Ruby Red – Kerstin Gier

Ruby RedTitle : Ruby Red (Rubinrot) (Time Travel Trilogy #1)
Author : Kerstin Gier (2009)
Translator : Fransisca Paula Imelda
Publisher : Elex Media Komputindo
Edition : Cetakan pertama, 2013
Format : Paperback, 311 pages

Gwendolyn Shepherd dibesarkan dalam lingkungan keluarga Montrose, dari pihak ibunya—Grace Shepherd. Ayahnya meninggal dunia saat dia berusia delapan tahun. Sejak saat itu Grace membawa ketiga anaknya; Gwendolyn, Nick, dan Caroline tinggal di rumah orang tuanya, mendiang Lord Montrose dan Lady Arista. Selain mereka, kakak Grace—Glenda Montrose bersama putrinya Charlotte, juga adik dari Lord Montrose–Maddy, tinggal di rumah besar itu.

Garis keturunan perempuan (p.191)

Garis keturunan perempuan (p.191)

Keluarga Montrose merupakan sebuah keluarga yang memiliki rahasia kuno. Beberapa keturunan perempuan mereka yang disebut sebagai ‘pembawa gen’ akan memiliki kemampuan menjelajahi waktu saat usianya beranjak remaja. ‘Pembawa gen’ biasanya sudah bisa diprediksi dengan ramalan kuno; dan pewaris gen selanjutnya, yang telah dipersiapkan, adalah Charlotte Montrose.

Saat semua orang mengira Charlotte akan mengalami perjalanan inisiasi, ternyata Gwendolyn lah yang terlempar ke masa lalu. Gwendolyn yang tak pernah dipersiapkan untuk itu pun dipenuhi berjuta pertanyaan. Apakah ramalan itu salah? Bagaimana caranya untuk hidup normal dengan kemampuan tak terduga itu? Bagaimana dia bisa bertahan hidup tanpa tahu caranya mempertahankan diri di tempat dan zaman yang asing untuknya?

Ternyata, kesalahan ini merupakan cara Grace untuk melindungi putrinya. Berbeda dengan Glenda yang begitu bangga dengan Charlotte dan persiapan-persiapannya, Grace seperti tahu sebuah rahasia yang tak diberitahukannya pada orang lain.

“Selain kau, ibu mana yang senang itu terjadi pada putrinya?” –Grace Shepherd pada Glenda Montrose (p.107)

Garis keturunan laki-laki (p.131)

Garis keturunan laki-laki (p.131)

Kini, Gwendolyn harus menjalani takdirnya sebagai penjelajah waktu. Bersama Gideon de Villiers, penjelajah waktu yang berasal dari keturunan Bangsawan von Saint Germain (yang mewariskan gen penjelajah waktu kepada keturunan laki-laki), dia menjalankan sebuah misi untuk menyempurnakan kronograf—alat yang dipergunakan untuk mengendalikan penjelajahan waktu—dengan darah kedua belas penjelajah waktu yang berasal dari dua keluarga tersebut. Dengan peringatan dari ibunya untuk tak mempercayai siapa pun juga, namun tanpa petunjuk akan apa yang dihadapinya, Gwendolyn harus menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Hanya sahabatnya, Leslie Hay, yang membantunya dengan segala cara mencari jawaban-jawaban tersebut, di tengah sikap serba rahasia keluarga tersebut—termasuk ibunya sendiri.

“Menurutku, semua orang tahu lebih banyak daripada yang mereka katakan,” desahku. “Dalam kasus apa pun, semua orang tahu lebih banyak daripadaku. Bahkan kau!” –Gwendolyn pada Leslie (p.253)

Kisah ini dituturkan melalui sudut pandang Gwendolyn yang saat ini berusia enam belas tahun. Kehidupan remaja pada umumnya, tergambar cukup natural melaluinya. Karakter dan hubungan antara orang-orang dalam kisah ini begitu ‘hidup’ dan alami. Saya suka dengan pembangunan karakter-karakter dalam buku ini. Leslie yang setia, dan senantiasa mendorong Gwendolyn. Persahabatan keduanya adalah persahabatan khas remaja yang belum dibumbui kepentingan-kepentingan apa pun. Mereka saling percaya, banyak hal penting dalam fase hidup tokoh utama kita, kekuatan dan kedewasaan, dipupuk dengan persahabatan ini.

