Scene on Three (5)

Terletak di ujung dunia, di mana hujan turun tanpa henti dan matahari terus bersembunyi di balik awan gelap, kota ini menelan, mengunyah, dan melepehkan segala macam warna hingga kusam tanpa nyawa. Merah, kuning, biru, hijau, jingga, ungu—semua tampak sama saja jika dibalut sendu. Hanya ada satu warna yang konstan di sini; yaitu abu-abu. Bahkan air laut yang mengelilingi tepian kota tampak keabuan. Begitu juga dengan langit yang memayungi serta tanah yang jadi pijakan kami. (hal. 64)

–Cerpen Kota Abu-Abu dalam buku Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa oleh Maggie Tiojakin.

SceneOnThreeKota mana—atau belahan bumi mana—yang pertama kali terpikir saat membaca kutipan di atas? Oleh karena sebelum membaca buku ini saya baru menyelesaikan The Golden Compass, pikiran saya langsung mengarah ke kutub dan salju. Tapi tidak, tidak ada salju di kota Abu-Abu ini, dan kutub tak berarti ujung. Entah mengapa, tetap saja saya tak bisa mengenyahkan ide tersebut, biarlah, itu kan pendapat saya.

Yang jelas, saat membaca paragraf tersebut, saya melukis kota Abu-Abu di dalam kepala saya, dan lukisan itu tertanam begitu dalam. Kota Abu-Abu adalah tipe kota yang romantis untuk saya, remang-remang, tak terlalu menarik perhatian, suatu tempat ideal untuk menyendiri, melakukan apa pun yang saya suka (pastinya hanya untuk waktu dan situasi tertentu, karena saya penikmat keindahan alam). Tak heran Remos—sang tokoh utama—merasa nyaman berada di kota tersebut. Beberapa orang yang telah melihat dunia luar tetap kembali, namun sebagian tidak. Sebuah kota pun memiliki karakter, yang berjodoh dengan karakter penghuni sejatinya. Atau ini hanya karena Remos belum melihat dunia yang ‘penuh warna’?

Tak terasa sudah sebulan Scene on Three berjalan, terima kasih buat yang sudah berpartisipasi, baik yang rutin, yang tak teratur, maupun yang baru sekali. Bagi yang belum tahu dan ingin berbagi di Scene on Three, caranya :

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

11 responses to “Scene on Three (5)

  1. Buka blognya B-Zee lamo nian euy >_<
    Aku juga pas baca scene itu awalnya mikir itu kota Kutub, tapi kalau hujan setiap hari, dan bukan salju, berarti bukan kutub kan?:/
    Mungkin itu memang kota bikinan Maggie sendiri ya. Kesannya magis nan melankolis :O

  2. ahhh aku nggak sabar juga pengen baca buku ini… deskripsinya kayanya keren2 ya🙂 kota abu-abu…jadi ingat tuan abu-abu yang ada di buku Momo🙂

  3. Terletak di ujung dunia, di mana hujan turun tanpa henti dan matahari terus bersembunyi di balik awan gelap

    haduhh.. walaupun gua sukaa ujan, tapi kalau turun terus menerus tanpa henti, yaikss.. ga enak juga kali yaa ^o^ jadi pengen baca buku ini, kemaren ini sempet baca “balada ching ching” tapi ga kelar😀

  4. Hujan tak henti? Matahari bersembunyi? Kok yang keinget jadi Forks ya? Ituuu… kotanya si Vampire hahaha….

  5. Pingback: Scene on Three #3 | Simply Me

  6. aku jadi keinget novel Between Shades of Gray, tapi yang abu-abu itu orang-orangnya😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s