Hotter Potter 2013 Wrap Up

Event Hotter Potter sejak Januari sampai Juli 2013 (yang pada pelaksanaannya diperpanjang hingga Agustus) ini sangat sangat berperan dalam pemahamanku tentang masterpiece dari J. K. Rowling ini. Meski saya belum bisa memenuhi target membaca companion books nya, tetapi saya cukup puas berhasil membaca ketujuh serial Harry Potter ditambah satu companion dan satu referensi dari penulis lain. Momennya sesungguhnya sangat tepat, saat dimana saya mulai ‘melek’ terhadap literatur, dan dari Harry Potter saya menemukan banyak hal yang bisa saya pelajari.

hotter-potter-logo-1

Dulu, saat pertama kali saya membaca Harry Potter, saya belum bisa mengapresiasi sebuah karya seperti sekarang. Begitu banyak kejeniusan yang luput dari mata saya, dan sekarang usai membaca yang kedua kalinya pun, saya masih merasakan ada lapisan-lapisan yang akan bisa saya tembus entah kapan saat saya membacanya kembali untuk kedua, ketiga, keempat, atau kelima kalinya. Ya, saya terlambat membaca Harry Potter, dan terlambat menjadi fans, tapi saya tidak menyesal.

Jadi, selama event Hotter Potter ini ada sembilan review, ditambah tujuh meme, yang sudah saya buat:

  1. Harry Potter #1 : Harry Potter and the Sorcerer’s Stone
  2. Harry Potter #2 : Harry Potter and the Chamber of Secrets
  3. Harry Potter #3 : Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
  4. Harry Potter #4 : Harry Potter and the Goblet of Fire
  5. Harry Potter #5 : Harry Potter and the Order of the Phoenix
  6. Harry Potter #6 : Harry Potter and the Half-Blood Prince
  7. Harry Potter #7 : Harry Potter and the Deathly Hallows
  8. Harry Potter Companion #3 : The Tales of Beedle the Bard
  9. The Magical Worlds of Harry Potter by David Colbert (unauthorized)
  10. Meme #1 : Guru
  11. Meme #2 : Pasangan
  12. Meme #3 : Makhluk Ajaib
  13. Meme #4 : Buku di Flourish and Blotts
  14. Meme #5 : Karakter Menyebalkan
  15. Meme #6 : Surat
  16. Meme #7 : Moment in Movie

Secara keseluruhan, apa yang istimewa dari Harry Potter? Jawabku: universalitasnya. Harry Potter adalah buku fantasi yang dapat dinikmati oleh seluruh usia—dan mereka bisa mendapatkan lebih dari sekadar hiburan darinya. Harry Potter bolehlah merupakan kisah fantasi, namun yang terjadi di dalamnya adalah hal-hal yang juga terjadi di sekitar kita, segala aspek kehidupan, masalah umum di seluruh dunia. Dan justru karena Harry Potter adalah cerita fantasi, maka sang penulis bisa menceritakan apa saja, dengan cara bagaimana pun, seaneh apapun, sehingga hanya orang yang memiliki imajinasi yang bisa menyadari bahwa hal tersebut nyata, senyata Snitch di tangan (atau di mulut) Harry setelah peluit tanda berakhirnya pertandingan Quidditch berbunyi.

Bagi saya, Harry Potter bukan hanya kisah tentang dunia penyihir, sekolah sihir, orang-orang yang berjuang melawan penyihir jahat, anak yang lolos dari maut kemudian menjadi selebritas di sekolahnya, tidak sesederhana itu. Harry Potter adalah sepenggal perjalanan hidup seorang anak yang bertahan hidup karena cinta kasih, yang tumbuh di antara sekolah (dan kepala sekolah) impian dan sebuah sistem yang bobrok, yang menjadi dewasa karena kesakitan dan perjuangan, yang menjadi bijak karena tak berhenti belajar—dari mana pun, yang belajar tentang arti kesetiaan, ketulusan, kebenaran, kasih sayang, keadilan, keberanian, kesedihan, kehilangan…..yang terus belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Harry Potter menunjukkan bahwa dunia ini luas, bahwa takdir itu mungkin tak pernah kita duga sama sekali, bahwa segala yang kita lakukan memiliki konsekuensi, bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, bahwa terkadang kita pun harus memikul tanggung jawab yang ditakdirkan untuk kita pikul, karena hanya kita yang bisa melakukannya.

Secara singkat, sebagian ‘pelajaran hidup’ dalam serial Harry Potter telah saya singgung dalam setiap reviewnya. Pada Harry Potter #1 saya menyinggung unicorn sebagai simbol kemurnian, dan memilih yang ‘benar’. Harry Potter #2 saya sempat menggarisbawahi salah satu sifat Draco Malfoy yang sesuai dengan ‘kualitas’nya di buku-buku selanjutnya, juga simbolisasi dari rasisme. Harry Potter #3 saya melihat bagaimana menjadi dewasa tanpa kehilangan masa kanak-kanak, dan arti kesetiaan. Harry Potter #4 memasukkan ‘sindiran’ terhadap media massa, perbudakan, dan passion. Di Harry Potter #5 kita bisa melihat karakter masing-masing tokoh lebih dalam, termasuk Harry dengan fluktuasi hormonnya, dan Professor Dumbledore yang ‘berbeda’ dari yang pernah kita lihat sebelumnya. Harry Potter #6 dan #7 pada dasarnya mengusung latar ‘gelap’ sama, mengenal arti ‘kejahatan’, karena di sinilah kita diperkenalkan lebih jauh kepada latar belakang Lord Voldemort, juga mengenai pengorbanan demi sesuatu yang lebih besar. Dan yang selalu ada serta terasa perkembangannya sejak #1 sampai #7 adalah persahabatan dan kedewasaan, juga cinta, dalam bentuk apa pun.

It does not do to dwell on dreams and forget to live, remember that. –Albus Dumbledore to Harry Potter @ Harry Potter #1

Rowling mengajak kita hidup sekaligus bermimpi. Membaca Harry Potter, kita dapat memuaskan imajinasi, kita juga dapat melihat manusia dan kemanusiaan, dengan setting dan karakter yang sangat hidup. Ibarat Bettie Bott’s Every Flavor Beans, semua rasa dan variasi hidup ada di serial Harry Potter.

Terima kasih untuk Melisa atas event ini sehingga saya bisa mengenal Harry Potter lebih dekat lagi🙂

One response to “Hotter Potter 2013 Wrap Up

  1. Sama-sama! Makasih partisipasinya selama ini ya Zee!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s