A Farewell to Arms – Ernest Hemingway

a farewell to armsTitle : A Farewell to Arms
Author : Ernest Hemingway (1929)
Translator : Adelia Artanti R.
Editor : Lilih Prilian Ari Pranowo
Publisher : Penerbit Narasi
Edition : Cetakan pertama, 2010
Format : Paperback, 348 pages

Terkadang ada kata-kata yang tak tahan untuk kau dengar dan bagimu sangat abstrak. (p.191)

Frederic Henry adalah seorang letnan berkebangsaan Amerika yang ikut dalam Perang Dunia I sebagai pengemudi ambulans, di ketentaraan Italia. Saat diperkenalkan dengan Catherine Barkley, seorang perawat dari Inggris (asal Skotlandia), dia memutuskan untuk mendekatinya, meski saat itu dia tidak mencintainya dengan serius. Catherine pun tahu, namun mereka tetap bersikap layaknya sepasang kekasih.

Saat terjadi pemboman, Frederic terluka parah di kakinya hingga dia tak bisa berjalan. Oleh karena di Milan baru dibuka rumah sakit Amerika, maka Frederic dikirim ke sana untuk menjalani perawatan. Catherine pun ditugaskan di rumah sakit yang sama sehingga hubungan mereka semakin dekat, hingga menjadi cinta yang sesungguhnya. Segera setelah kakinya sembuh, Frederic dipanggil kembali ke garis depan.

Perpisahan, penarikan mundur pasukan, kematian, pengkhianatan, dan segala yang mungkin terjadi dalam peperangan pada akhirnya membuat Frederic muak dan memutuskan mencari Catherine dan melarikan diri ke Swiss. Apakah mereka pada akhirnya berhasil bersatu? Berhasilkah mereka melarikan diri dari perang dan akibat-akibatnya?

Buku ini menceritakan kegundahan dan kekosongan jiwa para tentara yang sebagian besar tak mengerti mengapa perang harus terjadi. Apa yang didapatkan dari perang, apa pentingnya segala sesuatu diselesaikan dengan senjata, akankah ada kata cukup untuk perang?

“Perang tidak dikalahkan dengan kemenangan. Apa yang terjadi jika kita mengambil alih San Gabriele? Bagaimana jika mendapatkan Carso dan Monfalcone dan Trieste? Kita akan berada di mana? Kau lihat jajaran pegunungan yang jauh di sana? Kau pikir kita dapat mengambil alih itu juga? Hanya jika Austria berhenti melawan. Salah satu pihak harus bersedia mundur. Kenapa bukan kita yang mundur? Mungkinkah mereka masuk ke dalam wilayah Italia, merasa letih lalu pergi begitu saja, hanya karena mereka telah memiliki negara sendiri? Bukan itu yang terjadi, sebaliknya, yang terjadi adalah sebuah perang.” –Passini (p.59)

Saya melihat bahwa berbagai kehilangan yang dialami oleh Frederic, perlahan menghilangkan kepercayaannya pada perang. Kenyataan bahwa dia melarikan diri dari perang dan memilih kehidupan yang hangat bersama Catherine adalah wujud kehausannya akan sesuatu yang ‘manusiawi’, bukan hanya manusia-manusia yang menempatkan tubuhnya di garis depan tanpa kesadaran akan apa yang mereka perjuangkan. Frederic sejak awal digambarkan sebagai sosok yang patriotis. Kewarganegaraan Amerika tak lantas membuat kecintaannya pada negara yang lama ditinggalinya–dan yang bahasanya dia pergunakan, lebih kecil dari warga Italia sendiri. Hal yang saya baca dari salah satu kalimatnya.

Sangat janggal bagiku untuk memberikan salam bagi orang asing seperti layaknya untuk orang-orang Italia, tanpa disertai dengan rasa malu. Bagiku salam khas Italia bukanlah sebuah komoditi ekspor. (p.31)

Dan meski dia tak lagi di medan peperangan, secara tak disadarinya, dia masih menganggapnya sebagai sesuatu yang ‘penting’. Bahwa dia masih peduli pada negaranya.

