The Book Thief : Prologue & Part One

The Book Thief by Markus Zusak

Sekian lama masuk wishlist setelah beberapa kali melihat komentar positif (bahkan luar biasa) dari berbagai pembaca dalam dan luar negeri, akhirnya saya berhasil menemukan buku ini, meski hanya pinjam. Saya berusaha untuk tak berekspektasi apa-apa, akan tetapi kalimat-kalimat awal buku ini memang telah berhasil memukau saya. Kalimat-kalimat narasinya sangat indah, bahkan beberapa halaman awal sudah terasa ‘penuh’ hingga saya memutuskan untuk menikmatinya perlahan-lahan. Saya pun ingin merekam prolog dan bagian pertama yang beberapa waktu lalu saya selesaikan, dalam sebuah post tersendiri.

Prolog dalam buku ini memperkenalkan narator beserta cara pandangnya, juga pengenalan singkat tentang siapa itu the book thief. Sebenarnya, tak ada kata-kata tersurat tentang siapa (nama) narator kita, namun dari review yang telah beredar di luar sana, serta kalimat-kalimatnya sendiri, kita akan mengetahuinya.

I could introduce myself properly, but it’s not really necessary. You will know me well enough and soon enough, depending on a diverse range of variables. It suffices to say that at some point in time. I will be standing over you, as genially as possible. Your soul will be in my arms. A colour will be perched on my shoulder. I will carry you gently away. (p.4)

Sang narator memiliki kebiasaan unik tentang warna, caranya memaknai dan menggambarkannya. Dia mengasosiasikan warna dengan situasi tertentu atau kejadian tertentu yang dihadapinya saat melihat warna tersebut, seringkali warna dari langit.

First the colours.
   Then the humans.
   That’s usually how I see things.
   Or at least, how I try.
(p.3)

Narator kita akan menceritakan kisah the book thief—sang pencuri buku dari awal, saat kita masuk ke bagian pertama.

Namanya Liesel Meminger, buku pertama yang dicurinya adalah ‘The Gravedigger’s Handbook’ yang diambilnya saat pemakaman adik laki-lakinya. Liesel belum bisa membaca, tapi dia menyimpan buku itu sebagai pengingat hari itu, hari terakhirnya melihat adiknya, juga ibunya.

Liesel was sure her mother carried the memory of him, slung over her shoulder. She dropped him. She saw his feet and legs and body slap the platform.
How could she walk?
How could she move?
That’s the sort of thing I’ll never know, or comprehend – what humans are capable of.
(p.25)

Jerman pada masa Hitler, dimana keturunan yahudi tidak aman, sehingga ibu Liesel memutuskan untuk menitipkannya pada pasangan Hubermann, Hans dan Rosa.

Pasangan Hubermann memiliki sifat yang sangat berkebalikan. Rosa adalah wanita yang keras dan sering mengumpat, meski begitu dikatakan bahwa itu caranya menyayangi Liesel. Sedangkan Hans adalah sosok yang lembut dan pengayom. Hans-lah yang bisa mendekati Liesel yang sedang dalam posisi traumatik. Hans selalu di samping Liesel saat dia terbangun oleh mimpi-mimpi buruk, Hans pula yang dengan penuh pengertian membacakan buku ‘mengerikan’ yang disimpan Liesel, hingga mengajarinya membaca, membuat kemajuan yang tak bisa dilakukan guru Liesel di sekolah. Juga satu hal yang tak tergantikan, aroma persahabatan.

Sampai bagian pertama ini, selain Hans, ada seorang anak laki-laki tetangganya yang dekat dengan Liesel, Rudy Steiner. Rudy terambisi pada atlet lari kulit hitam, dan ingin menjadi sepertinya. Rudy menjadi teman bermain Liesel, sekaligus menjadi sahabat yang melindungi Liesel saat anak-anak lain mengejeknya karena kemampuan membacanya.

For now, Rudy and Liesel made their way onto Himmel Street in the rain.
He was the crazy one who had painted himself black and defeated the world.
She was the book thief without the words.
Trust me, though, the words were on their way, and when they arrived, Liesel would hold them in her hands like the clouds, and she would wring them out, like the rain.
(p.85)

Surely, I do enjoy this, so much.

5 responses to “The Book Thief : Prologue & Part One

  1. First the colours.
    Then the humans.
    That’s usually how I see things.
    Or at least, how I try.

    Naratornya synesthesia ya :)) #dikeplak

  2. Pingback: Scene on Three (8) | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Dare to Say! (2) | Bzee's Inner Space

  4. Pingback: The Book Thief – Markus Zusak | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s