terlalu kreatif. Kisah-kisah dalam buku ini menggambarkan kehidupan yang biasa dari sudut pandang yang tidak biasa, beberapa mungkin agak ekstrem, beberapa mungkin…agak absurd. Beberapa kisah yang sangat berkesan antara lain:

Fatima, Sekertaris Eksekutif di sebuah badan intel, dimana Pinot bertugas. Cerpen ini menggambarkan Pinot saat sedang berusaha memasuki area ‘lawan’ dengan bantuan dari Fatima. Kesannya biasa saja, hingga kita ditunjukkan ‘hubungan khusus’ antara Pinot dan Fatima yang…yah, siapa yang menduga?

Kota Abu-Abu, merupakan sebuah kota yang “Terletak di ujung dunia, di mana hujan turun tanpa henti dan matahari terus bersembunyi di balik awan gelap, kota ini menelan, mengunyah, dan melepehkan segala macam warna hingga kusam tanpa nyawa.” (hal.64). Sebuah kota yang tak pernah ditinggalkan Remos, meski kisah tentang ‘dunia luar’ menggodanya. Hingga keputusan istrinya untuk melihat dunia, untuk keluar dari zona nyaman, mengubah hidupnya.

“Duniaku sudah indah,” sahutku. “Karena ini dunia yang kutahu.” (hal.67)

“Bagus,” kata Temuji. Ia menepuk pundakku berkali-kali. “Memang sudah seharusnya begitu. Tak ada apa-apa untukmu di luar sana.” (hal.70)

Dalam dies irae, dies illa, penulis menggambarkan situasi perang menurut sudut pandang seorang anak yang polos namun luar biasa cerdas dan berani (mungkinkah perang yang membentuknya?).

Dalam waktu singkat, orang-orang yang tak pernah angkat senjata akan berakhir di layar kaca sebagai statistik. (hal.90)

Saksi Mata menunjukkan betapa banyaknya saksi mata yang seharusnya ada, namun tak tampak karena berbagai alasannya. Ada yang tak mau repot berusaha, mungkin seseorang yang lain ketakutan dengan apa yang akan dihadapi (atau dikiranya akan dihadapi), ada yang sungguh-sungguh tak berdaya, ada yang berada di tempat yang salah di waktu yang salah, atau mungkin berpikir itu bukan urusannya. Dan mereka tak sepenuhnya salah, mungkin masyarakat memang dibentuk seperti itu. Mengerikan, bukan?

Dia, Pemberani, menceritakan seorang bernama Masaai yang hidup dengan apa yang disebut orang lain sebagai menantang maut. Kisah ini memberi gambaran nyata tentang apa arti bertahan hidup, dan bagaimana, dalam keadaan dimana kita memiliki pilihan untuk itu.

“Jadi, pada intinya, aku tidak mencoba untuk mati. Aku justru merayakan hidup.” (hal. 145)

Pada kisah Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini, kita disuguhkan permainan game online dengan segala detail yang memikat dan menegangkan. Membaca kisah ini, saya hanya memiliki dua dugaan: penulis memang seorang gamer, atau dia melakukan riset mendalam (hingga menjadi seorang gamer) demi menghasilkan tulisan semacam ini, saking detailnya gambaran permainannya (tampaknya memang dugaan pertama yang benar). ‘Ledakan’ dahsyat dari cerpen ini bukanlah kemenangan atau kekalahan para pemainnya, bukan pula akibat dari waktu yang dihabiskan untuk bermain game. Sentuhan persaudaraan yang tiba-tiba dimunculkan di akhir sungguh sangat menggetarkan.

Pada suatu rapat atau pada waktu-waktu tertentu di sela-sela pekerjaan, berapa orang yang pikirannya tetap utuh dalam pekerjaan dan tugasnya? Mungkin ini bukan hal baru ataupun luar biasa, namun penyampaian di cerpen Jam Kerja cukup menarik. Caranya ‘menelanjangi’ otak manusia, sulit untuk dipungkiri.

“Aku yakin hal ini terjadi pada semua orang—bahkan, padamu juga. Suatu hari, di suatu tempat, seseorang pasti pernah menarik perhatianmu dan membuatmu berkhayal jauh tentang hidup yang bukan milik kalian berdua, tentang momen-momen intim yang tidak pernah terjadi (dan cenderung takkan pernah terjadi) serta tentang argumen yang tak lebih dari sekadar hasil imajinasi.” (hal. 182)

Kumpulan cerita ini sangat kaya secara tema, mulai dari hal-hal kecil semacam game online, kehidupan rumah tangga, hubungan kekasih, hingga pembantaian dan peperangan. Penuturan yang menarik, penggunaan bahasa yang fleksibel, juga kebenaran yang ada di setiap hal–seabsurd apa pun, sepahit apa pun, serahasia apa pun.

Satu-satunya kisah yang mengganjal secara keseluruhannya adalah yang menjadi judul untuk kisah ini, Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa. Kisah yang satu ini memiliki level absurditas hingga di luar nalar, yang paling tidak mungkin. Sebenarnya saya suka temanya, tersesat di luar angkasa, namun apakah Merkurius memiliki kadar udara yang cukup untuk para astronot hidup semacam itu? Yah, terima saja kisah unik ini.

4/5 bintang untuk absurditas dalam realitas, dan cover yang menawan.

Tema besar cerita-cerita yang hadir dalam buku ini adalah bagaimana karakter utamanya selalu terjerat dalam ketersesatan pikiran. Jujur, saat menulis cerita-cerita ini, saya tidak terpikir soal tema besar. Saya hanya duduk dan menulis. Namun setelah judul dipilih dan saya menilik lagi cerita-cerita yang saya tulis khusus untuk koleksi ini…saya jadi tercengang sendiri. ‘Hey,’ pikir saya. ‘Benar juga. Mereka semua tersesat. Damn!’
Maggie Tiojakin soal tema besar koleksi SKTLA (source)

Review #4 untuk Membaca Sastra Indonesia 2013 (Kontemporer #2)

10 responses to “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

  1. wah, aku jadi pengen ikutan baca ini. apalagi udah pada heboh ngomongin itu😀

  2. penasaran sama bukunya, lagi rame dibicarakan juga🙂

  3. Sejak Balada Ching2, aku jadi nyari2 bukunya Maggie Tiojakin. Sayang yang ini belum masuk diskon #kodebulandepan :)))

  4. Pingback: Scene on Three (5) | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Selesai Membaca Sastra Indonesia 2013 | Bacaan B.Zee

  6. Tema yang seharusnya biasa menjadi tidak biasa di tangan Maggie Tiojakin. Hebat ya, saya benar-benar di bawa ke luar angkasa membaca buku ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s