“Jangan bicara tentang perang,” kataku. Bagiku perang itu sepertinya terjadi di masa lalu atau mungkin tak pernah terjadi sama sekali. Bagiku perang sudah berakhir. Tapi entah mengapa, perasaaanku mengatakan bahwa ini belumlah berakhir. Aku bagaikan bocah sekolah yang sedang membolos dan menebak-nebak apa yang sedang terjadi di sekolah saat dia pergi. (p.255)

Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca dapat menangkap pergulatan batin karakter utamanya. Segala pikiran yang saling bertentangan, yang tak dipahaminya sendiri, yang tak bisa dipahami orang lain, sehingga kita dapat memahami pola berpikirnya. Aroma peperangan serta frustasi karakter kita membawa kesan suram yang sangat terasa, hingga saya begitu yakin hal buruk akan terjadi setelahnya. Saya pribadi sebenarnya tak merasakan emosi mendalam dalam kalimat-kalimat di buku ini saat membacanya, akan tetapi rasa itu sangat terasa setelah saya selesai membacanya.

Terlepas dari keindahan yang dihadirkan buku ini dengan caranya sendiri, edisi terjemahan yang saya baca kerap membuat saya ‘gatal’ untuk menyunting kembali penulisannya. Penggunaan kata-kata yang tidak efektif (Ada beberapa truk-truk kecil lainnya … [p.171]), tanda baca koma (,) yang bukannya sebelum kata sambung tetapi ditempatkan sesudahnya (Meski hal-hal buruk mungkin menimpa kita tapi, kau tak perlu khawatir soal itu. [p.124]), penggunaan beberapa kata yang kurang sesuai dengan EYD, adalah beberapa di antaranya. Meski demikian, kisahnya sendiri masih bisa dinikmati.

First Edition Cover

First Edition Cover

A Farewell to Arms dikatakan terinspirasi dari pengalaman Ernest Hemingway sendiri saat bergabung dengan tentara Italia di Perang Dunia I. Fakta menarik tentang buku ini adalah adanya beberapa kata kasar yang disensor oleh penulis. Hanya diketahui ada dua buah buku yang ditambahkan kata yang disensor tersebut dengan tulisan tangan Hemingway sendiri, yang diberikan kepada  Maurice Coindreau dan James Joyce. Akan tetapi, hingga saat ini, semua cetakan buku A Farewell to Arms tak ada yang menuliskan kata-kata kasar tersebut (sumber).

4/5 bintang untuk segala yang bisa terjadi di tengah peperangan.

“Tidak, itu adalah sebuah kekeliruan yang menyebutkan orang semakin tua menjadi lebih bijaksana. Manusia tak tumbuh menjadi bijaksana, tapi semakin tua kau akan tumbuh dengan lebih berhati-hati.”
“Mungkin itulah sisi bijaksana Anda.”
(p.271)

Posting bersama BBI Agustus (2) Buku bertema perang, baik Perang Salib/Perang Sipil/Perang Dingin/Perang Dunia Pertama/Perang Dunia Kedua.

10 responses to “A Farewell to Arms – Ernest Hemingway

  1. Sebelum mengkritik penerjemahannya, mungkin sebaiknya bandingin dengan versi aslinya dulu. Karena buku ini modelnya stream-of-consciousness, jadi penulis seringkali tabrak saja kalimatnya, tanpa tanda baca, tiba2 pindah ke kalimat baru. Ada 1 kalimat yg panjaaang banget, karena harusnya beberapa kejadian dia rangkum jadi 1 kalimat dengan hanya meletakkan kata ‘dan’. Intinya, tata bahasanya memang gak standar, jadi mungkin saja penerjemahnya mengikuti versi aslinya.

    • o, gitu ya? sepertinya yg bahasa Indonesia ini sudah disesuaikan, yg kukritik sih sebatas yg bisa disesuaikan dengan kaidah bhs Indonesia (seperti tanda koma sebelum tapi yg ga cuma sekali dua kali). Kalau penulisan secara umum sih aku ga bermasalah. Tapi mungkin memang harus baca versi bahasa Inggris juga, thanks infonya ^.^

      • Nah itu dia, mungkin aja tanda baca dari sononya emang kacau? Tp kalo nurutku, banyakan yg kurang koma-nya daripada yg salah tempat, wkwkwk)

  2. aq taunya versi filmnya, yg maen sandra bullock+chis o’donnell😀

  3. Buku 1001 nih, dapet dari mana mbak? kayanya seru ya?

  4. Pingback: Baca Bareng BBI Januari – Desember 2013 | Mia membaca

  5. Pingback: Second Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s