Leslie menepuk bahuku. “Ayo! Kita tidak boleh putus asa.”
“Benar. Kita tidak boleh putus asa.” Aku iri pada Leslie dan optimismenya yang tak tergoyahkan. Dia selalu melihat segala sesuatu dari sisi baiknya. Sejauh hal itu memiliki sisi baik.
(p.258)

Selain unsur fantasi, kekeluargaan, dan persahabatan, buku ini juga dibumbui oleh romansa. Saya bukan penggemar kisah romansa, apalagi romansa remaja yang notabene belum matang. Akan tetapi dalam buku ini, nuansa romansa yang cukup kentara sama sekali tidak mengganggu saya, sebaliknya justru menjadi salah satu ‘penyedap’ dalam keseluruhan konfliknya. Karakter Gideon adalah karakter umum dari laki-laki pujaan wanita, bahkan, sejak awal Gwendolyn sudah mengagumi ketampanan rekan penjelajah waktunya tersebut. Namun, satu dan lain hal menyebabkan Gwendolyn tak bisa mempercayai Gideon begitu saja. Meski begitu, hubungan mereka lambat laun juga berkembang, Gideon semakin menunjukkan karakternya, pun Gwendolyn yang semakin menampilkan daya tariknya.

Cover edisi Jerman

Cover edisi Jerman

Tema dari buku ini cukup menarik, bukan sepenuhnya baru, tapi penulis berhasil memasukkan ide orisinalnya sendiri. Alur yang rapi, dengan gaya penceritaan yang ringan, dibumbui humor yang menyegarkan, buku ini cukup dapat saya nikmati. Setting waktu dalam buku ini memegang peran penting, dan penulis melakukan tugasnya dengan baik. Penulis mendefinisikan ‘masa kini’ dengan jelas, apa yang terjadi saat ini dan teknologi apa yang bisa ditemukan. Begitu pula masa lalu yang berhasil menampilkan detailnya dengan akurat, mulai dari detail pakaian, jalan-jalan, bangunan, kentara sekali perbedaannya.

Untuk edisi terjemahan ini, saya tidak menemukan nama editor di halaman informasi buku. Entah apakah dikarenakan sebab itu, banyak kesalahan ketik maupun kejanggalan pemilihan kata saya temukan dalam buku ini. Desain covernya sebenarnya sangat bagus, akan tetapi saya merasa terganggu dengan gambar wanita di tengah lingkaran tersebut. Subjudul ‘Cinta Sepanjang Masa’ juga saya rasa terlalu berlebihan. Di luar itu, buku ini layak ditunggu kelanjutannya.

3/5 bintang untuk penjelajahan waktu dan romantikanya.

Trivia:

  • Dalam edisi asli bahasa Jerman, buku ini merupakan buku pertama dari Edelstein Trilogie, yang diterjemahkan dengan lebih tepat ke dalam bahasa Inggris dengan Precious Stone Trilogy (Konfirmasi : Google Translate).
  • Dalam edisi bahasa Inggris, nama Gwendolyn diubah menjadi Gwyneth
  • Ruby umumnya berwarna merah muda hingga merah, yang didapatkan dari unsur kromium. Permata ini merupakan salah satu dari empat yang disebut precious stones, selain sapphire, emerald, dan diamond. (Sumber)
  • Selain keempat permata yang disebut precious stone, batu permata yang lain seperti amber, opal, tourmaline, dan lain sebagainya disebut sebagai semi-precious stones. Penyebutan tersebut, pada masa sekarang, tidak berhubungan dengan nilai komersilnya, namun lebih pada ketersediaan serta kualitasnya di masa lalu. (Sumber)

*Thanks to Ika Citra dari Kompas Gramedia atas bukunya.

Review #6 for New Authors Reading Challenge 2013

3 responses to “Ruby Red – Kerstin Gier

  1. Pingback: Scene on Three (9) | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Buying Monday #3 : September 2013 | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s